
"Kak, pelan-pelan!" peringat Sabina ketika Devan menyetir dengan ugal-ugalan. Dia seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Keano tadi ketika berada di toko buku itu. Devan yang sudah mengikuti keduanya semenjak mereka meninggalkan sekolah. Devan yang datang terlambat karena waktu itu sempat berpikir jika Bianca akan benar-benar menjemput Sabina. Tentu saja ia tidak mau menambah masalah lagi. Sudah cukup masa lalu papanya menjadi masalah terbesar di dalam hidupnya. Keano yang memberitahunya mengenai dia yang harus hati-hati kepada mertuanya itu.
Devan menginjak rem mendadak ketika Sabina memberi peringatan. Jujur saja dia semakin tidak tenang. Belum lagi masalah yang ditimbulkan oleh Bianca yag terus mencarinya ke kantor. Takut jika omnya mengatakan sesuatu kepada tante Shita yang akan berujung pada pertengkaran nantinya.
"Kakak kenapa sih? Dari tadi emosian melulu?" tanya Sabina yang menatapnya dengan tatapan penasaran. Sedari dia bertemu dengan Bianca dan juga mamanya. Sikap Devan yang tadinya baik-baik saja berubah menjadi semakin emosi ketika dia menjemput Sabina tadi.
"Kamu pulang ke rumah Mama hari ini, Sabina!"
Sabina langsung melotot tidak percaya dengan ucapan kakaknya. Sabina tentu saja akan menolak jika dia harus pulang ke rumah kedua orang tuanya. Sabina sangat benci berada di rumah. Dia kesepian, setiap hari dia hanya mendengarkan ocehan dari mamanya. Andai saja mamanya sebaik kakak iparnya, mungkin saja dia betah di rumah dan setia mendengarkan curhatan mamanya.
Ketika Sabina cemberut, Devan langsung menepuk pundaknya. "kakak nggak bermaksud usir kamu dari rumah. Nanti kalau keadaannya sudah membaik, kamu tinggal lagi di rumah kakak," ucapnya pelan mencoba menjelaskan hal itu kepada Sabina. Tapi sepertinya adiknya itu tidak menerima apa yang dia katakan. Devan juga khawatir jika adiknya terlibat dalam hal ini.
Ucapan Keano terngiang di kepalanya. Sudah cukup dia menyembunyikan hal itu, tapi ada saja masalah yang datang menghampiri dan menguji rumah tangganya bersama dengan Adelia. Sebisa mungkin dia memang tidak pernah cerita tentang masalah yang kali ini dia hadapi. Devan memang merasa diikuti juga oleh beberapa orang. Akan tetapi dia pikir itu adalah orang suruhan mama atau papanya. Tapi justru semua ini adalah perbuatan mertuanya. Devan takut jika identitasnya diketahui, dia dan istrinya akan benar-benar berpisah seperti yang dikatakan oleh Keano.
Devan sempat berpikir jika maksud Keano waktu itu adalah mendekati Sabina agar jatuh cinta kepada Keano. Akan tetapi adik iparnya sudah cukup membantunya. Dia salah paham dengan semua ini. Harusnya Devan sadar lebih awal ketika dia diikuti oleh beberapa orang.
Devan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Membantu Sabina untuk menyiapkan barang-barangnya dan mengantarkan adiknya pulang. Devan hanya tidak mau menyangkut pautkan adiknya dalam masalah ini. Cukuplah dia yang berusaha untuk menjaga istrinya dengan baik. tanpa harus melibatkan dan mengorbankan adiknya sendiri. Apalagi Bianca yang tidak mudah menyerah untuk mendekati Sabina dan menghancurkan rumah tangganya dengan Adelia.
Setibanya di rumah, Sabina keluar dari mobil dan membanting pintu dengan keras dan langsung masuk ke dalam rumah dengan ekspresi yang benar-benar kesal. Ketika Devan hendak masuk, Sabina membanting pintu kamarnya begitu saja. Padahal ia ingin bicara baik-baik dengan adiknya itu. Sayangnya Sabina salah paham dengan maksudnya ini. Dia tahu bahwa adiknya memang lebih nyaman tinggal di sini. Akan tetapi dia juga tidak mau mengorbankan adiknya begitu saja. Apalagi nanti Bianca akan datang ke rumahnya ketika Sabina lengah dan tidak tahu maksud perempuan licik itu. Justru Bianca datang dan mengacaukan semuanya dengan cara mengganggu Adelia yang saat ini sedang hamil.
__ADS_1
Adelia keluar dari kamar ketika mendengar suara Devan yang berteriak sedari tadi memanggil nama Sabina. Akan tetapi tidak ada sahutan sama sekali. "Devan, kenapa teriak-teriak sih? Tumben juga kamu pulang cepat?" tanya Adelia sembari mengucir rambutnya.
Devan menghela napasnya ketika istrinya datang. Dia mencoba mengontrol emosinya dihadapan sang istri. Dia tidak mau jika Adelia salah paham dengan hal ini juga. "Aku mau bawa Sabina pulang ke rumah Mama,"
"Kenapa mendadak?"
"Maka dari itu Sabina langsung marah waktu aku suruh dia pulang ke rumah Mama,"
Adelia tidak mengerti dengan maksud suaminya. Padahal dia juga sudah nyaman dengan adik iparnya itu. Apalagi dulu yang membawa Sabina kemari adalah Devan. Tiba-tiba saja suaminya berubah pikiran dan ingin membawa Sabina pulang begitu saja. Adelia pun mendekati suaminya. "Kamu bicarakan baik-baik saja dia," ajak Adelia ke sofa agar Devan lebih mengontrol emosinya kali ini.
Begitu mereka berdua duduk di sofa. "Adelia, kamu tetap diam di rumah!"
Jujur saja Devan ingin menyerah dengan semua ini, tapi ketika melihat istrinya yang tengah hamil, tidak mungkin dia melepaskan istrinya begitu saja dan kembali pada orang tuanya. Dia akan tetap berjuang apapun yang terjadi, dia hanya ingin mencintai Adelia. Bukan Bianca, dia tahu bahwa semua ini dilakukan oleh sang mama dan juga papanya yang juga mendukung perbuatan ini.
Selain berselisih dengan orang tua kandungnya sendiri, ditambah lagi mertuanya yang berusaha mencari tahu mengenai dirinya. "Adelia, aku nggak tahu lagi mau ngomong apa sama kamu, tapi biarin aku selesaikan masalah aku sendiri,"
"Harusnya kalau ada apa-apa kamu ngomong sama istri kamu, Devan,"
Devan tidak ingin melibatkan istrinya juga. "Adel, aku nggak mau kamu ikut campur masalah keluargaku,"
__ADS_1
Adelia langsung terdiam ketika mendengar ucapan Devan tadi yang menyebut kata keluarganya. Adelia pun tak ingin bertanya lebih banyak lagi kepada suaminya jika Devan sudah berkata demikian. Itu artinya dia tidak punya hak untuk bertanya lebih lagi. Sejenak Adelia mengangguk dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
Ketika Adelia hendak ke dapur, Sabina keluar dengan membawa barang-barangnya. "Sabina, kamu mau ke mana?" tanya Adelia yang panik.
"Kak Devan kan usir aku dari sini, jadi aku tetap bakalan pulang," ucap Sabina sambil menangis. Sebenarnya Adelia tidak mau jika adiknya pulang, karena dia akan kesepian nantinya.
"Devan bisa kan kamu biarin Sabina di sini?" tanya Adelia yang tidak mau jika dia ditinggalkan oleh adiknya.
Devan berdiri, kali ini dia melihat suaminya berbeda. Adelia seolah tidak mengenali laki-laki yang ada disebelahnya itu. "Ayo pulang Sabina!"
"Devan, kasih kesempatan!"
"Diam Adelia!! Aku nggak mau berantem sama kamu, biar urusan keluarga aku yang urus, kamu diam dan jangan pernah ikut campur, lebih baik kamu masuk ke kamar kamu sana!" bentak Devan.
Selama ini dia tidak pernah membentak istrinya. Tapi karena masalah yang ada padanya membuatnya tidak bisa mengontrol emosi lagi. Apalgai ketika Adelia meminta agar Sabina tetap berada di rumah, jujur saja rasanya dia begitu sedih ketika mengetahui beberapa orang berniat untuk menghancurkannya. Adelia pun langsung pergi begitu saja dan membuat hati Devan sedikit nyeri ketika melihat istrinya marah.
Jujur saja, dia tidak pernah berniat memarahi Adelia. Tapi jika Sabina terus berada di rumah ini, maka Bianca akan punya peluang besar untuk menganggunya. Jika Sabina pulang, maka tidak ada alasan lagi untuk dia dan juga mamanya datang ke sana.
Orang tuanya tidak tahu alamatnya yang sekarang, karena Devan memang tidak berniat mengundang orang tuanya datang ke rumahnya. Devan yang sengaja mengasingkan diri dari keluarganya karena dia tidak mau istrinya stress diganggu oleh keluarganya, termasuk Bianca. Perempuan yang sangat dia benci selama ini karena selalu berusaha untuk melakuka apapun cara agar dia dan Adelia berpisah. Sengaja perempuan itu juga datang ke kantornya. Dan jika sekali lagi perempuan itu datang, maka tidak ada pilihan lain lagi membawa Adelia pergi dari sana dan pergi jauh agar tidak ada orang lain lagi yang menganggu kehidupannya. Dia juga harus bicara kepada Adelia sebelum memutuskan semua itu sendiri.
__ADS_1