WITH YOU

WITH YOU
Bimbang


__ADS_3

Carissa turun dari taksi dan melangkah dengan enggan memasuki pekarangan rumah orang tua Evan. Petugas keamanan yang membukakan pintu pagar tampak sedikit bingung melihat raut wajah Carissa. Menantu tuannya itu terlihat tak merespon saat di sapa, padahal biasanya Carissa sangat ramah terhadap siapa saja.


Carissa masuk ke dalam rumah bertepatan dengan waktu makan malam. Tampak Sonya dan Zacky sedang duduk di meja makan, menikmati hidangan makan malam yang di masak Sonya.


Agar mertuanya tidak merasa khawatir, sebelumnya Carissa sempat mengirim pesan akan pulang agak terlambat. Dia beralasan jika teman yang di temuinya ingin menghabiskan waktu dengannya lebih lama karena sudah lama tidak bertemu.


"Ma, Pa." Carissa menyapa kedua mertuanya sembari berusaha untuk tersenyum. Sesaat sebelum pulang, dia sempat membasuh wajahnya di kafe tempatnya bertemu Dokter Melissa tadi, tapi Carissa tidak yakin jika sembab di matanya akan hilang hanya karena di basuh dengan air.


"Eh, sudah pulang? Mama kira nanti kamu di jemput Evan." Sonya menoleh kearah Carissa.


"Tidak, Ma. Evan pasti sibuk dan tidak akan sempat menjemputku." Jawab Carissa.


"Anak itu sekarang tambah keterlaluan, semakin lama semakin tidak perhatian dengan istri, padahal istrinya sedang hamil." Ujar Sonya menggerutu.


Carissa kembali tersenyum.


"Tidak masalah, Ma. Evan pasti kelelahan karena banyak pekerjaan di rumah sakit." Jawabnya.


"Sini duduk, sekalian makan bersama Mama dan Papa." Zacky menunjuk kursi di hadapannya untuk Carissa duduki.


Carissa tertegun sejenak. Tapi tak lama kemudian dia mengangguk mengiyakan. Carissa mencuci tangannya di wastafel dapur, lalu bergabung bersama Zacky dan Sonya di meja makan. Kedua mertuanya itu terlihat senang, bahkan Sonya sampai mengambilkan makanan dengan tangannya sendiri untuk mengisi piring Carissa.


"Cukup, Ma, jangan terlalu banyak." Ujar Carissa saat melihat Sonya yang hampir mengisi penuh piringnya.


Sonya tersenyum.

__ADS_1


"Kamu harus makan lebih banyak dari biasanya. Sekarang kamu makan bukan hanya untuk kamu sendiri, tapi untuk calon anakmu juga." Sonya tampak bersikeras.


"Mama benar, tapi aku sudah agak kenyang. Tadi temanku juga mengajakku makan. Kami sudah makan banyak makanan." Ujar Carissa berbohong. Sebenarnya dia belum makan apapun sejak siang tadi. Apa yang di laluinya hari ini membuatnya sama sekali tidak merasakan lapar. Tapi mengingat di dalam perutnya ada janin yang memerlukan asupan nutrisi, Carissa pun memaksakan diri untuk duduk di meja makan bersama kedua mertuanya.


"Oh, baiklah kalau begitu." Sonya akhirnya mengurangi porsi makanan di piring Carissa, lalu meletakkannya di hadapan menantunya itu sembari tersenyum tipis.


Carissa membalas senyum Sonya dan mengucapkan terima kasih. Lalu dia pun mulai menyantap makanannya dengan sedikit memaksakan diri. Sesekali Carissa mencuri pandang kearah Sonya dan Zacky secara bergantian. Hatinya menjadi semakin sedih. Bagaimana caranya dia menyampaikan pada kedua mertuanya ini tentang kondisi Evan yang sebenarnya. Pasti mereka berdua akan sangat terpukul jika tahu saat ini putra mereka sedang dalam keadaan yang sangat buruk.


Tanpa sadar Carissa menghela nafasnya. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri dulu sebelum mengatakan kebenaran tersebut pada kedua orang tua Evan. Dia perlu memgumpulkan keberaniannya.


"Carissa, kenapa kamu terlihat sedih begitu? Mama perhatikan wajahmu juga seperti habis menangis?" Pertanyaan Sonya tiba-tiba membuyarkan lamunan Carissa. Carissa sedikit terkejut dan agak tidak siap menjawab pertanyaan tersebut.


"Eh, ini...ini karena tadi temanku menceritakan tentang beberapa hal yang agak sedih. Aku jadi terbawa suasana dan ikut menangis saat mendengarnya." Ujar Carissa berkilah.


Sonya tampak percaya dengan alasan Carissa.


"Benar apa yang di katakan Mamamu, Carissa. Kamu harus menjaga diri supaya jangan sampai stres. Tidak baik untuk calon anakmu." Kali ini Zacky yang menasehati.


Carissa mengangguk sembari tersenyum tipis. Dia sangat senang mendapat perhatian dari kedua orang tua Evan seperti ini, tapi di sisi lain dia juga sangat sedih jika mengingat kondisi Evan. Entah bagaimana reaksi kedua orang tua Evan jika mengetahui keadaan Evan saat ini.


Carissa akhirnya menyelesaikan makan malamnya. Dia langsung permisi ke kamarnya untuk segera membersihkan diri dan beristirahat. Tentu saja kali ini Sonya tidak menahannya.


Setelah berada di kamarnya, segera Carissa mandi dan mengguyur kepalanya dengan air, berharap dengan begitu kepalanya akan sedikit terasa dingin dan lebih ringan. Tapi tetap saja kepalanya terasa berat hingga dia tidak tahu harus berpikir seperti apa.


Carissa sungguh merasa dilema dan tak tahu harus bagaimana. Haruskah dia bertahan di sisi Evan, di saat dia sendiri adalah sumber trauma yang membuat Evan menderita? Atau lebih baik dia pergi saja dari kehidupan Evan agar Evan bisa terbebas dari penderitaannya?

__ADS_1


Aarrrgghhh....


Carissa meremas kepalanya dengan kedua tangannya sembari memejamkan mata. Dia sungguh tidak tahu langkah apa yang harus dia ambil.


Setelah merasa tubuhnya telah terlalu banyak di guyur air, Carissa pun segera menyelesaikan mandinya. Kemudian dia mengenakan pakaian dan merebahkan dirinya ke tempat tidur. Dia berpikir, bagaimanakah caranya menghadapi Evan setelah ini. Rasanya Carissa bahkan tidak punya nyali hanya untuk sekedar menatap matanya saja. Terlalu banyak penderitaan yang telah Carissa berikan pada Evan, meski tanpa dia sengaja. Dan Carissa tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan penderitaan itu.


Tanpa sadar ingatan Carissa terpatri pada saat-saat bahagia mereka dulu. Bagaimana mereka setiap hari menghabiskan waktu dengan banyak canda, tawa dan kemesraan. Dan bagaimana mereka berjuang bersama untuk bisa mendapatkan keturunan.


Carissa mengusap perutnya dengan mata yang berkaca-kaca. Kini yang mereka nanti-nantikan telah hadir di dalam perut Carissa. Tapi saat semuanya nyaris sempurna, cinta mereka justru di uji dengan ujian yang luar biasa berat. Entah bagaimana caranya membuat hari-hari mereka kembali bahagia. Carissa tidak tahu. Semuanya terlalu rumit, hanya keajaiban saja yang mampu membuat hubungannya dengan Evan kembali seperti dulu lagi. Dan Carissa tidak tahu apakah keajaiban itu sungguh ada atau tidak.


Carissa hendak memejamkan matanya, tapi sejurus kemudian matanya kembali terbuka karena ada yang membuka pintu kamar. Untuk sesaat Carissa tertegun dengan raut wajah yang sulit di lukiskan. Matanya tertuju pada sosok yang saat ini masuk ke dalam kamar dan melangkah mendekat kearahnya.


Antara rindu dan sedih, mata Carissa terus menatap kearah lelaki yang kini tepat berada di hadapannya.


Carissa bangkit dari posisi berbaringnya.


"Evan..." Lirihnya.


Evan duduk di pinggiran tempat tidur sambil menatap Carissa juga. Tangannya terulur membelai kepala Carissa dengan lembut, dan senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Belum tidur?" Tanyanya dengan lembut.


Dada Carissa seketika bergejolak. Di angkatnya wajahnya dan di lihatnya lagi suaminya itu. Pandangan mereka bertemu. Tatapan teduh Evan yang selama ini selalu bisa membuat hati Carissa tenang, kini justru membuatnya sangat sedih dan terpukul. Airmata Carissa pun tanpa sadar kembali lolos dari pelupuk matanya.


Bersambung...

__ADS_1


Tetep like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤


__ADS_2