
Carissa membeku selama beberapa saat dengan raut wajah yang sangat tidak bagus. Segera dia mengambil ponsel dari tas tangannya, dan ternyata benda itu sedang kehabisan daya. Pantas saja dia tidak tahu kalau Evan berusaha untuk menghubunginya. Tampaknya karena Lily yang rewel sejak tadi siang membuat dia lalai dan tidak teringat untuk mengisi daya ponselnya.
Tanpa mengatakan apapun, Carissa beranjak untuk melihat langsung keadaan putrinya itu, tapi dengan cepat Evan menahan lengannya.
"Mandi dan ganti pakaianmu dulu." Ujar Evan dengan nada tegas. Tak ada kalimat lembut yang selama ini biasa Carissa dengar. Carissa langsung menciut, rasa bersalah dan juga rasa takut berbaur menjadi satu di dalam hatinya. Tanpa membantah dia langsung menuruti kata-kata suaminya itu.
Carissa segera mandi dan berganti pakaian. Setelah itu baru dia pergi ke kamar Lily. Dilihatnya putrinya itu sedang terlelap, tapi kemudian Lily terbangun dan merengek.
Carissa langsung menggendong Lily dan menyusui putri mungilnya itu. Lily tampak menghisap susu dengan sangat lahap, terlihat seperti bayi yang sedang kelaparan.
"Sejak pulang sore tadi dia demam dan tidak mau menyusu dengan menggunakan botol susu. Dia bahkan minum obat dengan perut kosong." Suara Evan membuyarkan lamunan Carissa.
"Sesha bilang, sejak tadi siang dia sudah rewel dan hanya mau menyusu langsung denganmu saja, kenapa kamu malah pulang dini hari seperti ini? Ponselmu tidak bisa dihubungi, dan manajermu juga tidak mengangkat telpon, apa kalian sebegitu tidak ingin diganggu, Carissa? Apa sekarang Lily tidak jadi prioritasmu lagi?" Evan terlihat sangat marah.
Carissa tidak bisa mengatakan apapun dan hanya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya acara tadi sungguh diluar prediksi. Bahkan Geraldyn saja tidak menyangka jika acaranya akan menjadi seformal dan sepenting itu, hingga Carissa benar-benar terjebak tanpa bisa kabur.
Ya, terkadang memang ada beberapa hal yang berada diluar kendali meski telah berusaha diatur dengan baik.
"Ponselku mati karena kehabisan daya, dan milik Geraldyn mungkin dalam mode silence selama acara, jadi dia tidak sadar kalau kamu menelpon. Maaf..." Hanya itu yang bisa Carissa katakan. Suhu tubuh Lily yang terasa panas di kulit Carissa sudah jadi tanda jika kali ini dia memang sudah lalai.
"Jika tahu kamu akan mengabaikan Lily seperti ini karena bermain piano, aku sungguh nenyesal telah mengizinkanmu kembali menjadi pianis lagi." Ujar Evan lagi dengan suara dalam dan bergetar. Lelaki itu terdengar sangat kecewa.
Carissa hanya menundukkan wajahnya dengan perasaan sedih. Hatinya seperti tertimpa sebuah batu besar saat mendengar kata-kata Evan tadi. Rasa bersalah itu mendadak jadi semakin membesar berkali-kali lipat, hingga membuat Carissa tak tahu harus mengatakan apa. Tapi yang jelas, dia sedih karena telah mengecewakan Evan, meski tanpa ia sengaja.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu. Aku tidak bermaksud lebih mementingkan bermain piano daripada putriku sendiri. Hanya saja, aku terkadang tidak bisa menolak karena sudah terikat kontrak..."
Evan tampak menghela nafasnya dengan kasar. Terlihat jelas jika dia sedang sangat marah sampai rasanya ingin meledak saat ini juga, tapi lelaki itu berusaha untuk menahan diri.
"Jika sampai subuh nanti panas Lily tidak turun juga, kita harus membawanya kerumah sakit." Ujar Evan kemudian. Sebisa mungkin dia menahan agar kata-kata kasar tak keluar dari mulutnya. Tak ada gunanya dia menyalahkan kontrak yang ditanda tangani Carissa, karena hal itu terjadi sedikit banyak karena dirinya juga.
__ADS_1
Carissa mengangguk dengan wajah agak tertunduk. Dia bahkan tidak punya keberanian untuk melihat kearah Evan.
Karena suhu tubuh Lily masih terus naik-turun, Evan dan Carissa akhirnya membawa Lily ke rumah sakit tempat Evan bekerja tepat saat matahari terbit. Dan di sana Lily langsung dianjurkan untuk menjalani rawat inap agar bisa menjalani serangkaian tes untuk mengetahui penyebab demamnya.
Dengan ditemani Sesha, Carissa menjaga Lily di ruang perawatan, sementara Evan tetap harus menjalankan tugasnya sebagai dokter seperti biasa. Tapi tentu sesekali dia akan melihat keadaan Lily.
Sebelumnya Carissa sudah memberitahu Geraldyn jika putrinya masuk rumah sakit dan meminta manajernya itu untuk mengosongkan semua jadwalnya hari ini. Carissa ingin mengurus putrinya yang sedang sakit dengan kedua tangannya sendiri.
"Nyonya, cobalah untuk tidur dulu sebentar. Sejak pulang semalan Nyonya belum tidur sama sekali. Biar saya yang menjaga Nona Lily." Sesha berusaha membujuk Carissa untuk beristirahat.
Carissa menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku baik-baik saja, Sesha. Tidak apa-apa." Tolak Carissa sambil terus memandangi Lily yang sedang terlelap. Melihat tangan mungil putrinya itu terpasang jarum infus, hati Carissa benar-benar sedih dibuatnya.
"Kalau begitu saya carikan Nyonya makanan, ya? Nyonya mau makan apa?" Tanya Sesha kemudian.
"Kamu cari makanan saja untuk kamu sendiri, aku tidak lapar." Jawab Carissa lagi.
Carissa menghela nafasnya. Yang dikatakan Sesha benar. Dia sedang menyusui, jadi tidak boleh sampai tidak makan meski tidak terasa lapar sekalipun.
"Baiklah, tolong belikan makanan seperti yang mau kamu beli." Carissa mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya dan memberikannya pada Sesha. Pengasuh Lily itupun pergi untuk membelikan Carissa makanan.
Sepeninggalan Sesha, Lily kembali merengek. Dengan sigap Carissa langsung menggendong putrinya itu. Dia memperlakukan Lily sangat hati-hati karena salah satu tangan Lily terpasang jarum infus.
Setelah itu, Carissa kembali menyusui Lily yang tampaknya telah merasa lapar lagi. Dia memberikan asi pada putrinya itu sembari menatap wajah Lily dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan, hingga tak menyadari jika Evan datang dan sedang melihat kearahnya.
Evan mematung melihat Carissa yang menyusui Lily sambil memandang kearah bayi mungil itu dengan raut wajah sedih. Sesekali satu tangan Carissa tampak membelai pucuk kepala Lily. Lily pun merasa tenang dan kembali memejamkan matanya. Tak lama kemudian, Lily sudah kembali tertidur hingga Carissa kembali menidurkannya.
Hati Evan tiba-tiba terasa seperti ditikam belati. Terbayang diingatannya bagaimana dia marah pada Carissa disaat Carissa baru saja pulang semalam. Baru terpikirkan olehnya jika istrinya itu pasti sangat lelah. Bukannya bisa beristirahat saat tiba dirumah, tapi malah mendapatkan kemarahan dari suaminya, lalu langsung mengurus putri mereka itu tanpa beristirahat sama sekali. Dan tampaknya sampai sekarang pun Carissa masih belum juga beristirahat.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" Tanya Evan kemudian.
Carissa menoleh dan terlihat agak terkejut karena tidak menyadari kedatangan Evan.
"Sesha sedang keluar untuk membelikanku makanan." Jawab Carissa.
"Bagaimana keadaan Lily?" Tanya Evan lagi.
"Dia sudah tidak terlalu rewel. Panasnya juga sudah mulai turun." Carissa kembali menjawab sambil sedikit menundukkan wajahnya. Tampaknya dia masih belum sanggup untuk menatap wajah Evan.
Evan mendekat dan duduk di samping Carissa. Kini bisa dia lihat dengan jelas wajah lelah istrinya itu.
"Evan..." Carissa memanggil Evan setelah terdiam agak lama.
"Sepertinya aku akan membutuhkan uang dalam jumlah yang banyak." Tambah Carissa lagi masih dengan wajah yang agak tertunduk.
Evan menautkan kedua alisnya.
"Untuk apa?" Tanya Evan.
Carissa terdiam sejenak.
"Untuk membayar denda dan biaya kompensasi." Ujar Carissa lagi.
Evan terlihat agak bingung.
"Aku...akan membatalkan konserku dan membatalkan kontrak dengan manajemenku juga."
Bersambung...
__ADS_1
Bisa dibilang ini adalah rintangan terakhir untuk Carissa dan Evan sebelum ending. Dan emak sendiri pernah berada di posisi Carissa waktu awal2 bantuin suami cari receh.
Happy reading❤❤❤