
Adelia melahirkan dengan normal. Nama yang diberikan untuk putri pertamanya pun sama dengan apa yang disarankan oleh sang nenek. Adelia yang ingin menjalankan amanah neneknya dengan memberi nama Arsyila Devina Firdaus kepada sang putri tercinta. Tapi, ada yang tidak menyenangkan. Yaitu ketika ketika dia pulang ke rumah. Sedangkan Devan tidak ada di sana. terakhir Devan menemaninya adalah ketika dia melahirkan putri kesayangan mereka.
Di rumah, sudah tiga hari Devan tidak pulang. Pria itu mengabarkan bahwa dia ada perjalanan ke luar kota. Adelia memaklumi karena suaminya memang sering melakukan perjalanan ke luar kota. Tidak heran jika Devan sering pergi.
Melihat putri pertama yang baru saja selesai di mandikan oleh sang mama. Adelia melihat anaknya begitu mirip dengan Devan.
Setelah melahirkan, Adelia kembali lagi ke kamar di mana dulu dia menempati kamar tersebut ketika masih remaja. Kali ini kamarnya di desain sedemikian rupa dengan warna cerah dan juga mainan yang digantung untuk Arsyila. dia begitu bahagia ketika melihat kamarnya berbeda dari sebelumnya. Padahal papanya bilang bahwa kamar yang lain akan dibuat sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan Arsyila di dunia. Tapi, ada kesedihan tersendiri bagi Adelia yaitu ketika neneknya tidak bisa menyaksikan kelahiran putri pertamanya. Sedih yang dia rasakan ketika malam itu menjadi malam terakhir dia berbincang dengan sang nenek. Apalagi neneknya minta untuk ditemani tidur. Adelia sendiri sangat rindu kepada perempuan itu. “Sehat terus ya, Nak! Biar bisa kumpul sama Papa. Biar bisa lihat Papa setiap hari, semoga kelak Papa nggak sibuk seperti sekarang ini,” ucapnya sambil mencium pipi Arsyila yang baru saja selesai mengenakan pakaian.
“Ma, Mama suruh kak Argi beli yogurt sama buah-buahan ya?” tanya Keano yang tiba-tiba masuk.
Fania menoleh ketika Keano menanyakan hal demikian. “Berisik banget sih? Keponakan kamu kaget tahu,”
“Hehehe, ya maaf, Ma. Abisnya aku lihat tadi kak Argi cuci buah-buahan banyak banget terus dimasukin ke kulkas. Yogurtnya juga banyak, katanya itu buat kak Adel,”
“Dia beneran beli?”
“Lah, Mama. Aku kan nanya sekaligus ngasih tahu. Apa Mama yang nyuruh? Lihat aja Ma kulkas Mama penuh tuh!”
“Mama nyuruhnya cuman beberapa aja sih. Kan itu bagus buat kakak kamu pasca melahirkan. Jadi Mama suruh beli buah tertentu,”
“Itu beneran dibeliin,”
__ADS_1
“Sekarang kakak kamu mana?”
“Udah pergi nyusulin Papa sama kak Aksa lagi main golf,”
“Kok nggak pamit?”
“Dia nyuruh aku bilangin ke Mama,”
Fania hanya beroh ria. Kemudian dia mencium cucunya yang menguap sedari tadi. “Ma, Mama beneran bisa terima Kak Aksa sama Kak Argi?” tanya Adelia. Mendengar pertanyaan kakaknya, Keano segera masuk ke dalam kamar kakaknya kemudian mendekati keponakannya lalu mencium si kecil.
“Mama selalu terima mereka. Mereka berdua itu baik, sama kayak Papa dulu. Jujur Mama kaget waktu Papa datang bilang kalau anaknya masih hidup, Mama juga nggak nyangka. Selama ini Papa selalu merasa bersalah. Itulah alasan kenapa Papa khawatir banget kalau Adelia pergi dari rumah ini. Karena dia pernah cerita dia nggak mau anaknya merasakan hal yang sama seperti perempuan korbannya dulu,”
“Papa pernah ditinggal?”
“Apa alasan aku nggak nerima, Ma? Mereka itu baik banget. Apalagi kak Aksa, dia paling bisa untuk diandalkan. Dia selalu buat Mama merasa baik-baik saja. Kak Aksa kelihatan cuek emang. Tapi dia itu baik, dia selalu jadi penengah karena mungkin emang yang tertua. Tapi itulah keuntungannya punya kakak. Mereka berdua begitu sayang sama kita sekalipun kita dari Mama yang berbeda ya kan kak Adel?”
Adelia mengangguk, “Iya, Ma. Mereka itu baik,”
“Mereka juga yang minta izin panggil mama dengan panggilan itu. Dari kecil mereka nggak pernah ngerasain bagaimana kasih sayang seorang Mama. Maka dari itu mereka berdua minta kalau mereka mau panggil mama dengan sebutan yang sama dengan kalian berdua,”
“Yang penting mama bisa terima dengan baik. Aku juga terima dengan baik asal mama bisa adil sama mereka. Papa juga kelihatannya adil banget kok sama anak-anaknya,” ujar Keano.
__ADS_1
“Mama terima mereka itu tulus. Karena andai saja kakak kalian masih hidup, mungkin mama akan melakukan hal yang sama seperti Papa. Yaitu minta Papa terima anak mama dengan baik. tapi sayangnya dia udah nggak ada,”
Adelia terdiam ketika mamanya mulai menceritakan tentang kehilangan sang anak. Adelia sebelum melahirkan juga pernah diceritakan mengenai anak mamanya yang meninggal waktu itu di dalam kandungan, dia merasakan dengan sangat kehilangan anak itu. sekalipun dia tidak pernah merasakan secara langsung, tapi naluri sebagai seorang ibu bisa merasakan dengan jelas.
“Lagian ya, mereka itu nggak pernah tumbuh bersama dengan papa kalian semenjak lahir. Mama mereka juga meninggal sejak mereka baru lahir beberapa hari. Jadi nggak ada alasan mama nggak nerima mereka berdua. Siapa tahu juga nanti kalian butuh penopang hidup untuk jadi lebih kuat lagi ketika mama dan papa nggak ada. Yakinlah kalau keduanya itu baik. jangan pernah kalian membandingkan mereka. Karena kalian dan kedua kakak kalian berasal dari papa yang sama. Sekalipun mama kalian berbeda. Mama lebih suka kalau kalian itu akur. Lihat aja buktinya, Mama padahal nyuruhnya beliin Adelia yogurt dikit, malah penuh tuh kulkas sama yogurt dan buah,” jelas Fania.
Benar jika dia memang menerima keduanya dengan baik. Mereka berdua juga tidak lapor kepada Adelia tentang dia yang memisahkan Adelia dan juga Devan. begitupun dengan Keano yang masih bisa merahasiakan tentang dia yang tidak akan membiarkan Adelia dan Devan bersama. Bukan karena dia egois, tapi tidak bisa menerima bagaimana Devan—anak dari mantan suaminya yang pernah menghancurkan hidupnya justru kembali lagi ke dalam hidupnya hanya untuk bertanggung jawab.
Raka tidak pernah menyangkal apa yang mereka tahu. Begitupun juga dengan Aksa yang waktu itu tahu bahwa Devan adalah anak Reza. Tapi keduanya tidak ada sangkut pautnya. Dia tetap memilih untuk merawat anak dan juga cucunya. Bukan karena dia begitu egois, tapi ketakutannya mengenai Adelia yang diperlakukan sama oleh Devan nanti. Dulu dia juga selalu menerima hal-hal romantis dari Reza. Tapi di dalam keromantisan itu ada luka yang ditanamkan oleh Reza dengan begitu rapi tanpa ketahuan apa pun. Padahal waktu itu dia hamil juga dan dengan bangganya Reza menyebutkan bahwa Nesya hamil. Yang ia pikir bahwa Reza pergi hanya untuk bekerja. Tapi mantan suaminya itu justru kembali dengan mantan kekasihnya yang dulu. Itulah yang membuat luka Fania belum sembuh juga. Dia tidak ingin jika anak perempuan yang begitu dia sayangi mendapatkan perlakuan yang sama.
Fania masih trauma dengan masa lalunya dengan Reza. Begitu bertemu di rumah sakit. Dia begitu terkejut dan sampai mengingat semua perlakuan dari mantan suaminya. Raka juga berada di sana. begitupun dengan semua anak-anaknya. Fania yang tidak bisa menahan emosi dan terlihat begitu lemah dihadapan Reza. Rasanya dia ingin menyerah. Tapi, dia tidak bisa melakukan hal lebih apalagi ingin mengkahiri hidup karena begitu terkejut dengan pertemuannya dengan Reza setelah puluhan tahun berlalu.
Fania juga terkejut karena tidak pernah menyangka akan bertemu lagi. Berarti yang waktu itu dia temui adalah Reza dan juga Devan saat berpapasan direstoran ketika Adelia berusia tiga tahun. Yang artinya mereka pernah bertemu. Tetapi justru tidak mengenali wajah Devan karena waktu itu masih terlalu kecil.
Dirinya memang tahu jika Devan begitu mencintai Adelia. Tapi, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana ketika Reza tahu bahwa Adelia adalah putrinya. Fania hanya bisa pasrah mengenai Arsyila yang harus tumbuh tanpa adanya Devan. ketika dia memutuskan untuk tidak mengizinkan Devan bertemu lagi dengan anak dan juga Adelia. Semua keluarganya bungkam tak ada yang berkomentar apa pun.
Keano melihat mamanya bengong karena mungkin masih memikirkan tentang Adelia dan juga Arsyila. begitu keputusan mamanya untuk memisahkan kakaknya. Keano dilarang ikut campur oleh papanya dan juga kedua kakaknya melarangnya untuk protes. Karena itu adalah masalah pribadi. Melihat mamanya yang jauh lebih baik dibandingkan hari pertama ketika mengetahui mengenai Devan. itu rasanya sedikit melegakan. Tapi tidak dengan keadaan kakaknya yang sepertinya merindukan sosok Devan. pria yang tidak pernah ke luar kota seperti yang diberitahukan. Melainkan, kakak iparnya masih di dalam kota dan dipisahkan dengan paksa oleh mamanya. Devan juga yang pernah memohon agar tidak dipisahkan tapi tidak bisa berkata apa pun. Karena kehilangan memang membuat sebagian orang menjadi egois untuk bertindak pada kehidpan selanjutnya. Tapi, bagi Keano tidak. Mamanya tidak melakukan hal yang salah. Itu karena luka masa lalu mamanya memang belum bisa pulih sepenuhnya. Maka dia mengorbankan Adelia dan juga Arsyila juga pasti ada penyebabnya.
__ADS_1