
Rupanya kejutan yang di dapat Evan hari itu tak cukup dengan lemon tea rasa garam saja, saat makan malam pun kembali ada kejutan lainnya. Evan melihat ada menu yang tidak biasa terhidang di meja makan. Ayam goreng dengan remahan bumbu dan parutan kelapa yang juga ikut di goreng.
Sonya mengatakan jika hari ini dia sedang mencoba menu baru, yaitu ayam goreng serundeng, salah satu masakan khas Indonesia. Meski agak tak biasa, akhirnya Zacky dan Evan mencoba menu baru yang baru kali ini di masak Sonya. Dan seperti biasa, apapun yang di masak Mama Evan itu, rasanya pasti selalu enak. Sonya memang pandai memasak, dan itu juga salah satu hal yang membuat Zacky tak bisa berpaling darinya.
Makan malam berlangsung hangat seperti biasa. Tapi Evan merasa ada yang tak biasa dari Carissa. Istrinya itu tampak agak serba salah. Ia terlihat sedikit tidak nyaman selama makan malam berlangsung, seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan.
Setelah makan malam selesai, langsung saja Evan mengajak Carissa naik ke kamar mereka.
"Apa ada yang ingin kamu ceritakan padaku?" Tanya Evan pada Carissa begitu mereka sudah berada di dalam kamar.
"Hah?" Carissa yang sedang melamun tampak agak terkejut mendengar pertanyaan dari Evan.
"Dari tadi kamu tampak asyik dengan pikiranmu sendiri. Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan? Apa ada hal menarik yang sudah aku lewatkan?" Tanya Evan lagi.
Carissa mendongak kearah Evan dan terlihat seperti orang yang ketahuan mencuri. Entah apa yang sudah terjadi, tapi Evan yakin istrinya ini sudah melakukan sesuatu yang 'berkesan'.
"Kamu bukanlah tipe orang yang bisa memendam sesuatu. Lebih baik ceritakan saja supaya kamu merasa lebih baik."
Evan menyentuh punggung tangan Carissa. Dia ingin Carissa menceritakan apa yang ada di pikirannya saat ini. Selain ingin Carissa mengurangi beban pikirannya, Evan juga sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya telah di lakukan istrinya tadi.
Carissa tampak terdiam beberapa saat.
"Aku..." Carissa berusaha untuk bercerita.
"Sebenarnya waktu membantu Mama memasak tadi, aku membuat kesalahan." Carissa berujar pelan sambil menundukkan wajahnya.
"Kesalahan?" Evan mengulang apa yang di katakan Carissa.
"Iya. Aku membuat Mama gagal memasak menu kesukaan Papa."
Evan menautkan kedua alisnya, tampak belum mengerti dengan apa yang Carissa katakan.
"Tadi Mama sebenarnya mau memasak gulai ayam, masakan khas kampung halaman Papa. Masakannya menggunakan santan, dan Mama memakai kelapa asli supaya rasanya lebih enak. Mama menyuruhku memblender kelapa dan memasukan santannya ke dalam wajan. Tapi aku malah memasukan santan tanpa memisahkan dari ampasnya terlebih dahulu. Ayamnya terlanjur di masak, jadi Mama gagal memasak gulai, justru memasak ayam goreng yang tadi, yang ada taburan ampas kelapanya." Carissa bercerita masih dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
Evan tertegun dengan wajah yang tampak menahan sesuatu. Sebenarnya dia sangat ingin tertawa, tapi meihat ekspresi Carissa yang terlihat sedih, tentu Evan tak tega untuk menertawakannya.
"Tidak usah sedih begitu. Kamu kan masih dalam tahap belajar, jadi sangat wajar jika tidak sengaja melakukan kesalahan. Laguipula masakan tadi juga masih bisa di makan, dan rasanya juga enak. Jadi tidak ada masalah, kan?" Evan berusaha menghibur Carissa.
"Iya, tapi tetap saja aku malu."
"Kenapa mesti malu?" Evan meraih dagu Carissa dan mengangkat wajah istrinya itu agar melihat kearahnya.
Carissa tidak menjawab.
"Setiap orang punya keunggulan di satu bidang, tapi sekaligus punya kelemahan di bidang lain juga. Tidak usah membandingkan dirimu dengan Mama. Mama memang pandai memasak, tapi bukankah kamu juga pandai bermain piano?"
Carissa menatap kearah Evan yang juga sedang menatap kearahnya.
"Tapi bukankah istri itu harusnya bisa memasak untuk suaminya? Nanti kalau kita sudah tidak tinggal di sini lagi, siapa yang akan membuatkanmu makanan kalau aku tidak bisa memasak?"
"Kita bisa mempekerjakan juru masak. Tidak perlu terlalu di permasalahkan."
"Tapi..."
"Kamu tidak bisa memasak, itu sungguh tidak masalah buatku. Kita bisa mempekerjakan orang, dan belajar memasak bersama-sama. Aku masih sanggup membayar upahnya. Atau mungkin, menurutmu suamimu ini tidak mampu?" Evan bertanya sambil masih menatap Carissa.
Tentu saja Carissa menggeleng cepat.
"Bukan seperti itu. Aku hanya ingin menjadi istri yang bisa menyenangkan suaminya. Termasuk bisa memasakkan makanan untukmu juga."
Evan tersenyum.
"Kamu bisa menyenangkanku dengan cara lain, istriku." Ujar Evan dengan nada menggoda.
Carissa melebarkan matanya mendengar kalimat terakhir yang di katakan Evan, lalu menelan salivanya dengan agak kepayahan. Suaminya ini tidak sedang meminta haknya, kan?
Evan tertawa sambil mengacak-acak rambut Carissa dengan gemas.
__ADS_1
"Maksudku menyenangkanku dengan cara lain itu misalnya memainkan piano untukku. Memangnya kamu pikir apa?"
Carissa melengos dengan wajah merona. Ia malu karena kedapatan berpikir hal yang lain.
"Berpikir apa? Aku tidak memikirkan apa-apa." Kilah Carissa.
Evan kembali tertawa, kali ini sambil meraih Carissa ke dalam pelukannya. Carissa membalas pelukan Evan sambil diam-diam tersenyum. Sungguh keberuntungan baginya bertemu dengan lelaki ini. Dan Carissa sangat bersyukur Evanlah yang menjadi suaminya, bukan lelaki lain.
☆☆☆
Hari-hari berlalu. Tak terasa sudah hampir tiga bulan Carissa menjalani kehidupannya sebagai istri Evan. Semuanya terasa sangat membahagiakan. Carissa sendiri tak menyangka jika Evan bisa menyembuhkan luka hatinya.
Seiring dengan Carissa yang telah menerima Evan sepenuhnya, kini ia tak pernah lagi memikirkan Aaron. Setiap Carissa memejamkan mata, kini hanya Evan yang ada di dalam pikirannya, bukan Aaron lagi. Carissa juga akan merasa rindu jika berpisah agak lama dengan suaminya itu.
Dan seperti halnya hari ini, Carissa tiba-tiba merindukan suaminya yang sedang menjalankan tugasnya di rumah sakit, hingga Carissa pun datang dengan beralasan ingin mengantarkan makan siang untuk Evan.
Di ujung koridor rumah sakit, Carissa menghentikan langkahnya. Tampak dari kejauhan Evan sedang berjalan kearahnya sambil berbincang dengan rekan sesama dokter yang sekaligus bawahannya. Tak berapa lama, tampak Evan berhenti saat berpapasan dengan seorang pasien yang berada di atas kursi roda. Evan terlihat menyapa dan menanyakan keadaan pasien itu dengan sangat ramah.
Carissa tertegun. Matanya tak lepas menatap sosok lelaki di hadapannya itu dengan perasaan yang sulit di lukiskan. Seorang lelaki tampan dengan menggunakan jas putih yang kini terlihat seperti seorang malaikat di mata Carissa. Dia sangat baik, lembut, dan perhatian. Membuat Carissa seringkali tersentuh dengan perlakuannya.
Tangan Carissa terulur menyentuh dadanya yang berdegup dengan kencang hanya karena menatap Evan dari kejauhan. Seulas senyum manis kemudian terbit di wajah cantiknya. Carissa akhirnya mengerti apa yang sedang di rasakannya saat ini.
Setelah menghela nafasnya, Carissa akhirnya kembali melanjutkan langkahnya untuk menemui Evan dengan hati yang lebih mantap.
'Suamiku, sepertinya aku telah jatuh cinta padamu.'
Bersambung...
Cie...yg jatuh cinta sama suami sendiri. Iyalah, masa jatuh cinta sm suami orang😆
Mereka sweet bgt sampe ga tega mau kasih konflik. Tapi kalo ga ada konflik, anyep yak, ga seru.
Btw, konfliknya tetep konflik hati, bukan pelakor, because emak really hate pelakor😂😂😂 Emak berusaha buat cerita yang tetep seru meski tanpa pelakor, doain semoga berhasil😁
__ADS_1
Happy reading❤❤❤