WITH YOU

WITH YOU
Harus Tetap di Sisinya


__ADS_3

Adelia rindu rumahnya yang begitu luas. Rumah yang di mana dia puas melakukan apa saja. Dia juga memasak hanya sesekali. Tapi, di rumah Devan dia seolah memenuhi semua kebutuhan pria itu. kali ini dia merasa bebas. Ketika berenang pun, untuk jus atau makanan lainnya dia dipenuhi oleh asisten rumah tangga yang menyediakan di sana.


Ia sedang berada di kolam renang sekarang. Dia sangat rindu berenang. Di rumah Devan yang terbilang memang tidak seluas rumahnya. Adelia sendiri kadang ingin pulang tapi harus menunggu restu dari suaminya dulu. Akan tetapi saat dia mengetahui konflik tentang suami dan juga papanya, dia berpikir tidak pulang selama beberapa waktu.


“Adel, ayo dong udah renangnya! Dari tadi renang melulu,” protes mamanya. Tadi mamanya sempat mengajak ke dokter untuk cek kandungan. Dia merasa begitu disayangi oleh mamanya ketika diajak ke dokter. Itu juga karena perintah papanya. Adelia memang bersyukur punya orang tua yang begitu baik. Apalagi orang tuanya mendukung dalam hal apa pun.


“Bentar, Ma. Bentar lagi ya!” pinta Adelia sambil menyeringai. Akan tetapi mamanya justru menunggunya di sana sambil berdiri dibawah pohon yang cukup teduh.


“Mama nggak suka bicara dua kali ya! Mama bilangin sama Papa loh,”


Adelia langsung mengangkat dua jarinya hingga berbentuk V. adelia pun langsung naik dan jubah mandinya. “Aku ganti dulu, Ma,” kata Adelia yang di mana dia berhati-hati dengan lantai yang licin. Takut jika terjatuh dan anaknya kenapa-kenapa,”


Sedangkan Fania menunggu anaknya keluar lagi dari kamar mandi di mana Adelia renang tadi. Melihat cara Adelia yang berjalan mengingatkan dirinya yang hamil ketika mengandung Adelia dulu ketika Raka begitu marah setiap dirinya melakukan hal yang konyol. Raka juga kadang tak segan-segan menggendongnya untuk ke kamar ketika dia masih asyik di ruang tamu untuk menonton televisi.


Mengingat masanya dengan sang suami membuat Fania tersenyum dengan sendirinya. Tapi, kadang dia juga kasihan dan menemukan kesepian yang sangat sulit dikatakan oleh suaminya. Ia kadang melihat raut kesepian di wajah suaminya sekalipun kadang suaminya tak mengatakan apa-apa.


Fania tahu jika suaminya punya masa lalu buruk juga mengenai anak. Yaitu ketika kehilangan anaknya dulu dari perempuan lain ketika masih muda. Hal itu diketahui dari Reza sendiri yang di mana Raka punya penyesalan yang teramat mendalam sehingga menjadikan Raka menjadi brengsek dan gonta ganti perempuan.


Ketika itu juga Fania memberikan syarat kepada Raka agar ketika menikah nanti Raka meninggalkan kebiasaan gonta ganti perempuan dalam hal memuaskan nafsunya. Itu benar-benar ditinggalkan oleh Raka. Sekalipun Fania tidak tahu secara detil bagaimana kisah yang sebenarnya. Yang diceritakan oleh Reza hanyalah mengenai Raka yang kurang ajar dulu. Tapi semau orang punya masa lalu yang kelam. Masa lalu yang dulu juga kadang membuat orang menjadi lebih baik lagi di masa depan. Terlihat dari perubahan sikap Raka juga yang peduli terhadap anak dan juga istrinya.


“Ma, Papa bilang nanti makam malam di luar,”


Fania menoleh ketika anaknya datang sambil mengeringkan rambutnya. “Papa bilang begitu kapan?”


“Tadi, dia sempat ke kamar aku terus ngasih tahu aku kalau katanya dia pengin makan malam di luar. Dia juga ngasih tahu aku kalau sialan itu datang ke rumah ya?”


“Sialan?” Fania mengangkat alisnya karena tidak mengerti dengan sialan yang di maksud oleh anaknya.

__ADS_1


Adelia mendekat kemudian ke meja tempat menaruh jus dan juga beberapa buah lalu dia duduk, disusul oleh mamanya. Yang duduk di kursi yang ada disebelahnya. “Si Farrel, Ma. Dia datang kata Papa untuk minta maaf,”


“Kamu nggak usah pedulikan itu, Adelia!”


“Nggak peduli juga, Ma. Cuman ya kenapa datangnya baru beberapa hari yang lalu coba? Dia kan udah buat kesalahan lama banget. Lagian ya cowok sialan kayak dia memang nggak usah dimaafin,”


“Kamu lagi hamil, Adelia. Jaga ucapan kamu dong! Mama nggak suka ya kamu ngomong anen-aneh,”


Adelia mengerucutkan bibirnya ketika mamanya berkata demikian. Kemudian, Adelia memasukkan buah apel yang sudah dipotong-potong ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya dengan perlahan. “Adel, nggak ngidam macam-macam kan kamu?”


“Nggak ada, Ma. Cuman ya makanan yang dulunya sering dilarang sama Papa, missal nggak usah makan gorengan apalah. Papa kan nggak suka banget, tuh,”


“Kamu beli sendiri?”


“Nggak, Ma. Devan yang beliin, dia mana bolehin aku sih pergi. Keluar dari kamar aja masih ditanyain mau ke mana,”


Fania tersenyum ketika anaknya menceritakan Devan dengan baik. Itu artinya anaknya masih bisa diedukasi lagi mengenai pernikahan. Fania memang tidak suka ketika mendengar kabar bahwa anaknya ingin bercerai dari Devan tadi pagi. dia sempat terkejut dengan keputusan bodoh itu. bercerai adalah bukan pilihan terbaik ketika merasa tidak cocok lagi. Masih ada cara untuk memperbaiki hubunganitu. Maka dari itu, dia ingin mendengarkan cerita-cerita ringan anaknya mengenai Devan.


Adelia masih sibuk mengunyah. “Jangankan ngrepotin, Ma. Dia malah yang mau ngelakuin banyak hal. Kalau aku nyuci, dia pasti bilang udah nanti kita laundry, nggak usah nyuci. Dia juga nggak suka aku angkat-angkat barang berat. Dia selalu ngomel, tapi ngomelnya melebihi, Mama,” kata Adelia dengan ketus.


Bukannya marah, justru dia tersenyum. “Nggak kangen sama suami kamu?”


Adelia berhenti mengunyah dan minum jusnya sejenak. “Kangen sih iya, Ma. Tapi—“


“Tapi apa, hmm? Bertengkar sama suami itu adalah hal yang wajar, Adelia. Mama udah dengar dari Papa mengenai kamu sama Devan. nggak seharusnya kamu jadi anak yang keras kepala, Adelia. Hubungan suami istri dan pacar itu sangat beda jauh. Apalagi sebentar lagi kamu mau punya anak, dan lihat sekarang anak kamu jadi Patokan kamu. Adelia, banyak hal yang dilalui dalam pernikahan itu. mulai dari kamu bertengkar hal kecil, masalah besar. Tapi tergantung bagaimana kamu menyikapi semuanya. Nggak bisa kamu tuh langsung buat orang sedih gitu aja. Kamu nggak bisa bersikap mau menang sendiri pada suami kamu sendiri, kasihan. Kamu juga sebagai istri harus dengerin penjelasan suami,”


“Ma, tapi kenyataannya berbeda,”

__ADS_1


“Kenyataannya memang berbeda. Bahkan Mama sendiri nggak tahu sumber masalah kamu sama dia. Akan tetapi cobalah bicarakan terlebih dahulu, hanya karena kamu bertengkar. Nggak bisa dong kamu minta cerai. Kalau putus nyambung dalam hal pacaarn itu hal yang biasa. Tapi, kalau udah nikah nggak bisa gitu aja. Jadi harus dipikir beberapa kali sebelum mengatakan hal itu. lagian Mama yakin anak Mama ini udah gede. Jadi nggak egois lagi ‘kan? Adelia nggak boleh manja seperti di rumah sendiri. Harus berkorban banyak ketika menikah. Mama dulu sama Papa juga sering berantem kok. Tapi nggak pernah sampai seperti ini, Papa paling sama Mama berantem ya bakalan diam-diaman. Ujung-ujugnnya Papa yang minta maaf. Sekalipun itu adalah kesalahan, Mama. Bukan karena Mama egois. Tapi karena waktu itu Papa sadar kalau Mama marah karena cemburu sama Papa. Jadi, papa itu sadar atas apa yang terjadi,”


“Devan itu nyebelin, Ma. Dia selalu main rahasia sama aku,”


“Tentang rahasia. Kalau memang itu bakalan buat kamu sakit hati, ya nggak apa-apa disembunyikan,”


“Mama, dulu sama Papa gini juga?”


“Setiap pasangan itu pasti punya rahasia tersendiri sayang. Jadi nggak semua yang terlihat itu selalu nyata. Jadi, kamu kalau mikirnya semua itu mulus, nggak juga sayang. Mama sama Papa sering banget berantem malah. Papa itu sering ngalah sama Mama kalau Mama marah. Mama juga bisa baca keadaan. Misal kalau Papa ada masalah, ya Mama ngalah juga. Nggak selamanya Papa bisa ngalah sama Mama,”


Adelia terdiam dengan mengingat kesalahannya yang mengatakan dirinya akan pisah dari Devan. “Ma, apa Devan bakalan pergi?”


Sejenak dia teringat betapa keras kepalanya dia ketika Devan mengajaknya untuk bicara baik-baik. Waktu itu dia yang dikuasai emosi yang begitu membuncah. Adelia tidak bisa mengendalikan diri.


“Kalau kamu hubungi dia, kamu gengsi nggak?” tanya mamanya.


Adelia menggeleng, “Malu, Ma,”


“Hmmm, kamu malu? Adelia sayang, nggak boleh gitu. Dia itu suami kamu, bicarakan baik-baik! Mama yakin kok kalau dia bisa memaklumi kamu. Mungkin juga tahu kalau kamu lagi hamil emosi kamu itu meningkat. Jadi nggak usah mikir yang nggak-nggak. Hubungi suami kamu nanti ya!”


“Mungkin Devan masih ada di luar negeri, Ma,”


“makanya kamu hubungi. Suruh pulang! Kamu tuh ya,” padahal Fania tahu jika Devan sudah pulang dari sana. dia hanya ingin melihat bagaimana reaksi anaknya ketika dia meminta untuk menghubungi Devan. apakah permintaan itu akan dituruti oleh anaknya atau tidak.


“Aku usahain nanti hubungi dia, Ma,”


 

__ADS_1


 


Senyuman tercipta di bibir Fania ketika anaknya mau menurut. Lagipula dia tahu jika Adelia masih sangat labil dan butuh pendamping untuk menyelesaikan masalahnya. Anak yang masih di dalam kandungan itu tidak boleh lahir tanpa didampingi Devan nanti. Sekalipun dia kecewa karena kehamilan Adelia. Tetap saja dia ingin jika anaknya bahagia bersama dengan suaminya. Apalagi calon cucunya itu harus tetap berada di sisi Devan dan juga Adelia.


__ADS_2