
Geraldyn menyambut uluran tangan Jonathan, dan dengan sigap lelaki itu menarik tubuhnya untuk bangkit.
Dengan agak heran Geraldyn memperhatikan penampilan Jonathan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lelaki itu telah mengenakan pakaian terbaik yang tampak dijahit secara khusus untuknya. Dia juga mengenakan sepatu eksklusif buatan tangan yang hanya bisa di pesan oleh orang kaya saja. Belum lagi, tatanan rambutnya yang terlihat seperti hasil karya dari stylist rambut profesional.
Penampilan Jonathan benar-benar terlihat sempurna, seolah dia akan menghadiri sebuah acara yang sangat istimewa.
"Kamu...mau bertemu dengan kedua orang tuaku?" Tanya Geraldyn dengan agak bingung.
"Menurutmu? Bukankah kamu sendiri yang ingin aku bertemu dengan kedua orang tuamu?" Jonathan malah balik bertanya.
"I-iya benar. Tapi bukankah tadi siang kamu tidak mau membantuku. Kenapa sekarang berubah pikiran?" Tanya Geraldyn lagi sambil mengalihkan pandangannya pada mobil mewah yang terparkir tak jauh dari sana. Jika benar itu mobil milik Jonathan, berarti mobil itu baru, pasalnya Geraldyn sangat yakin jika ia tidak pernah melihat Jonathan menggunakan mobil itu sebelumnya.
"Aku tidak mengatakan jika aku menolak permintaanmu. Kamu saja yang langsung marah dan pergi begitu saja sebelum aku selesai bicara." Jawab Jonathan dengan setengah menggerutu.
"Itu mobilmu?" Tanya Geraldyn lagi sambil menunjuk kearah mobil yang sedari tadi ia perhatikan.
"Iya, benar. Cepatlah naik. Sopirku sudah menunggu dari tadi." Jonathan menarik tangan Geraldyn menuju mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Geraldyn.
"Tu-tunggu dulu, tunggu." Geraldyn menghentikan Jonathan, hingga Jonathan melihat kearahnya dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa?" Tanya Jonathan heran.
"Kamu mau menemui orang tuaku dengan penampilan begini? Dan membawa mobil mewahmu ini?" Geraldyn malah balik bertanya.
Secara impulsif Jonathan jadi melihat penampilannya sendiri.
"Memangnya kenapa?" Tanyanya lagi dengan sedikit heran, pasalnya penampilannya kali ini sudah sangat sempurna dan rasa-rasanya tak ada yang kurang.
"Aku sengaja bersiap dari sore tadi untuk bertemu dengan orang tuamu." Gumam Jonathan lagi.
"Dan tiba-tiba membeli mobil baru juga?"
Kali ini Jonathan agak terkejut.
"Darimana kamu tahu?" Tanyanya.
Geraldyn sedikit terperangah, lalu menghela nafasnya.
"Astaga..." Gadis itu menepuk keningnya sendiri.
"Kenapa? Tidak ada yang salah, kan?" Tanya Jonathan lagi dengan raut tanpa dosa.
Sontak Geraldyn melihat kearah Jonathan dengan agak membeliakkan matanya.
"Kalau kamu menemui orang tuaku dengan membawa mobil mewah dan berpenampilan seperti ini, bisa-bisa begitu melihatmu mereka langsung pingsan." Gerutu Geraldyn.
Jonathan semakin tidak mengerti saja mendengar kata-kata Geraldyn itu.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Tanya Jonathan tak terima.
Geraldyn kembali menghela nafasnya.
"Orang tuaku alergi pada orang kaya!" Ujarnya kemudian.
"Hah?" Jonathan terperangah dengan raut wajah yang sulit di lukiskan.
"Kalau begini lebih baik tidak jadi saja menemui mereka. Mungkin aku harus mencari alasan lain agar mereka tidak perlu menjodohkanku..." Geraldyn agak mendesah.
"Hei, apa maksudmu tidak jadi membawaku menemui kedua orang tuamu? Kamu benar-benar tidak menghargai usahaku, ya?" Jonathan terlihat kesal.
Geraldyn kembali melihat kearah lelaki itu.
"Siapa juga yang menyuruhmu melakukan semua ini? Aku bukannya tidak menghargai usahamu, tapi kalau melihat pacarku seperti ini, orang tuaku bisa syok." Kilah Geraldyn.
Jonathan kembali terperangah, sebelum akhirnya dia tertawa sumbang.
"Tidak bisa dipercaya. Dimana-mana orang-orang akan senang jika calon menantu mereka ternyata adalah orang kaya, bagaimana bisa orangtuamu justru akan merasa syok. Apa-apaan?"
"Bukankah sudah aku bilang, orang tuaku alergi pada orang kaya."
Jonathan tampak kehabisan kata-kata.
"Astaga...bagaimana bisa di dunia ini ada orang yang alergi dengan orang kaya. Apa kamu yakin jika orang tuamu itu bukan sebangsa alien?"
Melihat reaksi Geraldyn yang seperti akan marah lagi, Jonathan pun akhirnya memilih untuk mengalah.
"Baiklah, baiklah..." Jonathan berusaha menenangkan Geraldyn.
"Jadi aku harus bagaimana?" Tanyanya dengan setengah putus asa. Sejujurnya Jonathan merasa agak kecewa karena usahanya bersiap-siap sejak sore tadi berakhir dengan sia-sia.
Geraldyn terdiam selama beberapa saat, lalu melihat kearah Jonathan dengan agak tidak yakin.
"Kamu benar-benar bersedia menemui orang tuaku?" Tanya Geraldyn kemudian dengan nada rendah.
Jonathan tampak menghela nafasnya sembari memejamkan matanya sebentar.
"Sudah begini kamu masih saja bertanya? Apa aku terlihat sedang bercanda?" Jonathan balik bertanya dengan agak kesal.
"Maaf, aku hanya tidak menyangka..." Ujar Geraldyn lirih. Sejurus kemudian gadis itu mengangkat wajahnya sambil mengulas sebuah senyuman yang sangat manis.
Jonathan membeku dan tak tahu harus berkata apa. Melihat senyum Geraldyn, kekesalannya tadi tiba-tiba menguap entah kemana.
"Jika ingin bertemu orang tuaku, kamu harus berpenampilan lebih sederhana, karena mereka adalah orang yang sederhana. Mereka cenderung takut jika berhadapan dengan orang-orang kaya yang berkuasa. Aku hanya tidak mau membuat mereka merasa terkejut." Ujar Geraldyn kemudian.
Jonathan tertegun sambil kembali mengamati penampilannya sendiri. Jika dipikir-pikir, memang agak berlebihan menonjolkan dirinya dengan penampilan terlampau sempurna seperti ini. Bukannya terlihat memukau, Jonathan justru akan berakhir dengan mengintimidasi orang tua Geraldyn dengan penampilannya.
__ADS_1
Jonathan menghela nafasnya. Mungkin karena terlalu bersemangat dia jadi bertindak konyol.
"Sejujurnya, aku mengatakan pada orang tuaku jika pacarku adalah teman kerjaku sendiri. Mana ada orang yang bekerja untuk orang lain sepertiku punya mobil semewah ini. Biarpun punya mobil, setidaknya itu mobil yang biasa-biasa saja." Geraldyn sedikit menundukkan wajahnya.
"Maaf jika menyusahkanmu, aku hanya tidak ingin mereka berpikir jika putri mereka adalah peliharaan orang kaya." Tambah Geraldyn lagi.
Jonathan kembali menghembuskan nafas kasar. Mungkin dia yang salah berpikir tentang orang tua Geraldyn. Harusnya dia memang tidak boleh menyamakan apapun yang berkaitan dengan Geraldyn seperti para gadis yang di kenalnya selama ini, karena pada kenyataannya Geraldyn memang berbeda. Dia satu-satunya perempuan yang tidak silau dengan segala kesempurnaan Jonathan, selain Carissa.
"Jadi, aku harus berpakaian seperti apa?" Tanya Jonathan kemudian.
Geraldyn menoleh sambil kembali tersenyum.
"Mungkin kita perlu mampir ke toko di depan sana untuk mencari pakaian dan juga sepatu untukmu." Jawab Geraldyn.
Jonathan melihat ke sekelilingnya. Di sekitaran sini memang ada beberapa toko yang menjual pakaian dan sepatu, tapi tentu saja semua yang dijual bukanlah barang branded seperti yang selalu dia gunakan selama ini.
"Baiklah." Ujar Jonathan sambil meraih jemari Geraldyn.
"Kita naik mobil ini dulu, nanti aku akan suruh sopirku untuk menukar dengan mobil yang lain."
"Memangnya kamu punya mobil yang biasa-biasa saja?" Tanya Geraldyn.
Jonathan sedikit mendengus.
"Tentu saja tidak. Mungkin aku harus meminjam dari salah satu pegawaiku."
Geraldyn tertawa dengan agak tertahan.
"Aku kira kamu mau membelinya lagi."
"Aku memang ingin melakukannya, tapi kamu pasti akan kembali protes." Gumam Jonathan.
Geraldyn kembali menoleh.
"Kamu sudah mulai mengerti aku rupanya." Ujarnya.
Jonathan juga menoleh kearah Geraldyn dengan tatapan yang sulit dilukiskan.
"Tentu saja."
'Apapun untukmu, Geraldyn...'
Bersambung...
Jangan protes kalo next part emak bakalan masih bahas Jojo dan Gege lagi, soalnya ini udah menuju end, jadi cerita mereka mesti di tuntasin. Tapi ntar bakal kembali fokus ke Carissa Evan ya, pemeran utamanya tetep mereka.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1