WITH YOU

WITH YOU
Saling Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Carissa menatap Evan yang sedang fokus menyetir, lalu beralih melihat kearah luar mobil. Hari ini Evan libur dan mengajaknya pergi ke suatu tempat, tapi suaminya itu tampaknya sedang berlagak sok misterius hingga tidak mau memberitahu Carissa akan kemana mereka pergi.


Evan tak bergeming saat Carissa membujuknya untuk mengatakan tempat apa yang akan mereka datangi. Dia berdalih jika ini adalah sebuah kejutan, dan Evan juga mengatakan bahwa Carissa pasti akan suka pada kejutan yang di siapkannya.


Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah restoran yang cukup mewah. Tampak beberapa waiters datang menyambut Carissa dan Evan, serta mengarahkan keduanya untuk duduk di meja yang telah di sediakan. Tak ada pengunjung lain di sana selain Evan dan Carissa. Tampaknya Evan telah mereservasi restoran tersebut untuk mereka berdua makan siang. Sungguh sangat berlebihan.


Dengan sedikit menghela nafasnya, Carissa pun duduk di kursi yang di tarik salah satu waiters dengan melihat kearah Evan. Pandangan matanya seolah menyiratkan jika dia sedang meminta penjelasan pada suaminya itu. Tapi Evan terlihat acuh dan tampak santai.


Selanjutnya, hidangan pun datang. Carissa kembali melihat kearah Evan dengan sorot mata yang semakin tajam. Menu yang terhidang saat ini adalah sebuah menu yang memiliki harga fantastis. Setiap kali akan menyantapnya, Carissa selalu merasa berdosa karena harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk sesuatu yang akan berakhir dengan menjadi kotoran.


"Evan, apa ini?" Carissa tak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk tidak bertanya.


Evan hanya tersenyum.


"Makan siang spesial untuk istriku." Jawabnya enteng sembari memegang sendok dan garpu untuk mulai menyantap hidangan di hadapannya.


"Dalam rangka?" Tanya Carissa penasaran.


Evan terdiam sejenak, lalu di letakkannya kembali sendok dan garpu yang tadi telah di pegangnya. Di lihatnya Carissa sesaat dengan raut wajah ragu-ragu. Lalu di periksanya layar ponselnya seakan ingin memastikan sesuatu.


Tak lama kemudian, seorang pelayan kembali datang dengan membawa kue ulang tahun dan meletakkannya juga di atas meja Evan dan Carissa.


Evan tersenyum pada Carissa. Sedangkan Carissa sendiri tampak semakin bingung. Tiba-tiba saja terdengar suara dentingan piano yang memainkan melodi lagu ulang tahun. Evan pun berdiri dan ikut menyanyikan lagu tersebut di hadapan Carissa.


Carissa tertegun. Ia membeku layaknya patung. Di pandangnya Evan dengan ekspresi yang sulit di lukiskan. Tanpa sadar ia menelan salivanya dengan susah payah.


"Memangnya hari ini tanggal berapa?" Tanyanya kemudian.


Evan kembali tersenyum dan memperlihatkan penunjuk waktu di layar ponselnya, dan hal itu membenarkan jika hari ini memang hari ulang tahun Carissa.


Evan mendekati Carissa, lalu menyalakan lilin yang terdapat di atas kue ulang tahun Carissa dengan menggunakan pematik api yang sudah tersedia. Lalu dia kembali menoleh kearah Carissa yang tampak masih terperangah.


"Selamat ulang tahun, Carissa, istriku yang manis." Ujar Evan sembari memeluk Carissa.

__ADS_1


Carissa masih mematung. Ia tak bisa merespon dan kehabisan kata-kata. Perlakuan manis seperti ini, inilah kali pertama Carissa mendapatkannya dari seorang lelaki di hari ulang tahunnya, dan lelaki yang melakukan ini tak lain adalah suaminya sendiri.


Carissa benar-benar merasa terharu di buatnya.


"Ayo, cepat buatlah permohonan dan tiup lilinnya." Ujar Evan lagi sembari mengurai pelukannya.


Carissa melihat kearah Evan sesaat, lalu memejamkan matanya. Entah apa isi permohonan yang ia ucapkan dalam hati, yang jelas Carissa tampak membuat permohonan itu dengan bersungguh-sungguh. Kemudian ia kembali membuka matanya dan meniup lilin yang di nyalakan Evan tadi.


Evan kembali tersenyum. Kali ini dia menyodorkan sebuah pisau kecil pada Carissa untuk memotong kue ulang tahunnya. Carissa menerimanya dan memotong kue tersebut dan menaruh satu potongan kecil di piring kecil yang tersedia.


"Suapan pertama untuk suamiku yang manis ini." Carissa mengarahkan satu potongan kecil kearah mulut Evan langsung dengan menggunakan tangannya.


Evan menerima suapan itu, lalu mengambil satu potongan kecil dan menyuapi Carissa juga. Keduanya akhirnya berakhir dengan menghabiskan makan siang mereka dengan saling menyuapi satu sama lain.


"Ah, iya, aku hampir melupakan sesuatu."


Evan mengeluarkan sebuah kotak beludru persegi panjang, dan memberikannya pada Carissa.


"Hadiah ulang tahun untuk istriku yang manis." Ujarnya dengan nada sedikit menggoda.


"Terima kasih." Lirih Carissa sembari menerima kado tersebut. Hatinya mulai bergemuruh karena menahan tangis.


Dengan tangan sedikit tergetar, Carissa membuka kotak tersebut. Tampak sebuah gelang yang sangat cantik di dalamnya. Bentuk gelang itu sangat indah dan juga unik. Ada hiasan batu mulia berwarna kehijauan dan ornamen bintang yang terukir inisial nama Carissa dan Evan.


Carissa semakin kehilangan kata-kata dan hanya menyentuh gelang tersebut dengan ujung jarinya..


"Sangat indah..." Lirih Carissa tanpa sadar.


Evan tersenyum lagi. Lalu di ambilnya gelang itu dan di kenakannya pada tangan Carissa.


"Sangat cocok kamu kenakan. Tidak sia-sia aku meminta seseorang merancangnya khusus untukmu." Gumam Evan puas.


Mata Carissa semakin berkaca-kaca. Di peluknya Evan dengan perasaan haru.

__ADS_1


"Terima kasih, Evan." Ujarnya dengan suara agak bergetar. Evan pun membalas pelukan Carissa dan mencium keningnya berulang kali.


Makan siang yang sangat mengharukan itu akhirnya selesai juga. Carissa dan Evan kembali ke apartemen mereka setelah sebelumnya Evan sempat membawa Carissa jalan-jalan terlebih dahulu.


Sesampainya mereka di apartemen, Carissa masuk lebih dulu dan menyalakan lampu. Pandangannya tiba-tiba bersirobok pada sesuatu yang terdapat di ruang tengah apartemen mereka.


Carissa membeku dengan mulut yang sedikit terbuka. Sebuah piano merk ternama tampak menghiasi ruangan itu. Piano yang di dominasi warna putih, layaknya pakaian kerja yang biasa Evan pakai.


"Kenapa tidak di coba?" Bisik Evan di telinga Carissa.


Carissa menoleh, lalu dengan senyum yang mengembang sempurna, Carissa pun mendekati piano itu.


Carissa duduk di belakang piano dan mulai menekan tuts demi tuts piano hingga menciptakan sebuah melodi yang sangat indah.


Evan mendekat, lalu menundukkan badannya dan mendekap Carissa dari belakang. Di kecupnya pucuk kepala Carissa berulang kali dengan penuh kasih sayang.


Carissa menghentikan permainan pianonya dan membalik badannya, lalu membalas dekapan Evan sembari balas mengecupi wajah suaminya itu.


"Evan, kalau aku mengatakan saat ini aku sudah jatuh cinta padamu, apa kamu percaya?" Tanya Carissa sambil menatap Evan dalam.


Evan membelai wajah Carissa dan tersenyum.


"Tentu saja aku percaya, karena saat ini aku juga merasakan hal yang sama."


Evan menatap Carissa tak kalah dalam, lalu memagut bibir istrinya itu dengan penuh perasaan.


"Aku mencintaimu, Carissa..."


Bersambung...


Kemarin sulungku demam panas, jadi baru bisa up sekarang. Mudah2an nanti bisa up sekali lagi buat byr hutang yg kmren.


Tetep like, koment dan vote ya

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2