
"Di tangkap pihak kepolisian? Bagaimana bisa?" Tanya Evan tak percaya.
"Aku tidak tahu. Mama hanya bilang kalau Papa di tahan sejak kemarin. Mama juga belum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi." Carissa tampak terlihat cemas.
"Jantung Papa lemah, Evan. Bagaimana kalau kesehatan Papa terganggu karena hal ini. Aku takut terjadi apa-apa dengan Papa." Airmata Carissa mengalir tanpa sadar. Bayangan bagaimana dulu Arga pernah hampir kehilangan nyawa karena serangan jantung membuat Carissa gelisah dan juga takut. Carissa sungguh tidak ingin hal buruk sampai terjadi pada Papanya itu.
"Jangan khawatir. Tidak akan terjadi hal buruk. Besok kita akan pergi menemui orang tuamu dan memastikan jika semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah." Evan membawa Carissa ke dalam pelukannya dan mencoba menenangkan sebisa mungkin.
Carissa menghapus airmatanya dan berusaha untuk berfikir positif. Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika tak ada yang perlu di khawatirkan. Tapi nyatanya tetap saja hatinya merasa tidak tenang. Carissa masih belum bisa menghilangkan kegelisahan di dalam dirinya sebelum dia melihat keadaan kedua orang tuanya dengan mata kepalanya sendiri.
"Istirahatlah dulu. Biar aku yang membereskan barang-barang kita. Besok pagi-pagi sekali kita akan meninggalkan tempat ini dan menemui orang tuamu." Evan membimbing Carissa menuju tempat tidur, lalu membaringkan istrinya itu dengan lembut.
"Jangan berpikir yang macam-macam dulu, oke? Pejamkan matamu dan tidurlah." Bisik Evan lagi sambil mencium kening Carissa. Kemudian Evan menarik selimut dan menutupi tubuh Carissa hingga ke dada.
Evan tak beranjak. Dia setia duduk di sisi Carissa sembari mengusap lembut kepala Carissa hingga perlahan istrinya itu mulai mengantuk. Tak berapa lama kemudian, Carissa akhirnya terlelap dengan perasaan yang lebih tenang.
☆☆☆
Setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih tujuh jam, Evan dan Carissa akhirnya tiba di Indonesia. Mereka langsung melaju dari bandara menuju kediaman keluarga Nugraha. Di sana rupanya hanya ada para pelayan saja. Alya, Mama Carissa sudah dua hari tidak pulang sejak Arga di tahan pihak kepolisian.
Alya tampak sibuk mencari tahu kasus yang menjerat suaminya dan berusaha untuk mengupayakan bantuan hukum. Keluarga besar Nugraha juga berusaha untuk menyelesaikan masalah ini, meski tampaknya apa yang terjadi kali ini tidaklah sederhana.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Carissa berinisiatif menelfon Alya. Dan Carissa pun kembali di buat terkejut saat mendapati suara tangis Alya di seberang sana.
__ADS_1
"Carissa... Kamu di mana? Apa kamu sudah sampai? Papamu... Papamu...hiks..hiks.." Alya terdengar tak bisa meneruskan kata-katanya.
"Mama? Papa kenapa? " Tanya Carissa dengan panik.
"Papamu terkena serangan jantung lagi. Dia kolaps. Sekarang para dokter sedang berusaha menyelamatkanya..." Alya kembali tersedu-sedu.
"Mama, tenanglah dulu, Ma. Sekarang Papa di tangani di rumah sakit mana?" Carissa berusaha untuk menenangkan Alya, tapi di sisi lain dirinya juga ketakutan setengah mati hingga tubuhnya menjadi gemetaran. Jika saja tidak ada Evan yang menopangnya saat ini, Carissa pasti sudah lunglai sejak tadi.
Alya pun memberi tahu rumah sakit tempat Arga mendapatkan pertolongan. Langsung saja setelahnya Evan dan Carissa meluncur di sana.
Keduanya mendapati Alya sedang duduk di salah satu kursi di koridor rumah sakit dengan menangis tersedu-sedu. Tampak seorang pelayan kepercayaannya berusaha menenangkan, tapi Alya terlihat tak juga menghentikan tangisnya. Disana juga ada beberapa polisi yang berjaga di depan pintu sebuah ruangan di hadapan Alya.
"Mama..." Panggil Carissa.
Alya mengangkat wajahnya. Lalu saat mendapati Carissa yang memanggilnya tadi, Alya langsung bangkit dan berhambur kearah putrinya itu. Alya memeluk Carissa sembari menangis semakin tersedu, seakan ingin menumpahkan segala beban kesedihannya beberapa hari ini. Hal itu membuat Carissa juga tak kuasa membendung tangisnya lagi.
"Papa di mana?" Tanya Carissa di sela isakannya.
"Papamu sedang di tangani dokter di dalam. Tadi detak jantungnya sempat berhenti, tapi akhirnya kembali lagi. Sekarang para dokter sedang berusaha untuk menstabilkan kondisinya. Papamu kritis, Carissa..." Airmata Alya kembali mengalir dengan deras dari matanya. Entah sudah seberapa banyak Mama Carissa ini menangis, yang jelas kini matanya sudah sangat sembab.
Carissa kembali membawa Alya ke dalam pelukannya. Di usapnya punggung Mamanya itu dengan lembut hingga tanpa sadar Alya pun menjadi sedikit tenang.
Tak lama kemudian, para dokter yang menangani Arga keluar dari ruangan. Salah satu dari mereka menjelaskan pada Alya jika kondisi Arga sekarang sudah stabil, tapi tentu saja masih dalam perawatan intensif, mengingat kondisinya bisa saja mendadak drop sewaktu-waktu.
__ADS_1
Alya akhirnya bisa menghela nafas lega. Dia kini bisa mengetahui keadaan suaminya setelah sebelumnya berada dalam ketidakpastian. Dengan lutut yang masih terasa lemas, Alya kembali duduk di tempat duduknya semula dengan perasaan yang lebih tenang.
Tak lama kemudian, Clara juga tiba di rumah sakit bersama Dave, suaminya. Bersamaan itu, pengacara Arga juga datang untuk membahas upaya bantuan hukum untuk Arga.
Mereka akhirnya memesan sebuah ruangan privat untuk membicarakan kasus yang tengah menjerat Arga saat ini.
Semuanya tampak terkejut saat pengacara Arga tersebut mulai menjelaskan semuanya. Pengacara itu mengatakan jika Arga tertangkap tangan sedang melakukan penyuapan terhadap seorang pejabat publik untuk memuluskan bisnisnya.
Tentu hal itu tidak bisa di terima begitu saja oleh Carissa dan juga Clara. Mereka sangat mengenal sosok Arga dan tidak percaya jika Papa mereka itu melakukan tindakan melawan hukum.
"Saya tahu jika hal ini sulit di percaya, tapi itulah kenyataannya, Nona. Tuan Arga memang terlibat sebuah kasus penyuapan belum lama ini. Tapi yang membuat rumit adalah kasus-kasus lain yang juga di lakukan oleh Tuan Arga jauh sebelum ini, semuanya juga ikut naik ke permukaan. Selama ini Tuan sudah banyak melakukan tindak kriminal, dan jika semuanya terungkap di pengadilan, akan sangat sulit untuk menyelamatkan Tuan."
"Tidak mungkin..." Carissa bergumam tanpa sadar. Sedangkan Clara tampak tak bisa berkata-kata karena terlalu syok dengan kenyataan yang di dengarnya.
"Selama ini, Tuan melakukan semuanya tanpa celah, hingga tak ada yang mengetahuinya selain orang-orang kepercayaannya di perusahaan. Bahkan seluruh anggota keluarga Nugraha juga tidak mengetahui apa yang di lakukan Tuan Arga untuk mempertahankan kejayaan perusahan Nugraha."
"Para tetua di keluarga Nugraha selalu menuntut Tuan untuk memajukan perusahaan, tidak peduli bagaimana pun keadaanya. Itulah sebabnya tak jarang Tuan menggunakan cara yang salah demi memenuhi tuntutan tersebut. Dan yang paling parah adalah kejadian hampir dua puluh lima tahun yang lalu."
Pengacara Arga menghela nafasnya sejenak sebelum membuka lagi mulutnya.
"Demi memenangkan sebuah tender yang sangat besar, Tuan sampai membuat seorang pengusaha bangkrut dan kehilangan segalanya hanya dalam kurun waktu satu minggu. Hingga akhirnya pengusaha tersebut meninggal karena terkena serangan jantung, satu jam setelah istrinya dinyatakan meninggal."
Bersambung...
__ADS_1
Tetep like, koment dan vote
Happy reading❤❤❤