WITH YOU

WITH YOU
Jangan pisahkan Mereka!


__ADS_3

"Saya minta maaf dengan kejadian yang waktu itu di mana saya nggak antarin Adelia pulang karena saya sibuk om," ucap Farrel yang pagi itu datang hanya untuk meminta maaf.


Raka sudah tahu cerita yang sebenarnya. Devan juga sudah menceritaka jika itu terjadi karena Adelia meminum obat perangsang yang di mana ketika itu juga Devan dalam keadaan mabuk. Maka dari itu Raka sedikit memaklumi pa yang sebenarnya terjadi antara anaknya dengan menantunya itu. Tapi, bukan Raka namanya jika dia tidak bisa membalas dendam apa yang sudah diperbuat laki-laki itu kepada ank perempuan yang begitu dia sayangi. Apalagi Raka yang belum sepenuhnya bisa melepaskan anaknya menikah. Justru pria brengsek ini memanfaatkan anaknya.


Raka masih duduk di ruang tamu dan sorot matanya yang tajam bisa menghancurkan siapa saja. Raka, sudah dipastikan dia akan menghabisi pria itu. Dia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Farrel yang ingin mencelakai anaknya karena hal itu. Apa yang dikatakan oleh Keano waktu itu benar bahwa niat buruk Farrel untuk Adelia memang dilaksanakan dengan begitu rapi. Tapi justru Adelia jatuh ke tangan Devan, bukan Farrel. Andai saja anaknya jatuh dalam pelukan Farrel, sudah dipastikan anakanya akan menderita karena pria brengsek yang ada di depannya ini sudah pasti akan menyakiti hati Adelia.


"Tentang waktu itu sungguh saya nggak tahu apa-apa, Om. Adelia pamit pulang begitu saja, setelah pesta selesai saya juga pulang dan mulai itu nomor Adelia nggak bisa dihubungi lagi,"


"Adelia pulang sendirian?"


"Iya, Om,"


Padahal Raka tahu bahwa anak dan menantunya itu berada di kamar yang sama hingga membuat keduanya melakukan hubungan terlarang. Yang di mana Devan juga sedang setengah sadar. Adelia yang juga tersiksa karena obat perangsang sialan itu.


"Farrel, Om nggak tahu lagi mau ngomong apa ya sama kamu. Tapi Om nggak masalah kamu nggak antarin dia,"


"Maaf banget, Om. dan baru kemarin saya pulang dari luar kota. Jadi nggak pernah sempat untuk datang kemari untuk meminta maaf sama om," kata Farrel dengan mimik tanpa berdosa. Tapi sebenarnya Raka sudah ingin membunuh pria yang ada dihadapannya ini.


"Iblis kecil ini benar-benar pandai untuk berbohong," ucap Raka di dalam hatinya. tapi dia tetap menerima Farrel dengan baik. Tapi tidak tahu setelah ini, bisa saja dia menghabisi pria ini dengan tangannya sendiri karena telah menghancurkan Adelia.


"Lalu, tujuan kamu datang kemari?" tanya Raka dengan ekspresi yang tenang. Dia tetap ingin terlihat lebih elegant untuk membalas perbuatan pria ini.


"Saya mau cari Adelia, Om,"


Raka berdiri dari tempat duduknya, "Adelia sudah menikah," jawabnya dengan jujur.


ekspresi Farrel langsung berubah ketika mendengar Adelia sudah menikah. Tapi siapa suaminya? Bukankah selama ini cinta yang diterima oleh Adelia hanya dirinya? Tidak mungkin dengan mudahnya perempuan itu mendapatkan pengganti. Karena Farrel juga satu-satunya pria yang diberikan izin oleh orang tuanya untuk mengajak Adelia pergi.


"Adelia menikah sama siapa, Om?"


"Sama teman kamu sendiri, memangnya kamu nggak tahu?"


Farrel kebingunan ketika papa Adelia menyebut kata teman. Seingatnya tidak ada satupun orang yang dekat dengan Adelia sekalipun itu teman-temannya.


"Teman yang mana?"


Raka tersenyum sinis, "Devan, Adelia nikah sama Devan. Kamu nggak tahu kalau mereka mau punya anak? Adelia sekarang lagi hamil. Kamunya aja yang kelamaan," ledek Raka kepada Farrel yang waktu itu terkejut dengan ucapannya barusan. Tapi, dia tidak peduli sama sekali dengan pertanyaan yan gakan dilemparkan nanti. Setidaknya dia ingin agar anaknya bahagia dengan pernikahannya. Tapi, tetap saja dia ingin tahu mengenai suami dari anaknya itu. Tidak mau jika nanti justru membuat Fania bersedih.


Farrel begitu terkejut setelah mendengar Adelia menikah dengan sahabatnya sendiri. Bagaimana mungkin?


"Om, Om kenapa izinkan dia nikah sama orang lain? Om tahu sendiri kan kalau aku yang bakalan lamar dia,"

__ADS_1


"Bukan tentang kamu yang jadi pacar dia atau bagaimana. tapi apa kamu yakin dengan ucapan kamu itu? Sedangkan kamu nggak ada usaha sama sekali untuk lamar dia? Justru orang lain yang lamar dia,"


Farrel berdiri dari tempat duduknya. "Om nggak hargai saya,"


Raka tertawa sinis, "Justru kamu yang nggak hargai saya sebagai orang tua pacar kamu sendiri. Harusnya kamu bisa jaga dia dengan baik ketika kamu diberi kepercayaan oleh orang tua pacar kamu sendiri. Itu harus kamu jaga, nggak seharusnya kamu niat untuk celakai anak orang, apalagi dia itu pacar kamu sendiri, Farrel,"


"Maksud om?"


Raka menghela napas panjang. "Kamu pikir saya nggak tahu apa yang kamu lakukan di pesta kamu yang mencampurkan anak saya obat perangsang pada minumannya, andai saja saya mau laporkan kamu, saya bisa lakukan itu dengan mudah," ucapnya sambil tertawa kecil.


Farrel melotot kearah Raka yang waktu itu tidak disangka siapa yang melaporkan hal konyol itu pada orang tua Adelia. "Om, saya nggak pernah lakukan itu,"


"Pergilah! Saya nggak mau lihat kamu di sini. Jangan sampai saya meremukkan tubuh kamu di sini dengan tangan saya sendiri, Farrel. Kamu akan membayar apa yang kamu lakukan terhadap anak saya,"


Farrel terkejut, "Saya berani sumpah, saya nggak pernah lakuin hal itu,"


"Farrel, jangan berani-beraninya kamu sentuh anak dan juga menantu saya. Jika kamu berani menyentuh mereka, kamu berhadapan dengan saya. Farrel itu sudah menjadi anak saya, jika dia gagal untuk melindungi istrinya dari iblis seperti kamu. Maka kamu akan berhadapan dengan saya langsung,"


tanpa ragu pria itu langsung berpamitan untuk pergi.


Raka hanya bisa tertawa sinis dengan kepergian pria itu. Tentu saja dia tidak akan pernah tinggal diam kepada pria yang sudah membuat anaknya menjadi seperti itu. Apalagi Adelia sampai hamil diuar nikah karena kelakuan brengsek yang sudah menjebak anaknya untuk meminum obat sialan itu. Raka tak akan tinggal diam dengan perbuatan Farrel.


"Dia datang untuk meminta maaf karena nggak antarin Adelia waktu itu,"


"terus, apa yang bakalan kamu lakukan, Raka?" tanya mamanya yang juga penasaran karena ekspresi datar Raka yang waktu itu membuat keduanya merasa ada hawa dingin yang ingin menyerang.


Raka meletakkan dasinya diatas meja, "Perlawanan dimulai. Siapkan Keano juga,"


"Jangan libatkan anak kamu, Raka!"


"Nggak, Ma. Mama tenang aja, aku nggak bakalan buat Keano lecet. dia bakalan jagain kakaknya ketika perlawanan dimulai,"


"Gini nih, makanya anaknya nggak jauh beda dari dia. Kalau papanya aja seperti ini. Jadi nggak salah dong kalau Keano sifatnya mirip kayak kamu," protes mamanya.


Fania yang baru saja kembali dari dapur menaruh piring kotor dan mengambil sisa piring itu hanya tersenyum. "Ya kelakuannya nggak bakalan jauh-jauh, Ma. Apalagi dia yang didik kayak gitu, jadi nggak salah kan anaknya matang sebelum usianya. COntohnya sekarang Keano udah sering lindungi kakaknya. Padahal usianya sama Adelia ya cukup jauh. Tapi lebih dewasa dia dibandingkan kakaknya,"


"Iyalah, dia anak aku," jawab Raka dengan tegas.


"Iya, keras kepalanya juga nurun dari kamu. Makanya kadang dia nggak bisa diganggu kalau udah ngelakuin hal yang menurut dia benar. sama kayak kamu yang nggak peduli dengan ucapan orang lain, yang penting apa yang jadi milik kamu harus bisa kamu dapatkan," ucap mamanya yang mendorong kepalanya begitu saja. Baru saja dia merasa keren dihadapan istrinya justru dibuat menciut oleh mamanya.


Raka yang begitu menyayangi mamanya langsung memeluk mama satu-satunya orang tua yang dia punya. "Mama mau lakuin aja sama aku terserah. Karena aku sayang sama Mama,"

__ADS_1


"Kamu udah tua, mau punya cucu masih aja manja sama Mama,"


"Nggak masalah, yang penting aku sayangnya sama Mama,"


"Mama yang keberapa?"


"Mama nomor satu,"


"Istri kamu?"


"Yang paling utama itu ya, Mama. Beda kalau perempuan, yang utama itu suaminya. Jadi kalau untuk suami ya tetap Mama nomor satu," timpal Fania.


"Nggak salah kamu nyari istri ya, Raka. Kamu yang sifatnya brengsek dulu dapat istri sebaik ini, walaupun kamu tingkahnya kayak orang gila tapi bisa dapat istri cantik dan baik," puji mamanya yang membuat Raka langsung mencium pipi mamanya.


"Panjang umur, Ma. Sehat terus, biar Mama bisa temani cicit Mama main nanti. Aku janji setelah lahiran Adelia. Dia bakalan tinggal di sini,"


"Janji ya?"


"Janji, Ma. Apa sih yang nggak buat Mama? Doa aku nggak ada yang lain selain doain Mama tetap di sini. Mama panjang umur dan bisa temani aku sampai kapanpun,"


"Kadang mama rindu sama Papa kamu, Raka,"


"Aku juga rindu, Ma. Tapi Mama jangan sedih gitu dong!"


"Mama rindu dia yang selalu bilang kalau Mama nggak boleh marahin kamu. Dia selalu belain kamu walaupun kamu salah. Tapi pada akhirnya apa yang dia bilang tentang kamu bakalan sadar suatu saat nanti itu terbukti," ucap mamanya.


Fania duduk ketika mendengar cerita mama mertuanya disertai air mata. Fania justru terharu ketika melihat Raka yang begitu menyayangi mamanya melebihi apapun. Sedangkan dia ditinggal oleh semuanya waktu itu.


"Jaga keluarga kamu baik-baik! Adelia juga harus kamu jaga sekalipun dia tinggal dengan suaminya, Keano didik dengan baik!"


"Ma, kenapa Mama bilang begitu sih?"


"Mama rindu, Papa. Mama pengin cepat-cepat ketemu. Tiang hidup Mama cuman dia, tapi Tuhan ngasih izin Mama untuk nemenin kamu. tapi sekarang kamu sudah punya teman hidup, Mama kadang berdoa biar segera bertemu dengan Papa kamu,"


Hati Raka begitu sakit mendengar pernyataan sang mama. Dia tidak akan pernah sanggup jika hidup tanpa mamanya. Tapi seolah mamanya sedang putus asa dengan hidup ini yang berharap bahwa Tuhan segera mengambilnya.


"Ma, jangan bilang begitu lagi ya!"


Fania tidak menyangka ucapan mama mertuanya membuat Raka menangis. Selama ini dia tidak pernah melihat suaminya sedih seperti itu. "Jadi suami yang baik! Jadi seperti Papa kamu yang selalu sayang sama anak-anaknya. Apapun yang terjadi sama Adelia dan Devan. Satu hal yang mau Mama pesan, kamu jangan pisahin mereka!"


Vote sebanyak-banyaknya untuk author ya. Biar makin banyak yang baca. Ceritanya masih panjang kok. Seperti biasa, yang mau masuk grup author persilakan. Dan untuk temant-teman yang komentar, author usahakan untuk balas, walaupun enggak semuanya. Semoga sehat selalu untuk kalian semua. terima kasih sudah menemani selama beberapa bulan ini.

__ADS_1


__ADS_2