
Carissa mematung memandangi mobil yang ditumpangi Zaya dan anak-anaknya hingga menghilang di balik gerbang rumah orang tua Evan. Setelah itu, baru ia kembali ke tempat pesta diadakan. Evan juga mengikutinya dari belakang.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu pada Albern tadi? Kamu tidak lihat wajahnya sudah sangat cemas begitu?" Tanya Carissa.
Evan tak menjawab pertanyaan Carissa. Jika dipikir-pikir, sikapnya tadi memang sudah sangat keterlaluan. Bagaimana pun, Albern adalah putra dari seseorang yang pernah sangat berarti untuknya. Belum lagi hubungan keluarga Carissa yang juga cukup dekat dengan keluarga Aaron, ayah bocah itu. Bisa dibilang mereka masih dalam hubungan kekerabatan. Jadi, jika tadi Albern mencium pipi Lily, hal itu masih dalam batas wajar, tidak termasuk dalam kategori lancang. Tapi entah kenapa Evan seakan tak bisa menerimanya? Apalagi jika dia teringat binar mata Albern dan senyuman bocah itu setelah ia mencium Lily. Evan seakan merasa jika Albern seperti sebuah ancaman yang berbahaya untuk putrinya itu.
"Zaya pasti merasa buruk melihat putranya sampai meminta maaf dengan wajah cemas seperti itu." Gumam Carissa lagi.
Evan masih tak menjawab. Dia hanya menghela nafasnya sambil berlalu dari hadapan Carissa tanpa mengatakan apapun.
Carissa menautkan kedua alisnya dan melihat Evan dengan agak terpana. Lelaki itu tidak seperti Evan yang dikenalnya selama ini. Entah kemana perginya Evan yang lembut dan hangat, yang dilihat Carissa sekarang Evan tampak dingin dan tak bersahabat. Mungkinkah ada hal yang tak diketahui Carissa terkait Albern tadi?
Meski sangat ingin menanyakannya apa yang sebenarnya terjadi, Carissa harus menahan diri dan kembali berbaur dengan para tamu. Mungkin saat pesta selesai nanti Carissa harus bertanya dengan benar pada Evan tentang sikapnya tadi.
"Bukankah yang tadi itu istrinya Aaron?" Pertanyaan Clara membuyarkan lamunan Carissa.
"Ya?" Carissa tak terlalu mendengar apa yang Clara tanyakan.
"Yang datang menyapa Mama tadi bukankah istri Aaron? Dia baru datang sebentar, kenapa sudah langsung pergi?" Tanya Clara lagi.
"Oh, itu...tadi anaknya tiba-tiba merasa tidak enak badan, jadi meminta untuk kembali ke hotel. Tampaknya dia agak kelelahan." Carissa menjawab sesuai alasan yang dilontarkan Albern.
Clara mengangguk menanggapi.
Carissa terus memikirkan tentang sikap Evan hingga pesta berakhir. Semua orang telah pulang meninggalkan kediaman orang tua Evan. Mama Carissa serta kakak dan kakak iparnya juga pamit untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap. Tinggal beberapa pelayan yang tampak sibuk membereskan sisa-sisa pesta.
Kediaman orang tua Evan kembali lengang. Carissa telah selesai memandikan Lily dan menidurkannya. Giliran dia yang menyegarkan dirinya juga di kamar mandi. Setelah selesai, ia pun langsung mengenakan pakaian rumahannya.
Carissa meraih ponselnya dan memeriksa pesan yang masuk. Ada pesan dari Geraldyn yang mengatakan jika dia akan terlambat sampai ke Singapura karena pesawat yang akan ditumpanginya mengalami delay selama hampir empat jam.
Carissa sedikit menghela nafasnya. Pantas saja manajernya itu tidak muncul di pesta tadi. Padahal sebelumnya Geraldyn sudah berjanji untuk datang ke pesta perayaan Lily.
"Sedang melihat apa?" Tiba-tiba terdengar suara Evan bertanya. Suami Carissa itu terlihat baru selesai mandi dan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang.
"Ah, ini, aku membaca pesan dari Geraldyn. Dia memberitahu jika penerbangannya tertunda, dan dia jadi tidak bisa datang ke pesta Lily." Jawab Carissa.
__ADS_1
"Oh..." Evan menanggapi sambil mengambil baju rumahannya dari dalam lemari.
Carissa memperhatikan suaminya itu hingga Evan selesai mengenakan pakaiannya.
"Sayang..." Panggil Carissa kemudian.
Evan menoleh dan mendekat kearah Carissa.
"Kenapa?" Tanya Evan sambil duduk di samping Carissa.
"Aku ingin menanyakan sesuatu, tapi kamu harus menjawabnya dengan terus terang." Ujar Carissa lagi.
Evan melihat kearah Carissa dengan tersenyum tipis. Tampaknya dia sudah tahu apa yang akan ditanyakan istrinya itu. Dan agaknya dia tidak akan membuat Carissa puas dengan hanya diam saja seperti sebelumnya.
"Kamu ingin bertanya apa?" Evan mengulurkan tangannya membelai wajah Carissa.
Carissa terdiam sejenak sambil sedikit menghela nafasnya.
"Albern, apa tadi kamu melihat dia melakukan sesuatu yang kurang pantas terhadap Lily?" Tanya Carissa.
Evan tak langsung menjawab.
Carissa tampak menautkan kedua alisnya.
"Kalau begitu, kenapa kamu terlihat sangat marah pada Albern? Bukankah sikapmu tadi terlalu berlebihan terhadap anak itu?"
Berganti Evan yang menghela nafasnya.
"Benar, aku memang sudah bersikap sangat berlebihan. Tapi jika teringat bagaimana ekspresinya tadi setelah mencium Lily..." Evan tak meneruskan kata-katanya.
Carissa terlihat semakin tidak mengerti.
"Apa maksudmu? Memangnya dia melihat Lily bagaimana?" Tanya Carissa.
Sekali lagi Evan menghela nafasnya. Bagaimana menjelaskannya pada Carissa jika ekspresi wajah Albern saat melihat Lily tadi mengingatkannya bagaimana dia melihat Zaya ketika mereka kecil dulu.
__ADS_1
"Albern terlihat menyukai Lily..." Gumam Evan kemudian.
"Tentu saja Albern menyukai Lily, mereka bisa bilang seperti saudara sepupu." Carissa menanggapi.
"Tidak, bukan menyukai yang seperti itu." Sanggah Evan cepat.
Carissa kembali dibuat bingung.
"Bukan menyukai seperti itu, lalu menyukai yang seperti apa? Jangan bilang menyukai antara laki-laki dan perempuan?"
Evan tak menjawab dan hanya menghela nafasnya saja.
"Astaga, Sayang. Kamu sungguh berpikir seperti itu?" Tanya Carissa sambil melebarkan matanya. Sejurus kemudian dia tertawa dengan terbahak-bahak.
Lagi-lagi Evan tak menjawab Carissa. Memang konyol apa yang ada di pikirannya saat ini. Tapi itulah kenyataannya.
"Albern itu umurnya baru sembilan tahun, dan Lily baru berumur sebulan lebih. Bagaimana kamu bisa berpikir Albern punya perasaan romantis terhadap Lily?" Carissa masih tertawa dengan renyahnya.
Ah, andai Carissa tahu jika dulu Evan juga baru berumur sembilan tahun saat menetapkan hatinya pada Zaya.
"Aku pikir kata-kata posesif kita tempo hari hanya celotehan saja. Aku tidak menyangka jika kamu benar-benar menjadi Papa yang posesif." Ujar Carissa lagi.
"Ya, mungkin aku yang berpikir terlalu jauh. Putri kita masih bayi, harusnya aku belum mengkhawatirkan hal-hal seperti itu." Jawab Evan akhirnya.
"Tapi, biarpun benar seperti itu. Bukankah tidak masalah jika Albern kelak menyukai Lily?" Carissa tampak tergelitik untuk sedikit menggoda Evan.
Evan menoleh dengan wajah yang terlihat tidak senang, ekspresi yang sama saat dia melihat kearah Albern tadi.
"Astaga, aku hanya bercanda. Kenapa kamu memasang muka seram seperti itu? Lagipula tidak ada yang salah dengan Albern. Dia tampan, cerdas dan pewaris masa depan dari Brylee Group. Bukankah dia calon menantu yang sempurna?" Tanya Carissa berseloroh.
"Apa yang kamu bicarakan?" Gumam Evan sambil membuang wajahnya kearah lain.
Carissa tidak akan mengerti, justru karena kesempurnaannya itulah yang membuat Albern tak masuk dalam kategori calon menantu ideal bagi Evan. Karena Evan tak ingin Lily kelak menderita dengan segala kesempurnaan yang Albern miliki.
Bersambung...
__ADS_1
Tetap like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤