WITH YOU

WITH YOU
Anugerah Tuhan


__ADS_3

Adelia dan juga Devan sudah berbaikan, Fania yang sudah merasa sangat tenang ketika anak dan juga menantunya itu sudah akur lagi. Terlihat keharmonisan di antara keduanya lagi. Fania juga sempat melihat keduanya bercanda ketika Devan menemani Adelia berenang. Memang itulah aktivitas yang sekarang paling digemari oleh anak perempuannya. Sesekali terdengar teriakan Adelia yang protes kepada suaminya.


Dari kejauhan, dia melihat Devan sesekali mencium bibir Adelia. Sama seperti yang dilakukan oleh Raka dulu ketika mereka masih menjadi pengantin muda dan dirinya belum hamil kala itu.


“Bu, ada tamu!” panggil Bi Nima. Fania kala itu langsung masuk untuk melihat siapa tamu yang datang.


Begitu dia melihat tamu tersebut, dia melihat sosok pria yang barangkali usianya lebih tua dari Devan. tapi, dia tidak pernah melihat pria ini sebelumnya. Ataukah itu merupakan teman Raka? Tapi setahu Fania, siapapun teman Raka pasti usianya tidak pernah semuda seperti sekarang ini.


Dia mendekati suaminya yang sedang bicara dengan pria itu. baru saja dia mendekat, keduanya hendak pergi. “Pa, mau ke mana?”


“Bentar ya. Ada urusan mendadak,” jawab Raka kepada istrinya.


Dia berpamitan kepada Fania dan langsung pergi dengan pria yang baru saja datang mengatakan bahwa ada urusan penting dan orang itu mencarinya di rumah sakit. Awalnya Raka sendiri bingung, tetapi ketika orang itu mengatakan bahwa yang mencarinya adalah orang tua Nabila. Dia segera pergi mengikuti pemuda yang ia temui di pemakaman waktu itu.


Di perjalanan, mereka memang lebih banyak diam dibandingkan dengan banyak bicara untuk hal tidak penting. Raka yang tidak mengenal pria ini yang barangkali adalah suruhan Papa Nabila. Tapi, untuk apa dia dipanggil? Sedangkan dia tidak ada urusan lagi seperti yang dikatakan oleh papa Nabila.


Tiba di rumah sakit, pemuda itu langsung mengajak Raka masuk ke dalam ruangan tempat di mana Papa Nabila dirawat. Dia baru memperhatikan jika lengan pria itu diperban, “Kamu kenapa?” tanya Raka begitu dia melihat tangan itu.


“Nggak ada, Om. Ini cuman lecet kok,” begitu sampai di ruangan. Pria itu membuka pintu dan langsung mempersilakan Raka masuk.


“Kakek, aku bawa Om Raka seperti yang dibilang sama Kakek,” kata pria itu.


“Kamu keluar dulu ya! Tunggu abangmu juga segera tiba, dia sudah diperjalanan,”


Pria itu keluar. Raka melihat papa Nabila batuk sedari tadi. “Om sakit apa?”


Pria tua itu menggeleng, “Raka, Om bisa minta tolong?”


Apa pun itu, Raka akan melakukannya untuk menebus semua kesalahan yang pernah dia lakukan kepada Nabila dulu. Lagi pula pria ini baru saja memanggilnya untuk hal yang belum diketahui oleh Raka. “Ada apa, Om? Apa yang bisa aku bantu?”


Pria itu meletakkan tangannya di atas dada, dengan selang oksigen yang masih ada dihidungnya. Pria tua itu meneteskan air mata terlebih dahulu sebelum bercerita. “Om, kenapa nangis?”


“Raka, mungkin setelah ini kamu benci saya seumur hidup kamu,”


“Maksud Om?”


Ketika pria itu hendak bangun, Raka melarang dan justru mengatur tempat tidur agar sedikit lebih tinggi. “Raka, tunggu Aksa pulang dulu!”

__ADS_1


“Aksa?”


Pria itu mengangguk, dia melihat raut wajah panik raka yang ketika itu terlihat sangat khawatir. “Om nggak mau terlambat ngasih tahu kamu. Yang tadi itu adalah Argi, dan kakaknya sedang dalam perjalanan,”


“Aku nggak ngerti apa yang Om maksud,”


Papa Nabila mengelus kepala Raka dengan pelan dengan infus tangan sebelahnya menggenggam tangan kiri Raka. Kali ini ia semakin dibuat kebingungan. “Raka, mungkin sudah terlalu lama Om bohong sama kamu. Mengenai meninggalnya Nabila. Nabila nggak meninggal karena bunuh diri, melainkan dia meninggal setelah dua hari melahirkan anak kamu,”


Tubuh Raka membeku dan terasa lemas. Setelah Nabila meninggal dulu, dia sama sekali tidak pergi ke pemakaman karena dia sempat kabur dari kenyataan itu. dia tidak menghadapi masalah itu. justru dia pergi begitu saja tanpa peduli dengan kehidupan keluarga Nabila. Mamanya juga sempat melarang karena takut jika dia menjadi sasaran keluarga Nabila.


“Argi dan Aksa, mereka adalah putra kamu!” Raka menundukkan kepalanya sambil menangis. “Karena Nabila bilang kalau mereka nggak boleh tahu siapa Papa kandung mereka. Dan Nabila pernah bilang kalau mereka harus tahu bahwa kamu sudah meninggal, rasa tidak bertanggung jawab kamu yang buat Nabila menyerah. Nabila gagal jantung ketika kamu dan dia pacaran. Ketika Om suruh dia menggugurkan kandungan waktu itu, dia bilang bahwa hanya Argi dan Aksa yang dia punya sekalipun kamu meninggalkan dia,” dia masih dalam posisi menunduk dan mengangkat kepalanya. Dia masih menangis ketika dia tahu bahwa pria tadi adalah anak kandungnya. “Yang kamu lihat di pemakaman itu adalah Aksa, bukan Argi. Mereka itu kembar. dan seperti yang saya bilang bahwa kamu punya anak kembar,”


Raka sama sekali tidak mengangkat kepalanya. Rasanya dia begitu hancur mengetahui semua itu. “Nabila dirawat ketika usia kandungannya tujuh bulan. Dan selama dua bulan dia berada di rumah sakit. Dia mempertaruhkan nyawanya agar dia bisa melahirkan terlebih dahulu. Dia tahu kalau kamu nggak pernah mau terima anak darinya. Nabila selalu ingin kamu bahagia, dia nggak benci sama kamu. Setelah meninggalnya Nabila, Om dan Mamanya Nabila yang rawat Aksa dan Argi. Dan itu rasanya begitu sakit, Raka. Mereka sama seklai nggak pernah tahu di mana keberadaan orang tua. Yang mereka tahu orang tua mereka tidak ada, yang kehilangan bukan hanya kamu. Tapi semuanya, termasuk anak kamu. Pertama kali berita menyebar tentang Nabila meninggal, itu karena dia masuk rumah sakit dan dokter bilang nggak ada harapan lagi. Kemudian dia bilang nggak mau ganggu kehidupan kamu lagi, Raka. Dia bilang kalau dia bakalan rawat anak kamu sendirian. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Justru dia meninggal karena sepertinya sudah lelah dengan penyakitnya,”


“Nabila nggak pernah bilang kalau dia sakit,”


“Nabila sakit sedari kecil, Raka. Dia pernah bilang kalau dia ingin menjadi pengantin kamu. Alasan dia terus meminta kamu untuk menikahinya karena dia ingin menjadi pengantin kamu sebelum meninggal. Seolah dia tahu kapan dia akan pergi, seolah dia tahu jika dia tidak akan pernah hidup selamanya sama kamu,”


“Aku nggak pernah tahu itu sama sekali, Om,”


“Bagaimana kamu mau tahu, Raka? Sedangkan untuk tanggung jawab atas apa yang kamu perbuat saja kamu tidak peduli. Anak kamu, darah daging kamu sendiri. Nabila dibawa pergi sama saudaranya ketika dia sedang hamil dan waktu itu juga dia masuk rumah sakit,”


“Nggak, justru dia pertahanin anak kamu. Dia nggak pernah berpikiran seperti itu. sekalipun dosa ketika kamu dan dia mengenai anak itu. Tapi, doakan saja yang terbaik buat dia. Dan, untuk sekarang ini,” ucapan papa Nabila terhenti sejenak. “Om mau titip Argi dan juga Aksa sama kamu. Rumah yang ditempati kali ini sudah dijual. Mobil yang dia pakai jemput kamu juga milik saudaranya Nabila,”


Raka menganggukkan kepalanya. “Pasti Om. Pasti aku rawat mereka,”


“Mereka bahkan sampai usia sekarang ini belum menikah sama sekali karena pekerjaan mereka yang terlalu sibuk, keduanya bergiliran menjaga Om. Semua mereka jual untuk perawatan. Keduanya sibuk kerja, tapi masih sempat untuk nengokin Om. Sekarang, Om titip mereka ke kamu. Tugas Om selesai, sekalipun di kehidupan berikutnya Om ketemu Nabila dan dia marah sama Om, tetap Om bakalan hadapi. Karena Aksa dan juga Argi tetap anak kamu. Tanggung jawab kamu, Om antar sampai di sini,”


Ketika Raka menyeka air matanya begitu mendengar pintu terbuka. Dia langsung melirik ke arah lain. Merasa malu jika dilihat menangis.


“Kakek,” panggil keduanya masuk secara bersamaan. Kali ini Raka membeku karena tidak bisa membedakan keduanya yang benar-benar sangat mirip. Tapi dia tidak pernah memperhatikan keduanya yang memang mirip dengan dirinya di masa mudanya dulu. “Kakek besok harus pulang!” kata Aksa.


“Aksa, Argi, maafin kakek,” sambil menangis. “Ini, Raka. Papa kalian berdua yang selama ini sering kalian tanyain,”


Aksa dan Argi melirik ke arah Raka yang sedang duduk bersebelahan dengan mereka. “Aksa dan juga Argi, ikut Papa setelah Kakek pergi, ya!”


“Kenapa kakek bilang begitu? Kakek bilang dia sudah nggak ada? Kenapa sekarang justru bilang kalau orang ini adalah, Papa?”

__ADS_1


“Papa nggak masih hidup,”


Keduanya menunduk begitu melihat Raka yang baru selesai menangis. “Papa kalian itu adalah pria yang baik, Papa kalian nggak tahu kalau kalian itu masih hidup,”


“Kenapa baru sekarang sih?” protes Aksa.


“Karena dulu, kakek takut ditinggal kalian berdua. Itu adalah alasan yang masuk akal agar kalian tetap berada di sisi kakek, bukan? Kakek nggak mau kalau sampai terjadi kalian ninggalin kakek sendirian saat Mama dan juga nenek kalian ninggalin Kakek sendirian,” isak papa Nabila.


Raka berdiri karena dia tidak mau melihat kepergian lagi setelah ini. Dia merasa sangat sakit ketika mengetahui anaknya masih hidup. Anak yang selama ini menjadi dosa terbesarnya. “Mama meninggal karena gagal jantung, Papa kalian di sini dan waktu itu Papa kalian ada masalah,”


“Saya permisi, Om,”


“Mau ke mana, Raka?”


“Biar aku yang selesaikan semua biaya rumah sakit, Om,”


Aksa dan juga Argi kebingunan harus berbuat apa. Antara bahagia, tapi mereka juga kecewa jika mengetahui ini dengan terlambat. Mereka menganggap bahwa pria yang disebut Papa itu sudah tiada seperti yang diketahui oleh keduanya.


“Papa,” panggil Aksa yang membuat langkah Raka terhenti. Dia hanya tidak ingin jika dibenci oleh anaknya. Tapi, ketika mendengar panggilan itu, dia langsung berbalik. “Papa benar Papa kami?”


Raka mengangguk dan bibir bawahnya bergetar menahan tangis. “Om sudah lama tahu tempat tinggal kamu. Maka dari itu, setelah pergi nanti. Om nggak mau ada hutang lagi sama kamu. Apalagi melihat kamu menangis di makam Nabila lagi! Anak ini adalah bukti kamu dan Nabila saling mencintai dulu,”


“Papa mau pergi ke mana?” panggil Argi lagi.


“Kalian nggak bakalan nerima Papa ‘kan?”


Keduanya menggeleng. Aksa yang terlebih dahulu memeluk Raka yang tidak bisa menahan air matanya. “Kenapa nggak pernah nyariin kami berdua?”


Raka membalas pelukan anaknya, “Karena Papa nggak tahu kalau kalian berdua masih hidup. Kakek bilang kalau kalian berdua meninggal sama Mama dulu,”


Sedangkan Argi masih terpaku masih tidak percaya dari kecil mereka tidak pernah melihat pria ini sebelumnya. Usia mereka tiga puluh tahun lebih.


 


 


Raka yang tidak tahu lagi bagaimana harus mengucapkan kata syukur ketika dia melihat anaknya tumbuh dengan sehat. Penyesalan yang pernah dia lakukan adalah ketika dia tidak mau bertanggungjawab kepada Nabila. Sekarang, dia menerima kabar baik jika anaknya masih hidup. Itu merupakan suatu anugerah terindah yang di dalam hidupnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2