
Setelah sarapan pagi yang begitu mengesankan, Evan dan Carissa menghabiskan waktu mereka dengan berkeliling menikmati keindahan pantai. Dengan tanpa menggunakan alas kaki, keduanya menapaki pasir putih nan lembut di sepanjang tepi pantai.
Jemari mereka saling bertautan dan mengenggam erat satu sama lain, seakan tak ingin terlepas lagi. Sesekali Carissa menoleh dan tersenyum pada Evan, dan begitu pun sebaliknya. Terlihat jelas jika keduanya memuja satu sama lain. Baik Evan maupun Carissa, mereka telah sama-sama jatuh kedalam pesona masing-masing dengan sangat dalam hingga tak ada celah lagi untuk berpaling kearah lain.
"Kamu lelah? Kita istirahat dulu, ya?" Tanya Evan sambil membimbing Carissa untuk duduk di sebuah bangku panjang yang terletak di bawah pohon.
Carissa pun menurut dan duduk di sana tanpa banyak protes.
Evan meninggalkan Carissa tanpa memberi tahu akan kemana, hingga Carissa sedikit bingung di buatnya. Tapi tak lama kemudian, Evan kembali datang dengan membawa dua buah kelapa muda yang telah siap di minum airnya. Lalu dengan tidak mengatakan apa-apa, Evan memberikan salah satunya pada Carissa dan menikmati yang satunya lagi untuk dirinya sendiri.
"Di sini indah..." Gumam Carissa sambil menyesap air kelapa muda miliknya. Matanya tampak memandang pemandangan di hadapan mereka yang di dominasi oleh warna biru.
"Benar." Jawab Evan sambil menyesap juga air kelapa muda miliknya.
"Ngomong-ngomong, apa Mama dan Papa sering pergi mengunjungi tempat-tempat indah seperti ini?" Tanya Carissa kemudian.
Evan mengangguk mengiyakan.
"Setiap tahun Mama dan Papa selalu merayakan ulang tahun pernikahan mereka di negara yang berbeda. Mereka akan mengunjungi tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya dan berlibur selama beberapa hari." Jawab Evan.
"Jadi mereka honeymoon setiap tahun?" Tanya Carissa lagi.
"Bisa di bilang begitu."
"Wah..." Carissa terlihat takjub.
"Pantas saja Mama dan Papa selalu terlihat mesra meski sudah menikah puluhan tahun. Ternyata mereka punya cara tersendiri dalam menjaga hubungan pernikahan mereka. Bahkan pasangan muda saja banyak yang tidak tahu caranya agar selalu harmonis." Gumam Carissa.
Evan menoleh dan melihat kearah istrinya itu.
"Itu artinya kita perlu mengikuti jejak Mama dan Papa." Ujar Evan menanggapi.
"Benarkah? Apa kita sungguh perlu seperti itu juga?" Tanya Carissa.
"Tentu saja. Aku juga ingin kita selalu mesra dan harmonis meski nanti umur kita tidak muda lagi, seperti Mama dan Papa." Jawab Evan sambil tersenyum.
Carissa juga ikut tersenyum.
__ADS_1
"Berarti mulai tahun ini aku harus memikirkan negara mana yang akan kita datangi saat ulang tahun pernikahan kita nanti." Ujarnya sambil sedikit berseloroh.
"Benar." Evan menaruh kelapa muda di tangannya dan merengkuh tubuh Carissa ke dalam pelukannya.
"Kamu harus memikirkan dengan baik negara mana yang akan kita kunjungi tahun ini, dan untuk tahun-tahun berikutnya juga." Ujar Evan sembari menciumi kening dan pipi Carissa.
"Oke." Carissa membalas pelukan Evan sambil berusaha menahan senyumnya. Hatinya seperti sedang di penuhi oleh ribuan macam bunga yang indah. Tak bisa di lukiskan lagi bagaimana perasaannya saat ini.
"Apa kamu yakin suatu saat nanti perasaanmu padaku tidak akan berubah?" Tanya Carissa masih sambil masih memeluk Evan.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Evan malah balik bertanya sambil meraih dagu Carissa.
"Siapa tahu nanti kamu bosan padaku..."
Evan kembali tersenyum mendengar kekhawatiran Carissa.
"Bagaimana kalau nanti kamu yang bosan padaku. Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan meninggalkanku?" Evan kembali bertanya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Carissa.
"Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah bosan padamu. Yang ada, aku justru akan semakin jatuh cinta padamu setiap harinya." Jawab Carissa dengan penuh keyakinan.
"Apa yang kamu katakan tadi juga mewakili perasaanku padamu, Carissa. Bagaimana aku bisa bosan padamu jika kamu sendiri adalah kebutuhanku. Aku justru akan kacau jika kamu tidak berada di dekatku. Aku sebenarnya tidak tahu sejak kapan merasakan ini, tapi tampaknya sekarang aku tidak bisa lagi menjalani hariku tanpamu. Aku mencintaimu, Carissa, dan aku juga membutuhkanmu. Jika aku bosan padamu, itu berarti aku sudah bosan hidup, karena sekarang kamu adalah hidupku." Evan semakin mengeratkan pelukannya sembari mencium kening Carissa dengan lembut.
Carissa tertawa kecil di dalam pelukan Evan.
"Mulutmu manis sekali, ya. Sepertinya bibirmu tadi habis di olesi madu." Gumam Carissa di sela kekehannya.
Evan tampak agak heran dengan reaksi Carissa. Lalu dia mengurai pelukannya dan melihat wajah istrinya itu.
"Kamu tidak mempercayai kata-kataku tadi?" Tanya Evan.
"Jika yang mengatakannya tadi lelaki lain, aku pasti akan langsung menamparnya, karena sudah jelas dia sedang membual. Tapi yang mengatakan tadi itu kamu, tentu saja aku sangat percaya. Aku tidak menyangka bisa merasakan momen manis seperti ini dalam hidupku. Aku hanya terlalu senang." Jawab Carissa sambil tersenyum kearah Evan. Keduanya saling memandang dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya kembali saling memagut.
Carissa dan Evan kembali berciuman dengan segenap perasaan yang ada. Mereka saling menyesap manisnya bibir satu sama lain sambil sesekali mendesah menikmati ciuman tersebut. Kalau saja tidak sedang berada di tempat terbuka, kedua orang ini sudah pasti akan berakhir dengan kegiatan yang mereka lakukan tadi pagi. Tapi kali ini mereka harus berpuas diri hanya dengan seperti itu saja, tanpa ada tambahan yang lain.
Waktu berjalan dengan sangat cepat hingga tak terasa matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Cahaya keemasan menghiasi langit senja, menambah kesan romantis bagi pasangan yang kini saling berpelukan itu.
Beberapa saat kemudian, Carissa dan Evan saling mengurai pelukan, lalu saling memandang dengan perasaan yang sama-sama membuncah. Kemudian keduanya kembali berciuman untuk kesekian kalinya, seakan hal itu tak pernah puas mereka lakukan.
__ADS_1
"Evan..." Gumam Carissa dengan nafas terengah.
"Ya?"
"Cukup." Pinta Carissa dengan wajah memerah.
Evan tertawa kecil, lalu mencium kening Carissa dengan gemas.
"Evan, boleh aku meminta sesuatu?" Tanya Carissa lagi.
"Apa itu?" Evan balik bertanya.
"Maukah kamu mengulang janji yang di ucapkan di hari pernikahan kita?"
"Kenapa?"
Carissa terdiam sesaat.
"Waktu itu kita mengucapkannya tanpa ada rasa cinta, semua terucap hanya karena kita berkompromi dengan takdir. Tapi sekarang kita sudah saling mencintai, Evan. Aku ingin kita berjanji sekali lagi untuk tidak saling meninggalkan, dan kali ini kita juga harus berjanji untuk tetap saling mencintai dalam keadaan apapun."
Evan menatap Carissa dalam, lalu tersenyum lembut.
"Baiklah..." Gumamnya.
"Carissa Nugraha, aku berjanji akan selalu ada untukmu, mencintaimu, menyayangimu, menjagamu dan menghormatimu sepanjang hidupku. Aku berjanji akan selalu bersamamu dalam suka maupun duka, di saat susah ataupun senang. Aku juga berjanji hanya kamulah satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku maupun hatiku. Aku berjanji akan hidup sebagai suamimu, dan mati pun juga sebagai suamimu. Seandainya kehidupan selanjutnya itu memang ada, maka aku akan meminta pada Tuhan agar kembali terlahir untuk menjadi suamimu. Aku berjanji padamu."
Carissa menatap Evan dengan mata berkaca-kaca.
"Janji yang kamu ucapkan, itu adalah janjiku juga, Evan. Aku juga akan selalu bersamamu dalam keadaan apapun. Aku akan selalu menjadi istrimu, tidak peduli apapun yang akan terjadi nanti." Carissa kembali masuk kedalam pelukan Evan dengan penuh rasa haru. Sedangkan Evan hanya tersenyum tipis sembari membelai lembut kepala istrinya itu.
'Aku tidak hanya berjanji, Carissa. Aku bersumpah.'
Bersambung...
Semoga tetap setia nungguin kelanjutannya yak, soalnya beberapa hari ini reviewnya agak lama. Up hari ini, baru berhasil besoknya.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1