WITH YOU

WITH YOU
Tak Bisa Dipercaya


__ADS_3

Terik matahari sudah hampir berada di ubun-ubun. Seperti janjinya kemarin dia akan pergi ke kantor Reza untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Kevin semalam. Tidurnya yang tidak bisa nyenyak. Raka memang benar kepikiran dengan apa yang dialami oleh anaknya. Adelia adalah anak yang begitu dia sayangi.


Raka sengaja pergi ke kantor Reza untuk memastikan apa yang akan dilakukan oleh Reza ketika dia tahu bahwa Adelia menikah dengan anaknya.


Ketika berada di lobi, Raka menanyakan ruangan Reza yang sepertinya hari ini memang berada di kantor sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kevin semalam. Dia masih belum bisa berpikir jernih mengenai Adelia. Dia hanya ingin memastikannya terlebih dahulu mengenai Devan.


Dia sempat berhenti hendak masuk ke dalam lift. Raka memang ragu untuk melanjutkan. Sudah lama sekali dia tidak pernah bertemu dengan Reza setelah proyek besar itu dimenangkan olehnya. Raka juga tidak pernah bertemu lagi dengan Reza untuk membahas hal lain. Dia memang pernah bertemu dengan Devan di salah satu rapat. Tapi tidak pernah tahu jika Devan adalah anak dari musuhnya.


Kali ini Raka berdiri di dalam lift bersama dengan satu orang perempuan yang akan mengantarnya ke ruangan Reza. Jika dulu ketika berada di lift seperti ini dengan perempuan ketika masih muda, sudah dipastikan Raka bisa mencium atau bahkan merangkul perempuan ketika berada di dalam lift berdua seperti sekarang ini.


Tapi Raka ingat dengan umurnya, ingat juga anak perempuannya yang menjadikan dirinya begitu berubah lebih baik. Raka memejamkan matanya ketika mengingat betapa konyolnya dia di masa lalu ketika dia menghabiskan waktunya hanya untuk hura-hura bersama dengan Reza, Kevin dan juga Fandy. Tapi Fandy tidak pernah sampai untuk mencicipi perempuan. Itulah yang sempat membuatnya heran dengan mendiang kakak iparnya.


Suara dentingan lift yang menandakan bahwa mereka telah tiba di lantai yang dituju. Saat itu juga perempuan yang mengantarkannya ke ruangan Reza itu berjalan di depannya. Sedangkan Raka mengikuti dari belakang.


Orang-orang melihatnya ketika dia berjalan melewati kubikel yang di mana orang-orang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tapi mata mereka seolah bisa dilihat oleh Raka dari sudut matanya yang sempat melirik beberapa orang memperhatikannya.


Perempuan itu langsung membuka pintu dan mempersilakannya untuk masuk.


Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan pria yang ada di kursi kerjanya itu. Raka melangkah pelan dan tetap menjaga imagenya ketika masuk ke dalam ruangan Reza. “Apa kabar?” tanya Reza yang bangkit dari tempat duduknya dan menyambut kedatangan Raka waktu itu.


Saat itu juga Raka menyambut Reza dengan hangat. Ini adalah pertemuan dua mantan teman yang dulunya sudah seperti keluarga. Tapi sekarang sudah bermusuhan seperti ini.


“Duduk!” perintah Reza yang kemudian Raka duduk dengan sopan di sofa tamu ruangan Reza.


Dia mengedarkan pandangannya.


“Tunggu sebentar!” Reza bangkit dari tempat duduknya dan menghubungi bagian dapur kantor untuk menyiapkan kopi. “Kopi atau teh?” tawar Reza kepada Raka.

__ADS_1


“Teh aja!” kata Raka dengan singkat.


Reza pun kembali lagi ke tempat duduknya dan ingin tahu apa tujuan Raka datang kemari. Itu juga merupakan suatu kehormatan baginya karena kedatangan Raka merupakan hal kebanggaan bagi perusahaannya. Raka yang merupakan pembisnis yang cukup terkenal dan asetnya ada di mana-mana. tapi Raka yang tidak pernah mengekspos mengenai keluarganya di depan orang ramai yang bahkan membuat Reza sendiri tidak tahu bahwa anak Raka merupakan menantunya sendiri.


Devan telah meninggalkan semuanya hanya untuk Adelia waktu itu. Bahkan sekarang ini juga Devan berada di luar negeri bersama dengan istrinya. Awalnya Reza sudah enggan untuk pergi ke kantor lagi dan menyerahkan semuanya kepada anak laki-lakinya itu. Tapi, justru Devan pergi dengan perempuan pilihannya yang membuat Reza tak habis pikir jika anaknya itu memang sangat keras kepala dalam hal membuat dirinya kesal.


Raka berdiri kemudian mendekat ke meja kerja Reza. Di sana ada foto keluarga yang lengkap. Di sana juga ada foto Devan, yang di mana Devan pernah bilang jika Raka tidak tahu mengenai hal itu.


Tok tok tok


Raka menoleh ketika mendengar pintu diketuk. Sedangkan Reza, “Masuk!” saat itu ada office Boy yang datang membawa minuman yang dipesan tadi. Sejenak mereka terdiam. Ketika itu Raka melanjutkan langkahnya menuju meja kerja.


“Raka, minum dulu!” kata Reza yang waktu menghentikan langkah Raka.


Pria itu berbalik dan langsung menganggukkan kepalanya. Napas Reza begitu berat ketika hampir saja Raka tahu mengenai foto tersebut. Bergegeas dia bangun dari tempat duduknya untuk menghambil foto yang ada diatas meja itu lalu dimasukkan ke dalam laci mejanya.


Segera Reza kembali lagi ke sofa untuk menemani pria itu duduk di sana. Kedatangan Raka memang mendadak seperti sekarang ini. Reza yang sudah begitu panic dengan kedatangan besannya yang sekaligus mantan sahabatnya dulu. Melihat ekspresi Raka yang tetap dingin seperti sekarang ini membuatnya sedikit merasa terganggu dengan apa yang akan terjadi nanti pada dirinya dan juga keluarganya akibat perbuatan Raka.


Reza mendaratkan bokongnya lalu bersandar di sandarakan sofa. “Ada apa? Ada keperluan?” tanya Reza basa-basi.


Raka menghela napas panjang dan mengembuskannya kasar lalu menarik simpul dasinya agar lebih longgar sekarang ini. Reza merasa ada yang tidak beres dengan kedatangan besannya ini. Raka yang terlihat seperti sedang menyimpan sesuatu dari mata teduhnya itu. Tapi tetap fokus pada tehnya.


Raka berdiri dari tempat duduknya dan melangkah mendekati jendela yang di mana dia bisa melihat jalan umum dari atas sana. kendaraan berlalu lalang. Serta dia hanya bisa menghela napas panjang ketika dia tidak bisa mencerna apa yang dibahasakan oleh tubuh Reza. Barangkali ada kepanikan yang sedang disembunyikan oleh Reza.


Pria itu hanya mendengus kesal dengan tingkah Reza yang saat ini. Dia ingin melihat Reza yang dulu selalu mengangkat kepalanya untuk menantang dirinya. Bukan yang menunduk seperti sekarang ini. Dia bahkan suka jika berselisih dengan Reza.


“Kamu mau ngapain sebenarnya?” tanya Reza dengan nada suara yang sedikit rendah.

__ADS_1


Raka tersenyum sinis dan tetap fokus pada pandangannya yang mengarah pada jalan raya dengan memperhatikan kendaraan yang sedari tadi berlalu lalang. Terlihat jelas dari atas sana.


Raka mendekat ke arah meja kerja Reza. “Kamu di sini sebagai tamu! Jadi jangan melakukan hal lebih lagi untuk terlihat tidak sopan di ruangan orang lain, Raka!” peringat Reza dengan suara tenang. Karena dia melihat Raka akan duduk di tempat duduknya itu.


“Tempat yang bagus,”


Reza tak menanggapi hal itu. Dia justru masih penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Raka.


“Kamu kenapa nggak berhenti kerja aja, Reza?” tanya Raka dengan nada sinisnya.


“Kenapa harus berhenti?”


“Kamu bukannya dulu pernah bangkrut karena istri kamu?” ledek Raka.


Reza langsung melotot ketika Raka mengatakan hal itu. Dia sadar jika dia telah menyakiti hati Fania. Tapi jika ada orang yang membahas mengenai istrinya lagi, tentu saja dia tidak akan pernah terima ketika orang mengatakan Nesya biang keladi dari semua masalah yang dirasakan oleh Reza kali ini. “Bangkrut? Kayaknya enggak,”


“Anak kamu? Anak yang waktu itu kamu bela-belain terus ninggalin Fania kok aku nggak pernah lihat?” tanya Raka dengan seolah tidak tahu mengenai hal itu. Tapi sepertinya Reza bisa menebak bahwa Raka tahu tentang kehadiaran Devan. tapi mungkin tidak tahu jika Devan adalah menantu Raka itu sendiri.


“Dia sibuk kuliah,”


 


 


“Sibuk kuliah atau ajak anak orang kabur ninggalin kota?”


 

__ADS_1


 


__ADS_2