
Tentang kenangan mereka, hanya mereka yang pernah merasakannya yang tahu.
Tentang air mata, hanya mereka yang pernah menangisi kepergian dan menyimpannya begitu rapi yang tahu rasa sakitnya.
Tentang kehilangan, mungkin setiap orang pasti pernah merasakan yang namanya kehilangan—Keano
Begitu yang dia ucapkan di dalam hatinya ketika mereka berkumpul di ruang tamu. Keano tahu bahwa ada sesuatu hal yang tak diceritakan oleh papanya sore itu. Tentang kehilangan yang mungkin mengubah perasaan papanya dan juga keegoisan papanya hilang begitu saja oleh rasa itu. Keano sendiri tidak mengerti dengan yang diucapkan oleh papanya tadi. Kehilangan, memang semua orang pernah merasakannya. Tapi, kehilangan apa yang dirasakan oleh papanya, dia tidak pernah tahu itu. Jika mengenai kakaknya, maka semua keluarganya pasti kehilangan sosok Rania, sekalipun tidak pernah dilihatnya itu.
Ketika melihat papanya merangkul sang mama dengan begitu romantis, Keano berpikir bahwa papanya dulu sangat manis. Hingga membuat mamanya bisa jatuh hati begitu saja kepada papanya itu.
“Kita jadi pergi ‘kan Pa?” tanya mama Keano.
Papanya pun merangkul lebih erat lagi. Tidak ragu memperlihatkan bagaimana romantisnya mereka berdua dihadapan Keano. Maupun dihadapan sang nenek. “Keano jagain Nenek!” perintah papanya. Tanpa disuruh pun, Keano akan melakukan itu. Tidak akan pernah meninggalkan neneknya sendirian di rumah. Apalagi dia ingin sekali mendengar cerita mengenai papa dan juga mamanya yang waktu itu pernah begitu dikejar-kejar oleh banyak pria sewaktu muda dulu. Apalagi pria yang akan ditemui kali ini adalah pria dari masa lalu mereka. Yang bisa saja membuat papanya cemburu nanti.
Kedua orang tuanya pun berpamitan pergi dari rumah untuk pergi ke kediaman om Kevin, sesuai dengan yang dikatakan oleh Keano. Pria itu memang mengundang kedua orang tuanya untuk membicarakan sesuatu.
Keano mengeluarkan ponselnya melihat beberapa pesan yang sama sekali tak ada balasan dari Sabina. Sudah beberapa hari memang Sabina cuek kepada dirinya. Keano yang ingin mencari tahu mengenai adik dari iparnya itu. Tapi, dia takut mengganggu gadis itu. Keano memang takut jika menganggu waktu belajar Sabina. Apalagi ketika Devan salah paham waktu itu yang semakin membuatnya takut mendekati gadis itu lagi.
Keano menghela napas panjang dan mengembuskannya sambil bersandar di sandaran sofa. Dia memang merasa sangat bosan. “Keano, jadi mau kuliah ke luar negeri?” tanya neneknya yang setia di sana.
“Ya jadi dong Nek.”
“Kamu belajarnya yang rajin. Nggak usah pacaran dulu. Nenek nggak mau kalau kamu justru pacaran terus,”
“Siapa yang pacaran sih, nenek,”
Keano yang menyingkirkan tangan neneknya diatas paha, dia langsung tidur di sana. keano meraih tangan neneknya dan menaruhnya diatas kepalanya. Keano merasakan betapa keriputnya kulit itu. Satu-satunya nenek yang dia punya kali ini adalah dari papanya. Sementara dari mamanya, dia tidak pernah bertemu sama sekali karena Tuhan lebih dulu memanggil mereka. Keano merasakan begitu kehangatan kasih sayang dari neneknya.
Garis-garis yang ada di pipi, serta lipatan dibawah mata. Dan juga gigi yang sudah mulai ompong. “Keano, sayang terus ya sama Mama dan juga Papa kamu!”
__ADS_1
“Nenek, tanpa nenek suruh pun aku tetap sayang mereka. Nenek juga, nenek harus jadi saksi aku sukses nanti biar bisa bahagiain Nenek,”
“Keano, dengan cara kamu seperti ini saja sudah buat mama dan papa kamu bahagia. Apalagi Nenek, nenek sudah merasakan kamu itu sudah sukses buat nenek bahagia. Kamu juga yang sudah berhasil membuat Nenek salut dengan apa yang kamu lakukan itu. Makanya nenek selalu berpesan sama kamu sekolah dengan baik! Kamu nggak usah pacaran. Jangan bandel kalau dikasih tahu,”
“Iya nenek,”
Keano teringat dengan apa yang terjadi dengan papanya belakangan ini. Jujur saja jika dia bingung dengan papanya yang tiba-tiba saja berubah seperti itu. Apa yang terjadi pada papanya yang masih menjadi pertanyaan bagi Keano. Tidak pernah sekalipun dia melihat papanya bicara lembut juga seperti itu.
“Nenek, Papa kenapa ya?”
Neneknya mengelus kepalanya sedari tadi. “Papa kenapa?”
“Papa aneh aja beberapa hari ini. Terus kan seperti yang nenek lihat, tiba-tiba Papa berubah jadi lebih sopan gitu. Terus, Papa bilang kalau dia nggak bakalan ikut campur lagi ke dalam urusan rumah tangga Kak Adelia,”
“Kalau memang itu yang dia katakan sama kamu. Ya harusnya kamu bersyukur! Itu artinya Papa kamu sudah sadar mengenai apa yang dia lakukan selama ini adalah hal yang salah,”
“Tapi penyebabnya yang buat aku penasaran,”
“Nenek tahu ya? Kenapa nenek bisa langsung berkata seperti itu?” selidik Keano yang ingin tahu tentang papanya. Jujur saja jika dia benar-benar penasaran dengan hal itu. Keano yang tak mengerti dengan sikap papanya yang tiba-tiba saja berubah. Keano tahu jika selama ini papanya memang selalu penasaran dengan rumah tangga kakaknya itu. Tapi, Keano yang lebih terkejut lagi ketika papanya berkata bahwa dia akan berhenti ikut campur mengenai hubungan rumah tangga saudaranya itu.
Keano menarik napas dan mencoba memejamkan matanya. “Nenek jangan bangunin aku ya!”
“Kamu tidur di kamar dong!”
“Nggak mau! Maunya dipangkuan nenek,”
“Kamu tuh manja banget jadi cowok,”
“Nek, nenek tahu sendiri kalau aku bakalan kuliah ke luar negeri nanti. Jadi satu tahun sekali aku bahkan nggak bisa pulang dengan bebas kan. Sekalipun nanti aku pengin pulang, pasti ada aja alasan nggak bisa pulang. Maka dari itu, Papa juga harus ada untuk nenek. Mama juga, ohya nanti juga kan ada kak Devan,”
__ADS_1
“Sekalipun ada dia, tapi nenek bakalan kangen sama kamu,”
“Nenek sayang aku?”
“Pertanyaan kamu konyol tahu nggak? Kamu malah nanyin hal yang nggak seharusnya kamu tanyain, Keano. Dan, kamu harusnya nggak usah nanya hal yang sudah kamu tahu jawabannya,”
Dia justru terkekeh ketika neneknya berkata demikian. Keano ingin bermanja sebelum dia benar-benar pergi nanti ke luar negeri. Dia juga akan pergi ketika urusan kakaknya dan juga orang tuanya selesai. Dia tidak tahu bagaimana reaksi orang tuanya nanti setelah tahu jika Devan anak dari mantan suami mamanya. Keano belum bisa memasitkan bahwa itu akan baik-baik saja sekalipun papanya sudah tidak mau lagi ikut campur ke dalam hubungan suami istri kakaknya itu.
“Nek, mengenai Papa yang sudah berubah. Aku masih ragu kalau papa bisa terima Kak Devan,”
“Pikiran kita sama, Keano. Nenek juga berpikir begitu, tapi ya nenek berdoa aja semoga papa ataupun mama kamu bisa menerima. Tapi kali ini sepertinya yang nggak bisa nerima itu ya Mama kamu. Kalau Papa sepertinya udah mulai nerima dengan perlahan, sekalipun itu sangat terpaksa. Tapi kita nggka pernah tahu isi hati seseorang. Entah papa sudah nerima dengan baik atau bagaimana. Jadi, kita lihat perkembangan yang akan terjadi nantinya. Kita lihat bagaimana papa kamu menanggapi hal ini nantinya,”
“Nek, kadang aku takut kalau kak Adelia dipisahin sama sialan itu,”
“Keano, kamu bilang Devan sialan? kamu berantem?”
“Marah aja nek. Karena beberapa hari terakhir aku emang nggak akur sama dia,”
“Kamu yang cari masalah palingan,”
Keano mengelak, bahwa dia tidak pernah membuat masalah dengan siapa pun. Apalagi dengan kakak iparnya sendiri. Keano tidak mungkin berani menantang Devan. tapi, hanya saja kakaknya itu terlalu sensitive dan tidak bisa diajak kompromi jika itu menyangkut Sabina.
Keano juga tahu mengenai pertengkaran kakaknya mengenai Sabina yang diusir dari rumah dan Adelia membela Sabina waktu itu. Akan tetapi justru Keano yang tidak bisa menahan emosinya karena Devan. Devan juga sudah dipastikan sangat marah kepada kakaknya, dia tahu jika Adelia sangat mudah sekali bersedih jika dimarahi. “Aku ada dendam sama dia, Nek,”
__ADS_1
Selamat pagi, author cuman sedikit berbagi sih. Hehehe, karena nulis itu kan nggak mudah. Jadi bersabar dan juga ide pastinya sangat sulit untuk dicari. Jadi, harap tenang dan bagi yang suka silakan tetap menunggu. Yang nggak suka nggak apa-apa kok tinggalin aja ceritanya daripada komentar yang nggak jelas. Toh ini juga cerita gratis, di platform lain bayar tapi nggak nyakitin kata-katanya. Ikuti aja alurnya, semua akan berakhir indah.