
Cukup lama Evan dan Carissa saling berpelukan dengan erat, sebelum akhirnya Evan merasakan ada sedikit pergerakan dari perut Carissa yang sudah mulai membesar.
"Dia bergerak." Evan langsung bangkit dan memperhatikan perut istrinya itu dengan wajah surprise.
"Iya. Akhir-akhir ini dia sudah mulai sering bergerak." Jawab Carissa sambil ikut duduk dan menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.
Evan terdiam sambil memandangi perut Carissa. Sudah beberapa minggu sejak Carissa meninggalkan rumah. Jika dia tidak salah menghitung, saat ini janin dalam kandungan Carissa telah berusia sekitar lima bulan lebih. Pantas saja jika sudah mulai sering bergerak.
Evan mengulurkan tangannya dan mengusap perut Carissa lembut. Dapat dia rasakan perut Carissa kembali bergerak, meski itu bukan gerakan yang kuat.
Evan tersenyum sembari mengangkat wajahnya untuk melihat Carissa. Dan ternyata istrinya itu juga sedang menatap kearahnya.
"Kata dokter, dia perempuan." Ujar Carissa.
"Perempuan? Benarkah?" Evan menanggapi dengan mata berbinar sambil masih tersenyum.
"Seminggu yang lalu saat aku memeriksakan kandunganku, dokter mengatakan jika kemungkinan besar dia perempuan. " Ujar Carissa lagi.
Evan terdiam beberapa saat. Senyumnya langsung menghilang dari wajahnya, berganti dengan raut sedih. Evan kembali menatap sendu pada Carissa dengan perasaan yang sulit di lukiskan.
"Siapa yang menemanimu pergi ke dokter?" Tanya Evan kemudian.
"Geraldyn, manajerku." Jawab Carissa.
Evan kembali terdiam sambil terus mengusap lembut perut Carissa. Lalu dia mendekatkan wajahnya kearah perut itu dan memberinya sebuah kecupan.
"Maafkan Papa, Sayang. Papa tidak ada di dekat kalian sehingga tidak bisa menemani kalian pergi ke dokter. Tapi sekarangan Papa tidak akan membiarkan kalian jauh dari Papa lagi. Papa akan selalu menemani kalian ke manapun kalian pergi mulai sekarang." Ujar Evan dengan bersungguh-sungguh.
Carissa memandang Evan dengan wajah tak kalah sedih. Dia ingin menanggapi ucapan Evan tadi dengan kata- kata, tapi dia urungkan niatnya itu.
__ADS_1
Evan menarik tangannya dari perut Carissa, kemudian mulai membelai wajah Carissa juga.
"Katamu tadi lelah, tidurlah." Ujar Evan lembut.
Carissa menatap suaminya itu dan menggeleng.
"Aku belum mengantuk." Jawab Carissa.
Evan terdiam lagi beberapa saat sambil terus memandangi wajah Carissa. Tak lama kemudian dia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir Carissa hingga membuat dada Carissa berdesir halus.
"Kalau kamu sudah mengantuk, kamu bisa tidur lebih dulu." Ujar Carissa dengan agak gugup.
Evan tersenyum dan mengecup bibir Carissa sekali lagi. Lalu dia meraih Carissa masuk ke dalam pelukannya.
"Aku juga belum mengantuk." Gumam Evan sembari membelai rambut Carissa lembut.
Carissa membeku dengan dada yang bergemuruh. Dia terdiam beberapa saat di dalam pelukan Evan. Tapi sesaat kemudian kesadaran Carissa seakan kembali. Di balasnya pelukan Evan dengan erat dan di telusupkan kepalanya ke dada suaminya itu. Carissa menghirup aroma tubuh Evan sembari memejamkan matanya. Aroma yang selalu membuatnya merasa tenang dan nyaman. Dia masih tak percaya jika kali ini bisa benar-benar memeluk Evan yang asli, bukan hanya kemejanya saja.
"Hm..." Carissa masih enggan beralih dari dekapan Evan.
Evan mengurai pelukannya hingga mau tidak mau tubuh Carissa merenggang dari tubuh Evan. Carissa menengadahkan wajahnya dan melihat kearah Evan. Pandangan mereka pun kembali terkunci selama beberapa saat.
Evan menangkup wajah Carissa dengan kedua tangannya, lalu perlahan kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Carissa. Detik berikutnya Evan mendaratkan sebuah kecupan di bibir istrinya itu. Tidak hanya sekali, dia melakukannya berulang kali, hingga akhirnya mulai memagut bibir Carissa dengan lembut.
Tanpa sadar Carissa memejamkan matanya. Di kalungkannya kedua tangannya di leher Evan dan mulai membalas apa yang Evan lakukan. Tak berselang lama, keduanya pun hanyut ke dalam ciuman panas yang menggairahkan, sampai salah satu dari mereka melepaskan pertautan itu karena mulai kehabisan nafas.
Nafas Carissa tersengal dengan wajah yang memerah, begitu pula dengan Evan. Tapi tak menunggu lama, mereka kembali mengulangi ciuman panas itu untuk kedua kalinya, bahkan lebih bergairah dari yang pertama tadi. Evan menjelajahi setiap rongga mulut Carissa dengan sangat bersemangat sambil mengusap lembut punggung istrinya itu.
Kali ini mereka seakan tak kehabisan nafas. Keduanya saling menyesap dan membelitkan lidah sambil sesekali mendesah tanpa tanda-tanda akan melepaskan satu sama lain. Tampak kedua orang yang saling merindukan ini sudah sama-sama terbakar gairah dan terus berciuman dengan sangat bersemangat.
__ADS_1
"Evan..." Carissa menggumamkan nama Evan di sela desahannya saat bibir Evan turun menjelajahi lehernya.
Gaun tidur Carissa agak tersingkap hingga Evan tampak semakin tak bisa menahan dirinya lagi. Tangannya turun membelai paha bagian luar istrinya itu sambil terus mencumbunya tanpa ampun.
"Evan, apa tidak masalah kita melakukan ini?" Tanya Carissa dengan sedikit kewarasannya. Meski sudah sangat bergairah, tapi itu tak membuat Carissa lupa jika Evan bisa saja kembali merasakan rasa sakitnya jika berdekatan dengannya, apalagi melakukan hal intim seperti ini.
Evan tak menghentikan cumbuannya.
"Aku merindukanmu, Carissa..." Ujar Evan dengan suara parau. Sangat jelas terlihat jika saat ini dia sudah sangat menginginkan Carissa dan tak bisa menahan hasratnya lagi
Carissa akhirnya mengesampingkan kemungkinan yang akan terjadi nanti dan memilih untuk menikmati cumbuan Evan. Tak bisa dia pungkiri jika saat ini dia juga merindukan Evan dan menginginkan sentuhan suaminya itu. Kali ini dia yang menyambar bibir Evan lebih dulu sembari mengusap lembut dada Evan.
Kemudian masih dengan mencium Evan dengan sangat bergairah, Carissa membuka kancing kemeja Evan satu persatu hingga akhirnya kemeja itu terbuka. Carissa membantu Evan menanggalkannya dan kembali mencumbu suaminya itu.
Evan semakin tak bisa menahan diri. Matanya semakin berkabut dan nafasnya juga semakin memburu. Di tanggalkannya gaun tidur Carissa dan di baringkannya istrinya itu di tempat tidur. Segera di kurungnya tubuh Carissa dengan tubuhnya yang jauh lebih besar, hingga Carissa jadi terlihat semakin tak berdaya.
Untuk beberapa sesaat mata mereka saling menatap. Tangan Carissa terulur merangkum kedua pipi Evan sembari tersenyum tipis.
"Aku juga merindukanmu, suamiku..." Bisik Carissa sembari membelai pipi Evan lembut.
Kata-kata yang keluar dari mulut Carissa seperti sebuah pemicu yang membuat hasrat Evan semakin menguat. Di sambarnya bibir Carissa seakan ingin di lahapnya sampai habis. Carissa mendesah tertahan. Matanya terpejam dan tubuhnya menggeliat menahan nikmatnya cumbuan Evan.
Evan terus menyentuh titik-titik paling sensitif dari tubuh Carissa hingga tanpa sadar mereka sudah tak mengenakan apa-apa lagi. Dan detik berikutnya, keduanya pun larut ke dalam permainan yang telah lama tidak mereka lakukan.
Carissa dan Evan menyatu dengan hasrat yang sama besarnya. Mereka melepas rindu dengan saling menyentuh dan memuaskan satu sama lain.
Bersambung...
Scene yang di tunggu para ibu2 komplek akhirnya emak hadirkan, awas kalo masih nggak ngevote.(Dih, ngancem😅)
__ADS_1
Happy reading❤❤❤