
Selama beberapa hari Carissa mempertimbangkan saran yang di berikan Sonya padanya, akhirnya ia memutuskan untuk menerima saran tersebut. Meski sebenarnya ia sendiri belum membicarakan hal itu pada Evan, tapi Carissa telah mengatakan pada Sonya jika dirinya setuju untuk mencari rahim pengganti.
Beberapa kali Carissa mencoba mengajak Evan bicara, tapi niatnya itu selalu ia urungkan. Entah kenapa lidahnya selalu saja kelu saat hendak memulai pembicaraan. Alhasil, Carissa akhirnya menyerahkan sepenuhnya hal itu pada Sonya. Carissa meminta agar Sonya saja yang berbicara pada Evan, dan Sonya juga yang mencarikan perempuan yang nantinya menjadi rahim pengganti itu.
Carissa seperti kehilangan akal sehatnya. Rasa bersalahnya karena merasa ada masalah pada rahimnya membuat dia tidak bila lagi memikirkan tentang kemungkinan yang terjadi dengan adanya rahim pengganti. Dia juga tidak memikirkan jika mungkin saja masalahnya bisa terselesaikan dengan prosedur pembersihan di saluran rahim, seperti yang di katakan Dokter Grace saat mereka kembali berkonsultasi. Otak Carissa seperti menjadi beku dan tidak bisa di ajak berpikir. Yang ada di benaknya hanyalah bagaimana cara agar dia bisa memberikan Evan keturunan secepatnya, entah itu berasal dari sel telurnya atau tidak.
Rasa cintanya pada Evan membuat Carissa menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Tidak di pikirkannya lagi bagaimana perasaannya nanti. Asalkan Evan bisa bahagia, Carissa bersedia menanggung segalanya.
Dan hari itu, Sonya mengajak Carissa menemui seseorang yang rencananya akan menjadi rahim pengganti tersebut. Seorang gadis muda yang menjadi korban perdagangan manusia.
Gadis tersebut di culik dan di jual ke Singapura dan di paksa melayani lelaki hidung belang setiap malamnya, hingga akhirnya dia berhasil melarikan diri. Dan entah bagaimana ceritanya gadis itu pun bertemu dengan Sonya.
Sonya sebelumnya juga telah menceritakan pada Carissa jika gadis tersebut membutuhkan uang agar bisa kembali ke negaranya, hingga Sonya menawarkan pada gadis itu sebuah pekerjaan yang bisa menghasilkan banyak uang.
Tanpa banyak berpikir gadis itu pun menyetujui tawaran dari Sonya. Tak peduli pekerjaan apa yang nantinya akan dia lakukan, asalkan bisa mendapatkan uang dan kembali ke negaranya, gadis muda itu bersedia melakukan apa saja. Toh hal yang paling nista saja sudah pernah dia lakukan, pikirnya. Tak masalah jika kali ini dia melakukannya sekali lagi. Siapa tahu dengan uang yang di dapat nanti, dia bisa membangun sebuah usaha di negaranya dan punya masa depan yang lebih baik.
Akhirnya, di sebuah ruang privat salah satu restoran yang cukup mewah, Sonya pun membawa gadis itu menemui Carissa.
Gadis itu tampak masih sangat muda. Dia baru berusia 21 tahun. Wajahnya cukup cantik dan bisa membuat para lelaki tertarik hanya dengan sekali lihat.
Saat melihat gadis itu, hati Carissa menjadi sedikit tidak nyaman. Membayangkan jika gadis di hadapannya ini yang nantinya akan mengandung anak Evan membuat Carissa harus sekuat tenaga menahan gejolak di dalam dirinya, hingga tanpa sadar tubuhnya menjadi sedikit gemetaran.
"Siapa namamu?" Tanya Carissa pada gadis itu setelah berhasil menenangkan dirinya.
"Karina, Nyonya." Jawab gadis itu sembari menundukkan wajahnya. Banyak menghabiskan waktu dengan di intimidasi membuat gadis bernama Karina itu lebih sering menundukkan kepalanya.
"Kamu sudah tahu pekerjaan apa yang harus kamu lakukan?" Tanya Carissa lagi.
Karina mengangguk.
"Iya, Nyonya. Nyonya Sonya sudah memberi tahu saya. Saya tidak keberatan melakukannya. Dan bisa saya pastikan jika di masa depan saya tidak akan membuat masalah dengan keluarga Nyonya. Saya bersedia menandatangani surat perjanjian yang punya kekuatan hukum. Asalkan saya bisa mendapatkan uang dan bisa kembali ke negara saya, saya bersedia melakukan apapun." Karina menjawab dengan penuh keyakinan.
Carissa tampak tertegun melihat kesungguhan gadis di hadapannya ini. Pastilah Karina telah banyak melalui hal buruk hingga tak ragu sedikit pun untuk menjadi rahim pengganti asalkan bisa pulang.
__ADS_1
Setelah terdiam agak lama, akhirnya Carissa menganggukkan kepalanya. Sonya pasti tidak akan membawa gadis yang akan mencari masalah nantinya. Carissa memilih untuk percaya pada ibu mertuanya itu dan menerima gadis di hadapannya ini.
Setelah Carissa setuju untuk mempekerjakan Karina, ia langsung pulang ke apartemennya. Selanjutnya tinggal memberi tahu dan meyakinkan Evan saja. Dan hal itu Sonya yang akan melakukannya. Carissa kini hanya tinggal mempersiapkan hati dan mentalnya saja.
Jika boleh jujur, dia masih tidak rela membayangkan Evan akan bersinggungan dengan perempuan lain, apalagi jika nantinya Evan harus menyentuh gadis bernama Karina itu.
Berulang kali Carissa menghela nafasnya. Dia hanya berharap pengorbanannya ini kelak akan benar-benar membawa kebahagiaan dalam rumah tangga mereka. Carissa dan Evan mendapatkan anak yang mereka inginkan, dan Karina bisa pulang ke negaranya serta punya kehidupan yang lebih baik. Itulah yang Carissa harapkan.
Semoga saja harapannya itu benar-benar terwujud dan tidak terjadi masalah. Ya, semoga saja.
☆☆☆
Malam itu, akhirnya Sonya mempertemukan Evan dan Karina. Dia datang bersama gadis itu ke apartemen Evan dan Carissa. Tak lama kemudian, Zacky yang baru tiba dari luar kota pun ikut menyusul setelah Sonya menelfonnya.
Evan yang awalnya terlihat bingung dengan kedatangan Sonya yang membawa seorang gadis ke apartemennya, kini tampak terdiam dengan raut wajah tak terbaca.
Sebelumnya, sesaat setelah Zacky sampai, Sonya memperkenalkan Karina pada Evan dan Zacky, Sonya juga menceritakan kesamaan kondisinya dengan Carissa saat ini dan kegagalannya memiliki keturunan meski telah banyak menjalani berbagai macam cara untuk membuatnya agar bisa hamil.
Dan terakhir, Sonya menyampaikan pada Evan maksud kedatangannya membawa Karina adalah untuk menjadikan Karina sebagai rahim pengganti yang akan mengandung anak Evan dan Carissa.
"Aku rasa Mama terlalu terburu-buru mencarikan rahim pengganti, Kami bahkan belum menjalankan program bayi tabungnya." Ujar Evan pada Sonya setelah terdiam agak lama.
Sonya terdiam sesaat.
"Program bayi tabung terlalu rumit, Evan. Dan belum tentu berhasil. Tujuan kehadiran Karina di sini adalah agar kamu bisa mendapatkan anak dengan cara normal." Ujar Sonya kemudian.
Terang saja Zacky dan Evan terkejut mendengarnya. Bahkan Carissa sendiri pun terlihat memejamkan matanya saat mendengar Sonya mengatakan itu.
"Apa maksudmu, Sonya?" Tanya Zacky.
Sonya tak menjawab. Dia tahu jika Evan pasti paham apa maksud perkataannya tadi.
Evan beralih melihat kearah Carissa dengan tatapan mata tajam.
__ADS_1
"Apa kamu sudah tahu hal ini sebelumnya?" Tanya Evan.
Carissa mengangguk.
"Dan kamu tidak merasa keberatan?" Tanya Evan lagi.
Carissa terdiam beberapa saat. Setelah menghela nafasnya, Carissa pun kembali mengangguk.
Tatapan Evan menjadi semakin tajam, lalu dengan raut wajah datarnya, dia beranjak dan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan orang-orang di ruang keluarga apartemannya yang tampak heran dan bingung.
Tak lama kemudian Evan keluar lagi dan berhenti tepat di hadapan Karina.
"Saya tahu Nona bersedia melakukan ini pasti karena membutuhkan uang." Evan menyerahkan selembar cek pada Karina, dan di terima dengan raut bingung oleh gadis itu.
"Semoga jumlahnya bisa membantu kesulitan Nona. Pulanglah. Kami tidak membutuhkan Nona lagi. Maaf Kami sudah merepotkan Nona." Ujar Evan lagi dengan sopan.
Karina melihat cek di tangannya dengan mata melebar.
"Tapi, Tuan..." Karina tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi tatapan mata Evan padanya yang berubah nyalang membuat Karina tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Pergilah! Jangan sampai aku melihatmu lagi!!!" Evan berteriak hingga membuat Karina berlonjak kaget. Segera gadis itu bangkit dan pamit undur diri.
Sementara itu, suasana menjadi sangat mencekam setelah kepergian Karina. Wajah Evan tampak sangat tidak enak di lihat. Nafasnya juga memburu karena menahan emosi.
Praang!!!
Tiba-tiba saja Evan menerjang pajangan keramik yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri hingga benda itu pecah dan berserakan.
Carissa melihat kearah suaminya itu dengan takut. Evan benar-benar terlihat sedang emosi. Tatapan matanya berubah menjadi sangat menakutkan dan membuat yang melihatnya bergidik ngeri.
Evan terlihat kesulitan mengendalikan dirinya saat ini. Apa yang di lihat Carissa sekarang jelas memperlihatkan suaminya itu bukan hanya sekedar marah, tapi dia murka.
Bersambung...
__ADS_1
Good Evan, amukin aja semuanya😅
Happy reading❤❤❤