
Adelia mengikuti saran dari kakak iparnya untuk mencari keberadaan suaminya ke kantor. Mengingat kabar dari Devan juga sudah lama tidak terdengar, pesan yang dia kirim juga satupun tidak ada yang dibalas, belum lagi karena ketika Arsyila sakit, suaminya justru tidak mau pulang untuk menjenguk anaknya.
Adelia sangat kecewa ketika suaminya tidak mau pulang waktu itu. karena dia tidak pernah menyangka jika suaminya mengabaikan pesannya bakan itu mengenai Arsyila sekalipun. Kali ini dia akan mengunjungi kantor suaminya untuk mencari keberadaan Devan dan menanyakan statusnya apakan dia akan diceraikan atau tidak oleh Devan.
Dia baru saja selesai memasang baju yang begitu cantik untuk anaknya serta sepatu dan juga dia mengepang rambut anaknya.
“Anak Mama cantik juga,” puji Adelia dan anaknya menyeringai memperlihatkan gigi susunya dan menciumnya begitu saja. “Ayo berangkat!” ajak Adelia kepada anaknya yang sudah rapi.
Perjalanan selama empat puluh menit dari rumah karena kantor Devan memang tidak terlalu jauh, tapi Adelia lama diperjalanan sampai dia melihat anaknya tidur di kursi di dekatnya.
Adelia menggendong Arsyila begitu dia tiba di kantor Devan.
Dia masuk begitu saja ketika orang-orang sana menyambutnya dengan sangat baik.
“Arsyila,” panggil orang-orang kepada Arsyila yang baru bangun. Namun ekspresi Arsyila yang baru bangun memang cemberut seperti itu. kemudian Adelia meminta maaf jika Arsyila yang cemberut seperti itu.
“Bapak ada di ruangannya, mungkin lagi makan siang,” kata karyawannya yang memberitahukan tentang Devan ketika Adelia di dalam lift.
“Ma, Cila tulun!” pinta Arsyila. adelia menurunkan anaknya yang kemudian mengajak anakya masuk ke dalam ruangan Devan. setelah melewati kubikel yang isinya sepi karena jam makan siang.
Begitu dia membuka pintu, Adelia melihat suaminya memang sedang makan siang. “Papa,” panggil Arsyila yang seketika Devan membersihkan mulutnya dengan tisu yang ada di atas meja. “Papa lagi maem?” tanya Arsyila yang langsung meminta dipangku oleh Devan.
Devan kemudian menyambut kedatangan Adelia yang berjalan membawa makan siang untuk Devan juga. “Aku bawa bawa makan siang,”
“Kamu yang masak?”
Adelia mengangguk kemudian memberikan rantang yang baru saja dikeluarkan dari tas kecil. Adelia kemudian memperlihatkan makanan kesukaan Devan yaitu semur ayam pedas.
“Kamu sibuk ya? Sampai makannya di ruangan begini?”
“Iya, aku banyak kerjaan. Jadi nggak sempat keluar cari makan. aku baru aja makan,”
Seperti tidak ada masalah dan juga Devan meminta izin untuk makan masakan yang dibawakan oleh Adelia barusan. “Arsyila mau makan?”
“Udah, Pa. tadi Cila maem cama mama,”
Devan mendudukkan Arsyila disebelahnya. Sudah lama sekali tidak pulang ke rumah karena dia tidak mau pertengkaran itu terus bergejolak. Ketika Adelia datang membawakannya makanan, dia menghargai usaha istrinya karena tidak mau bertengkar dihadapan Arsyila. devan tahu bagaimana dia harus menahan emosinya agar tidak meledak dihadapan sang anak. Devan juga sudah berusaha sebaik mungkin untuk tidak emosi. Dia yang selama ini berusaha untuk tetap tenang sekalipun dia begitu merindukan anaknya dan juga istrinya. Devan termasuk pria yang begitu baik dalam menyembunyikan masalah. Dia yang sudah tidak lagi lari ke alkohol ketika marah.
Devan memilih untuk menyibukkan dirinya ketika dia diterpa masalah rumah tangga itu. devan sendiri tidak ingin ambil pusing. Tapi ketika rindunya begitu menyiksa, mau tidak mau dia harus beristirahat dan menikmati rindu itu sendirian.
Dering ponsel Devan berbunyi dari meja kerjanya. Pria itu justru berhenti makan dan langsung mengambil ponselnya. Adelia yang langsung paham tentang suaminya yang tidak mau meresponnya.
Devan kembali lagi dan menikmati makan siangnya. “Arsyila sayang nanti malam kita pergi jalan-jalan mau?”
Devan hanya mengajak Arsyila, tidak mengajak dirinya. Adelia menundukkan kepalanya. Seolah Devan tidak menghargainya.
“Kamu juga,” kata Devan.
Adelia langsung mengangkat kepalanya. “Aku?” tunjuk Adelia. Yang kemudian dibalas dengan genggaman oleh Devan.
“Iya, kamu. Kamu kan Mama dari anakku. Nggak mungkin aku pergi berdua sama dia,”
“Kenapa?”
“Jangan tanyakan kenapa, Adelia,”
__ADS_1
Adelia menganggukkan kepala, “Kamu kenapa nggak pernah respons aku?”
“Aku hilang bukan berarti tidak ingin dicari. Itu karena aku sudah malu untuk datang lagi ke rumah kamu. Di saat semua orang memojokkan, kamu justru ikut pergi. Aku tahu kamu kecewa, tapi jauh lebih sakit aku yang nggak ada satupun orang yang belain aku,”
“Maaf,”
“Aku juga yang salah karena nggak bilang sama kamu,”
“Tanggapan kamu tentang kita yang tinggal bersama gimana?”
“Aku pikirkan lagi,”
Adelia mengulurkan tangannya dan menatap Devan dengan tatapan yang sedikit terasa gugup. “Lalu bagaimana sama aku, Devan? kamu ceraikan?”
“Aku nggak pernah berpikiran seperti itu,”
“Tapi ketika aku tanya kita kapan tinggal bareng, kamu langsung seperti itu,”
Devan bukannya tak ingin tinggal bersama dengan keluarganya. Dia belum membeli beberapa perlengkapan untuk rumah barunya. Jika Adelia sudah datang seperti ini untuk mencarinya. Ya dipastikan bahwa dia akan tinggal bersama dengan keluarganya. Devan yang ingin jika keluarganya bahagia tanpa ada masalah lagi.
Devan juga pernah diberikan saran oleh papanya jika dia harus mengajak Adelia keluar dari rumah itu. adelia juga sudah memberitahunya bahwa dia sudah diperbolehkan membawa Adelia dan Arsyila keluar dari sana.
“Kamu memang nggak mau tinggal sama aku?”
“Kamu lagi ngandung anak kedua aku lho ya. Nggak usah ngomong macam-macam!” jawab Devan kesal karena seolah Adelia tidak percaya lagi dengan apa yang dikatakan olehnya.
“Kamu kok ngomong gitu?”
“Ada Arsyila, aku nggak suka berantem,” Devan tahu jika selama Adelia hamil maka dia akan sering marah dan juga bersikap menyebalkan. Maka dari itu dia tidak ingin lagi bertengkar. Apalagi di depan Arsyila. “Aku bilang aku pikirkan dulu karena aku belum siapin kamar buat dia,”
“Bukan itu masalahnya. Tapi kamu,”
“Aku? Memangnya aku ngerepotin kamu banget?”
“Enggak, aku mau cari pengasuh buat dia. Kamu lagi hamil, jadi biar kamu nggak gendong Arsyila terus, kasihan anak kita,”
Adelia tersenyum, sekalipun nada bicara Devan menyebalkan. Dia tetap romantis, “Kamu kan sudah punya rumah,”
“Ya, aku memang sudah punya rumah. Tapi apa salahnya kalau aku berusaha buat kamu? Kamu nggak boleh capek,”
“Kamu kenapa nggak mau pulang waktu aku bilang Arsyila sakit?”
Devan menutup rantangnya ketika ketika Adelia menanyakan dirinya yang tidak datang hari itu juga. “Siapa bilang aku nggak datang? Semalaman aku ada di luar nungguin kamu, aku pikir kamu bawa Arsyila ke rumah sakit. Pak Izam kemudian keluar karena tahu aku diluar gerbang rumah kamu, aku mana mungkin nggak datang dalam keadaan seperti itu? tapi sayangnya tidak ada keberanian untuk masuk sekalipun itu dengan asalan Arsyila sekalipun. Aku akan menyerah ketika kamu menyerah, aku lihat kamu hubungi aku dan aku juga berharap kalau kamu mau cari aku ke sini,”
“Apa kamu konyol seperti itu nggak mau masuk ke dalam rumah?”
Devan berdiri kemudian meminta waktu untuk ke kamar mandi sebentar karena harus sikat gigi sebelum dia ingin mencium anak dan juga istrinya.
Sekitar lima menit, Devan keluar lagi dan telah mencuci wajahnya. Devan mengambil krim yang ada di dekat pintu yang biasa menjadi tempat dia menaruh barang-barangnya. “Kamu pakai begituan?”
“Iya biar tetap ganteng,”
“Idih, malah bercanda,”
“Aku serius. Ini juga biar nggak panas, memangnya kamu mau lihat suami kamu boros banget mukanya, umur dikit malah kelihatan tua gitu? Nggak mau, kan? Jadi beruntung aja gitu punya suami yang rajin rawat diri,”
__ADS_1
“Nanti ada yang suka,”
“Oh, sekarang udah bisa cemburu?”
Adelia kemudian berdiri dan memeluk Devan dari belakang, pria itu tetap berdiri meratakan krim diwajahnya.
Arsyila yang juga kelihatannya tak mau kalah dengan Adelia mendekati Devan juga. “Papa,” rengek Arsyila. Devan melihat anaknya, “Ini bocah mau ngapain? Papa mau sama Mama,” ledek Devan yang kemudian memeluk Adelia dan mencium istrinya. Justru Arsyila menggigit pahanya hingga Devan tertawa melihat anaknya yang sepertinya memang cemburu atas apa yang mereka berdua lakukan.
“Cemburu tuh,”
Devan langsung menggendong Arsyila dan menciumnya. “Udah lama nggak ketemu malah jadi cemburu sama Mama sendiri,” kata Devan sambil mencium pipi anaknya bergiliran.
“Paha kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa,”
“Kamu sih, tahu sendiri anaknya kayak gitu malah dibuat kesal,”
Devan merindukan dua perempuan ini. “Kita bakalan kumpul lagi. Hari minggu kita pindah ya?”
“Kamu nggak bercanda?”
Devan menggeleng, “Aku isi sama beberapa barang dulu ya, malah gagal ngasih kejutan,”
“Memangnya kejutan?”
Devan mengangguk, “Ya tentu saja. Itu rumah lebih besar dari rumah kamu. Jadi nanti kan niatnya kita banyak anak. Biar kayak Papa gitu, sekarang rumahnya dipenuhi sama anak dan juga cucunya. Sama kayak kita nanti,”
“Devan, kalau misalnya anak kita nanti perempuan gimana? Aku tahu kamu pengin laki-laki,”
“Aku nggak maksain laki atau perempuan ya. Bagiku sama saja, Tuhan yang ngasih. Tuhan juga yang ngasih kepercayaan ke kita untuk jadi orang tua,”
“Terus kenapa kamu nggak pernah jengukin aku?”
“Aku udah bilang, kalau aku pengin dicari. Biar kesannya bukan aku aja yang berjuang,”
Adelia memanyunkan bibirnya, “Monyong sekali lagi aku cium,” ancam Devan.
“Jadi, kamu nggak mau cari aku kalau aku nggak cari?”
“Enggak, buat apa?”
“Jahat banget,”
“Kamu pikir aku nggak tersiksa gitu nahan rindu sama kamu?”
Adelia menyeringai, perempuan itu langsung memeluk Devan. inilah suaminya, pria yang selalu terlihat baik-baik saja sekalipun mereka sebenarnya bertengkar hebat. Tapi suaminya yang tidak pernah menyimpan dendam sekalipun karena selalu mengutamakan cinta dibandingkan dengan keegoisan yang selalu meminta untuk dimenangkan.
__ADS_1