
Enam bulan berlalu
Devan yang belum juga mendapatkan restu dari mama mertuanya untuk memperjuangkan anak dan juga istrinya. Mama mertuanya justru meminta untuk bercerai jika Devan tidak menerima kenyataan bahwa dia dan Adelia harus terpisah. Devan masih tetap mengatakan bahwa dirinay ditugaskan di luar kota. Sungguh sakit yang dia rasakan ketika tidak bisa merawat anaknya dan menemnai si kecil tumbuh bersama. Ini sepertinya tidaklah adil. Sekalipun dia memohon kepada papa mertuanya. Tapi tanggapan papa mertuanya justru tidak ingin terlibat dalam hal ini. Karena menyangkut hati seorang ibu. Maka dari itu papa mertuanya tidak memberi restu.
Hari ini dia janji untuk bertemu dengan mama mertuanya di salah satu kafe. Devan memang sering bertemu dengan mama mertuanya diluar. Diantar oleh salah satu saudara Adelia. Rasanya tidak nyaman, tapi itu adalah permintaan dari mama mertunya. Mau tidak mau dia harus menerima semuanya.
Menunggu sekitar dua puluh menit di kafe karena mama mertuanya bilang bahwa dia mampir untuk membelikan si kecil popok. Devan sendiri begitu merindukan Adelia dan juga Arsyila. Hanya satu hari dia bisa bertemu dengan anaknya. Sampai detik ini tidak bertemu lagi karena tidak diizinkan. Karena Adelia juga setiap pergi ke manapun selalu diawasi oleh mamanya. Sulit baginya untuk bisa bertemu serta memeluk kedua orang yang dia sayangi saat rindu melanda.
Pikirnya bahwa semua itu akan berjalan dengan lancar tidak ada masalah sedikitpun dan tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Akan tetapi justru masalah besar lagi menimpanya dan juga Adelia. Dari awal pernikahan mereka sudah diterpa oleh masalah besar. Menghadapi semuanya berdua, setiap sakit yang dirasakan oleh keduanya selalu dihadapi dengan baik. tapi, sekarang ini justru Devan tidak bisa lagi bertemu karena larangan mertuanya. Jika papa mertuanya bisa diluluhkan. Tapi tidak berlaku untuk mama mertunya. Dulu padahal mama mertuanya yang membelanya sangat baik. justru sekarang paling keras kepala dan tidak bisa dirayu dengan apa pun. Devan merindukan Adelia, ingin menggendong Arsyila. tapi semuanya hanyalah harapan besarnya. Setiap pertumbuhan Arsyila diabadikan oleh Adelia dan dikirmkan oleh perempuan itu. bahkan untuk latar belakang ponselnya pun foto Arsyila dan Adelia yang sedang bermain. Devan hanya tahu anaknya sekarang sudah bisa duduk. Bagaimana menggemaskannya anak itu dia tidak tahu sama sekali rasanya menggendong putri kecilnya.
Video call adalah cara untuk melupakan rindu yang dia rasakan selama ini. Dia tidak bisa untuk sekadar mencium putrinya. Sekalipun anaknya bisa mengenalinya, tapi tidak tahu jika nanti Devan bertemu dengan langsung.
Dia sengaja menghubungi mama mertuanya untuk membicarakan semua ini. Dia meminta izin untuk bertemu dengan Adelia.
Ketika mama mertuanya masuk ke kafe bersama dengan kakak tertua Adelia. Rasanya dia begitu pengecut untuk memperjuangkan Adelia. Karena beberapa kali kakak iparnya menyuruhnya untuk berjuang tanpa dibantu oleh siapapun. Tapi penghalang terbesarnya kali ini adalah mama mertua. Aksa sudah menikah dan masih tinggal di rumah kedua orang tuanya karena tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah itu. Awalnya Devan mau datang karena diundang oleh kakak iparnya. Tapi mengingat jika mama mertuanya sangat membencinya. Devan mengurungkan niatnya untuk datang ke sana ketika pesta pernikahan itu berlangsung.
“Mama apa kabar?” sambut Devan dengan hangat seperti biasanya.
Mama mertua dan juga kakak iparnya duduk didepan Devan. “Baik,”
Percakapan itu pun mulai hening lagi. Devan tidak ingin basa basi mengenai dia yang merindukan anak dan juga istrinya. Ingin bertemu tapi selalu dihalangi oleh mama mertuanya. “Ceraikan Adelia!” kata mamanya.
Devan langsung mengangkat kepalanya dan matanya melotot tajam seolah tidak percaya dengan kenyataan itu. “Ma,” panggil Aksa yang juga tidak kalah terkejutnya dengan ucapan tadi.
__ADS_1
“Ma, kenapa harus pisah?” tanya Devan. “Aku sayang sama Adel dan juga Arsyila, Ma,”
“Sayang kamu itu nggak ada apa-apanya, Devan. Saya bisa ngerawat anak dan juga cucu saya dengan bantuan suami saya,”
Saya? Untuk pertama kalinya mama mertuanya menggunakan embel-embel saya selama percakapan mereka. Biasanya dia akan mengatakan mama. Tapi kali ini justru menggunakan kata saya untuk menyebut dirinya. “Ma, please,”
“Kamu pilih tinggal terpisah atau ceraikan Adelia! Itu adalah pilihannya. Kamu boleh kunjungi Adelia tapi tidak untuk tinggal bersama seperti permintaan kamu. Kamu hanya boleh menjenguk anak dan juga istri kamu,”
Devan tidak ingin berpisah sekalipun itu hanya sesaat dengan istri dan juga anaknya. Dia sudah cukup membuat Adelia menderita dengan kenyataan bahwa dia adalah anak dari pria yang sudah membuat luka di hati mamanya.
“Ma, aku nggak bakalan tinggal diam kalau Mama seperti ini,”
“Oke, kalau kamu mau ngelawan. Mama yang bakalan urus perceraian kamu!”
Devan menggeleng. Tidak akan pernah dia mau jika dipisahkan dengan istri dan juga anaknya. Dia yang sudah terlanjur mencintai keduanya. “Ma, nggak ada kesempatan untuk Devan?” tanya Aksa.
Pria itu langsung terdiam begitu mamanya berkata demikian. Sama halnya dengan Devan yang langsung membungkam ketika mama mertuanya berkata demikian. Dia tidak pernah menyangka bahwa mama mertuanya akan keras kepala seperti sekarang ini. Mama mertua yang dulu mendukukng pernikahannya justru kali ini ingi memisahkan keduanya. Devan yang tidak pernah menyangka jika pernikahannya akan hancur seperti sekarang.
Awalnya dia berpikir bahwa semuanya berjalan dengan lancar, menghadapi masalah berdua adalah sumber kekuatan untuk bisa bertahan dalam keadaan apa pun. Tapi, sepertinya itu sangat sulit. Dia tidak bisa membandingkan dirinya yang dulu dan sekarang. Devan yang selalu menjadi pengecut dia yang selalu kalah oleh mertuanya.
“Bukankah aku lebih berhak atas Adelia, Ma?”
“Siapa bilang?”
__ADS_1
“Aku suaminya,”
“Apa kamu pernah ngerasain hamil? Apa kamu pernah melahirkan mempertaruhkan nyawa kamu untuk Adelia? Lalu kamu mengatakan diri kamu lebih berhak dibandingkan Mama? Pikir dulu sebelum ngomong, Devan! kamu nggak pernah tahu bagaimana usaha saya untuk besarin dia. Dia itu nggak kayak keluarga kamu, Devan. Adelia hidup dengan perlindungan papanya dna juga usaha saya sebagai mamanya. Apa kamu pernah berjuang juga untuk dia? Anak kamu mungkin nggak butuh kasih sayang dari kamu,”
“Nggak ada anak yang nggak butuh kasih sayang dari orang tuanya, Ma. Arsyila pasti butuh aku. Seorang anak pasti butuh papanya. Begitupun aku yang juga sayang kepada Arsyila,”
“Kalau memang kenyataannya seperti itu. apa Papa kamu berhak membunuh anak saya?”
Devan terdiam sejenak lalu menghela napas panjang. “Mama, itu adalah urusan Mama sama Papa au, nggak ada hubungannya sama aku. Arsyila gimana? Apa dia akan tumbuh tanpa seorang Papa?”
“Itu urusan saya dan Papanya Adelia juga, Devan! jadi nggak ada hak kamu untuk ikut campur juga,” seolah mama mertuany mengembalikan ucapan Devan.
“Ma, aku mohon!”
“Devan, jika kamu memang nggak mau pisah. Ya udah kamu temui anak kamu dua minggu sekali. Tapi kalau untuk ngajak Adelia pergi berdua, maaf saya nggak bisa ngasih izin. Kamu hanya bisa untuk jengukin anak kamu dan juga Adelia hanya di rumah,”
Devan tidak ada pilihan lain selain tinggal terpisah dari istri dan anaknya. Dibandingkan dia harus bercerai dengan istrinya. Lebih baik dia mengikuti apa yang dikatakan oleh mama mertuanya. “Iya, Ma. Aku terima keputusan, Mama.”
Devan sudah pasrah dengan semuanya. Jika dia harus bertemu dengan anaknya dua minggu sekali seperti yang disyaratkan oleh mamanya. Maka dia akan terima. Dibandingkan dia tidak bisa bertemu lagi dengan anaknya seperti beberapa waktu lalu dan tiba-tiba diancam akan berpisah dengan Adelia.
__ADS_1