WITH YOU

WITH YOU
Aku Pasti Kembali


__ADS_3

Setelah saling mencurahkan perasaan masing-masing, Jonathan dan Geraldyn akhirnya tertidur di gazebo dengan posisi saling bersandar. Hingga tak lama kemudian subuh pun menjelang.


Jonathan terbangun lebih dulu. Dipandanginya wajah Geraldyn yang sedang terlelap. Gadis itu tampak sangat tenang dan manis saat tertidur seperti ini, tapi akan menjelma seperti seekor landak jika sudah terjaga.


Tanpa sadar senyum Jonathan mengembang hanya dengan memandangi wajah Geraldyn. Tangannya pun terulur untuk membelai pipi Geraldyn lembut.


Tak lama kemudian, Jonathan bangkit. Dia menghubungi asistennya dan berbicara selama beberapa saat. Kemudian digendongnya Geraldyn masuk ke dalam rumah peristirahatannya. Jonathan membaringkan tubuh gadis itu di atas sofa, lalu langsung pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Karena sering didatanginya, tempat itu memiliki fasilitas yang cukup lengkap, bahkan tersedia beberapa pakaian yang bisa digunakan jika Jonathan ingin mandi di sana.


Tepat setelah Jonathan selesai berganti pakaian, Geraldyn terbangun. Dia agak tertegun melihat Jonathan yang telah berpenampilan rapi.


"Aku ketiduran. Jam berapa sekarang?" Tanya Geraldyn kemudian.


"Ini baru jam lima pagi. Cuci mukamu dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Jawab Jonathan.


Geraldyn menurut. Dia bangkit dari sofa dan pergi ke kamar mandi. Setelah menggosok giginya dan mencuci muka, Geraldyn pun kembali menemui Jonathan.


"Ayo, sopirku sudah menunggu. Penerbanganku satu jam lagi." Ujar Jonathan saat melihat Geraldyn keluar dari kamar mandi.


Geraldyn tertegun selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk.


"Baiklah." Gumam Geraldyn pelan. Entah kenapa dia merasa agak tidak rela karena Jonathan benar-benar akan pergi.


Dengan gontai Geraldyn mengikuti langkah Jonathan, lalu masuk ke dalam mobil saat lelaki itu membukakan pintu mobil. Jonathan juga masuk dan duduk bersebelahan dengan Geraldyn.


Selama perjalanan, tak ada yang memulai pembicaraan. Baik Jonathan maupun Geraldyn, keduanya larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Hati Geraldyn mendadak merasa sedih tanpa alasan. Dadanya pun terasa sesak hingga tanpa sadar ia menghela nafas panjang. Mungkinkah jika sebenarnya dia merasakan itu karena Jonathan akan pergi?


Jonathan menoleh dan tersenyum tipis menyadari kegelisahan Geraldyn. Digenggamnya jemari Geraldyn erat hingga gadis itu merasa sedikit terkejut dan menoleh kearahnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu tidak rela aku pergi?" Tanya Jonathan.


Geraldyn langsung memasang wajah acuhnya, seakan tak peduli akan hal itu sama sekali.


"Tidak sama sekali." Jawab Geraldyn cepat.


Jonathan kembali tersenyum. Kini dia mulai mengerti dengan sikap Geraldyn yang seringkali tak mau mengakui perasaannya sendiri. Hal itu seperti sebuah perlindungan diri yang membentenginya agar tak mudah tersakiti. Ya, kehidupannya selama ini yang bisa dibilang sulit membuat gadis itu tak mudah membuka diri pada sembarang orang. Hal itu karena dia tak ingin menunjukkan sisi lemahnya pada kehidupannya yang keras.


"Sebenarnya aku yang sedikit tidak rela meninggalkanmu seperti ini." Ujar Jonathan akhirnya.


"Tapi jika aku tidak pergi, permasalahannya tidak akan selesai." Gumam Jonathan lagi.

__ADS_1


Geraldyn tertegun selama beberapa saat, sebelum akhirnya menoleh kearah Jonathan.


"Memangnya kamu akan pergi berapa lama?" Tanya Geraldyn.


Jonathan juga melihat kearah Geraldyn.


"Memangnya kenapa?" Jonathan balik bertanya sambil menatap gadis itu tajam.


"Tidak ada, cuma tanya saja. Kalau kamu tidak mau menjawab juga tidak apa-apa." Ujar Geraldyn sambil membuang wajahnya kearah lain. Dia berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang agak memerah agar tak dilihat oleh Jonathan.


Sekali lagi Jonathan tersenyum. Dia jadi tergelitik untuk sedikit menggoda gadis itu. Jonathan ingin tahu apakah Geraldyn akan terus berusaha untuk bersikap acuh padanya atau tidak.


"Aku tidak tahu akan berada di Jerman berapa lama. Mungkin seminggu, mungkin juga sebulan. Atau mungkin bisa saja sampai setahun."


"Apa?" Geraldyn menyentak tanpa sadar.


"Kenapa?" Tanya Jonathan dengan memasang wajah tanpa dosa.


Geraldyn sedikit melebarkan matanya dengan raut wajah yang terlihat agak panik.


"Kamu...sungguh akan pergi selama itu?" Tanya Geraldyn lagi.


"Aku tidak tahu. Itu hanya kemungkinannya saja. Memangnya kenapa kamu bertanya? Kamu juga tidak akan merindukanku." Ujar Jonathan lagi.


"Bisakah kamu tidak pergi selama itu?" Tanya Geraldyn akhirnya dengan nada lirih.


Jonathan menoleh cepat, seakan tak percaya dengan pendengarannya tadi.


"Memangnya kenapa? Kamu harus mengatakan alasan yang jelas kenapa aku harus cepat kembali. Mungkin dengan mendengar alasanmu, aku bisa mempertimbangkan untuk mnyelesaikan urusanku dengan cepat."


Geraldyn pun mendengus mendengar kata-kata Jonathan barusan.


"Pergilah dan jangan kembali lagi. Aku akan menyusul ke Jerman dan mendatangi satu persatu keluarga Hansen yang ada di sana sampai aku menemukanmu, lalu aku akan membuat perhitungan denganmu."


Jonathan tampak menahan tawanya.


"Aku merasa sangat terhormat jika kamu sampai melakukan itu." Ujarnya.


Geraldyn kembali menghela nafas panjang saat menyadari kata-kata konyolnya tadi.


"Lupakan. Aku baru ingat jika tidak punya cukup uang untuk melakukan itu. Lakukan saja semaumu." Gumamnya dengan nada putus asa.

__ADS_1


Jonathan terdiam sambil kembali menatap gadis di sebelahnya itu. Tangannya kemudian terulur membelai pucuk kepala Geraldyn.


"Apakah sesulit itu?" Tanya Jonathan.


Geraldyn tampak menautkan kedua alisnya.


"Apa sangat sulit mengungkapkan isi hatimu yang sebenarnya? Bukankah sangat mudah mengatakan jika kamu akan sangat merindukanku dan ingin aku segera kembali. Kenapa kamu sulit sekali mengatakannya?"


Untuk kesekian kalinya Geraldyn memilih untuk membuang mukanya kearah lain.


"Kamu berpikir terlalu banyak." Kilah Geraldyn.


"Tidak. Aku mengatakan isi hatimu yang sebenarnya. Kamu tidak rela aku pergi, apalagi dalam waktu yang lama. Iya, kan?"


Geraldyn tak menjawab.


"Cobalah untuk lebih jujur padaku mulai sekarang, Geraldyn. Kamu bisa mempercayaiku. Tidak perlu bersikap tangguh lagi di hadapanku, karena sekarang aku yang akan melindungimu."


Geraldyn masih bergeming dan tak menanggapi kata-kata Jonathan, hingga mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti tepat di depan rumah Geraldyn.


"Sudah sampai." Suara Jonathan memecah keheningan. Tapi Geraldyn tak merespon dan masih saja mematung di tempatnya.


"Biar aku bukakan pintu mobilnya." Ujar Jonathan sambil hendak beranjak dari duduknya.


Geraldyn menahan tangan Jonathan hingga Jonathan kembali duduk sambil melihat kearah gadis itu dengan penuh tanda tanya.


"Cepatlah kembali..." Ujar Geraldyn lirih.


Jonathan tertegun sambil menatap balik kearah Geraldyn. Dan dia semakin terkejut saat gadis itu tiba-tiba masuk ke dalam pelukannya.


"Jangan pergi terlalu lama, Jonathan. Aku akan sangat merindukanmu..." Ujar Geraldyn lagi sambil menenggelamkan wajahnya ke dada Jonathan.


Jonathan akhirnya tersenyum sambil sedikit mengurai pelukan Geraldyn. Dirangkumnya wajah gadis itu sambil masih terus tersenyum.


Jonathan mencium kening Geraldyn, lalu beralih mengecup bibirnya berulang kali, hingga akhirnya, dipagutnya bibir gadis itu dengan lembut dan bergairah. Jonathan seakan ingin mecurahkan seluruh perasaannya terhadap Geraldyn lewat ciuman itu.


Setelah saling berpagutan selama beberapa saat, Jonathan dan Geraldyn menyudahi ciuman mereka, namun masih saling menempelkan kening satu sama lain.


"Jangan khawatir. Meskipun aku tidak tahu akan pergi berapa lama, tapi pada akhirnya aku tetap akan datang padamu. Tunggulah dengan sabar, aku pasti kembali."


Bersambung...

__ADS_1


Tetep like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤


__ADS_2