WITH YOU

WITH YOU
Kerjasama Yang Baik


__ADS_3

Setelah Devan berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Tadinya anak tertuanya itu meninggalkan alamat yang akan dikunjungi nanti oleh Reza. Dia terkejut dengan masalah yang dihadapi oleh anaknya yang pastinya sangat sulit untuk dilalui. Reza yang merasa bersalah kepada anaknya itu benar-benar tidak tahu jika masa lalunya sungguh bisa menghancurkan kebahagiaan anaknya. Devan tidak pernah mengadu selama ini jika menghadapi masalah, tapi sekali mengadu membuat Reza langsung ciut dengan laporan yang diucapkan oleh Devan.


Dia masih setia berada di ruang tamu tadi ketika Devan pergi. Hanya tabungan itu yang bisa diberikan oleh Reza untuk anaknya, agar dia bisa pergi jauh dari kota ini. Jika tetap berada di kota ini, pasti Raka akan menemukan anaknya. Sebenarnya dia tidak ingin bermasalah dengan Raka lagi setelah kejadian di mana dia kalah waktu itu. Tapi, kali ini justru masalah besar dan bukan hanya mengenai pekerjaan, tapi mengenai masa depan semua anaknya bisa saja hancur karena perbuatan Raka nanti.


Jesse baru saja masuk kemudian bersalaman kepada Reza. "Pa, tadi kakak kemari ya?"


Reza menganggukkan kepalanya. "Iya, Kakak kamu ke sini. Kamu ketemu?"


"Aku ketemu di persimpangan, Pa. Ngomong-ngomong tumben banget dia ke rumah lagi, Pa?"


Reza bisa memastikan jika anak keduanya ini tahu mengenai masalah yang dihadapi oleh Devan. Jesse pasti tahu mengenai Devan yang sedang diteror oleh kedua orang tua Adelia.


"Jesse, Papa mau bicara sama kamu!"


Untuk pertama kalinya anak laki-laki itu diajak bicara serius oleh papanya. Jesse langsung duduk di sofa bersebrangan dengan dirinya. "Ada apa Pa?"


"Jess, kamu pasti tahu masalah yang sedang dihadapi sama kakak kamu kan?"


Jesse mengangkat sebelah alisnya, masalah? Devan tidak pernah cerita. Yang Jesse tahu, Devan hanya memiliki masalah mengenai restu dengan kedua orang tua Adelia yag begitu sulit didapatkan. Begitu juga dengan masalah yang dihadapi oleh Adelia.

__ADS_1


"Masalah terbesar kak Devan adalah papa mertuanya sendiri," ucap Sabina dari belakang yang membuat Reza terkejut dan begitu pula dengan Jesse yang selama ini tidak tahu apa-apa mengenai kakaknya. Justru Sabina yang tahu tentang semua itu. Karena Sabina yang memang dekat dengan Devan dan juga Adelia. tidak salah jika adiknya itu tahu mengenai masalah yang sedang dihadapi oleh kakaknya.


Sabina yang melangkah mendekati mereka kemudian duduk di sofa dekat dengan papanya. "Sabina, kamu tahu apa saja tentang mereka?"


"Papa sama orang tua Kak Adelia punya hubungan masa lalu yang di mana sekarang berimbas pada kak Devan dan juga kak Adelia. Mereka main kucing-kucingan selama ini,"


Reza akui jika masa lalunya memang bukan hal yang main-main dan dianggap enteng oleh dirinya dan juga anaknya. Jika Devan sudah mengakui bahwa dia mencintai Adelia, Reza tak bisa berbuat banyak selain membantu menyelamatkan rumah tangga anaknya juga yang tidak mau mendapatkan penyesalan sama seperti dirinya yang hingga sekarang ini masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Sekalipun masa lalu itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu.


"Pa, Papa sembunyikan apa dari aku?" tanya Jesse yang penasaran. Hubungannya kini semakin rumit dan semakin tidak bisa dikendalikan.


"Sabina, kamu sudah tahu semuanya?" Reza mencoba memastikan.


"Aku tau semuanya, Pa. Maka dari itu aku dekat dengan adik Kak Adelia. Dia yang selalu minta tolong sama aku untuk jaga kakaknya dan juga kak Devan,"


"Jesse, Papa dan Mama Adelia pernah menikah dulu. Tapi, karena Papa lebih mencintai Mama kalian, Papa ceraikan dia, tapi sebelum itu Papa nggak tahu kalau mama Adelia sedang hamil anak Papa, dalam arti itu kakak kalian, usianya beda beberapa bulan dari Devan. Tapi sayangnya, anak Papa nggak bisa diselamatkan,"


"Pa, apa penyebab meninggalnya kakak itu karena Papa?"


Reza mengangguk tak ingin menyembunyikan apa-apa lagi dari anaknya. "Papa yang dorong, Papa mengira dia selingkuh dengan suaminya yang sekarang setelah pisah dari Papa. Tapi Papa salah, itu adalah darah daging Papa sendiri," ucapnya dengan nada sedih. penyesalan itu tak akan pernah bisa kembali lagi dan justru menyakiti hatinya.

__ADS_1


"Kak Devan tahu?"


"Devan tahu tentang ini, tante Shita, nenek, semua orang tahu mengenai kakak kalian. Ada satu kamar yang di mana tidak ada satupun orang bisa memasukinya, yaitu di rumah nenek. Itu kamar Rania yang pernah Papa buat khusus untuk dia. Papa nggak pernah lihat dia sama sekali, bahkan waktu dia meninggal, yang ada di sisinya yaitu Raka--Papanya Adelia. Papa memang brengsek dulu, sampai sekarang dosa itu merupakan dosa terbesar Papa,"


Jesse mencoba mencerna ucapan Papanya dan menganggap bahwa itu adalah urusan Papanya. Tapi itu juga menyakiti hatinya. Selama ini yang dia tahu kakaknya tidak pernah bahagia. "Dan, seperti yang dibilang sama Devan tadi kalau papa mertuaya sedang menguntitinya yang di mana mertuanya ingin mengungkap siapa Devan sebenarnya. Tapi, Devan mau pergi dari kota ini,"


"Bagaimana mungkin, Pa?"


"Papa hanya ngasih sedikit uang buat dia. Mereka akan hidup di luar nantinya, dan Papa minta tolong sama kamu. Bawa dia pergi tengah malam, pastikan juga jam terbangnya jam berapa. Kamu bisa jemput dia tengah malam yang di mana orang tidak akan curiga lagi, tapi tunggu dulu, Papa mau minta bantuan sama orang lain nanti untuk mengintai mata-mata yang disekitar Devan dan juga Adelia,"


"Papa lagi nggak bercanda?"


"Devan nangis, apa pernah kamu lihat kakak kamu lemah? apa pernah kamu lihat kakak kamu sampai menangis seperti itu? Jesse, Sabina, mohon kerjasamanya. Jangan sampai Mama kalian tahu tentang ini, Papa nggak mau kalau Mama kalian tahu dan justru mengacaukan semuanya. Hati-hati juga! Sudah cukup main-mainnya, Papa nggak mau korbankan kakak kamu lagi. Devan sayang sama kakak ipar kalian, apalagi sekarang Adelia hamil. Papa pengin mereka jalani dan berjuang bersama. Apapun pahitnya semua itu, kerja sama yang baik!"


Jesse menganggukkan kepalanya. Sabina tersenyum ketika mendengar Papanya yang langsung berkata demikian dan ingin membantu kakaknya. "Papa serius mau bantu, kan?" tanya Sabina memastikan.


"Iya, Papa nggak mau kakak kamu merasakan hal yang sama seperti Papa. Dari dulu Papa ingin pisah sama Mama kalian karena selalu merasa bersalah. Tapi, Papa berpikir mengenai kalian bertiga, itulah alasan kenapa Mama sama Papa masih utuh sampai sekarang. Jadi, Papa nggak mau lagi buat anak Papa menderita, jadi Papa minta tolong sama kaian berdua untuk kerjasama ya! Bantuin Papa untuk buat kakak kalian berdua bahagia, kalau apa-apa nanti bilang sama Papa. Semisal ada kesulitan, dan kamu Sabina, karena kamu dekat sama adiknya Adelia. Papa harap kamu nggak ngasih tahu kalau Adelia mau dibawa pergi,"


Sabina mengangguk paham. "Aku ngerti kok, Pa,"

__ADS_1


"Kamu juga Jess, terima kasih banyak kalau kamu bersedia bantuin Papa untuk kakak kamu,"


Jesse tersenyum, "Kalau itu demi kebaikan, kenapa enggak, Pa?" jawabnya sederhana. Dia tentu saja senang membantu kakaknya. Apalagi sekarang ini Papanya sudah bisa lebih membuka mata dan melihat kenyataan yang sebenarnya.


__ADS_2