
"Kita harus bertemu!" Carissa meminta dengan nada tidak ingin dibantah lewat saluran telpon pada Geraldyn. Meski telah diberi pengertian oleh Evan tentang kedekatan Geraldyn dan Jonathan, Carissa tetap tak bisa menghentikan kekhawatirannya terhadap manajernya itu. Entah kenapa dia merasa jika saat ini Geraldyn berada dalam bahaya dan membutuhkan bantuan.
"Aku tidak punya waktu bertemu denganmu. Dua jam lagi aku akan kembali ke Indonesia. Aku sedang bersiap-siap." Tolak Geraldyn dari seberang sana.
"Masih ada waktu dua jam lagi. Aku tidak akan menghabiskan waktumu lebih dari satu jam. Kita perlu bicara." Pinta Carissa lagi.
"Memangnya apa yang mau kamu bicarakan? Kenapa tidak bicara sekarang saja lewat telpon?"
"Tidak bisa!"
Geraldyn menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia memandangi layar ponsel itu sambil agak menautkan kedua alisnya.
"Kenapa dia? Apa sedang terkena sindrom baby blues?" Gumam Geraldyn dengan sedikit bingung.
"Kamu kenapa, sih?" Tanya Geraldyn sambil kembali mendekatkan ponselnya pada telinganya.
"Kamu itu yang kenapa? Tiba-tiba muncul bersama Jonathan dan mengaku pacaran. Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?"
Geraldyn menghela nafasnya. Sudah dia duga Carissa pasti mencecarnya dengan pertanyaan seperti itu.
"Yang terjadi diantara kami, kamu pasti sudah bisa menduganya, kan? Dia mengajakku bekerjasama tapi malah terpikat oleh pesonaku, memangnya apalagi?" Geraldyn berusaha tertawa agar terdengar santai.
"Ge..." Suara Carissa merendah.
"Ya?" Seketika Geraldyn menghentikan tawanya.
"Katakan padaku yang sejujurnya? Apa dia memaksamu? Apa dia mengancammu dengan sesuatu sehingga kamu terpaksa mengikuti semua keinginannya?" Tanya Carissa lagi. Dapat Geraldyn rasakan kekhawatiran Carissa dari nada bicaranya.
Untuk sesaat Geraldyn terdiam.
"Ge? Kamu dengar pertanyaanku tadi, kan?"
"Eh, iya." Geraldyn sedikit tergagap.
"Ceritakanlah apa yang kamu alami bersama Jonathan, Ge? Aku pasti akan membantumu. Aku tidak akan memaafkannya jika dia melakukan hal buruk padamu." Carissa terdengar marah.
"Hei, kenapa kamu emosional seperti itu? Dasar Ibu-ibu." Geraldyn berusaha untuk bersikap seolah tak ada apa-apa.
"Jangan berpikir terlalu berlebihan. Memangnya hal buruk apa yang bisa Jonathan lakukan padaku? Jika ada yang tertindas diantara kami, tentu saja dia orangnya. Kamu sungguh tidak perlu mengkhawatirkanku sama sekali." Ujar Geraldyn lagi menenangkan.
Carissa terdiam dan tampak mencerna kata-kata Geraldyn.
__ADS_1
"Kamu sungguh baik-baik saja?" Tanya Carissa kemudian.
"Tentu saja. Jangan terlalu mengkhawatirkanku."
Carissa terdiam lagi.
"Tapi, kenapa kamu setuju menjadi pacar Jonathan? Bukankah aku sudah pernah cerita padamu kalau dia itu lelaki berengsek?" Carissa bertanya sekali lagi.
Kali ini Geraldyn yang tampak tertegun. Entah kenapa kalimat terakhir Carissa langsung mengingatkan kejadian saat ia berinisiatif memeluk dan mencium Jonathan. Tubuh Geraldyn tanpa sadar meremang.
"Hahaha...menurutmu apalagi, itu karena dia adalah sebuah tambang emas. Dia tertarik padaku dan meminta aku menjadi pacarnya, tentu saja tidak boleh disia-siakan. Jika dia sudah miskin, aku pasti akan langsung mencampakkannya." Sekali lagi Geraldyn berusaha untuk tertawa.
"Pokoknya kamu tidak perlu berpikir macam-macam. Aku bisa mengatasi Jonathan. Dia tidak akan membuatku menderita, tapi sebaliknya."
Carissa menghela nafasnya.
"Kalau kamu sendiri sudah bilang begitu, baiklah..." Gumamnya dengn nada tak berdaya.
"Carissa, sudah dulu, ya. Aku harus bersiap-siap. Ada yang mau aku beli juga. Tidak lama lagi kan kamu juga akan kembali ke Indonesia. Kita akan ngobrol banyak setelah kamu di sana, oke?"
"Baiklah..." Carissa mengiyakan meski dengan sangat tidak rela.
"Kalau begitu, aku tutup, ya."
Lalu jika dilihatnya dari seleranya, Jonathan juga bukan seorang lelaki yang good looking versi Geraldyn. Gadis itu adalah penggemar drama Korea garis keras. Lelaki idamannya tentu saja yang memiliki tampilan seperti para aktor Korea yang selama ini dia tonton. Dan Jonathan sama sekali tidak terlihat seperti itu.
Lalu kenapa mereka sampai berpacaran? Carissa yakin ada alasan yang saat ini sedang berusaha Geraldyn sembunyikan darinya.
Sementara itu, Geraldyn yang tadi menerima telpon dari Carissa tampak masih berada di kamar hotel. Sebenarnya penerbangannya adalah nanti malam, dan dia punya waktu yang sangat cukup untuk menemui Carissa. Tapi Geraldyn sengaja mencari alasan agar tidak perlu menemui Carissa. Geraldyn takut jika bertemu secara langsung, kebohongannya akan terlihat dengan jelas dan disadari oleh Carissa.
Carissa sungguh tidak boleh tahu kenapa dia sampai menerima permintaan konyol Jonathan untuk menjadi pacarnya, karena Geraldyn tahu itu hanya akan membuat Carissa khawatir dan merasa bersalah.
Geraldyn menghela nafasnya, berusaha untuk menenangkan diri. Meski berusaha untuk tak lagi memikirkannya, kilasan kejadian itu kini kembali terpatri di ingatannya.
Flashback on
Brakkk!!!
Geraldyn menggebrak meja kerja Jonathan dengan sangat marah. Bahkan asisten dan sekretaris Jonathan pun tak bisa menghalau gadis itu.
"Katakan, apa semalam kau mengambil fotoku tanpa menggunakan pakaian?" Tanya Geraldyn tanpa basa-basi. Terlihat Jonathan agak bingung dengan pertanyaan gadis bar-bar ini.
__ADS_1
"Tidak usah mengelak seperti pengecut. Apa tujuanmu melepaskan semua pakaianku jika tidak untuk melakukan hal tak senonoh seperti itu?" Geraldyn kembali bertanya dengan penuh emosi.
Jonathan terdiam sesaat. Tampaknya gadis di hadapannya ini salah paham terhadapnya. Geraldyn mengira Jonathan menanggalkan pakaiannya untuk berbuat tak senonoh. Padahal itu karena pakaiannya penuh dengan bau muntahan.
Tapi alih-alih meluruskan kesalahpahaman itu, Jonathan malah tersenyum simpul pada Geraldyn.
"Jika iya, memangnya Nona mau apa? Menuntutku?" Tanyanya tanpa beban.
"Jonathan!!! Kenapa kau benar-benar berengsek? Dosa apa aku sampai harus terlibat dengan lelaki sepertimu?" Wajah Geraldyn tampak merah padam karena marah.
"Dosa apa?" Ulang Jonathan.
"Bukankah Nona tahu dosa apa yang sudah Nona lakukan. Berpura-pura menjadi pertnerku dan berusaha untuk menipuku. Nona juga sudah berencana untuk menghambur-hamburkan uangku lewat blackcard yang aku berikan. Menurut kuasa hukumku, itu sudah termasuk kedalam tindak kriminal."
"Apa?" Geraldyn membeliakkan matanya.
"Aku juga punya rekaman suara pengakuan Nona yang berniat menipuku. Waktu mabuk tempo hari Nona mengatakan semuanya."
Geraldyn membeku karena niat aslinya pada Jonathan tampaknya sudah terungkap.
"Jika aku serahkan pada polisi, mungkin itu cukup membuat Nona menginap di penjara selama beberapa hari. Belum lagi foto Nona yang aduhai itu, kalau aku posting di sosial media pasti dalam waktu singkat akan menjadi viral." Jonathan memainkan ponselnya seakan foto dan rekaman yang dia katakan tadi berada disana.
"Jangan!" Pinta Geraldyn cepat.
Melihat wajah cemas Geraldyn, Jonathan kembali tersenyum simpul.
"Tapi Nona jangan takut, aku orang yang sangat baik. Aku tidak akan melakukan semua itu jika Nona mau melakukan sesuatu untukku."
Geraldyn tertegun beberapa saat.
"Melakukan apa?" Tanya Geraldyn kemudian.
Seringai menyebalkan kembali terlihat di bibir Jonathan, membuat Geraldyn yang melihatnya menjadi semakin kesal.
"Jadilah pacarku."
Flashback off
Bersambung...
Tetap like, komen dan vote
__ADS_1
Happy reading❤❤❤