
"Devan!"
Devan yang baru saja turun dari kamar dan melihat mertuanya sedang duduk di ruang tengah bersama sang nenek. Padahal, tadinya dia hendak pergi karena ada urusan mendadak. Tapi Papa mertuanya justru memanggilnya dan mau tidak mau dia harus segera ke ruang tamu.
"Ada apa?"
"Sopan dikit kek sama mertua!" tukas Raka yang ketika melihat menantunya berekspresi datar. Padahal dia tahu bahwa menantunya memang memiliki sikap dingin seperti sekarang ini. Tapi dia memang senang sekali membuat menantunya mati kutu dihadapannya. Adelia yang saat itu mengantar minuman untuknya hanya menunduk tanpa membela suaminya.
"Devan, kamu ngopi nggak?"
Raka yang mendengar panggilan itu sangat biasa melirik kearah putrinya yang langsung menunduk. "Adelia!"
Baru saja anak itu hendak pergi, Raka sudah memanggilnya. "Ada apa, Pa?"
"Nggak ada panggilan khusus ke suami kamu gitu?" tanyanya kepada sang putri.
Adelia langsung menggeleng ketika melihat Devan. "Nggak ada, Pa,"
"Dasar, pernikahan datar," jawab Raka.
Bagaimana mungkin pria sialan ini bisa menjadi menantunya, itulah yang dipikirkan oleh Raka saat ini ketika melihat menantunya masih tetap sama menampilkan ekspresi datar. Tapi, ada syukurnya juga ketika Adelia tidak jatuh ke tangan Farrel waktu itu.
"Menantu," panggilnya.
Devan dengan sigap langsung mengangkat kepalanya. "Ada apa, Om?"
"Kapan kamu mau tujuh bulanan?"
"Ya nanti kalau udah tujuh bulan,"
"Di sini ya!"
"Di rumah saya,"
__ADS_1
"Di sini aja, ya!" paksa Raka.
Devan tak ingi berdebat dengan pria sialan yang disebut dengan mertua yang benar-benar sudah membuatnya sesak dari awal mereka datang. Devan pikir bahwa mertuanya akan benar-benar marah. Akan tetapi justru membuatnya keluar keringat panas dingin sedari tadi.
"Om, saya mau keluar sebentar,"
"Ke mana?"
"Ada urusan,"
"Cepat balik!"
Devan ingin menghela napas dengan baik di luar karena tidak mungkin dia tetap berada di rumah dan bertemu dengan mertua yang sikapnya sudah benar-benar seperti sekarang ini. Apa bedanya papa kandung dan juga papa mertua jika sikap keduanya sama-sama memojokkan dirinya seperti sekarang ini.
"Devan, kamu nggak makan malam di rumah?"
"Aku balik lagi kok, aku ada urusa sebentar,"
Adelia pun bersalaman kepada suaminya dan di saat itu pula Devan mencium kening serta bibir Adelia sekilas di samping Raka.
Fania yang waktu itu selesai memasak dan baru saja melihat Devan hendak pergi karena dia juga menyaksikan Devan yang mencium Adelia dengan begitu romantisnya.
"Hati-hati di jalan ya!" perintah Fania yang kemudian disalami juga oleh Devan.
Adelia mengantar suaminya ke teras depan dan begitu Devan pergi. Adelia bergabung di ruang tengah bersama dengan orang tuanya. Adelia yang duduk sambil mengelus perutnya dengan pelan.
"Adel, dia selalu seperti itukah?" tanya Raka dengan seksama ketika melihat raut wajah anaknya yang terlihat bahagia.
"Devan memang romantis banget, Pa. Belum lagi kalau dia itu sedang masak, Pa,"
"Masak apa?" tanya Raka pura-pura tidak tahu kalau sebenarnya Keano dan juga Fania sudah merasukinya dengan cara mengagungkan Devan dihadapannya.
Adelia melirik sejenak kearah sang mama dan akhirnya dia menjawab pertanyaan papanya. "Devan itu nggak sebrengsek yang Papa lihat, dia itu sebenarnya baik kok. Belum lagi kalau dia udah mulai mau lakukan hal ini itu, dia lakukan sendirian. Makanya Pa walaupun nggak ada asisten, dia yang bersihin rumah dan juga kadang dia itu bersihin kamar dan nggak nyuruh aku sama sekali,"
__ADS_1
"Kenapa nggak ada asisten?"
"Rumahnya sederhana, Pa,"
"Nggak luas seperti ini?"
Adelia menggeleng dan menceritakan semua apa adanya. Karena memang rumahnya tidak terlalu besar seperti apa yang diharapkan oleh kedua orang tuanya. Tapi dia bersyukur jika urusan rumah tangga tak dicampuri oleh mertuanya dan ia bisa hidup dengan tenang bersama dengan Devan dan juga Sabina yang bahkan sampai hari ini masih berada di rumahnya karena anak itu sudah benar-benar enggak pulang. Sekalipun orang tuanya menghubungi beberapa kali agar dia pulang.
Adelia tahu juga bahwa adiknya memang tidak mau lagi pulang ke rumah selama sikap orang tuanya yang memaksa itu belum juga berubah. Kadang ketika dia bertengkar dengan Devan, Adelia harus menahan diri agar adiknya tidak tahu masalah yang sedang dia hadapi bersama dengan Devan.
"Bengong?" tanya papanya.
Adelia tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak kok, Pa," Perempuan yang menggunakan daster ketika berada di rumah orang tuanya dengan corak berwarna merah pekat dan dipadu dengan warna hitam. Daster adalah pakaian yang paling dia senangi saat ini karena dia bebas bergerak.
"Adel, gimana tanggapan orang tua Devan waktu kamu nikah?"
Pertanyaan yang sebenarnya harus dia hindari. Akan tetapi kali ini papanya seolah ingin tahu jawaban tentang semua itu. Adelia juga sebenarnya tahu jika diriya memang tidak direstui oleh kedua mertuanya. "Ma, Pa, aku sama Devan sama kok. Orang tua sama-sama nggak suka,"
"Kamu nggak pernah ketemu sama mertua kamu?"
"Pernah, Ma, Pa. Waktu resepsi, Mamanya pernah datang mau ngacauiin semuanya. Tapi tante Devan itu baik banget dan hadang mama Devan sampai pada akhirnya dia pergi dari sana. Dan juga karena semua sudah di siapkan oleh Devan yang waktu itu bawa beberapa orang untuk jaga karena takut jika orang tuanya mengacaukan,"
"Berarti sampai sekarang kamu nggak akur sama mertua kamu sayang?" tanya sang Mama yang ikut menimpali apa yang dikatakan oleh papanya tadi
Adelia menganggukan kepla dengan pelan. "Aku nggak apa-apa kalau memang orang tua Devan nggak bisa terima aku, bukan itu yang aku mau juga. Yang penting Devan tetap sama aku, Pa. Tapi asal Papa sama Mama tahu kalau dia itu ninggalin semua yang dia miliki demi aku,"
"Papa sudah tahu,"
"Pa, jangan cuek-cuek sama Devan! Aku nggak mau kalau cueknya papa justru buat Devan berubah dan akhirnya dingin sama aku, Devan aslinya itu dingin banget, Pa,"
"Papa nggak bermaksud seperti itu. Tapi,Papa pengin lihat bagaimana dia bisa bersikap sama Papa. Iyakah dia sebaik yang diceritakan sama adik kamu? Papa nggak mau kamu kenapa-kenapa, kamu itu perempuan. Kamu juga anak yang paling disayangi, Adelia. Papa nggak mau kamu menderita, sakit hati dan sebagainya. Jujur, waktu dia bawa kamu pergi Papa sebenarnya sudah merasa menyesal, tapi lihat kandungan kamu yang sekarang udah besar, ada rasa sedih yang di mana Papa ngerasa bahwa ini adalah keadilan Tuhan yang di mana sesuatu pernah terjadi di masa lalu dan akhirnya sehebat apapun papa jagain kamu, semua akan kembali lagi pada sang pencipta. Kita nggak pernah tahu cepat atau lambat karma itu menyapa. Papa terima kamu, Papa terima Devan, selagi kamu bahagia, kenapa enggak? Itu yang Papa pikirkan, sayang,"
Adelia tersenyum ketika mendengar pengakuan papanya yang barangkali pernah melakukan kesalahan tapi tidak ingin dibahas karena Adelia sedang hamil dan anaknya sudah bisa mendengar semua percakapan itu. Papanya berusaha menjaga ucapan di hadapan Adelia.
__ADS_1
Jangan lupa untuk di vote juga sebanyak-banyaknya ya. Ditunggu berikutnya,