
Zacky tertegun untuk waktu yang agak lama. Saat mendengar kata-kata Sonya tadi, dadanya tiba-tiba bergemuruh dengan sangat hebat. Suara Sonya yang terdengar agak bergetar membuat hatinya terasa begitu sakit. Jelas terdengar kesedihan dari setiap kata yang di ucapkan istrinya itu.
Zacky memang marah dan tidak bisa menoleransi hal konyol yang terakhir kali Sonya lakukan. Dia juga menunjukkan rasa tidak sukanya dengan bersikap acuh pada Sonya dengan tujuan agar Sonya menyadari kesalahannya yang terbilang sudah cukup fatal itu. Zacky berharap kedepannya Sonya tidak akan mengulangi hal serupa. Tidak ada niatan sama sekali dalam hatinya untuk memberikan istrinya itu hukuman atau hal semacamnya.
Zacky hanya ingin membuat Sonya mengerti kesalahannya, tidak lebih.
Mendengar kesedihan dalam nada bicara Sonya tadi membuat Zacky jadi berpikir, mungkinkah sekarang dia yang berbalik menyakiti istrinya?
Setelah berpikir agak lama, Zacky pun akhirnya memutuskan untuk melihat Sonya di kamar lantai bawah. Tapi saat Zacky melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, Zacky mendengar suara mencurigakan dari arah dapur. Langsung saja langkah Zacky berubah haluan menuju ke dapur.
"Hani?" Zacky bergumam setengah bertanya. Ternyata asisten rumah tangganya yang menyebabkan suara yang di dengar Zacky tadi.
"Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Perempuan tiga puluh tahunan bernama Hani tersebut sedikit terkejut dengan kehadiran Zacky di dapur.
"Kamu belum pulang?" Zacky balik bertanya.
"Saya baru selesai membereskan dapur, Tuan. Ini baru mau pulang. Saya pikir tadi Nyonya akan makan malam, jadi saya tunggu. Tapi rupanya Nyonya masih tidak makan malam seperti sebelum-sebelumnya."
Zacky tampak menautkan kedua alisnya.
"Tidak makan malam seperti sebelum-sebelumnya? Maksudnya?" Tanya Zacky.
Hani tampak terdiam sejenak.
"Tu-Tuan tidak tahu?" Tanya Hani ragu. Dia takut jika tanpa sadar mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan.
"Ceritakanlah." Pinta Zacky dengan nada tidak ingin di bantah.
Hani terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulutnya kembali.
"Saya rasa belakangan ini Nyonya sedang menjalani diet atau semacamnya, Tuan." Ujar Hani dengan ragu dan sedikit takut.
Sekali lagi Zacky menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Di siang hari Nyonya makan dengan porsi yang sangat sedikit, dua sampai tiga suap saja. Dan kalau malam malah sering tidak makan sama sekali." Tambah Hani lagi.
Zacky agak melebarkan matanya karena sedikit terkejut.
"Sejak kapan?" Tanya Zacky.
"Sejak...seingat saya sudah dua minggu ini, Tuan." Jawab Hani lagi sambil mengingat-ingat.
Zacky menghela nafasnya dalam. Dua minggu ini dia mengabaikan Sonya karena kejadian yang terjadi di apartemen Evan waktu itu. Mungkinkah sejak saat itu Sonya tidak makan dengan benar? Apa sikap Zacky yang ingin Sonya menyadari kesalahannya sudah agak berlebihan?
"Baiklah, terimakasih sudah memberi tahu saya. Sekarang kamu boleh pulang." Ujar Zacky akhirnya.
"Iya, Tuan." Hani membungkuk hormat, kemudian berlalu dari hadapan Zacky untuk pulang ke rumahnya.
Kini tinggal Zacky seorang diri, tertegun dengan menghela nafasnya sekali lagi. Dalam hatinya dia terus bertanya-tanya, benarkah dia sudah menyiksa Sonya selama dua minggu ini? Dan jika di ingat-ingat, tampaknya sikapnya pada Sonya memang sudah terbilang agak kejam. Zacky bahkan tidak mau menyentuh makanan dan minuman yang Sonya siapkan. Dia bahkan selalu tidur di ruang kerja karena tidak ingin berdekatan dengan Sonya.
Dengan langkah tergesa akhirnya Zacky mendatangi kamar yang di tempati Sonya saat ini. Zacky membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam kamar tersebut.
Perlahan Zacky mendekat dan duduk di pinggiran tempat tidur dengan memghadap ke arah Sonya. Untuk sesaat Zacky merasa dejavu. Situasi seperti ini pernah juga terjadi saat mereka baru menikah dulu.
Saat itu Sonya masih sangat muda, belum genap dua puluh tahun. Dia tidur di kamar terpisah karena masih belum sepenuhnya menerima Zacky sebagai suaminya. Dan saat dia sudah tertidur, Zacky akan datang diam-diam dan memandangi wajah Sonya yang tengah terlelap, seperti sekarang ini.
Tangan Zacky terulur menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian dahi Sonya. Wajah itu kini telah menua, meski sebenarnya masih terlihat jauh lebih muda dari usia Sonya yang sebenarnya.
Zacky memperhatikan tubuh Sonya yang sebagian tertutup selimut. Ada rasa sesak yang tiba-tiba datang memenuhi rongga dadanya. Zacky baru menyadari jika tubuh Sonya ternyata lebih kurus dari sebelumnya. Matanya juga sembab dengan warna sedikit kehitaman di bagian bawah matanya. Mungkinkah selain tidak makan dengan benar, istrinya ini juga telah banyak menangis dan kurang tidur?
Untuk yang kesekian kalinya Zacky kembali menghela nafasnya. Di belainya pucuk kepala Sonya dengan dada bergemuruh. Sangat sedih rasanya melihat kondisi Sonya saat ini. Sungguh dia tidak berniat sedikit pun untuk menyiksa istrinya. Rasa penyesalan pun perlahan menyusup dan memenuhi setiap relung hatinya.
Belaian tangan Zacky rupanya membangunkan Sonya. Mata Sonya terbuka. Lalu saat menyadari Zacky sedang duduk di pinggiran tempat tidur sambil memandanginya, sontak Sonya bangkit dari posisi berbaringnya.
"Ka-kamu butuh sesuatu?" Tanya Sonya sambil hendak beranjak, tapi dengan segera Zacky menahan Sonya.
"Aku tidak butuh apa-apa. Tidak usah kemana-mana." Ujar Zacky dengan lembut.
__ADS_1
Sonya tertegun mendengar nada bicara Zacky. Sudah agak lama dia tidak mendengar Zacky berbicara seperti itu padanya.
"Lalu, kenapa kamu di sini?" Tanya Sonya lagi dengan suara lirih.
Zacky tak langsung menjawab. Di tatapnya Sonya dengan tatapan yang sulit di lukiskan.
"Aku mau melihatmu. Sudah lama aku tidak memandangi wajahmu saat kamu tertidur." Jawab Zacky setelah terdiam agak lama.
Sonya terkesiap. Seketika di angkatnya wajahnya untuk melihat kearah Zacky. Mata Sonya tiba-tiba menjadi berkaca-kaca dan akhirnya menumpahkan cairan bening hangat ke pipinya.
"Kamu sudah tidak marah lagi?" Tanya Sonya dengan suara agak bergetar.
Zacky tidak menjawab. Di rengkuhnya tubuh ringkih Sonya masuk ke dalam pelukannya.
"Kenapa kamu jadi kurus seperti ini? Apa di rumah tidak ada sesuatu yang bisa di makan?" Zacky malah balik bertanya. Sungguh, pertanyaan itu terlontar karena rasa bersalah yang begitu besar di dalam hatinya hingga Zacky tidak tahu lagi harus mengatakan apa.
Sonya tertawa, tapi bersamaan dengan itu dia juga terisak. Di balasnya pelukan Zacky dengan sangat erat. Setelah dua minggu yang sangat menyiksa, akhirnya dia bisa kembali merasakan kasih sayang suaminya ini.
"Bagaimana aku bisa menelan makanan kalau kamu tidak mau bicara denganku." Ujar Sonya di sela isakannya.
"Maafkan aku, Zacky, aku memang salah.Tolong jangan abaikan aku lagi." Tambah Sonya.
Zacky menghela nafasnya sekali lagi.
"Tidak akan...aku yang minta maaf karena telah membuatmu seperti ini." Jawab Zacky sambil mengusap punggung Sonya.
Pasangan paruh baya itu pun akhirnya kembali saling memaafkan dan mengakhiri drama yang telah mereka mainkan selama dua minggu ini.
Bersambung...
Tetep like, koment dan vote
Happy reading❤❤❤
__ADS_1