
Hari dimana Evan dan Carissa pindah ke Indonesia pun akhirnya tiba. Zacky dan Sonya ikut mengantar anak dan menantu mereka itu ke tempat tinggal yang baru.
Carissa tampak surprise saat mereka sampai di sebuah rumah yang tampak asri dan nyaman itu. Sonya dan Zacky juga terlihat menyukai rumah pilihan Evan. Bangunannya tidak terlalu besar, tapi memiliki halaman samping dan halaman belakang yang cukup luas, hingga sangat nyaman untuk dijadikan tempat bermain Lily kelak. Bahkan bisa untuk dijadikan tempat berpesta kebun.
"Selamat datang ke rumah baru kita." Ujar Evan pada Carissa.
Carissa tersenyum sambil memandangi sekeliling rumah barunya dengan perasaan yang luar biasa.
"Ayo kita masuk, Mama tidak sabar mau melihat-lihat." Ajak Sonya sambil membimbing Carissa yang tengah menggendong Lily untuk masuk ke dalam rumah.
Dan ternyata, bagian dalam rumah sudah tertata rapi. Semua furnitur yang diperlukan sudah ada di tempatnya. Bahkan perabot dapur pun sudah lengkap. Evan benar-benar sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna.
"ini kamar Lily jika nanti dia sudah lebih besar." Evan membuka salah satu kamar yang didominasi warna biru laut. Tak lupa tokoh frozen bersaudara tampak menghiasi beberapa bagian dinding kamar. Furnitur kamar Lily juga dihiasi karakter dua gadis cantik itu, hingga semuanya menjadi serba Elsa dan Anna.
"Wah..." Carissa tampak takjub.
"Sangat cantik. Apa kamu sendiri yang punya ide mendekorasinya seperti ini?" Tanya Carissa lagi.
"Iya, aku berkonsultasi dengan seorang teman yang bekerja sebagai desainer interior. Saat mendengarkan deskripsi Lily, menurutnya desain ini sangat cocok untuk putri kita ini." Evan menjawab sambil mencium pipi Lily. Bayi menggemaskan itu merespon dengan tersenyum lebar.
"Memangnya kamu mendeskripsikan Lily seperti apa?"
Evan tampak terdiam sejenak dan mengingat-ingat.
"Putri kita ini sangat cantik, selalu membuat tersenyum setiap kali kita melihatnya dan tampak seperti memiliki kekuatan yang luar biasa. Kelak, dia pasti akan tumbuh menjadi seorang gadis yang mengagumkan." Ujar Evan kemudian.
Carissa sedikit menghela nafasnya.
"Ya, kedengarannya memang seperti putri Elsa." Gumam Carissa kemudian.
Evan tersenyum.
"Jadi dekorasi kamar Lily sudah benar, kan?" Tanyanya.
"Untuk saat ini iya, tapi jika nanti dia sudah lebih mengerti, aku tidak yakin jika kelak dia tidak akan protes dengan kamarnya."
Evan sedikit menautkan alisnya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanyanya.
Carissa sedikit tertawa.
"Karena waktu kecil dulu aku lebih suka tokoh superhero seperti hulk atau batman. Aku sama sekali tidak feminim." Ujar Carissa disela tawanya.
Evan pun ikut tertawa.
"Jadi begitu rupanya." Gumam Evan.
"Kalau memang seperti itu, biar dia sendiri yang memutuskan akan mengganti dekorasi kamarnya menjadi seperti apa. Walaupun superhero, setidaknya aku berharap dia menyukai spiderman atau ironman, bukan hulk."
Carissa kembali tertawa. Begitu pula dengan Evan. Keduanya lalu meninggalkan kamar Lily dan menuju kamar utama.
"Ngomong-ngomong, dimana Mama dan Papa? Bukankah tadi Mama mau ikut melihat-lihat juga?" Tanya Evan kemudian.
"Papa menemani Mama melihat-lihat dapur. Kamu seperti tidak tahu Mama saja, hal paling utama bagi Mama dari sebuah rumah adalah dapur, jadi Mama akan memeriksa bagian itu dulu sebelum yang lain." Jawab Carissa.
Evan mengangguk setuju.
"Benar. Mama akan bersedia tinggal dimana saja selagi dapurnya nyaman untuk dia memasak." Timpal Evan sambil berhenti di depan pintu sebuah kamar.
"Wah..." Carissa kembali takjub. Kamar utama yang akan mereka tempati lebih luas dari kamar sebelumnya. Desain interiornya didominasi oleh warna putih. Terlihat sangat elegan dan juga mewah, tapi menampilkan kesan sederhana juga secara bersamaan.
Carissa membuka pintu kamar mandi dan kembali di buat takjub. Bahkan kamar mandi pun di tata sedemikian rupa agar terasa nyaman saat nanti digunakan. Mata Carissa kemudian tertuju pada bathup di kamar mandi itu yang lebih besar dari bathup pada umumnya. Atau mungkin bisa disebut dengan jaccuzi.
Melihat raut wajah Carissa yang penuh tanda tanya, Evan pun mendekat.
"Setelah ini kita akan lebih sering mandi bersama. Aku sudah memasang yang nyaman untuk digunakan dua orang sekaligus." Bisik Evan di telinga Carissa.
Sontak Carissa langsung melihat kearah Evan dengan mata yang agak melebar.
Evan terkekeh.
"Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu? Bukankah kamu juga suka saat kita mandi bersama." Goda Evan.
"Hentikan, Evan. Ada Lily disini." Kilah Carissa sambil menjauh dari suaminya itu.
__ADS_1
Evan kembali tertawa sambil menahan lengan Carissa.
"Apa kamu mau mencobanya malam nanti, saat Lily sudah tidur?" Tanya Evan dengan setengah berbisik.
"Astaga..." Hanya itu yang bisa Carissa ucapkan sambil buru-buru menggendong Lily keluar dari kamar barunya itu.
Sekali lagi Evan tertawa sambil menyusul istrinya itu. Entah kenapa, akhir-akhir ini menggoda Carissa terasa begitu menyenangkan bagi Evan.
Carissa rupanya menyusul Sonya ke dapur. Jurus jitu menghindari keisengan suaminya itu adalah dengan menempel sepanjang waktu pada Sonya, karena Evan tentu tak akan merayu Carissa di depan Sonya.
Setelah puas melihat-lihat, mereka pun berkumpul di ruang keluarga dengan di temani makanan ringan.
Tak lama kemudian, Evan tampak menyusul dengan membawa serta dua orang yang tampak sudah berusia setengah baya.
"Sayang, kenalkan ini Pak Endah dan Bu Endah. Beliau berdua ini suami istri, dan akan bekerja di rumah kita mulai besok." Evan memperkenalkan dua orang yang ternyata adalah pekerja yang baru yang akan bekerja di rumah mereka.
Pasangan paruh baya itu membungkuk hormat pada Carissa dan kedua orang tua Evan. Setelah itu mereka sekali lagi memperkenalkan diri pada Carissa. Tampaknya Evan benar-benar telah mempersiapkan kepindahan mereka dengan sangat baik. Bahkan orang yang bekerja untuk mereka pun juga dia siapkan.
"Jadi Bapak dan Ibu ini yang akan tinggal di paviliun belakang?" Tanya Carissa.
"Betul, Nyonya. Kami yang akan tinggal di paviliun belakang." Jawab Bu Endah.
Carissa tersenyum.
"Semoga betah bekerja di sini, Bu." Ujar Carissa lagi.
Pak Endah dan Bu Endah pamit untuk pergi ke paviliun belakang. Mereka tampaknya akan membenahi tempat tinggal baru mereka itu sebelum besok mulai bekerja.
Beberapa saat kemudian, makanan yang di beli Evan lewat jasa pesan antar pun datang dengan diantarkan oleh seorang kurir. Evan membawa makanan-makanan itu menuju meja makan.
"Sayang, ajak Mama dan Papa makan siang dulu. Aku akan mengantar makanan yang ini untuk Pak Endah dan Bu Endah ke paviliun belakang." Terdengar suara Evan dari ruang makan.
"Sejak kapan anak itu suka berteriak." Gumam Sonya sambil bangkit dari duduknya. Kedua orang tua Evan itu sudah mendengar apa yang Evan minta meski Carissa belum menyampaikannya.
Carissa tersenyum senang. Hari ini benar-benar terasa menyenangkan. Ia berharap rumah barunya ini akan membawa kebahagiaan untuk keluarga kecilnya kelak.
Bersambung...
__ADS_1
Tetap like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤