
Hingga beberapa minggu, Devan tak jua datang untuk mencari keberadaan Adelia. Tapi, Raka tahu alasan menantunya tak datang. Menantunya hanya sering menitipkan sesuatu untuk Adelia. Raka juga mengerti, dia ingin melihat betapa butuhnya Adelia terhadap suaminya. Raka juga sudah menjelaskan mengenai tidak hadirnya Devan kepada Fania. Hal itu juga dimaklumi oleh Fania ketika Devan sesekali datang berkunjung hanya sampai di luar rumah dan menitipkan barang. Tidak pernah masuk untuk menemui perempuan itu.
Raka juga mengerti bagaimana keduanya butuh waktu untuk berpikir. Maka dari itu, dia tidak pernah memaksakan Devan untuk segera datang. Entah kapan pria itu akan datang, dia akan menerima. Fania juga sama seperti dirinya, tidak mau memaksakan keduanya. Walaupun terkadang Adelia sering membahas suaminya di hadapan mereka. Akan tetapi, mereka hanya bereaksi biasa.
Jam sudah menujukkan pukul tujuh pagi, akan tetapi Adelia belum juga keluar dari dalam kamarnya. Biasanya dia menyempatkan jalan-jalan pagi hanya sekeliling kompleks saja. Akan tetapi, kali ini Adelia hanya bermalas-malasan.
“Tuan, ada Mas Devan,” kata security yang tiba-tiba masuk dan memberitahu mengenai hal itu. Raka langsung berdiri dari tempat duduknya, dia langsung keluar dan melihat mobil Devan ada di garasi. Dia mendekati menantunya.
“Datang juga ternyata,”
“Aku ditugasin Papa buat kerja di luar kota beberapa minggu ini, Om. Sekalian juga beliin barang-barang yang diperluin nanti waktu lahiran,”
“Kamu tujuh bulanan belum tuh si Adel. Malah beli barang,”
“Papa yang nyuruh,”
“Ya udah. Kamu apa kabar?”
“Baik\, Om.|
Devan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Dia membalas uluran tangan itu kemudian langsung dicium oleh Devan. “Adelia masih tidur,”
“Dia nggak sarapan?”
“Mungkin nanti,”
Karena kebetulan ini adalah hari minggu, maka dari itu Devan menyempatkan diri untuk mengunjungi istrinya. Sekalipun dia pernah sibuk, dia memang sengaja tidak merespon istrinya ketika perempuan itu mencoba menghubunginya. Itu juga permintaan dari mertuanya sendiri yang di mana ingin melihat betapa seriusnya Adelia ingin bersama lagi dengan Devan.
Ketika mereka berdua masuk ke dalam rumah, “Ma, apa kabar? Nenek juga apa kabar?” sapa Devan begitu melihat kedua perempuan yang ada di ruang tamu.
“Devan kapan datangnya?” sapa mertuanya.
“Tadi, Ma. Baru pulang kemarin dari luar kota. Jadi baru sempat ke sini,”
“Ya udah kamu langsung ke kamar Adelia gih! Kamu udah sarapan?”
“Udah kok, Ma. Ma, aku juga bawa barang-barang aku. Om yang nyuruh untuk tinggal di sini,”
“Sama mertua sendiri manggilnya, Om. Yang benar aja kamu, Devan?” tanya neneknya.
Padahal mama Raka sendiri tahu bahwa itu adalah perbuatan anaknya. Raka memang menyuruh Devan memanggil dengan sebutan om. Bukan papa, karena dia merasa ada yang aneh jika Devan memanggilnya dengan panggilan papa.
“Kamu tinggalin aja kunci mobil kamu. Nanti barang-barang kamu biar dikeluarin!”
Devan meletakkan kunci mobil diatas meja. “Aku ke kamar bentar, ya. Mau lihat Adelia,”
“Udah, jangan lupa kunci pintu nanti kalau udah masuk ke kamar! Biasa kan gitu,” ledek Raka kepada menantunya.
“Memangnya kamu?” balas mamanya. Seketika dia langsung menyeringai ketika melihat ekspresi Devan yang datar itu. entah kenapa dia jarang sekali melihat menantunya itu sekadar tersenyum. Raut wajah yang selalu datar kadang membuat Raka memanggil menantunya dengan es balok. Selain datar, dia juga dingin.begitulah yang digambarkan tentang Devan selama ini. Jujur saja jika dia kadang merasa kesal. Atau bahkan Devan sendiri yang terlihat kesal kepada dirinya.
Sebelum ke luar kota, Devan memang sering datang membawa barang-barang kebutuhan Adelia. Akan tetapi dia tidak pernah ingin jika mertuanya memberitahukan kepada Adelia jika itu semua dari dirinya.
Ketika sedang menaiki anak tangga, dia bertemu dengan Keano yang hendak pergi. “Keano mau pergi?”
“Iya, kak. Ngomong-ngomong kakak apa kabar? Lama banget nggak datang?”
“Baik kok,” Devan kemudian mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang kepada Keano sejumlah lima ratus ribu. “Uang jajan kamu, maaf ya kakak buru-buru,” kata Devan yang membuat Keano tidak mengerti kenapa tiba-tiba kakak iparnya memberikan uang.
Begitu Devan masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Dia melihat istrinya masuk tidur dan membelakangi pintu. Adelia yang masih terlihat bermalas-malasan di sana. seperti yang diperingatkan oleh papa mertuanya tadi dia harus mengunci pintu dan dia yakin jika mertuanya tidak akan mengganggu aktivitas mereka.
Devan membuka sepatunya dan langsung naik ke atas ranjang kemudian dia memeluk Adelia dan mencium istrinya. Sudah lama sekali mereka berselisih hanya karena Adelia ngambek tidak dijelaskan secara rinci. Tapi, mertuanya pernah bilang jika semua itu sudah dijelaskan kepada Adelia dengan baik. Dia juga beberapa kali dihubungi, tapi tidak pernah direspon oleh dirinya.
Adelia merasa ada beban yang ada diperutnya. Serta deru napas yang ada ditengkuknya. Perlahan, dia membuka mata ketika dia merasakan tangan itu. adelia perlahan membuka mata dan melihat ada tangan yang tidak asing baginya. Apakah ini mimpi? Tapi, aroma parfum itu juga sangat dia kenali. Deru napas yang ada di tengkuknya juga terasa tidak asing. Tidak salah lagi, ini adalah Devan.
__ADS_1
Ia menyingkirkan tangan itu dari atas perutnya. Akan tetapi justru tangan itu semakin erat memeluknya. Tapi Adelia tetap berusaha menyingirkan tangan itu karena merasa berat ketika bernapas.
Adelia berbalik begitu saja. Pria itu tersenyum kepada dirinya. “Apa kabar sayang?” sapa Devan kemudian Adelia menggigit bibir bawahnya dan tidak terasa air matanya menetes begitu saja. Devan yang melihat istrinya menangis. Dia menyeka air mata itu. “Kenapa nangis? Suami udah di sini kok nangis?”
“Aku pikir kamu nggak mau lagi ketemu sama aku. Telepon selalu kamu abaikan, belum lagi pesan aku di aplikasi chat nggak kamu balas. Kamu nyebelin, Devan,”
“Aku sibuk kerja. Aku balik ke perusahaan, Papa,”
Tok tok tok
“Tuan, barangnya,” panggil asisten.
Seketika Devan beranjak dari ranjangnya dan mencium bibir Adelia sekilas.
Ketika itu dia langsung membuka pintu dan melihat kopernya dibawakan oleh asisten rumah Adelia. Dua hari lalu memang papa mertuanya memberinya pilihan antara dia tinggal di rumah itu dengan mertuanya atau tidak bisa bertemu dengan Adelia lagi. Tentu saja itu merupakan ancaman yang membuat Devan tidak mau jika harus kehilangan istrinya. Devan memang mengulur waktu, tapi bukan karena dia sengaja. Namun, dia bekerja begitu keras untuk bisa membeli rumah yang begitu besar nanti untuk dia dengan keluarga kecilnya.
Devan membawa barangnya masuk dan mengunci pintu lagi. “Devan, itu apa?”
“Mulai sekarang aku tinggal di sini sama keluarga kamu. Aku dengar nenek pengin tinggal sama kita, ya udah aku turutin. Papa kamu juga ngeri kalau lagi marah. Jadi aku ngalah,”
“Papa ancam kamu?”
“Nggak,” kata Devan langsung kembali lagi ke atas ranjang dan menyingkap selimut yang digunakan oleh Adelia menutup dirinya tadi. “Kamu udah mandi kok malah tidur lagi? Sarapan juga pasti belum, kan?” tebaknya.
“Aku tadi mandi, terus tidur lagi karena nyaman banget. Malas ngapa-ngapain,” balas Adelia.
Devan mengangkat baju yang digunakan Adelia untuk memperlihatkan perut istrinya yang sudah besar itu. “Sayang, Mama nggak kasih makan ya?” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke perut Adelia.
Ketika dia mengelus perut istrinya, justru dia meraskan tendangan dari buah hatinya. Dia melihat kearah Adelia. “Aktif banget ya mentang-mentang Papanya di sini,” ledek Adelia.
Dia duduk dan melihat ekspresi istrinya yang begitu bahagia. “Jangan mudah bilang pisah lagi ya! Aku nggak suka. Kamu nggak tahu gimana seramnya ketemu sama Papa kamu apa?”
Adelia menyeringai. “Nggak bakalan lagi. Mama marahin aku sama nenek juga,”
“Intinya di marahin sama mereka. Mereka bilang kalau aku tuh terlalu manja dan mikir pernikahan itu kayak pacaran yang seenaknya putus nyambung,”
Devan tersenyum, “Makanya jangan marah!”
“Aku nggak pernah marah. Tapi bingung sama sifat kamu Devan. kamu tuh aneh banget tahu nggak,”
“Aneh gimana? Aku tuh begini juga demi kita,”
“Kamu yang salah karena nggak mau jelasin apa pun ke aku,”
“Ya udah aku ngaku salah,”
“Kamu juga yang main rahasia sama aku, kamu yang—“ Adelia langsung bungkam begitu Devan mencium bibirnya.
Devan menggigit bibir bawah Adelia dan melepaskannya. “Aku nggak suka kamu ngomel. Kamu tahu sendiri suami kamu ini nggak bisa pisah sama istrinya lama-lama. Belum lagi nyiksa aku gitu aja,”
“Devan emang mesum,”
“Nggak ada yang mesum Adelia. Kamu kalau marah itu sering nangis, aku nggak suka lihat kamu nangis. Kenapa juga kamu harus sedih? Aku nggak maksud apa-apa kok sama kamu. Niat aku baik untuk rumah tangga kita. Lagi pula ya, kamu kan nggak boleh bersikap seperti anak-anak lagi. Kamu bentar lagi punya anak. Masa sih mau libation urusan rumah tangga ke orang tua juga? Papa kamu udah banyak kerjaan, malah ditambah masalahnya,”
“Kita bakalan tinggal di luar lagi kalau kamu ngomong gini, Devan,” selidik Adelia.
“Nggak bakalan. Kita di sini sesuai dengan permintaan nenek. Aku juga udah ngomongin ini sama Papa kamu. Lagipula aku mau tujuh bulanan buat kamu,”
“Devan,”
“Hmmm?”
“Aku mimpi nggak?”
__ADS_1
Devan mengangkat sebelah alisnya, kemudian dia mencubit pipi istriya. “Sakit nggak?” Adelia cemberut dan memegang tangan Devan begitu dia mencubit hidung istrinya.
“Sakit tahu,”
“Kamu sendiri bilang ini mimpi. Jadi ini bukan mimpi ya,” kata Devan pelan kepada istrinya.
“Devan jangan menjauh lagi ya!”
“Aku nggak menjauh. Aku lagi sibuk kerja buat beli rumah untuk kita nanti. Biar rumahnya sebesar rumah kamu ini. Biar ada kolam renangnya juga nanti. Terus rumahnya luas, kalau kamu mau main lari-larian sama anak kita jadi nggak apa-apa,”
“Kamu beneran?”
“Aku usahakan rumahnya seluas ini. Biar nanti Ashira bisa main juga sama adik-adiknya,”
“Ashira?” tanya Adelia.
“Iya dia kan kata dokter jenis kelaminnya perempuan. Jadi kalau perempuan aku namanin Ashira. Arti nama dia itu adalah kaya raya. Tapi menurut aku arti nama dia itu biar kaya hati, rendah hati sama orang. Cantik dan juga bijaksana,”
Adelia tersenyum, “Kalau justru Tuhan ngasihnya cowok?”
“Mau dia perempuan atau laki-laki aku terima kok. Jadi kan nanti nambah adik,” sindir Devan yang membuat Adelia cemberut. “Tiga aja, Adelia,” ucap Devan.
“Satu aja belum, Devan,”
“Rencana dulu nggak apa-apa. Sekalian berdoa umur panjang biar bisa nemenin dia sepajang waktu. Doain juga kita bakalan awet sampai selamanya, jadi nggak ada masalah lagi yang buat kita pisah,”
“Aamiin,”
Devan hening sejenak ketika perutnya berbunyi. “Adel, aku lapar, kita sarapan di luar yuk!”
“Lagi malas keluar, Devan. biar aku buatin ya,”
Devan menggeleng. “Tadi aku bilang sama Mama kalau aku udah sarapan,”
“Lagian kamu malah bohong segala ke Mama,”
“Malu dong kalau bilang belum, ya udah ayo sarapan di luar,”
“Devan, aku bukannya nggak mau. Tapi capek jalan,” keluh Adelia yang kemudian dibalas dengan oh oleh Devan. “Aku buatin aja, nanti aku bilang sama Mama kalau itu buat aku kok, jadi kamu nggak usah khawatir perihal sarapan kamu,”
“Ya udah deh. Terserah istri tersayang, tapi cium dulu!”
“Nah ini nih, ini yang buat aku justru kangen sama suami yang paling manja ini,”
Adelia langsung mencium pipi Devan. tapi pria itu justru langsung mencium leher Adelia hingga terdengar lenguhan kecil. “Jangan suara gitu Adelia! Yang ada aku nggak bisa tahan nanti,”
“Nggak apa-apa kalau kamu mau sarapannya pakai aku,”
“Nanti malam awas kalau tidurnya cepat!” ancamya pada Adelia.
“Ya aku janji nggak bakalan tidur kok, ntni begadang layani suami,”
“Adel, mending kamu keluar sekarang! Daripada aku beneran lakuinnya pagi ini,”
Adelia langsung beranjak dari tempat tidur kemudian pergi dari kamar.
__ADS_1