
"Hei, kenapa jadi cemberut seperti itu?" Carissa meraih wajah Evan yang berpaling darinya. Diciumnya sekilas pipi suaminya itu.
"Bukankah sebelumnya kamu sendiri yang bilang putri kita masih bayi, masih butuh waktu yang cukup lama untuk tumbuh menjadi dewasa. Bukankah sedikit aneh kalau sekarang kita sudah mengkhawatirkan hal seperti ini?" Carissa menjelajahi setiap jengkal wajah Evan dengan kecupan.
Evan tak bisa menahan senyumnya lebih lama lagi. Dipandangnya istrinya itu dengan tersenyum simpul.
"Baiklah, aku tidak akan mengkhawatirkan hal itu lagi." Ujar Evan sambil merengkuh pinggang Carissa. Langsung saja dipagutnya bibir istrinya itu dengan sangat bersemangat.
"Sayang..." Tangan Evan menjalar kebeberapa bagian tubuh Carissa, hingga tanpa sadar Carissa sedikit mendesah dibuatnya.
"Evan ehmm..." Carissa berusaha untuk berbicara, tapi bibirnya langsung dibungkam lagi dengan ciuman panas dari Evan.
"Stop!" Seru Carissa saat bibir Evan mulai turun kearea lehernya.
Evan menghentikan aksinya sejenak.
"Kita masih belum bisa melakukan itu..." Ujar Carissa dengan nada menyesal.
"Ini sudah sebulan lebih, Sayang." Evan kembali mencumbu Carissa dengan sangat gencar.
"Tapi Dokter Grace bilang kita tidak boleh melakukannya setidaknya selama sebulan sepuluh hari. Masih kurang beberapa hari lagi." Ujar Carissa lagi memperingatkan.
Evan seakan tak mendengarkan kata-kata Carissa. Dia terus melakukan aksinya bermain-main di beberapa titik paling sensitif dari tubuh istrinya itu.
"Kenapa kamu memancing-mancing aku tadi, sekarang aku benar-benar merasa ingin melakukannya." Bisik Evan sambil menciumi leher Carissa.
Carissa menelan salivanya dengan agak kesusahan. Sepertinya tindakannya menggoda Evan dengan beberapa kecupan tadi benar-benar kesalahan yang fatal. Dia telah membangunkan seekor macan lapar dan bakal menjadi santapan lezatnya.
Evan merangkum kedua pipi Carissa dan menatap istrinya itu dengan mata yang agak sayu, menyiratkan jika saat ini dia benar-benar sedang sangat bergairah. Selang beberapa detik kemudian, Evan kembali mencium bibir Carissa dengan penuh hasrat.
Sambil terus menyesap bibir Carissa, Evan membuka kecing baju Carissa hingga dadanya terlihat sebagian. Dengan nafas yang agak memburu, Evan mencumbu dada yang telah semakin berisi itu.
"Jangan, nanti Lily marah." Bisik Carissa.
Evan kembali mengangkat wajahnya dan membungkam mulut Carissa lagi dengan mulutnya. Kali ini Carissa memberikan perlawanan yang sengit. Mereka bertukar saliva dengan sangat nikmat hingga tanpa sadar tempat tidur yang mereka duduki menjadi sedikit berantakan.
Baru saja Evan hendak membuka pakaian bagian bawah yang dikenakan Carissa, tiba-tiba saja Lily terjaga dari tidurnya dan menangis dengan kencang.
__ADS_1
"Oeekkk....oeekkk....oekkk..." Suara tangisan Lily terdengar nyaring memenuhi kamar.
Carissa langsung bangkit dari tempat tidur, meninggalkan Evan yang terlihat membeku di tempatnya.
"Wah, Lily sudah bangun." Ujar Carissa sambil memungut dan mengenakan kembali atasannya. Langsung digendongnya Lily yang menangis semakin kencang.
"Lily lapar?" Tanya Carissa lagi sambil mengeluarkan salah satu pay*daranya untuk menyusui Lily.
Lily melahap put*ng susu Carissa dan menghisapnya dengan rakus. Bayi mungil itu menyusu dengan nikmat sambil kembali memejamkan matanya. Hal itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Evan saat ini. Sesuatu yang tadi telah bangkit, kini terpaksa harus diredam. Sungguh rasanya amat sangat menyakitkan.
Sekilas Carissa melirik suaminya itu. Raut wajah Evan terlihat sangat tidak nyaman. Sekuat tenaga Carissa menahan senyumnya. Entah kenapa ia merasa dejavu. Rasanya situasi ini pernah dirasakan juga oleh Evan di masa lalu. Ya, tepatnya di malam pertama mereka dulu, dimana Evan yang telah sangat berhasrat tiba-tiba terpaksa harus menghentikan aksinya karena Carissa yang merasa kesakitan.
"Pfffttt...." Carissa ingin sekali tertawa mengingat semua kejadian itu.
"Apa yang kamu tertawakan?" Tanya Evan. Nada pertanyaannya benar-benar menyiratkan jika saat ini dia merasa galau tingkat dewa. Carissa pun tak tega untuk kembali menertawakannya.
Evan beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi.
"Mau kemana?" Tanya Carissa.
"Duduklah kembali dan tunggu sebentar." Ujar Carissa lagi.
Evan diam beberapa saat, lalu menuruti kata-kata Carissa untuk kembali duduk di atas tempat tidur.
Tak lama kemudian, Lily yang sudah merasa kenyang kembali terlelap. Carissa langsung menidurkan putri mungilnya itu kembali ke tempat tidurnya. Lalu dengan sedikit menahan senyumnya, Carissa kembali mendekati Evan.
Carissa mendorong tubuh Evan hingga terbaring di tempat tidur, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Kita masih belum diperbolehkan untuk bercinta, Sayang. Apa kamu keberatan kalau aku melakukannya dengan cara lain seperti dulu?" Tanya Carissa dengan nada sensual.
Evan tidak menjawab, tapi senyumnya sudah lebih dari cukup untuk menjadi jawaban dari pertanyaan Carissa tadi.
Carissa pun mendekatkan wajahnya pada wajah Evan. Diciumnya suaminya itu dengan lembut dan penuh perasaan.
Evan memejamkan matanya, menikmati pagutan bibir Carissa. Direngkuhnya pinggang istrinya itu agar semakin rapat padanya. Tanpa sadar Carissa telah melucuti pakaian bagian atas Evan tanpa melepaskan pertautan bibir mereka.
Tangan Carissa mulai merambah sesuatu yang sedari tadi minta untuk dipuaskan. Evan menggeram dengan sedikit tertahan. Ditahannya tangan Carissa agar tetap bermain-main di tempat itu.
__ADS_1
"Ya, Sayang....seperti itu..." Evan mulai meracau dengan sedikit mendesah.
Carissa terus melakukan apa yang dikatakan Evan tadi. Lalu dia melucuti pakaian bagian bawah yang Evan kenakan dari balik selimut. Carissa menyentuh lagi sesuatu yang kini telah tegak dengan bebas itu dan kembali memainkannya.
"Sayang..." Evan memejamkan matanya menahan nikmat. Dan desahannya tak lagi bisa dikendalikan saat Carissa mulai melakukan 'cara lain' yang dulu sering dia lakukan untuk memuaskan suaminya itu.
"Terus, Sayang...terus...seperti itu..." Evan kembali meracau ditengah gelombang kenikmatan yang semakin menenggelamkannya.
Carissa semakin gencar mencumbu milik Evan, hingga akhirnya Evan pun mengeluarkan semua hasratnya yang tertahan selama sebulan lebih.
Evan terengah-engah sambil melihat kearah Carissa dengan puas. Sedangkan Carissa langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Evan bangkit dan menyusul Carissa ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya juga. Suami istri itu mandi untuk yang kedua kalinya sore itu.
"Sayang..." Evan memeluk Carissa dari belakang sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Carissa. Istrinya itu belum mengenakan pakaian dan hanya menggunakan bathrobe saja, hingga Evan bisa merasakan jika hasratnya kembali muncul.
"Jangan coba-coba merayuku lagi. Mulutku kebas." Jawab Carissa sambil melepaskan pelukan Evan.
Sontak Evan tertawa sambil kembali meraih Carissa ke dalam pelukannya.
"Setelah ini kamu harus menunggu beberapa hari lagi, oke?" Ujar Carissa sambil menengadahkan wajahnya.
Evan menatap istrinya itu sambil tersenyum.
"Memangnya kenapa, bukankah kamu bisa melakukan 'cara lain' seperti tadi?" Tanya Evan dengan sedikit menggoda.
Carissa mendelik dengan agak marah, membuat Evan kembali tertawa dibuatnya.
"Oke, oke, aku akan menunggu beberapa hari lagi." Ujar Evan sambil mengarahkan kepala Carissa untuk bersandar di dadanya.
Carissa memeluk pinggang Evan dan menyembunyikan wajahnya sambil tersenyum. Diam-diam ia merasa senang karena telah berhasil membantu Evan menuntaskan hasratnya. Dalam hati dia berjanji, setelah ini tak akan menggunakan 'cara lain' lagi untuk memuaskan suaminya, tapi menggunakan cara yang sesungguhnya.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤
__ADS_1