
Ekspresi yang ditunjukkan oleh mama mertuanya tadi membuat Devan mengerti bagaimana sebenarnya perasaan seorang ibu. Ketika dia tahu bahwa mamanya adalah perusak rumah tangga orang. Dia ingin menyalahkan kedua orang tuanya atas kejadian yang menimpa dirinya dan juga istrinya yang sudah membuat dia terpisah dari anak dan juga istrinya.
Devan sadar jika perbuatan itu memang dilarang yaitu ketika dia harus menyalahkan kedua orang tuanya. Apalagi ketika papanya menyadari semua yang dia lakukan. Apalagi ketika papa mertuanya mengantarkan dia ke kamar Adelia. Mendengar nyanyian Adelia membuatnya sadar jika putri kecilnya belum tidur. Adelia belum berbalik karena masih menyusui Arsyila.
Dia langsung berbaring dan memeluk Adelia kemudian mencium istrinya ketika dia sedikit bau alkohol. “Devan,” panggil Adelia dengan begitu girang. Tapi dia belum sempat berbalik karena anaknya yang masih menempel. “Kamu mabuk?”
“Dikit, aku cuman nenangin pikiran,”
“Aku kan sudah sering bilang aku nggak mau kamu mabuk,”
“Aku nggak sampai pingsan ‘kan? Masih ingat jalan pulang,”
Adelia tetap menghindar ketika hendak dicium. “Ya udah aku mandi dulu kalau begitu,”
Perempuan itu tak menanggapi karena masih menyusui anaknya yang baru saja terlelap.
Ketika Adelia hendak bangun untuk menyiapkan pakaian suaminya, justru anaknya bangun dan langsung duduk. “Astaga ini anak nggak mau tidur,” keluh Adelia melihat anaknya yang duduk dan menangis. “Tahu banget Papa pulang ya?” ucap Adelia sambil tersenyum. Dia kemudian membiarkan anaknya diatas ranjang dibatasi dengan bantal. Lagipula anaknya masih belum bisa merangkak. Arsyila hanya bisa duduk.
Begitu Devan selesai mandi, dia sudah menyiapkan pakaian untuk suaminya. “Kok nggak jadi tidur anak Papa?” tanya Devan yang mencium pipi anaknya. Arsyila sedikit menghindar karena belum mengenali Devan.
Devan melepaskan handuknya di sana. “Sayang kebiasaan!” tegur Adelia.
Devan yang melepaskan handuknya sekalipun sudah mengenakan celana. “Nggak apa-apa dong ya, kan sayang?” kata Devan langsung melemparkan dirinya ke atas ranjang dan mencium anaknya. Setelah dia mengenakan baju, Arsyila pelan-pelan mau kepadanya. “Papa kangen,” ucapnya dan mencium pipi Arsyila lagi.
Anak itu hanya tertawa. Kemudian dia memukul hidung Devan. “Pukulan pertama karena Papanya nggak pernah pulang,”
“Besok jalan-jalan mau? Kita pergi bertiga?”
“Pastinya mau dong,” jawab Adelia dengan semangat. Dia kemudian mengendus di depan wajah suaminya.
“Mau ngapain sih bocah?”
“Nyium bau alkohol. Awas kalau kecium lagi,”
“Udah nggak, lihat aja sana obat kumur kamu udah habis kupakai,” canda Devan. karena melihat istrinya begitu menggemaskan, Devan mencium bibir istrinya. “Kangen mamanya juga,” ucapnya yang kemudian dibalas dengan senyuman oleh Adelia.
Mereka bertiga bermain di kamar dan gelak tawa Arsyila membuat Devan sedikit lebih tenang. Sudah enam bulan lamanya dia tidak pernah menggendong anaknya. Jika bisa menangis, sepertinya dia ingin menangis karena tidak tahan lagi dengan perasaan rindunya yang terobati oleh kedua orang yang ada dihadapannya ini.
“Adelia, kapan kita bisa hidup berdua di luar ya?” tanya Devan yang mengungkapkan isi hatinya tentang harapan dia bisa hidup bersama dengan keluarga kecilnya. “Ralat, tapi bertiga. Sekarang ada ini bocah,” canda Devan. mereka selalu mengungkapkan rindu ketika video call. Dia yang baru diperbolehkan bertemu dengan anaknya bisa merasakan cinta itu dengan sangat.
“Aku juga berharapnya gitu. Kak Aksa nikah aja nggak boleh keluar dari rumah ini. Tapi aku bersyukur sih bisa titip anak kita sama istrinya kakak,”
“Hmm, dia sudah isi?”
“Belum, makanya dia sering banget gendong anak kita. Katanya pengin punya anak juga,”
__ADS_1
“Semoga aja ketularan,” ucap Devan yang kemudian menggendong anaknya berusaha untuk menidurkan. “Nanti kasih jatah lagi,” canda Devan. adelia pun mencubit hidung suaminya. “Sakit sayang. Lihat nih kesayangan aku bangun lagi,” kata Devan.
“Nggak sayang sama Mamanya lagi?”
“Banget. Bukan sayang lagi,” ucapnya. “Tahan diri ya! Apa pun yang terjadi nanti aku bakalan perjuangin keluarga kita. Apa pun masalah yang menimpa nantinya, harus tetap sabar sayangku,”
“Iya suami kesayangan,”
“Adelia, jangan mulai deh!” ketika Adelia menggodanya. Tapi inilah kenyataannya, istrinya memang menggemaskan. Apalagi ketika sudah melahirkan justru lebih menggemaskan lagi. Tubuhnya yang sekarang sedikit kurus. “Kamu diet?”
“Enggak, kata Mama itu memang wajar kalau lagi menyusui,”
Saat Devan berusaha menidurkan sang anak. Adelia mengambil selimut kecil anaknya. Devan yang berbalik dan berdiri. “Kamu kenapa ceria banget?”
“Nggak ada sayang. Bentar ya aku ganti bra dulu, basah nih,” ucap Adelia.
“Menyusui Arsyila. tapi papanya belum di susui Adelia,” ucap Devan berbaring di samping anaknya begitu melihat Adelia hendak pergi ke kamar mandi.
“Devan mesum,” Adelia mencubit Devan.
Pria itu justru tertawa melihat tingkah istrinya. Anaknya sudah sebesar ini. Tapi tidak pernah dia temani selama tumbuh. Ia hanya menerima ketika anaknya sudah besar.
Adelia keluar dari kamar mandi. Istrinya memang menjaga penampilan dan mungkin tidak ada yang menyangka jika Adelia sudah menikah dan punya anak. Istrinya memang sangat cantik. “Nggak mau peluk aku? Enam bulan enggak ketemu sayang. Besok aku harus kerja lagi,”
Adelia cemberut dan memeluk Devan ketika pria itu bangun dari tempat tidur. “Kenapa harus sibuk lagi sih?”
“Kamu nggak mau tinggal bareng sama aku?”
“Bukannya aku nggak mau tinggal bareng. Tapi aku kan kerja di luar kota. Baru pulang dua minggu sekali. Jadi aku ke sini nanti dua minggu sekali. Nggak bakalan lama lagi kayak kemarin-kemarin,”
“Janji?”
“Aku nggak mau kasih kamu harapan. Aku nggak mau janji, kalau ada waktu pasti aku pulang. Aku cuman pengin berjuang buat kamu dan juga anak kita,” Devan tidak ingin memberitahu bahwa yang ingin memisahkan itu adalah mama Adelia. Karena dia tahu luka mama mertuanya yang begitu besar. Tidak mau lagi membuat mama mertuanya terluka. Devan juga tidak mau egois. “Nggak pakai kontrasepsi?”
Adelia menggeleng. “Kamu nggak pernah pulang. Jadi buat apa?”
“Nambah lagi nggak apa-apa?”
“Anak kita masih kecil, Devan,”
“Nggak apa-apa. Banyak anak banyak rezeki,”
“Banyak masalah juga yang pasti,”
Devan mencium bibir Adelia. “Nggak boleh bilang begitu. Anak itu bukan pembawa sial ya! Anak itu rezeki Tuhan. Banyak yang menginginkan anak tapi belum dikasih. Kita baru main sekali udah di kasih,”
__ADS_1
“Ingat ya. Bukan aku yang main! Tapi kamu yang main waktu itu!”
“Biarin. Yang penting ada hasil. Itu namanya baru keren. Sekali nyoba langsung jadi,”
“Hehehe, ingat peran istrimu ini juga, Devan!”
“Pastinya. Istrinya juga subur, suaminya juga. Apalagi suaminya baru pertama kali,”
“Emang nggak pernah dulu sama cewek lain?”
“Maaf ya, suamimu ini bukan pria penebar benih. Jadi nggak pernah tuh,”
Adelia terbahak mendengar candaan suaminya. “Kangen kita yang begini sayang,”
“Sabar sayang. Kita bakalan bahagia. Biarkan sekarang ini aku berusaha keras, aku ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu juga merasakan hasil usaha aku. Yang penting anak kita juga bahagia. Apa pun rintangannya, kamu tetap sabar! Aku nggak pernah niat buat nyakitin kamu,”
“Kesayanganku memang luar biasa,”
“Yang penting suami bisa jaga hati di luar sana. selama istri di rumah jagain anak, suami harus setia juga,”
“Jangan khawatir! Tabungan aku belum kesampaian untuk beli rumah. Jadi aku udah ada gambar, jadi aku pelan-pelan bangun rumah,”
“Serius? Kenapa nggak pernah bilang?”
“Karena aku nggak mau kamu pengin cepat-cepat jadi. Soalnya uang aku nggak banyak, aku kerja buat kamu, buat anak kita. Jadi itu sudah cukup? Maka dari itu juga aku nggak bisa kasih yang banyak buat kamu. Setelah beliin kamu mobil waktu itu, aku sempat diskusi sama Papa kamu juga. Aku bilang kalau aku mau nabung dan berusaha buat rumah. Papa kamu setuju dan langsung ngasih aku gambar dan juga rencana biaya pembuatannya. Aku terima karena aku selalu semangat karena kalian berdua. Itu tanpa sepengetahuan kamu. Aku hanya ingin buat kamu nyaman di sisi aku. Tetap temani aku berjuang ya! Aku janji bakalan berusaha buat kamu,”
“Kebanyakan orang bakalan pergi kalau udah sukses ditemani,”
“Nggak semua sayang. Nggak semua kayak gitu,”
“Aku kadang khawatir kamu nggak setia kalau kerja di luar terus,”
“Karena tujuan aku itu adalah kamu dan anak kita, jadi nggak pernah berpikiran melakukan hal aneh, sayang,”
“Tahu juga kan kalau aku sering keluar ketemu teman-teman aku. Mereka selalu bilang kalau kamu punya simpanan,”
“Jangan dengerin! Aku berani sumpah, aku nggak ada perempuan lain. Kamu cek aja hp aku. Aku sudah bilang kalau aku lagi berusaha untuk biayain rumah kita. Biar nanti kita bisa tinggal bareng, kamu nggak tahu aja usaha aku di luar sana. panas-panasan juga, tapi aku tetap kerjakan itu semua demi keluarga kecil kita. Jangan pernah sesali apa yang pernah terjadi, Adelia! Sekalipun kita pernah melakukan dosa ketika kamu hamil di luar nikah. Biarin itu adalah dosa kita, jangan pernah katakan pada orang lain. Karena orang nggak tahu bagaimana si pendosa ini berdoa kepada Tuhan agar diampuni, bukan? Aku selalu berdoa agar anak kita nggak ngerasain hal yang sama, Adelia,”
“Sama. Nggak ada juga orang tua yang mau jika anaknya merasakan hal yang sama Devan nggak mau jika anak-anak mereka melakukan dosa sama seperti orang tuanya.”
__ADS_1