WITH YOU

WITH YOU
Berbagi Rahasia


__ADS_3

Evan membelai pucuk kepala Carissa sembari sesekali mengecupnya dengan lembut. Mereka berdua baru saja selesai melakukan kegiatan panas untuk ketiga kalinya sejak sore tadi.


Setelah sebelumnya kembali melakukan hal itu di ruang makan, keduanya pun mengulanginya sekali lagi di kamar mereka begitu selesai menghabiskan makan malam.


Carissa tampak memejamkan matanya dalam dekapan Evan. Ia tidak tidur, melainkan sedang menikmati momen yang tak terlupakan ini. Kedua tangan Carissa melingkar di pinggang Evan dengan posesif, seakan tak rela melepaskan suaminya itu barang sedetik pun.


Keduanya saling memeluk dengan tubuh yang masih sama-sama polos di balik selimut.


Beberapa saat kemudian, Carissa kembali membuka matanya.


"Sedang memikirkan apa?" Tanya Carissa sembari menengadahkan wajahnya kearah Evan.


Lamunan Evan buyar, lalu melihat kearah Carissa dengan tersenyum.


"Tidak ada." Jawab Evan singkat.


"Apa kamu menyesal karena sudah menodaiku?" Tanya Carissa lagi.


Kali ini Evan sedikit tertawa mendengar pertanyaan Carissa.


"Mana ada suami menodai istrinya sendiri. Lagi pula kenapa juga aku harus menyesal. Aku hanya terlalu senang dan masih tidak menyangka jika sekarang kita benar-benar sudah saling memiliki."


Carissa tertegun. Entah kenapa mendengar kata saling memiliki yang di ucapkan Evan tadi membuat hatinya semakin berbunga. Dengan sedikit mengulum senyum, Carissa mengeratkan pelukannya pada Evan.


"Evan, kamu tidak menyesal, kan, menikah denganku?" Tanya Carissa.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Evan bertanya balik.


"Jawab saja. Kamu tidak menyesal menjadi suamiku?"


Evan mengurai pelukannya dan menatap Carissa lembut.


"Apa aku terlihat seperti orang yang sedang menyesali sesuatu?" Tanya Evan lagi.


Carissa terdiam sesaat, lalu menggeleng.


Dengan kembali tersenyum Evan merengkuh Carissa ke dalam pelukannya sekali lagi. Kemudian di belainya lagi pucuk kepala Carissa seperti sebelumnya.


"Aku sama sekali tidak menyesal, Carissa. Aku justru bersyukur Tuhan mengirimkanmu untuk menjadi teman hidupku. Karena kehadiranmu, akhirnya aku bisa merasakan juga sesuatu yang orang sebut dengan kebahagiaan." Ujar Evan tulus.

__ADS_1


Carissa kembali mendongakkan wajahnya dan melihat lagi kearah Evan.


"Sudah malam. Tidurlah." Evan merebahkan kepala Carissa di atas bantal dan menarik selimut hingga ke atas dada Carissa.


"Aku belum mengantuk." Protes Carissa.


"Lalu? Apa kamu mau aku mengulangi sekali lagi apa yang kita lakukan tadi?" Tanya Evan dengan nada menggoda.


"Tidak, Evan. Cukup." Carissa mengeratkan pegangannya pada selimut yang menutupi area dadanya.


Evan kembali terkekeh.


"Makanya tidur." Ujar Evan.


"Tapi aku masih belum mau tidur. Bagaimana kalau kita ngobrol saja."


"Ngobrol tentang apa?"


"Tentang diri kita masing-masing. Bukankah kita belum terlalu banyak tahu tentang diri kita satu sama lain ?"


Evan terdiam sejenak.


"Mungkin kamu punya sebuah rahasia yang selama ini kamu simpan sendiri? Sekarang kita bisa berbagi segala hal, termasuk rahasia yang tidak bisa di ceritakan pada orang lain." Ujar Carissa lagi.


"Sebenarnya ini tidak bisa di sebut dengan rahasia, karena sebagian orang juga sudah tahu. Tapi sepertinya aku belum pernah menceritakannya padamu." Ujar Evan akhirnya.


Carissa terlihat menunggu.


"Aku adalah anak adopsi Mama dan Papa. Kedua orang tua kandungku meninggal saat umurku sembilan tahun. Lalu aku tinggal di panti asuhan hingga aku di adopsi oleh Mama dan Papa."


Carissa terdiam dan tampak mencerna kata-kata Evan barusan. Pantas saja Sonya dan Zacky tidak ada kemiripan fisik sama sekali dengan Evan. Ternyata karena mereka berdua memang tidak punya ikatan darah dengan suami Carissa itu.


"Tapi Mama dan Papa terlihat sangat menyayangimu seperti putra kandung mereka sendiri." Gumam Carissa.


Evan mengangguk.


"Iya. Mama dan Papa memang memperlakukanku layaknya aku benar-benar darah daging mereka sendiri. Aku sangat beruntung bertemu dengan mereka. Karena mereka, aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Tapi sebelum Mama dan Papa, ada dua orang lagi yang punya jasa besar dalam hidupku."


Evan tampak menghela nafas sejenak.

__ADS_1


"Orang yang pertama adalah Zaya, sosok yang menghiburku saat aku sedang sangat putus asa karena kehilangan kedua orang tuaku. Aku sempat beberapa kali berpikir untuk mengakhiri hidupku agar bisa menyusul kedua orang tuaku, tapi begitu aku bertemu dengan Zaya, perlahan aku bisa melupakan kesedihanku. Aku akhirnya bisa menjalani kehidupan dengan normal seperti anak-anak lain."


Evan kembali berhenti.


"Dia memberikan kekuatan yang sangat besar untuk seorang anak sembilan tahun yang sedang putus asa. Jika tidak ada dia, mungkin aku tidak akan bertahan hingga bertemu dengan Mama dan Papa."


Carissa terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Jika memang seperti itu adanya, wajar saja jika Evan sangat mencintai Zaya dan tak bisa berpaling pada wanita lain. Dan Carissa pun rasanya tak bisa menandingi peran Zaya dalam kehidupan Evan.


"Itulah sebabnya, aku harap kamu jangan marah jika Zaya tetap menjadi orang penting yang tidak bisa aku lupakan. Meski rasa cintaku padanya perlahan pudar sejak kehadiranmu. Tapi rasa terima kasihku padanya akan selalu sama. Dia akan tetap menjadi gadis pelipur lara yang punya jasa besar dalam hidupku. Jika tidak ada dia, mungkin saat ini aku tidak akan berada di sini sebagai suamimu."


Evan menatap Carissa sembari membelai pipinya lembut.


Carissa masih terdiam dan mencerna apa yang di katakan Evan tadi. Tapi sejurus kemudian senyumnya mengembang. Tangannya juga terulur menyentuh wajah Evan.


"Tentu saja aku mengerti. Kamu tidak usah khawatir, aku tidak mungkin merasa cemburu pada Zaya." Ujar Carissa.


"Tapi, ngomong-ngomong, orang kedua yang punya jasa besar padamu siapa?" Tanya Carissa lagi penasaran.


Evan tak langsung menjawab. Dia tampak mengatur kata yang tepat untuk di ucapkan.


"Waktu itu aku memanggilnya Paman. Paman yang datang saat aku kebingungan karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit kedua orang tuaku. Paman baik hati itu membantuku mengurus biaya rumah sakit dan memakamkan kedua orang tuaku dengan layak. Paman itu juga yang membawaku ke panti asuhan hingga aku bertemu dengan Zaya dan di adopsi oleh Mama dan Papa."


Evan kembali mengambil jeda sesaat.


"Saat beliau akan pergi, aku sempat menanyakan siapa nama penyelamatku itu. Dan dia bilang nama keluarganya adalah Nugraha."


'Nugraha?'


Carissa membeliakkan matanya.


"Benar, Carissa. Orang yang selanjutnya sangat berjasa dalam hidupku adalah seorang Paman dengan nama belakang Nugraha. Dan ternyata dia adalah Arga Nugraha, Papamu. Sejak pertama memeriksa beliau, aku sudah menyadarinya. Tapi aku tidak punya kesempatan untuk menanyakannya secara langsung. Dan lagi tampaknya Papamu juga sudah melupakan anak kecil yang di bantunya waktu itu."


Carissa terperangah tanpa bisa berkata apa-apa. Entah semua ini hanya sebuah kebetulan atau memang sebuah takdir, yang pasti ia begitu surprise mendengarnya.


Carissa sungguh tidak tahu harus menanggapi dengan respon yang bagaimana. Skenario ini terlalu indah untuk di sebut sebagai musibah.


Bersambung...


sori dori stroberi, hari ini pun emak telat lagi...😁 Semoga tetep setia buat nungguin kelanjutan ceritanya.

__ADS_1


Btw, yg kecewa mp Carissa sm Evan karena ga se-hot Aaron sm Zaya, maaf yak semuanya. Kan ceritanya novel yg ini emak daftarin ikutan kontes You Are A Writer, jadi ga boleh terlalu detil ehem2nya kalo ga mau di diskualifikasi. Jadi harap maklum yak.. plus minta doanya juga ( banyak maunya😁)


Happy reading❤❤❤


__ADS_2