
Di kediaman Raka. Empat hari semenjak mama mertua Fania meninggal, dia tidak lagi ditemani tidur oleh suaminya di kamar. Fania tahu bahwa suaminya sangat kehilangan mamanya. Raka selalu tidur di kamar milik mamanya yang ada di bawah. Raka juga kali ini terlihat menjauh dari semua anggota keluarganya. Bukan karena dia tidak sayang kepada yang lain. Tapi, dia butuh waktu untuk sendiri.
Fania paham dengan kejadian itu, dia juga tidak memaksakan suaminya untuk melakukan hal apa pun juga. Fania tahu bagaimana rasanya kehilangan. Beruntunglah anak-anaknya mengerti dengan kesedihan yang dialami oleh Raka. Jadi, mereka tidak pernah memaksakan apa yang dilakukan oleh Raka. Sekalipun nafsu makan Raka tidak seperti dulu lagi. Kepergian itu psati, maka dari itu Fania sendiri merasakan juga hal yang dirasakan oleh suaminya.
Seperti sore ini, Raka baru saja keluar dari kamar mamanya setelah tidur siang di sana. semuanya pun menjadi canggung untuk menyapa Raka.
“Mama nggak pernah lihat Papa seperti ini?” tanya Keano ketika dia sedang memperhatikan Raka yang bersedih tapi tak menyapa semua orang. Dia hanya bicara sesekali, tanpa bicara banyak hal.
“Nggak pernah. Tapi Mama tahu bagaimana rasanya, Keano. Maka dari itu Mama nyuruh kalian untuk mengerti dengan apa yang dirasakan oleh, Papa. Bukan berarti Mama nggak mau kalian dekat, papa. Tapi lihat keadaan sekarang!”
Aksa dan Argi mengambil alih perusahaan kali ini. Fania juga mempercayai anak tirinya itu. jika dia tidak ingin melihat suaminya bekerja untuk beberapa saat. Sekalipun Raka tidak ke kantor, Fania dan anak-anaknya tidak akan pernah kekurangan untuk makanan. Melihat suaminya yang rapuh kali ini dia bisa merasakan bagaimana kehilangannya Raka.
Keano juga merasa bahwa beberapa hari ini papanya hanya ingin sendiri. Setiap kali di dekati, maka papanya akan meminta waktu untuk sendiri. Dia yang selama ini melihat papanya begitu tangguh justru kali ini terlihat sangat murung. Tidak bisa memaksakan apa yang ingin mereka lakukan untuk memaksa makan misalnya. Papanya akan makan jika benar-benar lapar. Sisanya papanya minta waktu untuk sendiri.
Sedangkan Adelia baru saja pulang dari rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. “Ma, Papa udah makan?”
“Sudah, tapi ya gitu. Papa bakalan sendiri lagi,” jelas Fania.
“Nggak apa-apa. Yang penting Papa mau makan aja sudah bersyukur banget, Ma. Jadi kita nggak perlu maksa papa,”
“Kamu sendiri bagaimana?”
“Disuruh persiapan dan diperkirakan lima hari lagi, Ma,”
“Hmm, semoga lancar sayang. Jadi kamu nggak usah banyak pikiran ya!” kata mamanya.
__ADS_1
Adelia menganggukkan kepalanya, dia kemudian melihat ke arah papanya yang baru saja turun dari lantai dua. “Pa, mau ke mana?”
“Mau ke makam nenek,” kata Raka.
“Aku temenin, Pa,” kata Keano. Dia tidak ingin jika papanya menyetir sambil bengong. Kali ini dia akan menemani papanya. “Pa, aku yang nyetir,”
Papanya tak berkata apa pun. Hanya menyerahkan kunci mobil dan diambil oleh Keano begitu saja.
Fania melihat kedua pria itu pergi meninggalkan rumah. Sedangkan Devan di minta untuk bersiap mengenai persalinan Adelia. Setelah di periksa tadi dokter hanya memperkirakan Adelia untuk melahirkan. Dia juga harus siaga. Jadi karena waktu itu Adelia banyak beban pikiran, ditambah lagi dengan meninggalnya nenek. Adelia pernah jatuh pingsan dan sempat tidak makan juga.
“Devan, kata Keano kamu di dorong sama Papa waktu nenek meninggal?”
“Ya, Ma,”
“Maafin, Papa ya!”
“Mama juga sayang sama dia kok, Devan. bahkan Mama merasa bahwa nenek itu adalah orang tua Mama sendiri,” kata Fania kepada menantunya.
Devan mengedarkan pandangannya ketika tak melihat kakak iparnya yang belum juga pulang. “Ini kakak belum pulang, Ma?”
“Iya, katanya sih sampai malam,”
“Ma, gimana nanti aku bakalan balik kerja. Karena nggak mungkin aku libur terus di kantor. Adelia nggak apa-apa aku tinggal?”
Fania mengajak keduanya duduk di sofa. “Nggak apa-apa. Kamu bisa kerja dengan tenang. Di rumah kan ada Keano dan juga Mama. Sementara Keano berangkat ke luar negeri nanti,”
__ADS_1
“Baik, Ma. Kalau begitu aku bisa kerja besok,”
Devan dan Adelia saling tatap satu sama lain. “Ma, aku sama Adel ke kamar dulu ya. Ada yang mau dibicarakan,”
Mama mertuanya mengangguk.
Devan mengajak Adelia ke kamar. Dokter menjelaskan bahwa dia harus menjadi suami siaga untuk Adelia. Tapi, tugasnya di kantor memang sangat banyak. Devan juga sebenarnya terlalu terkurung di rumah ini karena merasa bahwa mertuanya begitu berduka. Maka dari itu dia kadang merasa canggung untuk pulang ke rumah.
“Adelia, kamu sebentar lagi melahirkan! Perbanyak kegiatan kamu di luar, jangan terlalu di dalam kamar! Takutnya nanti kamu malah sakit perut pas lagi di kamar. Tapi nggak ada orang yang tahu kamu di sini,”
“Iya, sayang. Kamu juga kalau bisa cepat pulangnya nanti ya!”
“Aku usahakan kerja cuman setengah hari, Adelia. Aku juga harus awasi kamu. Nggak mungkin aku tuh minta sama Mama jagain kamu. Saat Mama dan juga yang lainnya sedang berduka,”
Devan juga yang tidak mendapatkan ancaman lagi setelah dibantu oleh Ben mengatasi Bianca. Tidak ada yang bisa lagi menghancurkan hubungan rumah tangganya dengan Adelia. Dia juga merasa terbantu oleh Ben waktu itu. ancaman Ben ternyata mampu membuat Bianca jera dan hingga kali ini tidak pernah lagi mengancam untuk melakukan hal-hal yang membuat Adelia kecewa. Ponsel Bianca juga sudah dihapus semua isinya. Devan juga menyingkirkan semua foto keluarga. Dia juga meminta kepada papanya untuk menghapus foto bersama dengan mamanya di ponsel mamanya. Semua itu berjalan lancar walaupun awalnya begitu banyak rintangan. Kali ini dia dan Adelia akan hidup lebih tenang lagi tanpa ada gangguan. Devan bersyukur ketika papa dan juga adiknya membantu.
“Besok aku kerja, kamu mau dibelikan apa?”
Devan tidak pernah pelit kepada istrinya. Bahkan untuk hadiah waktu itu pun dia benar-benar membelikan Adelia mobil. Di garasi sendiri ada belasan mobil milik keluarga besar ini. Belum lagi mobil milik Aksa dan Argi yang juga diberikan fasilitas mewah oleh mertua Devan.
Dia juga sempat berpikir bahwa mertuanya itu sangatlah baik. Devan tidak pernah menyangka bahwa mertuanya sangatlah baik. Yang awalnya dianggap sangat keras kepala waktu itu ternyata memiliki sisi yang sangat baik. Terbukti juga dari perlakuannya yang selama ini dia dapatkan selama ini. Devan yang selalu diminta menjaga kepercayaan Adelia. Dia juga sempat bercerita mengenai dia yang pergi bersama dengan Bianca waktu itu.
__ADS_1
Papa Adelia memaklumi itu semua dan justru menanyakan bagaimana kabar berikutnya. Devan memang jujur untuk urusan itu. takut jika mertuanya justru salah paham dan juga dia tidak mau kepercayaan Adelia hancur kepada dirinya.