
2 tahun kemudian
Arsyila sudah bisa bicara dengan lantang. Tapi tetap saja mereka masih tinggal terpisah. Devan yang memang tinggal terpisah dengan istri dan juga anaknya. Karena dia memang tidak diperbolehkan membawa Adelia keluar dari rumah itu, rasanya begitu banyak masalah yang mereka hadapi. Mulai dari Adelia yang hamil karenanya. Belum lagi ketika mereka dijemput ketika kabur waktu itu. sekarang, tinggal terpisah dan hanya bermodalkan kesetiaan. Devan memang tetap bertahan demi keluarga kecilnya.
Tiba-tiba saja Adelia memeluknya dari belakang. “Kamu ada masalah?”
Devan melepaskan pelukan Adelia kemudian berbalik. “Enggak, aku nggak apa-apa,”
“Devan, apa kita nggak bisa tinggal bertiga?”
“Tetap di sini ya! Proyeknya masih lama,” itu adalah alasan Devan satu-satunya agar Adelia bisa mengerti. Dia berusaha untuk mengunjungi anak dan juga istrinya sabtu dan juga hari minggu. Tapi waktu yang mereka habiskan tetap saja terasa kurang.
“Aku hamil,”
Ucapan singkat itu membuat Devan merasa bersalah kepada Adelia. Belum selesai masalahnya dengan mama mertuanya. Ditambah lagi dengan kehamilan kedua Adelia. “Sejak kapan?”
“Udah lima minggu,”
Devan mengecup kening Adelia. “Iya, nggak apa-apa,”
“Kamu nggak suka?”
“Bukan nggak suka. Tapi aku mikir gimana kamu nglewatin semuanya nanti,”
“Aku nggak apa-apa kok,”
Rumah yang Devan janjikan sudah selesai dibangun. Rumahnya juga cukup besar dan bisa membawa keluarga kecilnya tinggal di sana. tapi tetap saja restu dari mama Adelia tidak pernah dia dapatkan. Andai saja waktu bisa diputar, Devan tidak ingin jika papanya melakukan hal bodoh itu dulu dan memperbaiki apa saja yang membuat hati mama Adelia hancur karena perbuatan papanya.
Devan melihat anaknya sedang menonton televisi malam itu. dia melihat anaknya begitu aktif dan crewet. Arsyila sedang menonton televisi seusai makan malam tadi. devan memang sengaja datang setelah selesai makan malam agar dia tidak satu meja dengan mama mertuanya.
Tok tok tok
“Devan, ada waktu?” terdengar suara mama mertuanya memanggil dari luar. Devan pamit kepada istrinya untuk membuka pintu.
“Papa mau ke mana?” tanya Arsyila.
“Papa dipanggil sama nenek, sebentar ya,” Devan berjongkok begitu anaknya mengejar dirinya yang hendak keluar. dia mencium pipi anaknya dan berdiri lagi kemudian keluar dari kamar.
Rasa deg-degan tentu saja dia rasakan. Karena dia tidak pernah bicara empat mata lagi dengan mama mertuanya. Sudah lama sekali Devan tidak bicara berdua. Bahkan semenjak dia minta izin untuk datang sabtu dan minggu untuk anak dan juga istrinya.
__ADS_1
Begitu dia membuka pintu, dia melihat mama mertuanya sedang berdiri di depan pintu. “Ada waktu?”
Devan mengangguk, “Iya, Ma,”
“Kita bisa bicara dibawah?”
Devan mengangguk dan mengikuti ke mana mama mertuanya pergi.
Di ruang tamu yang begitu luas dan juga besar. Terlihat di ruang keluarga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruang tamu. Semua keluarganya berada di sana. bahkan Aksa dan istri serta anaknya juga sedang di sana. anak laki-laki yang sedang dipangku oleh papa mertuanya.
Baru saja dia duduk di sofa. “Kamu tahu kabar hari ini?”
Devan menatap mama mertuanya dan kemudian menunduk. “Adelia hamil?”
“Bukan hanya itu,”
“Lalu?”
“Saya ingin kamu nggak usah cari dia lagi mulai hari ini!”
Devan menunduk, “Kenapa harus aku yang ngerasain semuanya?” lirih Devan. selama ini dia berusaha untuk mengikuti semua aturan yang diberikan oleh mama mertuanya. Tapi ketika dia diminta untuk berhenti mencari anak dan juga istrinya, rasanya itu sangat sakit. Ditambah lagi Adelia yang hamil anak kedua mereka. Devan memejamkan matanya yang tidak terasa air matanya keluar.
“Kenapa? Adelia istri aku,” dia tetap merendahkan nada bicaranya. Dia masih tetap bisa bertahan dan tidak ingin egois karena dia tahu luka masa lalu itu tidak pernah bisa dimaafkan oleh mama mertuanya sehingga terlihat begitu kesakitan. Devan juga sangat benci dengan kenyataan ini. Dia tidak pernah mau menjadi sumber kebencian di hati mama mertuanya.
“Apa kamu pernah hamil? Apa kamu pernah berjuang melahirkan anak? Apa kamu pernah rawat anak? Semua itu saya yang rasain sebagai ibu, saya yang hamil Adelia. Saya juga yang merawat dia,”
“Tapi, Ma. Aku sayang sama dia,”
“Sayang kamu nggak sebesar benci saya setiap lihat kamu, Devan,” mama mertuanya menangis. “Kamu nggak tahu bagaimana saya bertahan juga demi Adelia. Dan juga saya bertahan demi Arsyila, tapi setiap kali kamu datang. Kenapa hati saya benci kamu.”
Nada bicara mama mertuanya meninggi hingga membuat orang-orang yang ada di ruang keluarga menoleh. Devan menundukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian Adelia keluar menggendong Arsyila. “Mama kenapa?”
“Adelia, kamu pilih Mama atau Devan?”
Devan menggeleng begitu mama mertuanya memberi pilihan. “Maksud Mama apa?”
“Mama tanya kamu pilih Mama atau pilih Devan?!”
__ADS_1
Papa mertua dan juga kedua kakak Adelia datang menghampiri. “Mama kenapa?” papa mertuanya mulai mendekat.
“Mama capek, Pa. mama capek harus pura-pura terus, Mama pengin Adelia cerai sama dia,” tunjuk mama mertuanya pada Devan.
Devan kemudian berdiri begitu mendengar nada bicara mama mertuanya yang sudah tak terkendali lagi. “Ma, aku sudah menikah, Ma. Apa salah kalau aku pilih Devan?”
Mama mertuanya menganggukkan kepala. “Kamu pilih, Devan?”
“Mama kan tahu aku hamil anak kedua,”
“Iya, dan kamu lebih pilih pria ini dibandingkan, Mama? Kamu tahu nggak Adelia? Kamu tahu nggak bagaimana sakitnya Mama ketika Mama berusaha nerima dia? Dia itu adalah anak dari pembunuh kakak perempuan kamu, dia adalah alasan kenapa dulu Mama pernah ditinggal sama papanya dia,” tangis mama mertuanya pecah.
Adelia yang juga lemas mendengar ucapan mamanya langsung duduk disofa. “Ma, Mama nggak bercanda?”
“Dari awal pernikahan, Papa kamu nggak pernah setuju. Tapi Papa kamu justru sembunyikan apa yang dia tahu. Semenjak kamu melahirkan, Mama tahu semuanya dan itu alasan Mama nggak bolehin kamu sama pria ini. Kamu nggak tahu bagaimana sakitnya, Mama. Pria ini juga yang bawa kamu kabur waktu itu ‘kan? Itu karena dia nggak mau ketahuan sama Papa dan juga Mama. Dia nggak mau ketahuan kalau dia anak pembunuh itu,”
Adelia berdiri dan melepaskan anaknya, “Argi, bawa Arsyila pergi dari sini ya!” perintah papa mertua Devan.
Kali ini Devan merasa terpojokkan. “Kamu nggak bilang sama aku, Devan?” teriak Adelia begitu dia tahu sumber luka yang dirasakan oleh mamanya selama ini. Yang dia tahu adalah mamanya punya anak tapi meninggal di dalam kandungan. Tapi begitu tahu yang menjadi dalang dari semua ini adalah papa Devan. adelia merasa dibohongi selama ini.
“Itu karena aku sayang kamu, sayang Arsyila. aku nggak mau pisah sama kamu,”
“Tapi kamu kenapa nggak bilang sama aku,”
Adelia merosot ke lantai dan menangis histeris. “Pergi dari sini, Devan!”
“Aku mohon, Ma,”
“Pergi!!”
Begitu Aksa ingin angkat bicara. Papa mertuanya langsung menggeleng. Pria itu kemudian terdiam.
Mama mertuanya dibawa masuk oleh papa mertuanya.
__ADS_1