
Sudah dua hari, Fania melihat suaminya pulang malam. Padahal Raka bilang jika dia tidak akan lembur lagi hingga malam hari. Tapi, sekarang justru suaminya sering pulang malam. Bahkan ketika dia menanyakan pada Devan, katanya kantor Raka sudah tutup dari sore. Ke mana Raka pergi?
Merasa ada yang aneh dengan semua itu. raka yang tidak pernah menyembunyikan apa pun sebelumnya kali ini merasa sangat berbeda dari biasanya. Fania merasa ada yang sedang ditutupi oleh Raka.
Sejujurnya kunci dari pernikahan adalah kejujuran. Sisanya adalah kesetiaan.
Ketika itu, jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Ketika Fania keluar dari kamarnya menunggu kepulangan Raka. Dia bertemu dengan Devan yang baru saja keluar dari pintu kamarnya juga. “Kamu mau ke mana, Devan?”
“Papa belum pulang?”
Fania menggigit telunjuknya karena dia takut jika ada terjadi sesuatu pada suaminya. “Belum, Devan. Papa juga nggak bisa dihubungi,”
“Aku sudah coba hubungi orang kantor. Katanya Papa pergi dari siang,”
Ucapan Devan tadi menambah kekhawatirannya. “Terus kamu mau ke mana?”
“Mau cariin Papa, Ma. Ini sudah jam setengah satu. Adelia juga nyuruh aku untuk nyariin dia,”
“Di luar lagi hujan, Devan,”
“Justru itu, Ma. Aku takut kalau mobilnya macet atau bagaimana,”
Devan bersalaman kepada Fania dan hendak pergi setelah dia memberikan izin kepada menantunya untuk mencari keberadaan Raka. Tidak mungkin Raka selingkuh dan kembali pada kebiasaan masa mudanya yaitu bermain perempuan kan? Pikir Fania.
Baru saja Devan turun dari tangga, Raka membuka pintu dan dengan keadaan yang sedikit basah karena percikan air hujan yang tidak bisa dihindari dengan payung yang dibawa Raka.
Fania segera turun untuk menyambut suaminya. “Papa ke mana aja sih?”
Raka terdiam, “Papa mandi dulu ya, Ma,”
Begitu Raka pergi, Fania menepuk pundak Devan. “Terima kasih sudah berniat cari, Papa. Ayo ke kamar untuk istirahat! Besok kamu kan kerja,” kata Fania. Devan mengangguk kemudian mengikutinya dari belakang. Tidak seperti biasanya jika Raka cuek seperti itu. apalagi ketika dia melihat suaminya dengan mata yang sedikit memerah. Jika mabuk, tapi Raka tidak bau alkohol.
“Devan, kamu duluan ya! Mama mau buatin Papa minuman dulu!” kata Fania yang dibalas dengan anggukkan oleh Devan.
__ADS_1
Dia langsung pergi ke dapur untuk membuat jahe hangat untuk suaminya karena terlihat sedikit basah tadi. Jahe hangat untuk menghangatkan tubuh Raka.
Fania membawa jahe hangat ke kamar dan begitu dia membuka pintu. Dia melihat Raka mengeringkan rambutnya.
“Pa, jahenya!”
“Iya, Ma,”
Raka menaruh kembali handuk yang digunakan tadi untuk mengeringkan rambutnya. Kemudian ketika Fania hendak di pinggiran ranjang, Raka memeluknya dari belakang. “Maafin Papa yang nggak pernah jujur mengenai hal ini,”
Fania menelan ludahnya ketika dia mendengar kata itu. apakah Raka benar-benar berselingkuh. “Kamu selingkuh?”
“Nggak, Fania. Aku nggak pernah selingkuhi kamu,”
Raka membalik tubuh Fania dan ketika dia melihat mata suaminya yang memang masih merah. “Kamu nangis?”
Raka menganggukkan kepalanya. “Mulai besok, Aksa dan juga Argi tinggal di sini sama kita,”
Raka menghela napas panjang. Fania sendiri melihat jika Raka sepertinya sangat berhati-hati untuk menjelaskan siapa kedua pria itu. “Maafin aku, Fania. Dua hari belakangan setelah aku dijemput oleh laki-laki itu,”
“Dia siapa?” tanya Fania ragu.
Raka memeluknya kemudian langsung menciumnya berkali-kali. “Dia anak aku, anak aku sama Nabila. Sumpah demi apa pun, Fania. Aku nggak tahu kalau dia itu masih hidup,”
Fania tahu jika suaminya memang masih terbayang mengenai kesalahan jika Nabila bunuh diri dengan bayinya dulu. Tapi, mendengar dia menyebut nama anak bahkan Raka sampai menangis. Fania bisa merasakan sendiri bagaimana kesedihan Raka. “Terus? Nabila masih hidup?”
“Aku sembunyikan ini semua dari kamu. Tapi sumpah, aku nggak pernah niat untuk bohongin kamu. Demi apa pun, Fania. Aku nggak ada niat buat nyakitin kamu. Nabila, dia meninggal setelah melahirkan. Dan mengenai dia yang bunuh diri, itu nggak benar, Fania. dia pergi ke luar kota bersama dengan kakaknya, Nabila sakit,”
“Apa tujuan kamu bawa mereka ke sini?”
Fania merasa jika suaminya berniat membawa kedua anak itu untuk tinggal bersama dengan mereka. Baginya mungkin tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan Adelia dan juga Keano. Fania tahu bagaimana perjalanan pahit Raka. Karena dia pernah bilang kepada Raka jika mencintai itu tidak harus memaksa untuk melupakan yang pernah terjadi. Sama halnya dengan Raka yang tidak pernah memaksa dia melupakan Reza dulu. Maka dari itu, cinta mereka begitu kuat untuk saling menguatkan. Ketika dia tahu jika anak suaminya masih hidup, dia merasakan sendiri kesedihan Raka selama ini.
Ketika Adelia menikah pun, kekhawatiran Raka adalah Adelia dicampakkan seperti dia mencampakkan Nabila dulu. Tapi sayangnya kali ini berbeda, sungguh jika menantu mereka itu sangatlah bertanggungjawab.
__ADS_1
“Mungkin aku bisa terima, Raka. Tapi, bagaimana kalau Adelia dan juga Keano tahu ini semua?”
“Aku bakalan jelasin mereka, apa pun yang terjadi. Dan juga, Papa Nabila baru saja meninggal, Fania. dia yang sudah ngasih tahu aku tentang semua ini, mereka nggak punya apa-apa lagi, semuanya di jual hanya untuk kebutuhan Papa Nabila. Bukan berarti aku mau ingetin kamu sama dia, tapi sumpah. Ini mengenai anak aku, Fania,”
Fania mengerti dan tidak memaksa jika Raka memang ingin tinggal bersama dengan anaknya.
“Aku nggak masalah. Kamu sudah menerima Rania dengan baik, apa alasan aku untuk nggak nerima anak kamu?” ia tahu jika suaminya memang selalu bersedih jika mengingat Adelia hamil di luar nikah. Itulah yang menjadi ketakutan Raka. Jika seandainya Devan pergi meninggalkan Adelia sama seperti yang dilakukan oleh Raka kepada perempuan masa lalu waktu itu.
“Besok pemakaman Papa Nabila. Aku minta izin untuk antar dia terakhir kalinya,”
“Aku ikut,” kata Fania.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Biar aku yang jemput anak kamu juga, Raka. Aku nggak mau kalau kamu sedih lagi hanya karena kamu merasa bahwa diri kamu itu pembunuh, kamu bisa bawa anak kamu ke rumah ini,”
Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka semenjak Adelia lahir mereka memanggil nama lagi satu sama lain.
“Dengan ini, aku terima kamu dan juga anak kamu dalam keadaan apa pun. Masa lalu itu memang menyedihkan. Tapi, aku nggak ada alasan untuk nolak mereka berdua. Jadi, mari rawat mereka! Bersikap adil sama mereka! Selama ini kamu selalu adil kepada Keano dan juga Adelia. Tanggunjawab kamu bertambah, dan juga jangan pernah kecewakan mereka berdua! Dia adalah darah daging kamu,” isak Fania.
“Kamu kenapa nangis?”
Fania menggeleng, “Karena aku terharu kamu bisa ketemu sama anak kamu. Kamu masih bisa peluk dia sekalipun kamu dihantui rasa bersalah selama ini. Tapi kamu masih bisa peluk mereka, Raka. Sedangkan aku? Aku nggak bisa peluk Rania sampai kapan pun, dan yang meluk dia waktu itu adalah kamu. Kamu juga Papa paling baik untuk Rania, kamu yang sudah jaga dia selama ini,”
Andai saja anaknya sama seperti anak Raka yang masih hidup. Sudah dipastikan dia tidak bisa menahan tangisnya lagi seperti yang dilakukan oleh Raka. Tapi, itu semua tidak akan pernah terjadi. Rania sudah pergi utnuk selamanya, Rania tidak akan pernah ada untuk untuk dia peluk.
Jangan lup like dan komen serta vote sebanyak-banyaknya ya. Untuk beberapa hari Author nggak up karena siapin crazy upnya. Selamat menunggu.
__ADS_1