WITH YOU

WITH YOU
Menanti Kelahiranmu


__ADS_3

Carissa dan Evan menjalani hari-hari mereka dengan penuh kebahagiaan. Meski kondisi Evan belum pulih sepenuhnya, tapi rasa antusiasnya menantikan calon anak mereka lahir membuat dia seakan melupakan semua rasa sakitnya yang terkadang masih datang.


Carissa akan menjadi sosok dewasa yang akan menenangkan Evan saat suaminya itu tiba-tiba merasakan ketidaknyamanan yang berkaitan dengan traumanya. Tapi ada kalanya juga Carissa seakan menjelma menjadi seorang gadis kecil bawel yang banyak maunya. Semua itu begitu dinikmati oleh Evan. Setiap menit kebersamaannya bersama Carissa, terlepas mereka sedang bermesraan ataupun sedang berdebat tentang hal konyol, semuanya menjadi saat-saat paling berharga yang tak akan Evan lewatkan sedikit pun.


Carissa dan calon anak mereka yang kini masih berada dalam kandungan, keduanya benar-benar membuat hidup Evan terasa lengkap.


Tak terasa usia kehamilan Carissa sudah menginjak bulan ke sembilan. Jika tak ada masalah, persalinannya diperkirakan akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Dan Carissa bersikeras untuk melahirkan secara normal.


Layaknya ibu hamil yang sudah hampir melahirkan pada umumnya, Carissa sudah mulai kesulitan tidur dan semakin sering buang air kecil. Setiap malam, seringkali dia terbangun dan tidak bisa tidur kembali. Seperti halnya sekarang.


"Kamu kenapa?" Tanya Evan saat melihat Carissa gelisah. Istrinya itu tampak tak bisa tidur lagi malam ini. Sudah beberapa kali dia mengganti posisi berbaringnya, tapi belum juga merasa nyaman.


"Aku tidak bisa tidur. Kalau aku berbaring, aku jadi kesulitan bernafas. Pinggangku juga rasanya agak sakit." Carissa bangkit dan bersandar di sandaran tempat tidur. Perutnya yang besar memang membuatnya terlihat kesulitan bernafas.


Evan juga bangkit dari posisi berbaringnya.


"Kalau bersandar seperti itu, apa masih sulit bernafas?" Tanya Evan.


Carissa menghirup nafas dalam.


"Begini jauh lebih baik." Jawabnya.


Mendengar hal itu, Evan mengambil beberapa bantal tambahan, dan menyusunnya sedemikian rupa agar bisa menjadi tempat bersandar Carissa.


"Sekarang coba bersandar disini." Ujar Evan.


Carissa menoleh, lalu menuruti kata-kata Evan. Dia bersandar pada bantal-bantal yang Evan susun tadi.


"Bagaimana? Sudah merasa nyaman?" Tanya Evan.


Carissa mengangguk sambil tersenyum.


"Terima kasih..." Gumamnya.


"Sekarang tidurlah, ini sudah malam. Belakangan ini kamu sering sekali kurang tidur." Pinta Evan sambil mengusap kepala Carissa lembut.


"Aku tadi mengantuk, tapi tiba-tiba ingin buang air kecil. Setelah selesai, ngantuknya malah hilang." Ujar Carissa.


"Cobalah untuk tidur lagi." Evan masih mengusap lembut kepala Carissa.

__ADS_1


"Kalau begitu peluk aku." Pinta Carissa dengan nada manja.


Evan tersenyum dan ikut bersandar pada bantal-bantal yang disusunnya tadi. Lalu dibawanya Carissa kedalam pelukannya.


"Nanti kamu tidak bisa tidur kalau aku peluk seperti ini. Bukannya tadi kamu bilang sulit bernafas?"


Carissa menggeleng.


"Begini justru terasa lebih nyaman." Gumamnya.


Evan kembali tersenyum dan mencium kening istrinya itu sekilas.


"Kalau begitu aku akan memelukmu sepanjang malam, tapi kamu harus tidur." Ujar Evan.


Carissa mengangguk dan menyandarkan kepalanya di dada Evan, lalu matanya pun mulai terpejam.


Evan memperhatikan wajah damai Carissa. Tangannya terulur membelai lembut pipi istrinya itu, hingga mata Carissa kembali terbuka.


Tatapan mereka bertemu selama beberapa saat.


"Kenapa?" Tanya Carissa.


"Apa wajahku terlihat aneh? Berat badanku naik drastis belakangan ini, pasti wajahku juga membengkak." Carissa memegangi kedua pipinya.


Evan tersenyum. Lalu menyingkirkan kedua tangan Carissa dan mencium pipi Carissa satu per satu.


"Wajahmu tidak membengkak sama sekali, justru terlihat semakin cantik. Istriku adalah perempuan paling cantik sedunia."


"Bohong!" Carissa langsung membuang muka kearah lain.


"Aku jadi gendut sekarang. Kamu pasti tidak tertarik lagi." Sungut Carissa masih dengan membuang mukanya. Jika sudah begini, malam yang dilewati Evan akan menjadi lebih panjang.


"Bertambah berat badan secara drastis saat hamil itu sangat normal. Itu menandakan ibu dan janin yang dikandung dalam keadaan sehat. Aku justru akan sangat khawatir kalau berat badanmu tidak bertambah, karena itu artinya kamu tidak mendapatkan cukup gizi selama kehamilan." Ujar Evan menenangkan. Semenjak kandungannya berusia diatas tujuh bulan, berat badan Carissa memang agak melonjak naik. Dan itu membuat istri Evan ini cukup sensitif jika menyangkut berat badan.


"Tapi kalau anak kita lahir nanti, aku bisa langsing lagi, kan?" Tanya Carissa.


"Tentu saja." Jawab Evan.


"Banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat tubuh kembali ideal pasca melahirkan. Tidak usah terlalu dipikirkan. Saat ini, yang paling penting adalah kesehatanmu dan calon anak kita. Jika kalian berdua sehat, yang lainnya bisa diusahakan." Evan kembali mencium kening Carissa.

__ADS_1


"Tapi..." Carissa tampak kembali ingin mengatakan sesuatu, tapi seperti tertahan.


"Tapi apa?" Tanya Evan.


Carissa terdiam sejenak sambil menatap Evan.


"Kalau nanti seandainya aku tidak bisa langsing lagi dan jadi gendut selamanya, apa kamu akan mencari perempuan lain yang langsing? Apa kamu akan meninggalkanku?" Tanya Carissa dengan ekspresi ingin menangis.


Evan agak terkasima melihat wajah istrinya saat ini. Antara sedih tapi juga ingin tertawa. Entah darimana Carissa dapat pikiran konyol seperti itu. Mungkin karena anak yang dikandungnya saat ini berjenis kelamin perempuan, dia jadi sering merasa khawatir tanpa alasan. Jiwa melownya seakan bangkit setelah sekian lama bersemayam, sehingga Evan seringkali merasa agak kewalahan dibuatnya.


"Kenapa kamu masih saja terus menanyakan hal seperti itu? Bukankah aku sudah sering mengatakan jika aku tidak peduli dengan berat badanmu? Asalkan kamu sehat dan bahagia, itu sudah cukup. Aku tidak akan pernah melirik perempuan manapun seumur hidupku, karena di mataku kamu adalah perempuan yang paling sempurna. Jadi apalagi yang aku cari?" Evan kembali meraih Carissa ke dalam pelukannya.


"Benarkah?" Lirih Carissa.


Evan tersenyum dan mengangguk. Lalu diusapnya perut Carissa dengan lembut. Bayi yang ada didalam sana langsung merespon mendapat sentuhan dari Papanya. Tiba-tiba dia menendang, hingga perut Carissa terlihat bergerak-gerak.


Carissa agak mendesis menahan ngilu.


"Kenapa, Sayang? Kamu sudah tidak sabar lagi mau bertemu Papa?" Tanya Evan pada calon anaknya itu.


Perut Carissa kembali bergerak. Kali ini pergerakannya lebih kuat dari sebelumnya, hingga Carissa harus kembali menahan ngilu.


"Sabar, ya. Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Mama dan juga Papa. Sekarang baik-baiklah dulu di dalam sana. Jangan nakal, Mamamu sekarang sedang meringis karena kamu bergerak terlalu kuat." Evan mengusap lagi perut Carissa, seakan ingin menenangkan putrinya itu.


Seperti mengerti dengan apa yang Evan katakan, calon anaknya itu berhenti bergerak.


"Sepertinya putri kita agak nakal." Gumam Evan sambil tersenyum.


Tanpa sadar Carissa pun ikut tersenyum.


"Tapi sepertinya dia juga mendengarkan Papanya." Carissa menimpali.


"Sehat selalu didalam sana, Sayang. Mama dan Papa menanti kelahiranmu..."


Bersambung...


Buat yang nanyain Jonathan dan Geraldyn, saat cerita ini tamat, emak akan kasih penyelesaian untuk semuanya seperti dalam cerita Aaron dan Zaya, tapi tentu dengan porsinya tersendiri. Jadi tunggu aja di part2 selanjutnya ya.


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2