WITH YOU

WITH YOU
Meminta Bantuan


__ADS_3

Carissa mulai disibukkan dengan jadwal latihannya untuk persiapan konser, sedangkan Evan juga telah bekerja di sebuah rumah sakit terkemukan di sana. Kehidupan mereka berjalan dengan sangat baik. Lily juga tumbuh dengan sehat dan aktif. Bayi menggemaskan itu kini terlihat semakin cantik seiring bertambahnya waktu.


Carissa selalu membawa Lily saat dia latihan. Seorang pengasuh yang sudah sangat berpengalaman akan menjaga Lily saat Carissa sedang melakukan latihannya. Sejauh ini, tidak ada masalah yang terjadi saat dia berlatih sambil membawa Lily. Carissa bahkan membuat banyak orang kagum karena memulai karirnya lagi sambil menjalankan perannya sebagai seorang ibu.


Siang itu, Carissa menyudahi latihannya sejenak karena sudah waktunya makan siang. Setelah membersihkan diri, ibu muda itu langsung menyusui Lily yang tampak sudah kelaparan. Sambil masih menyusui Lily, Carissa memeriksa ponselnya. Dan ternyata ada pesan dari Evan yang mengajaknya makan siang di sebuah restoran tak jauh dari tempatnya berlatih. Evan juga mengatakan agar Carissa mengajak pengasuh Lily serta Geraldyn juga. Tampaknya suami Carissa itu sedang ingin mentraktir semua orang hari ini.


"Suamiku mengajak kita makan siang di restoran dekat sini. Kalian ada waktu?" Tanya Carissa pada Geraldyn dan Sesha, pengasuh Lily.


"Bukannya Tuan Evan ingin makan siang berdua dengan Nyonya saja?" Sesha balik bertanya.


"Tidak. Kali ini kelihatannya dia ingin mentraktir kalian juga." Jawab Carissa.


"Maaf, aku tidak bisa." Jawab Geraldyn dengan agak menyesal.


"Sebenarnya aku sangat ingin ditraktir oleh suamimu itu, tapi siang ini aku ada janji makan siang dengan seseorang." Tambah Geraldyn lagi.


Carissa tampak menautkan kedua alisnya.


"Dengan Jonathan?" Tanya Carissa.


Tidak perlu sampai Geraldyn menjawab, Carissa sudah sangat yakin tebakannya tadi benar.


"Kalian langgeng juga, ya." Gumam Carissa lagi sambil memperhatikan Geraldyn. Kenyataan jika saat ini Jonathan dan Geraldyn berpacaran masih belum bisa diterima nalarnya. Tapi karena Geraldyn tampaknya tak keberatan menjalani hubungan itu, Carissa pun memilih untuk menghormati pilihan yang dibuat Geraldyn. Carissa hanya berharap, apapun yang akan terjadi nanti, manajernya ini tidak akan terlalu tersakiti dan tetap baik-baik saja.


"Dia baru kembali dan mengajakku makan siang. Karena sekarang aku sedang membutuhkan bantuannya, dengan terpaksa aku harus menerima ajakan makan siang darinya." Jawab Geraldyn.


"Kamu sedang membutuhkan bantuan? Kenapa tidak meminta bantuanku" Tanya Carissa lagi.


"Bantuan yang kubutuhkan ini hanya bisa diberikan oleh seorang laki-laki, jadi kamu tidak bisa membantu. Dan aku juga tidak mungkin meminta bantuan itu pada suamimu. Bisa-bisa dunia ini jadi terguncang dan jungkir balik."


Carissa tampak tak mengerti dengan apa yang Geraldyn katakan.


"Sudahlah, nanti saja aku jelaskan. Sekarang temui suamimu sana. Dia pasti sudah menunggu." Ujar Geraldyn saat melihat wajah bingung Carissa.

__ADS_1


"Aku juga harus menemui orang itu." Tambah Geraldyn lagi setengah bergumam.


Carissa sedikit menghembuskan nafasnya.


"Baiklah, kalau begitu." Carissa sedikit membenahi pakaiannya setelah menyusui Lily.


"Karena kamu tidak bisa, kali ini Sesha saja yang ikut. Ngomong-ngomong, kamu jangan mudah terhanyut dengan kata-kata Jonathan. Dia itu paling lihai merangkai kata-kata menjadi rayuan." Ujar Carissa lagi sambil bangkit dari duduknya, diikuti oleh Sesha.


"Aku tahu." Jawab Geraldyn dengan agak bergumam.


"Kami pergi dulu." Ujar Carissa lagi.


"Kami pergi dulu, Nona Geraldyn." Sesha juga berpamitan pada Geraldyn sambil sedikit membungkuk hormat. Dibalas anggukan oleh Geraldyn.


Carissa meninggalkan tempat itu bersama Sesha.


Setelah beberapa saat, Geraldyn juga beranjak dan pergi ke sebuah restoran dengan menaiki taksi.


Setelah sampai, langsung saja Geraldyn masuk ke dalam restoran mewah itu dan menanyakan meja yang sudah di pesan atas nama Jonathan.


"Duduklah." Ujarnya saat melihat Geraldyn yang masih betah berdiri.


"Iya." Geraldyn menuruti kata-kata Jonathan dan langsung duduk di kursi yang disediakan.


Tak lama kemudian, seorang pramusaji datang menghidangkan beberapa jenis makanan serta minuman untuk Geraldyn dan Jonathan. Setelah selesai menatanya di atas meja, pramusaji itu pun undur diri, meninggalkan Geraldyn dan Jonathan berdua saja.


"Ayo, makan." Ajak Jonathan sambil meraih garpu dan sendok untuk memulai makan siangnya.


Lagi-lagi Geraldyn patuh dan mulai makan juga seperti Jonathan.


Mereka berdua makan tanpa bersuara. Hanya tampak Jonathan yang sesekali melihat kearah Geraldyn dengan tersenyun tipis. Dari raut wajah gadis itu, Jonathan tahu jika ada yang ingin disampaikan oleh Geraldyn, tapi ragu. Jonthan pun menunggu Geraldyn menyampaikannya hingga makan siang mereka selesai.


"Dari tadi kamu terlihat ingin mengatakan sesuatu." Ujar Jonathan sambil menyeka mulutnya dengan tisu.

__ADS_1


"Hah?" Geraldyn agak terkejut. Dia tidak menyangka Jonathan tahu jika dia ingin meminta bantuan.


"Ada apa?" Tanya Jonathan kemudian.


Geraldyn terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia menghela nafasnya. Kemudian ia pun mengangkat wajahnya untuk melihat kearah Jonathan.


"Hubungan kita ini...sebenarnya apa?" Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Geraldyn dengan susah payah.


Jonathan tampak menautkan kedua alisnya. Selama ini Geraldyn selalu merasa terjebak berada disisi Jonathan dan tak pernah mempertanyakan statusnya dimata Jonathan. Kenapa sekarang dia tiba-tiba bertanya?


"Bukankah sudah jelas jika kita sedang berpacaran." Jawab Jonathan kemudian dengan enteng.


"Maksudku, berpacaran pura-pura atau sungguhan?" Tanya Geraldyn lagi.


Jonathan kembali tertegun dibuatnya. Kenapa tiba-tiba gadis di hadapannya ini mempertanyakan keseriusannya. Bukankah selama ini juga dia menganggap Jonathan hanya main-main?


"Kamu sendiri ingin aku serius atau main-main?" Jonathan malah balik bertanya, hingga Geraldyn tampak menghela nafasnya berulang kali.


"Baiklah, tidak penting jika hubungan ini hanya main-main. Aku hanya ingin kamu membantuku." Pinta Geraldyn akhirnya.


Gadis itu tampak membuang tatapannya kearah lain. Entah kenapa, untuk sesaat dia berharap jika Jonathan serius padanya. Tapi dia segera tersadar jika Jonathan bukanlah orang yang bisa dijadikan tempat untuk menggantungkan harapan. Sebisa mungkin Geraldyn menekan perasaan aneh yang kini perlahan menyusup kedalam hatinya. Dia harus melihat kenyataan jika dirinya tak lebih dari sebuah mainan dimata lelaki ini.


"Membantu apa?" Pertanyaan Jonathan membuyarkan lamunan Geraldyn.


Geraldyn tersenyum untuk dirinya sendiri. Meskipun hanya dianggap mainan, setidaknya kali ini Jonathan mungkin mau membantunya.


"Malam ini, ikutlah pulang kerumah orang tuaku. Katakanlah pada mereka jika kamu adalah pacarku dan berpura-puralah jika kamu akan segera menikahiku." Pinta Geraldyn akhirnya.


Jonathan kembali tertegun dan melihat kearah Geraldyn dengan raut wajah yang sulit dilukiskan.


"Tolong bantu aku sekali ini saja. Jika aku tidak memperkenalkan seorang lelaki pada mereka, aku akan dijodohkan."


Bersambung...

__ADS_1


Tetap like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤


__ADS_2