WITH YOU

WITH YOU
Memulai Perjuangan


__ADS_3

Cukup lama Evan dan Carissa saling berpelukan, sebelum akhirnya mereka sama-sama saling melepaskan diri. Tapi sejurus kemudian, Carissa kembali memeluk suaminya itu dengan mengulum senyum. Di telusupkannya kepalanya ke dada Evan, hingga membuat Evan kembali tersenyum.


"Apa kamu tidak lapar? Aku sudah buatkan roti panggang dan susu hangat. Kalau tidak di makan sekarang, nanti keburu dingin." Evan mengingatkan Carissa dengan nada bicara penuh perhatian.


Saking tidak ingin beranjak dari pelukan Evan, ingin rasanya Carissa menolak saja menu sarapan yang di siapkan suaminya itu. Tapi jika sampai hal itu terjadi, sudah pasti usaha Evan menyiapkan sarapan untuknya pagi ini akan sia-sia saja. Tentu saja Carissa tidak ingin Evan sampai merasa kecewa.


"Apa kamu juga sudah sarapan?" Tanya Carissa sembari mengurai pelukannya.


"Belum." Jawab Evan jujur.


"Kalau begitu kita makan sarapannya bersama-sama." Carissa bangkit dan meraih nampan berisi menu sarapan yang di siapkan Evan tadi.


Keduanya pun menyantap roti panggang buatan Evan bersama, bahkan segelas susu yang tadinya di siapkan Evan hanya untuk Carissa, kini mereka menyesapnya bergantian. Suami istri ini tampak menyajikan adegan romantis di pagi hari dengan berbagi makanan dan minuman di piring serta gelas yang sama.


"Dokter Grace sudah membuat jadwal untuk melakukan pembersihan di saluran rahimmu. Minggu ini sepertinya sudah bisa di lakukan." Evan membuka pembicaraan setelah keduanya sudah selesai sarapan.


Carissa tak menjawab. Responnya hanya dengan menganggukkan kepalanya.


"Apa sungguh akan berhasil?" Tanya Carissa kemudian dengan agak ragu.


Evan kembali menatap istrinya itu. Kali ini dengan pandangan yang lebih lembut lagi.


"Jika salah satu saja saluran rahimmu terbuka, ada kemungkinan kamu bisa hamil, walaupun tentu saja peluangnya lebih kecil dari kondisi rahim kebanyakan. Setidaknya kita masih ada harapan untuk mendapatkan anak dengan cara normal. Tapi seandainya dengan cara ini masih belum berhasil, selanjutnya baru kita lakukan prosedur bayi tabung." jawab Evan.


Carissa kembali terdiam. Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Evan terdengar begitu optimis. Meski sebenarnya Carissa merasa senang, tapi sisi lain dari hatinya merasakan sebuah kekhawatiran. Carissa takut bagaimana jika nantinya Evan hanya akan menelan kekecewaan karena dirinya tak mampu memenuhi harapan suaminya ini. Bagaimana jika nanti tak peduli seberapa banyak usaha yang telah mereka lakukan, ternyata Carissa tetap tak bisa mengobati kerinduan Evan atas kehadiran seorang anak.


Carissa berusaha untuk berfikir positif, tapi rasa takut itu tetap saja muncul.


"Apa yang kamu pikirkan?" Pertanyaan Evan membuyarkan lamunan Carissa.


Evan yang agaknya tahu isi kepala Carissa saat ini tampak melihat dengan serius kearah Istrinya itu. Jemari Evan terulur mengangkat dagu Carissa hingga wajahnya terangkat.


Pandangan mereka bertemu.

__ADS_1


"Jangan terlalu di pikirkan bagaimana hasilnya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mengusahakan yang terbaik agar bisa mendapatkan seorang anak. Sisanya serahkan pada Tuhan. Dia yang paling tahu kita pantas atau tidak di beri kepercayaan itu."


Carissa masih bergeming. Ada keharuan yang menyeruak di dalam hatinya. Entah bagaimana suaminya ini bisa berpikir dengan sangat bijaksana. Sungguh Carissa semakin merasa bersalah jika ingat sebelumnya telah membuat Evan marah dan tersakiti. Diam-diam Carissa bertekad tidak akan melakukan hal itu lagi.


"Terima kasih, Evan. Maaf kalau aku terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Aku janji tidak akan bersikap pesimis lagi. Mulai sekarang aku akan fokus menjalankan prosedur yang di sarankan oleh Dokter Grace, terlepas dari apapun hasilnya nanti."


Evan tersenyum, lalu dengan gemas di cubitnya ujung hidung Carissa.


"Itu baru istriku." Ujarnya senang.


"Aw! Sakit, tahu!" Gerutu Carissa tanpa sadar.


Evan justru terkekeh. Di benamkannya kembali Carissa ke dalam pelukannya. Dia senang akhirnya bisa meyakinkan istrinya ini.


☆☆☆


Hari di mana Carissa akan menjalani prosedur pembersihan pada saluran rahimnya akhirnya tiba. Setelah berkonsultasi kembali dengan Dokter Grace, persiapan pun di lakukan.


Dokter Grace menjelaskan jika prosedur pembersihan ini tidak menggunakan jarum ataupun pembedahan, tapi prosesnya menggunakan beberapa alat khusus yang di masukkan ke dalam organ kewanitaan Carissa.


Dan saat Dokter Grace serta beberapa perawat yang membantunya meninggalkan Carissa dan Evan berdua saja untuk melakukan persiapan, raut wajah Carissa semakin tegang.


Evan yang menyadari hal itu pun tersenyum tipis. Di belainya wajah Carissa dengan lembut. Lalu seperti biasa, di peluknya istrinya itu agar merasa lebih tenang.


"Tidak usah takut. Apa kamu tidak dengar apa yang Dokter Grace katakan tadi, rasanya tidak sakit sama sekali." Ujar Evan lembut.


Carissa kembali menghela nafasnya.


"Aku tidak takut sakit. Aku hanya merasa tidak nyaman karena prosedurnya harus memasukkan alat melalui area sensitifku. Aku malu, Evan." Carissa menenggelamkan wajahnya ke dada Evan.


Evan kembali tersenyum.


"Dokter Grace juga perempuan. Kenapa harus malu? Lagipula, sebelumnya juga sudah ada yang pernah melihatnya. Jadi tidak perlu merasa malu lagi."

__ADS_1


Mata Carissa melebar.


"Sembarangan. Aku tidak pernah memperlihatkannya pada orang lain, tidak peduli itu dengan sesama perempuan sekalipun. Memangnya siapa yang sudah pernah lihat?" Tanya Carissa tidak terima.


Evan sungguh gemas dengan ekspresi Carissa saat ini. Dengan menahan tawa, di dekatkannya bibirnya ke telinga Carissa.


"Memangnya siapa yang sudah pernah lihat? Tentu saja aku." Bisik Evan dengan nada menggoda.


Mata Carissa membulat dengan sempurna.


"Evan!" Sergahnya sambil memukul dada suaminya itu.


Evan terkekeh sembari mendekap Carissa lagi.


"Tapi karena aku suamimu, makanya kamu merasa nyaman dan tidak sadar kalau aku sudah sering melihatnya. Jadi, saat ini kamu bayangkan saja aku yang melakukannya, supaya kamu nyaman." Tambah Evan lagi. Kali ini nada bicaranya lembut tanpa unsur menggoda.


"Mana bisa seperti itu. Tetap saja kenyataannya yang melakukannya orang lain, bukan kamu." Jawab Carissa.


"Seandainya aku bisa melakukannya, tentu saja aku akan melakukannya sendiri. Kamu pikir aku rela milikku itu di lihat orang lain?"


Carissa kembali melebarkan matanya. Di lihatnya Evan yang kini menatapnya dengan tatapan agak lain.


"Evan...jangan bilang saat ini kamu..."


"Nyonya Carissa, prosedur pembersihannya sudah bisa kita mulai. Apa Anda sudah siap?" Belum sempat Carissa menyelesaikan kalimatnya, Suara Dokter Grace sudah menginterupsi. Terlihat perempuan itu kini sudah muncul lagi di hadapan Carissa dan Evan.


"Ah, iya. Tentu saja." Carissa yang agak terkejut berusaha untuk terlihat setenang mungkin. Cepat-cepat dia keluar dari pelukan Evan dan menyudahi adegan kemesraan mereka.


Carissa akhirnya beranjak dari duduknya, lalu kembali menoleh kearah Evan. Evan kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Hal itu sudah cukup memberi kekuatan pada Carissa hingga membuatnya jadi lebih berani


'Semangat, Carissa. Mari kita memulai perjuangan.'


Bersambung...

__ADS_1


Tetep like, koment dan vote


Happy reading❤❤❤


__ADS_2