WITH YOU

WITH YOU
Sembuh


__ADS_3

Evan kembali memeriksakan kondisi terkini dari psikisnya, setelah terakhir kali menemui Dokter Melissa sebelum kelahiran Lily.


Sebenarnya Evan sudah tidak mengalami keluhan apapun lagi. Emosinya benar-benar stabil dan dia tidak pernah merasakan sakit di kepalanya lagi saat berdekatan dengan Carissa, bahkan saat tempo hari orang tua dan saudara Carissa datang sekalipun.


Saat ini Evan ingin memastikan bagaimana keadaannya. Mungkinkah jika saat ini dia telah sembuh.


"Selamat atas kelahiran putrimu." Dokter Melissa membuka percakapan setelah melakukan beberapa pemeriksaan.


"Terima kasih, Dokter." Jawab Evan menanggapi.


"Maaf, aku tidak bisa datang ke pesta kelahiran putrimu tempo hari. Tiba-tiba aku harus menghadiri acara yang diadakan oleh Asosiasi Dokter Kesehatan Jiwa se Asia, jadi aku melewatkan undanganmu." Ujar Dokter Melissa lagi dengan nada menyesal.


Evan tersenyum.


"Tidak apa-apa. Lily menerima kado yang Dokter kirimkan." Ujarnya.


"Namanya Lily?"


Evan mengangguk mengiyakan sambil masih terus tersenyum. Sepertinya sejak tadi Evan telah sangat banyak tersenyum, dan hal itu tak luput dari pengamatan Dokter Melissa.


"Sepertinya sekarang kamu sudah menemukan obat dari penyakitmu, Evan." Ujar Dokter Melissa akhirnya.


"Ya?"


"Putrimu, sepertinya dia telah menjadi obat yang sangat mujarab untukmu." Ulang Dokter Melissa lagi.


Evan tampak terdiam dengan wajah yang terlihat agak bingung.


"Saat dulu kamu mengalami depresi setelah kehilangan kedua orang tuamu, ada sosok gadis kecil yang menurutmu bisa mengalihkan rasa sedih dan kehilanganmu hanya dengan melihat wajahnya saja. Depresimu waktu itu yang sebenarnya bisa dibilang parah, bisa sembuh saat kamu semakin sering berinteraksi dengan gadis kecil itu. Dia layaknya obat yang mampu membuatmu kembali hidup normal hingga kamu dewasa."


Evan diam dan menyimak kata-kata Dokter Melissa.


"Dan sekarang, situasinya tak jauh beda. Kamu kembali mengalami guncangan hingga mengalami depresi untuk yang kedua kalinya. Lalu kali ini, sosok yang mampu mengalihkan semua rasa sakitmu itu adalah putrimu sendiri. Perasaan bahagia yang kamu rasakan setiap kali melihatnya membuatmu tak lagi merasakan sakit dan traumamu hilang dengan sendirinya. Putrimu membuatmu banyak tersenyum dan memotivasi alam bawah sadarmu untuk tak lagi menyimpan dendam masa lalu. Sekarang kamu sudah sembuh, Evan. Aku sangat yakin setelah ini kamu tidak akan datang menemuiku lagi sebagai seorang pasien." Dokter Melissa berujar sambil tersenyum.


"Benarkah, Dokter? Sekarang saya sudah benar-benar sembuh?" Tanya Evan dengan nada tak percaya.

__ADS_1


"Sejauh yang aku lihat saat ini, kamu sudah tidak mengalami keluhan apapun lagi. Semuanya sudah normal. Dengan kata lain, kondisi psikismu sudah dalam keadaan sehat. Seperti yang kukatakan tadi, kamu sembuh."


Evan tertegun beberapa saat, sebelum akhirnya menghembuskan nafasnya dengan lega. Senyuman tersungging di wajahnya. Setelah selama beberapa bulan bergelut dengan depresi yang begitu menyiksa, akhirnya kini dia dinyatakan sembuh. Evan tak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaannya saat ini.


"Terima kasih, Dokter. Semua ini berkat bantuan dari Anda." Ujar Evan akhirnya.


"Tidak, sebesar apapun aku berusaha membantu, tidak akan ada hasilnya jika kamu tidak berusaha untuk sembuh. Semua ini adalah hasil usahamu sendiri. Rasa cinta dan tanggung jawabmu yang besar terhadap keluargamu membuatmu berusaha dengan sangat keras untuk sembuh. Selamat, ya. Aku harap kita tidak perlu bertemu lagi sebagai dokter dan pasien, tapi sebagai senior dan junior."


Evan tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah, setelah ini kita akan bertemu sebagai sesama dokter. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya selama ini."


Evan bangkit dari duduknya, diikuti oleh Dokter Melissa.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Senior. Saya harus segera memberitahukan berita baik ini pada istri dan orang tua saya. Sudah lama mereka menunggu berita kesembuhan saya ini. Mereka pasti akan sangat senang mendengarnya." Evan pamit undur diri.


Dokter Melissa tersenyum dan mengangguk. Lalu mempersilahkan Evan pergi.


Evan mengendarai mobilnya menuju rumah orang tuanya dengan perasaan senang tak terlukiskan. Dia tersenyum membayangkan bagaimana ekpresi Carissa dan kedua orang tua saat mereka mendengar Evan telah sembuh. Hati Evan benar-benar terasa bahagia hanya dengan membayangkannya saja.


Evan kembali masuk kedalam mobilnya dan kembali mengemudikan mobil itu menuju arah pulang.


Tak lama kemudian, Evan sampai di kediaman orang tuanya, tempat tinggalnya juga belakangan ini setelah Lily lahir. Hal itu dikarenakan Sonya meminta Evan tinggal bersama mereka sebelum pindah ke Indonesia.


Ya, Evan telah memutuskan untuk menyerahkan posisi direktur rumah sakit pada orang yang dia percaya dan memantau operasional rumah sakitnya dari jauh. Dia akan pindah bersama Carissa ke Indonesia demi mendukung istrinya itu untuk kembali meniti karirnya sebagai seorang pianis profesional.


Dan kini, dia juga telah dinyatakan sembuh. Rasanya semua hal telah mengarah pada situasi yang semakin baik.


Dengan tak sabar Evan melangkah masuk kedalam rumah. Sudah hampir waktunya makan siang. Sonya tampak sedang membantu para pelayan yang menyajikan makanan di atas meja makan. Sedangkan Carissa tampak sedang menggendong Lily sambil melihat apa yang di kerjakan orang-orang. Mungkin karena bosan istri Evan itu keluar dari kamarnya.


"Sudah pulang?" Carissa yang menyadari kehadiran Evan langsung menyambut kedatangan suaminya itu.


Evan tersenyum. Dia merangkul Carissa dengan satu tangannya, lalu mencium kening istrinya itu.


"Bagaimana hasilnya?" Carissa yang sudah sedari tadi menunggu kepulangan Evan tak sabar lagi bertanya.

__ADS_1


Evan tak langsung menjawab. Dia kembali tersenyum dan memberikan salah satu buket bunga yang sedari tadi di dekapnya dengan satu tangan pada Carissa.


"Bunga Lili untuk istriku yang cantik" Ujar Evan.


Carissa menerimanya sambil menatap Evan dengan penuh tanda tanya.


"Dan ini untuk Mamaku yang cantik juga." Evan memberikan buket bunga mawar dan babybearth pada Sonya.


Sonya tampak surprise dan menerima bunga kesukaannya itu dengan senang.


"Wangi sekali." Ujar Sonya sambil menghirup aromanya.


"Jadi, dalam rangka apa kamu memberi kami bunga seperti ini, Evan?" Tanya Sonya kemudian. Pertanyaan yang juga mewakili apa yang ada di dalam benak Carissa juga.


Evan tersenyum.


"Tidak ada. Aku tadi lewat toko bunga dan merasa harus memberikan bunga pada dua orang perempuan paling aku cintai." Ujar Evan.


"Tampaknya suasana hatimu sedang sangat bagus. Katakan pada Mama, ada berita baik apa?" Tanya Sonya lagi.


Evan kembali tersenyum. Kali ini dia mendekati Carissa dan merangkul istrinya itu sambil melihat kearah Sonya.


"Ma, Dokter Melissa menyatakan jika aku sudah sembuh." Ujar Evan.


Sonya dan Carissa sama-sama melebarkan mata mereka.


"Sembuh?" Ulang Carissa dan Sonya dengan nada tak percaya. Bersamaan dengan itu, Zacky juga tampak telah ada disana dan sempat mendengarkan percakapan mereka tadi.


"Benarkah kamu sudah sembuh, Evan?"


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2