
Carissa menunggu hasil testpack di tangannya dengan harap-harap cemas. Ini adalah kali ketiga ia melakukan tes kehamilan dua hari ini. Dan seperti yang sebelumnya, garis yang muncul tetaplah satu garis, menandakan jika dirinya belum juga hamil.
Carissa menghela nafasnya dan menjadi agak tak bersemangat. Setelah lima bulan lebih sejak pertama kali dia dan Evan melakukan hubungan suami istri, dirinya masih belum hamil juga. Padahal Evan dan Carissa sudah menjalankan pola hidup sehat dan banyak mengkonsumsi makanan yang dapat meningkatkan kesuburan. Tapi tetap saja hasilnya masih belum ada.
Dan bulan ini, secara kebetulan Carissa terlambat mendapatkan tamu bulanannya. Tentu saja dia merasa senang dan berharap keterlambatan itu karena dia telah hamil. Tapi ternyata hasilnya masih tetap sama. Carissa masih belum mengandung juga. Hingga dalam hati Carissa jadi bertanya-tanya, kenapa dia masih belum bisa hamil?
"Carissa, kamu sedang apa di dalam?" Evan mengetuk pintu kamar mandi hingga membuat Carissa tersadar dari lamunannya.
"Carissa, kamu sudah hampir setengah jam di dalam. Apa ada masalah?" Tanya Evan lagi dari luar kamar mandi.
"Ti-tidak ada. Aku akan segera keluar." Jawab Carissa dengan agak terbata.
Evan yang mendengar nada bicara Carissa barusan tampak menautkan kedua alisnya. Sepertinya istrinya itu sedang tidak baik-baik saja saat ini. Segera Evan membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci.
Tampak Carissa yang berdiri di dekat wastafel menoleh dengan agak terkejut. Tangannya terlihat sedang memegang sesuatu yang langsung menarik perhatian Evan.
Evan mendekati istrinya itu dan langsung meraih alat testpack yang ada di tangan Carissa.
"Aku sudah telat tiga hari, makanya aku menggunakan ini. Tapi ternyata hasilnya masih negatif. Mungkin hanya terlambat datang saja, seperti yang sebelumnya." Carissa berujar dengan nada agak kecewa.
Evan melihat alat testpack itu sesaat, lalu melihat kearah Carissa. Di letakkanya alat itu di atas wastafel sembari meraih Carissa ke dalam pelukannya.
"Tidak usah sedih. Mungkin belum saatnya kita di beri anak. Lebih baik kita ambil sisi positifnya saja. Dengan begini kita bisa menikmati waktu berdua lebih lama lagi." Hibur Evan sembari membelai rambut panjang Carissa.
"Tapi bukankah kamu ingin kita segera punya anak? Mama juga sudah sangat ingin menimang cucu." Balas Carissa lirih.
Evan tersenyum dan mencium pipi Carissa lembut.
"Aku memang ingin punya anak, tapi kalau sekarang bukan saatnya, tentu saja aku akan menunggu. Jangan merasa tertekan, berdua dulu seperti ini juga tidak buruk. Kita bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi untuk menjadi orang tua."
Carissa terdiam dalam pelukan Evan. Meskipun kata-kata Evan tadi sangatlah menenangkan, tetap saja hati Carissa merasa risau. Sebuah kekhawatiran tiba-tiba saja muncul di benaknya.
__ADS_1
"Evan, bagaimana kalau seandainya aku tidak bisa memberikan kamu keturunan?" Tanpa sadar kalimat itu keluar dari mulut Carissa.
"Jangan suka memikirkan hal yang tidak-tidak. Itu hanya akan membuatmu semakin tertekan dan menjadi stres. Lebih baik memikirkan yang baik-baik saja." Evan mengurai pelukannya dan merangkum wajah Carissa dengan kedua tangannya.
"Tapi, kalau memang seperti itu, apa kamu akan meninggalkanku?" Tanya Carissa lagi dengan raut wajah cemas dan sedikit sedih.
Evan tidak langsung menjawab pertanyaan Carissa. Di amatinya wajah Carissa dengan lekat, sebelum akhirnya seulas senyuman hadir di wajah Evan.
"Apa kamu lupa kalau aku tidak akan melepaskanmu bagaimana pun keadaannya nanti?" Evan balik bertanya.
Carissa balas menatap Evan dengan ekspresi yang tak bisa di lukiskan.
"Lalu, apa kamu akan menikah lagi demi untuk punya anak?" Carissa bertanya sekali lagi, kali ini ada rasa takut yang tersirat dari nada bicaranya.
Evan kembali tersenyum, bahkan dia sampai tertawa kecil sambil memeluk Carissa lagi.
"Tentu saja aku tidak akan menambah istri lagi. Satu istri saja aku sudah cukup kesulitan membagi waktu dengan pekerjaan, apalagi punya dua istri. Bisa-bisa aku tidak punya waktu lagi untuk sekedar tidur dan mandi." Ujar Evan di sela kekehannya.
"Aku serius, Evan." Sergah Carissa.
"Aku juga serius. Aku sudah punya istri yang manis, kenapa harus menyakitinya dengan menghadirkan perempuan lain yang belum tentu baik. Bukankah aku sudah pernah berjanji jika tidak akan ada orang ketiga dalam pernikahan kita?" Evan bertanya dengan nada bicara lebih serius.
Carissa tampak menundukkan kepalanya dalam pelukan Evan.
"Tapi janji bisa di langgar kapan saja..." Lirih Carissa dengan agak sedih.
Evan menyadari kesedihan dari nada bicara Carissa. Dia juga memahami kekhawatiran yang di rasakan Carissa saat ini. Pengkhianatan yang pernah di lakukan Papanya pasti membuat Carissa merasa takut jika Evan kelak akan melakukan hal yang sama.
"Janji yang aku ucapkan itu tidak hanya padamu, Carissa. Tapi juga aku ucapkan pada Tuhan. Aku tidak akan mengingkarinya. Apapun keadaannya, kita akan selalu bersama. Aku tidak akan pernah menghadirkan perempuan lain dalam pernikahan kita. Dan aku harap, kamu juga melakukan hal yang sama. Jangan pernah berpikir untuk melirik laki-laki lain."
Mau tidak mau Carissa tertawa mendengar kalimat terakhir Evan. Sangat jarang Ia mendengar Evan mengucapkan kata-kata posesif seperti itu. Carissa pun tergelitik untuk sedikit menggoda suaminya ini.
__ADS_1
"Mungkin tidak ada salahnya kalau aku sesekali melirik laki-laki lain. Lagi pula yang aku lirik juga belum tentu menanggapi."
Evan mengurai pelukannya dan melihat kearah Carissa. Raut wajahnya agak berubah menjadi tidak enak di lihat hingga membuat Carissa kembali tertawa.
"Astaga, Evan. Aku cuma bercanda. Kenapa wajahmu serius begitu? Lagipula sejak kapan kamu jadi cemburuan seperti ini?" Carissa masih terkekeh. Hilang sudah raut sedih dan khawatir yang tadi di lihat Evan.
Evan lega melihat tawa Carissa. Lalu dengan sangat tiba-tiba, di bopongnya tubuh Carissa hingga istrinya itu terpekik.
Evan membawa Carissa keluar dari kamar mandi dan membaringkannya ke tempat tidur dengan lembut.
"Kamu mau apa?" Tanya Carissa dengan agak panik saat melihat gelagat tak biasa dari Evan.
"Menurutmu aku mau apa?" Evan malah balik bertanya sembari memberi kecupan pada leher dan bahu Carissa.
"Evan, ini sudah waktunya kamu ke rumah sakit. Kamu juga belum sarapan." Carissa mencoba mengingatkan.
"Ini aku sedang memulai sarapannya." Bisik Evan dengan entengnya sebelum akhirnya dia memagut bibir Carissa.
"Evan..." Desis Carissa sesaat setelah Evan melepaskan pertautan bibir mereka. Ia terengah karena hampir kehabisan oksigen.
"Kalau kamu ingin kita segera punya anak, kita harus lebih giat lagi membuatnya." Bisik Evan lagi.
Carissa membulatkan matanya. Entah kenapa kata-kata Evan tadi begitu ajaib terdengar di telinganya hingga ia seperti terhipnotis.
Tak lama kemudian, pasangan suami istri ini sudah tenggelam dalam kenikmatan yang tak bisa di lukiskan dengan kata-kata.
Carissa berharap, kali ini usaha mereka kelak akan membuahkan hasil.
Bersambung...
Tetep like, koment dan vote
__ADS_1
Happy reading❤❤❤