
Langit terlihat sangat cerah dengan warna biru indah berpadu sedikit corak awan berwarna putih. Tampak sangat sempurna untuk menjadi backround pesta kebun yang diadakan Carissa saat ini. Dengan memanfaatkan halaman belakang dan halaman samping rumahnya yang luas, Carissa meyelenggarakan pesta ulang tahun putri semata wayangnya, Lily.
"Mama...Papa..." Gadis kecil yang hari ini tepat berusia tiga tahun itu berlari kecil kearah Carissa dan Evan.
"Lily tidak mau pakai baju plinses." Protesnya gadis kecil itu dengan wajah cemberut. Sejak tadi dia berjalan kesana kemari sambil mengangkat tinggi gaun cantiknya. Tampaknya dia sangat tidak nyaman mengenakan pakaian itu.
"Kenapa tidak mau? Lily cantik pakai baju princess." Ujar Carissa menghibur.
"Ini kan hari ulang tahun Lily, Lily sekarang sedang jadi princess." Evan juga menimpali.
"Tapi Lily tidak mau jadi plinses, Papa. Lily mau jadi blekk widowwww." Lily berujar dengan agak membulatkan bibirnya diakhir kalimat, hingga wajahnya terlihat semakin menggemaskan.
"Black Widow?"
Lily mengangguk cepat. Dia memang lebih menyukai salah satu tokoh Avangers itu ketimbang tokoh-tokoh princess yang biasanya digandrungi para gadis kecil seusianya.
"Tapi kita tidak punya kostum Black Widow, jadi sekarang pakai baju princess ini saja dulu, ya." Evan membujuk sambil membawa Lily ke dalam gendongannya.
Lily masih terlihat cemberut. Carissa yang melihat ekspresi putrinya itu agak tersenyum kecut. Sepertinya Lily sama sekali tidak feminim dan tidak suka tampil anggun. Dia terlihat sangat risih dengan gaun princess yang saat ini dia gunakan.
"Jangan cemberut, Tuan Putri. Sebentar lagi pesta ulang tahun Lily mau dimulai. Nanti kita akan cari kostum Black widow seperti yang Lily mau, tapi sekarang kita tidak punya waktu lagi." Evan kembali berusaha membujuk Lily.
"Lihat, itu Oma dan Opa sudah menunggu Lily. Lily mau foto sama Oma dan Opa tidak?" Evan menunjuk kearah Sonya dan Zacky yang melambai kearah Lily.
Dengan masih memasang wajah cemberutnya, Lily mengangguk mengiyakan. Evan pun tersenyum dan mencium pipi putrinya itu dengan gemas.
Evan menggendong Lily mendekati kedua orang tuanya, lalu menurunkan Lily di tengah-tengah Sonya dan Zacky.
"Cucu Opa cantik sekali." Zacky meraih Lily ke dalam pangkuannya.
"Tentu saja, Lily cantik seperti Oma. Iya, kan, Sayang?" Sonya ikut menggoda cucunya.
Lily menggeleng.
"Kata Papa, Lily cantik sepelti Mama." Ujarnya polos.
Sontak Sonya dan Zacky tertawa bersamaan. Celotehan cucu mereka itu memang selalu bisa membuat keduanya tertawa. Diusianya yang baru genap tiga tahun, Lily telah menjelma manjadi anak yang cerdas dan kritis. Dia tidak segan mengatakan 'tidak' pada hal yang dianggapnya tak sesuai. Lebih kurang seperti Carissa saat kecil dulu.
"Oke, kalau begitu Papa foto dulu Lily sama Oma dan Opa." Evan mengarahkan kamera ponselnya pada Lily dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Cheese..." Secara tak terduga Lily berpose layaknya putri kerajaan yang akan dilukis. Alhasil, Evan mengambil gambar sambil tertawa kecil karena merasa lucu dengan tingkah Lily.
Tak lama kemudian, pesta ulang tahun Lily pun dimulai. Bocah itu tampak senang saat semua yang hadir menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Belum lagi saat dia diminta untuk meniup lilin dan memotong kue. Gadis kecil itu bahkan meminta potongan kue yang paling besar.
"Sayang, sebelum tiup lilin tadi, Lily berdoa minta apa?" Tanya Carissa pada Lily yang sedang asyik menikmati kuenya.
Carissa agak terpana melihat Lily yang terlihat sangat khidmat saat membuat permintaan sebelum meniup lilin tadi. Dia jadi tergelitik untuk mencari tahu apakah gerangan yang jadi harapan putri kecilnya ini.
"Lahasia." Jawab Lily sambil terus menyantap kuenya.
Mata Carissa sedikit melebar.
"Masa sama Mama ada rahasia begitu..." Ujar Carissa seolah dia akan merajuk.
Lily terdiam sesaat, seakan sedang mempertimbangkan akan mengatakannya pada Carissa atau tidak.
"Lily tadi minta supaya kamal Lily tidak pakai gambal plinses lagi." Ujarnya kemudian.
Carissa kembali membeliakkan matanya, lalu tampak berusaha sebisa mungkin untuk tidak tertawa. Sepertinya Lily protes tentang kamarnya lebih cepat dari perkiraan Carissa. Entah bagaimana perasaan Evan jika mendengar hal ini.
Tiba-tiba perhatian Lily teralih saat seorang anak perempuan berusia lima tahun lebih datang mendekat padanya.
"Lily..." Zivanna berlari kearah Lily, lalu menyodorkan kado yang dibawanya pada Lily.
Lily menerima kado itu dengan wajah senang.
"Mama, Kak Zi kasih Lily kado." Lily menunjukkan kado dari Zivanna pada Carissa.
Carissa tersenyum menanggapi.
"Bilang apa sama Kak Zi?" Tanya Carissa.
"Telima kasih, Kak Zi." Ujar Lily pada Zivanna. Putri Zaya itu menanggapi dengan mengangguk dan tersenyum senang.
Kemudian Lily mendongakkan wajahnya saat datang satu anak lagi yang tampaknya akan memberinya kado. Anak lelaki yang tak lain adalah Albern. Putra sulung Zaya dan Aaron yang kini sudah berusia dua belas tahun.
"Selamat ulang tahun, Lily." Ujar Albern sambil tersenyum kearah Lily.
Lily masih menengadahkan wajahnya untuk melihat kearah Albern yang memiliki tubuh jauh lebih tinggi.
__ADS_1
Albern berjongkok, lalu memberikan kado di tangannya pada Lily. Lily menerimanya sambil menatap Albern lekat. Gadis kecil itu seakan terhipnotis saat melihat wajah rupawan di hadapannya itu.
"Lily, bilang apa sama Kak Al?" Carissa kembali mengingatkan putrinya itu.
"Telima kasih, Kak Al." Ujar Lily masih dengan menatap lekat wajah Albern.
Albern tersenyum, lalu mengusap pucuk kepala Lily kilas, sebelum akhirnya bocah lelaki itu berlalu.
Seperti biasa saat diajak orang tuanya ke pesta, Albern menyingkir ke tempat yang agak sepi, lalu mengeluarkan mini tabletnya. Bocah itu lebih memilih untuk membaca atau memeriksa kembali tugas-tugasnya lewat benda itu, atau dia akan mempelajari laporan hasil penelitian di laboraturium bersama guru privatnya. Yang jelas, Albern tidak akan ikut larut ke dalam hingar bingar pesta.
"Lily, ayo main bola." Tiba-tiba Zivanna meraih tangan Lily sambil membawa bola yang entah didapatnya dari mana.
Lily yang sebelumnya masih tertegun, langsung berubah semringah. Bermain bola memang lebih menyenangkan baginya dibandingkan bermain boneka. Dia pun menyambut lemparan bola Zivanna dengan sangat bersemangat.
Lily dan Zivanna akhirnya asyik bermain lempar bola sambil tertawa riang. Hingga akhirnya Lily jatuh terjerembab karena menginjak gaunnya sendiri saat berlari sambil hendak melempar bola pada Zivanna, Dan sialnya, bola yang melayang tadi mendarat tepat di mini tablet yng sedang ada Albern gunakan.
Benda itu terlepas dari tangan pemiliknya, lalu jatuh terhempas tepat di tempat yang keras. Dari suara jatuhnya, sudah bisa dipastikan jika benda itu tak bisa diselamatkan.
Semua orang terkesiap. Dan suasana menjadi semakin tegang saat Albern memungut kembali mini tabletnya yang telah rusak itu.
Zivanna yang melihat hal itu langsung berlari memeluk Zaya. Dia sangat takut. Albern akan marah pada siapa saja yang menyentuh mini tablet miliknya. Benda itu adalah tempatnya belajar, mengerjakan tugas dan menyimpan semua hasil penelitiannya, bisa dibilang separuh dari jiwa Albern. Dan sekarang rusak begitu saja karena lemparan bola dari anak perempuan yang saat ini masih belum bangkit dari posisinya terjatuh.
Albern menaruh kembali mini tabletnya yang rusak sambil menghela nafas panjang. Lalu pandangannya beralih pada si penyebab benda kesayangannya itu jatuh, Lily.
Albern mendekati Lily hingga membuat bocah itu hampir menangis karena takut. Semua orang yang melihat hal itu pun menjadi tegang, termasuk Zaya dan Aaron sendiri sebagai orang tua Albern. Mereka tidak tahu apa yang akan Albern lakukan.
Evan dan Carissa bergegas mendekati Lily, takut jika sampai Albern menyakiti putri mereka. Tapi keduanya terkesiap saat bocah lelaki itu justru membantu Lily bangkit dan membersihkan gaun Lily yang sedikit kotor.
"Lily tidak apa-apa?" Tanyanya pada Lily.
Lily mengangguk sambil kembali menatap Albern lekat.
Zaya terperangah melihat pemandangan itu. Tadinya dia berpikir putranya akan marah, atau paling tidak bersikap dingin pada Lily karena sudah menyebabkan mini tabletnya rusak. Siapa sangka Albern justru terlihat mengkhawatirkan Lily.
Ada apakah gerangan?
☆☆☆
Sampai jumpa di cerita Albern dan Lily.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤