
Evan menutup pintu kamar mandi dan mengusap wajahnya kasar. Pemandangan yang di lihatnya barusan membuat sesuatu yang tengah tertidur di dalam dirinya tiba-tiba saja bangkit.
Melihat punggung mulus Carissa tadi sudah cukup membuat dadanya berdesir hebat, di tambah lagi pemandangan indah dari alam pegunungan milik Carissa yang tak sengaja Evan lihat karena gaun pengantin istrinya itu melorot.
Evan harus berjuang untuk meredam hasratnya yang tiba-tiba bangkit.
Evan melangkah cepat kearah tempat tidur, lalu meraih air mineral yang tersedia di atas nakas. Di tenggaknya air tersebut langsung dari botolnya tanpa menuangkannya ke dalam gelas terlebih dahulu. Setelah itu, Evan menghela nafasnya berulang kali agar pikirannya kembali jernih.
Tapi entah kenapa, bayangan punggung mulus dan bukit kembar Carissa masih saja memenuhi otaknya. Sepertinya setelah ini Evan perlu mandi dengan menggunakan air dingin agar bisa meredam hasratnya itu.
Evan sendiri tak mengerti di buatnya. Sebelumnya tidak pernah dia merasa sangat bergairah seperti ini saat melihat bagian tubuh perempuan. Biasanya Evan tak terlalu terpengaruh meski melihat perempuan dengan pakaian yang minim. Tapi kali ini tampaknya berbeda. Melihat bagian tubuh Carissa membuat Evan ingin menyentuh apa yang di lihatnya tadi.
Evan merasa berhasrat pada Carissa. Mungkinkah karena perempuan itu kini adalah istrinya hingga Evan merasa jika Carissa adalah miliknya yang seharusnya memang dia sentuh?
Evan kembali menghembuskan nafasnya kasar.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Carissa keluar dengan menggunakan atasan piama milik Evan tanpa menggunakan bawahannya. Pakaian milik Evan tersebut tampak kebesaran di tubuh Carissa hingga lebih mirip seperti dress selutut saat Carissa memakainya.
Lagi-lagi Evan tersenyum melihat istrinya itu. Dan di balas senyuman yang tak kalah manis dari Carissa sendiri. Meski kali ini senyum keduanya terlihat lebih canggung.
"Aku pakai bajunya saja. Celananya terlalu besar, langsung melorot saat aku pakai." Ujar Carissa sambil mengembalikan celana piama Evan ke dalam koper.
Mendengar kata 'melorot' membuat Evan kembali teringat bukit kembar Carissa yang di lihatnya tadi. Cepat-cepat Evan beranjak dan masuk ke kamar mandi dengan membawa serta pakaian gantinya. Dia ingin segera mengguyur kepalanya dengan air dingin agar otaknya kembali berfikir dengan benar.
Evan tidak ingin jika sampai bertindak terlalu agresif dan membuat Carissa merasa tidak nyaman.
Ya. Meskipun saat ini status mereka telah resmi sebagai suami istri, Evan tak memungkiri jika dia dan Carissa belum benar-benar saling mengenal. Mereka berdua perlu waktu penjajakan untuk lebih mengenal satu sama lain. Meski pun sejauh ini Evan merasa nyaman dengan istrinya tersebut, tapi Evan tidak tahu apa Carissa juga merasakan hal yang sama. Masih banyak hal yang harus mereka diskusikan bersama sebelum benar-benar menjalani kehidupan suami istri yang sebenarnya.
Tiga puluh menit kemudian, Evan keluar dengan tubuh dan pikiran yang lebih segar. Di lihatnya Carissa telah berada di atas tempat tidur dengan posisi sedang duduk bersandar.
"Kamu mandi seperti sedang bermeditasi saja. Lama sekali." Gumam Carissa saat Evan mendudukkan diri di sampingnya.
"Aku ketiduran." Bohong Evan. Tidak mungkin dia mengatakan jika di kamar mandi tadi dia sibuk menenangkan juniornya hingga membuatnya memerlukan waktu yang cukup lama.
Carissa tertawa kecil.
"Kamu lucu sekali. Masa mandi bisa ketiduran." Ujar Carissa di sela tawanya.
__ADS_1
Evan hanya tersenyum menanggapi.
"Ngomong-ngomong, lilinnya di matikan saja, ya. Aku takut kalau tidur banyak lilin menyala seperti ini." Ujar Carissa lagi.
"Kamu takut dengan lilin?" Tanya Evan.
"Aku bukan takut dengan lilin, tapi aku takut kalau nanti terjadi kebakaran karena lilin-lilin ini saat kita sedang tertidur. Aku tidak mau jadi hantu penasaran yang mati di malam setelah hari pernikahannya. Menyeramkan." Jawab Carissa dengan mimik wajah serius.
Terang saja Evan tertawa mendengar penuturan Carissa tadi.
"Apanya yang lucu. Aku serius. Aku baru menikah dan belum berbulan madu, masa iya harus mengalami tragedi." Ujar Carissa lagi, kali ini ia juga ikut tertawa.
"Oke, kita padamkan lilin-lilinnya. Aku juga baru menikah dan belum melakukan apa-apa pada istriku. Aku juga tidak mau jadi hantu penasaran." Jawab Evan sambil masih tertawa. Lalu keduanya pun turun dari tempat tidur dan meniupi lilin-lilin yang menyala di kamar pengantin mereka itu.
"Evan!!" Carissa berteriak saat Evan meniup lilin terakhir dan membuat kamar mereka jadi gelap gulita.
"Kenapa lilin yang itu di tiup sebelum menyalakan lampu. Aku takut gelap..."
Dapat Evan rasakan Carissa memeluknya erat. Tampaknya istrinya itu benar-benar takut gelap dan sedang merasa ketakutan saat ini. Cepat-cepat Evan menyalakan lampu kamar mereka dengan Carissa yang masih menempel di tubuhnya.
"Maaf..." Cepat-cepat Carissa melepaskan pelukannya dengan wajah yang merona. Dalam hati ia merutuki apa yang di lakukannya tadi. Bagaimana bisa dia memeluk Evan seperti itu. Entah apa yang di pikirkan lelaki itu padanya sekarang.
Tapi sejurus kemudian Carissa terkejut. Evan menarik tubuh Carissa lagi ke dalam pelukannya hingga mereka kembali berpelukan seperti tadi.
Carissa membeku. Dapat ia rasakan hembusan nafas Evan saat lelaki itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Carissa.
"Evan..." Carissa ingin mengatakan sesuatu, tapi hanya satu kata itu saja yang mampu keluar dari mulutnya.
"Jika kita melakukannya sekarang, apa menurutmu itu terlalu cepat?" Tanya Evan kemudian.
Carissa tak bisa berkata-kata mendengar pertanyaan Evan. Sejujurnya dia belum siap menyerahkan dirinya pada Evan saat ini. Tapi Evan telah resmi menjadi suaminya, tentu saja lelaki itu berhak atas dirinya. Jika dia menolak, bukankah akan sangat tidak baik untuk hubungan mereka ke depannya.
Carissa tidak tahu harus menjawab apa.
"Katakanlah. Aku ingin mendengar pendapatmu." Ujar Evan lembut sambil mengurai pelukannya.
"Aku..." Carissa masih tidak bisa meneruskan kata-katanya. Tapi Evan terlihat sabar menunggu jawaban dari Carissa.
__ADS_1
"Tidak bisakah kita melakukannya secara perlahan? Step by step." Ujar Carissa akhirnya setelah berusaha menyusun kata agak lama.
Evan tampak menunggu penjelasan Carissa lebih lanjut lagi.
"Maksudku, sebelum kita benar-benar melakukan hubungan suami istri, mungkin ada baiknya kita saling membiasakan diri dengan yang lebih ringan. Misalnya saling berpegangan tangan dan saling memeluk. Lalu jika kita sudah terbiasa, baru kita melakukan hal yang lebih intim lagi."
Evan tampak mencerna apa yang di katakan Carissa. Kemudian dia mengangguk setuju.
"Oke, mari kita lakukan step by step." Ujar Evan.
Lalu kembali di raihnya lagi Carissa ke dalam pelukannya.
"Jangan protes. Aku sedang melakukan step pertama." Bisik Evan di telinga Carissa.
Carissa meremang saat merasakan hembusan nafas Evan di telinganya. Lalu tubuhnya kembali membeku saat di rasakannya Evan mencium keningnya lembut.
"Itu juga bisa di bilang bagian dari step pertama, kan?" Tanya Evan masih dengan berbisik.
Dada Carissa berdegup dengan kencang. Ia seakan menjadi bisu dan tak mampu menjawab pertanyaan suaminya itu. Lalu Evan sedikit merenggangkan pelukannya dan kembali menatap Carissa yang juga sedang menatapnya.
"Dan aku rasa, yang ini juga bagian dari step pertama." Ujar Evan lagi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Carissa.
Jarak wajah mereka semakin mendekat, tanpa sadar Carissa memejamkan matanya, seakan memberikan lampu hijau pada Evan untuk melanjutkan apa yang akan dia lakukan.
Cup.
Bibir Evan akhirnya mendarat pada bibir Carisa, memagutnya dengan sangat lembut.
Evan menciumnya!
Bersambung...
Et...dah, masih belum jugaš
Jgn lupa like, koment dan votenya
Happy readingā¤ā¤ā¤
__ADS_1