WITH YOU

WITH YOU
Menemani


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Keano sudah mandi sore dan juga menghabiskan waktunya bermalas-malasan di kamar. Tak sempat untuk mengatakan pesan yang telah dikatakan oleh om Kevin tadi. Keano sedang menghabiskan waktunya di kamar sembari berbaring dan melempar anak panah dart kearah papan yang ada di tembok dekat dengan pintu. Keano masih enggan untuk menceritakan banyak hal kepada orang tuanya mengenai hari yang dia lalui hari ini.


Entah kenapa dia merasa hidupnya tidak berguna karena tidak bisa membantu papanya melakukan banyak hal. Ketika dia sedang melempar, tiba-tiba saja papanya masuk ke dalam kamarnya dan memungut anak panah itu dan duduk disamping Keano. Anak laki-laki itu langsung mengubah posisinya yang tadinya tidur kali ini langsung duduk.


Papanya melemparkan anak panah kearah papan dart yang ada di tembok dekat pintu. “Kamu kelihatan bosan ya? Ada apa?” selidik papanya. Sedari tadi dia memang mendengar pintu kamarnya diketuk dengan perlahan. Tapi karena kemalasannya untuk membuka pintu kamar, Keano membiarkan siapapun yang masuk ke dalam kamarnya. Ini semua karena dia benar-benar bosan dengan hidupnya yang merasa tidak berguna semenjak kakaknya menikah. Harusnya dia bisa menjaga kakaknya waktu itu. Dia bisa mengikuti ke manapun kakaknya pergi. Keano merasa sangat payah, apalagi ketika mengetahui kenyataan kakaknya benar-benar pergi.


“Papa nggak suka kamu mulai terpuruk seperti ini,” kata papanya yang waktu itu merebut anak panah kemudian melemparkannya. “Mengenai kakak kamu. Papa nggak bakalan ikut campur lagi,” ucap papanya tiba-tiba.


Pikiran Keano mulai kacau ketika papanya mengatakan hal itu. Bertanya pada dirinya sendiri bahwa papanya tahu mengenai status Devan.


“Maksud Papa?”


“Papa nggak bakalan ikut campur ke dalam rumah tangga kakak kamu. Seperti yang kamu bilang, kalau papa nggak seharusnya ikut campur, kan? Mulai hari ini kamu bisa pegang omongan Papa. Maaf kemarin-kemarin Papa buat kamu khawatir karena hubungan Papa yang nggak baik sama Devan justru buat kamu nggak nyaman,”


Tak ada kebohongan lagi yang di dengar oleh Keano. Dia juga mendengar ucapan papanya dengan nada rendah. Dia tidak pernah mendapati papanya yang bicara dengan nada seperti ini. Keano merasa bahwa dia sedang berada di dalam fase menyemangati dirinya sendiri. Belum lagi karena tugas sekolahnya. Belum lagi masalah keluarganya.


Perasaan bahagianya mengenai kakaknya yang akan hidup bebas dengan suaminya membuat senyum terukir dari bibir Keano ketika itu. Dia tidak menyangka jika papanya akan berkata demikian. Keano sungguh tidak pernah mengira bahwa papanya akan mengatakan hal itu kepada dirinya. Yang dia tahu bahwa beberapa hari ini papanya begitu keras untuk mengikuti ke manapun Adelia pergi dan juga suaminya. Tapi, kali ini ia melihat ada beban pikiran yang tak bisa dibagi oleh papanya. Keano juga merasa bahwa papanya itu sangat bisa dipercaya. Mungkin, waktu itu papanya mengingkari karena dia khawatir dengan Adelia.


“Papa kali ini nggak bakalan bohong lagi?”


Papanya menggeleng, “Keano, papa nggak bisa menyalahkan Adelia dan juga Devan. Kakak kamu hamil, Papa tahu itu. Tapi, papa nggak bisa terus nyalahin mereka berdua, bukan? Papa sadar kalau selama ini Papa egois sama mereka berdua. Papa nggak bisa melakukan hal lebih lagi untuk mengetahui tentang kakak ipar kamu itu. Dan, permintaan dari nenek kamu adalah, kakak kamu tinggal di sini sama kita. Sekalian sama Devan, Papa bolehin kok mereka berdua untuk tinggal di sini,”


Keano mendapatkan kejutan lagi dari papanya yang kali ini membuatnya seolah tidak percaya dengan ucapan papanya. Semenjak dia memergoki papanya sholat dan mengaji, Keano merasa ada sesuatu hal yang dirasakan oleh papanya yang membuat papanya menjadi seperti sekarang ini. Ada banyak hal tentang kehilangan yang membuat seseorang berubah. Barangkali kali ini papanya seperti ini karena kehilangan Adelia. Yang di mana kakaknya itu tinggal di luar bersama dengan suaminya. Biasanya papanya selalu dekat dengan dirinya jika Adelia di rumah. Tapi, ketika ini, justru papanya melakukan hal yang sangat berbanding terbalik dengan kenyataan itu.


“Papa lagi nggak bercanda ‘kan?”


Papanya menggeleng, “Jemput kakak kamu. Papa mau ngomong sama mereka berdua! Papa pengin mereka berdua tinggal di sini. Devan juga bakalan papa masukkan ke kantor papa. Papa nggak mau kalau sampai Adelia hidup menderita di luar karena Devan ninggalin semua yang diberikan oleh orang tuanya demi memilih Adelia,”

__ADS_1


“Pa, kenapa nggak dari dulu aja sih Papa kayak gini?”


“Karena ada hal yang membuat Papa sadar. Kalau semua ini hanyalah sesaat, kakak kamu yang harus Papa jaga. Kakak kamu yang harus papa cintai seperti mama kamu, nenek kamu, dan juga seperti kamu. Papa sayang kalian semua, Papa nggak mau kehilangan lagi dan justru jauh dari kalian semua Keano. Terlebih ketika kamu kehilangan kakak kamu, Papa nggak tahu bagaimana harus nyalahin diri papa sendiri saat itu. Sekarang, justru Papa merasa seperti pengecut yang nggak bisa jagain dia,”


“Pa, Kak Rania itu pergi karena sudah waktunya, bukan?”


Papanya melirik sejenak. “Kamu memang benar. Tapi seharusnya Papa bisa jagain kan. Termasuk dia yang pernah Papa cintai,”


“Siapa, Pa?”


Papanya menggeleng pelan. “Nggak ada Keano. Yang papa maksud itu kakak kamu kok,” papanya berdiri. Keano merasa ada yang disembunyikan oleh papanya. Dia merasa jika ada yang memang tidak dikatakan oleh papanya. Siapa yang di maksud oleh papanya barusan. Barangkali papanya keceplosan menyebutkan orang itu.


“Pa, Papa baik-baik aja?”


Papanya mengangguk, “Papa baik-baik aja kok. Kamu sekarang cari kakak kamu ya!”


“Kevin? Kamu ketemu di mana?”


“Aku ke rumah dia,”


“Kamu kenal dia dari mana, Nak? Kok bisa kebetulan gitu?”


“Dia tinggal di depan rumah Kak Adelia, Pa. jadi aku bisa tahu dia di sana. dia titip salam kalau dia pengin ketemu dan juga ngobrol sama Papa dan juga Mama,”


“Hmm, nanti Papa usahakan ya, Nak. Dia undangnya kapan?”


“Malam ini, Pa. jadi Papa sama Mama harus ke sana dong! Karena udah diundang gitu. Nggak enak kan kalau papa nggak ke sana?”

__ADS_1


Papanya menganggukkan kepala pelan. “Ya udah kamu kirim alamatnya ke ponsel papa! Nanti mama sama Papa pergi ke sana. kamu harus di rumah temani nenek kamu! Takutnya nanti dia kesepian,”


Keano menyunggingkan senyumannya, “Siap Papa,” dia ikut turun bersama dengan papanya menuju ruang keluarga. Neneknya berada di sana bersama dengan mamanya.


“Ma, kata Keano kita diundang ke rumahnya Kevin,”


“Kevin? Kevin siapa?”


“Lho, kok Mama lupa sih? Mama lupa sama Kevin teman kita sekantor dulu?”


Fania terlihat sangat kebingungan meningat nama itu. “Kevin yang mana?”


“Astaga, Ma. Jangan bilang kalau mama lupa sama dia? Kevin yang pernah gendong Mama waktu Mama pingsan dan rela nungguin Mama dulu itu loh,”


Fania menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Daripada kamu kebingungan, lebih baik kamu pergi aja ke rumahnya dia. Siapa tahu kamu kenal nanti setelah bertemu sama dia,” usul mertuanya.


Keano pun tersenyum kearah mamanya yang di mana mamanya sudah lupa dengan pria yang sudah membantunya itu. Bagaimana mungkin mamanya lupa begitu saja. Keano juga yang tidak tahu mengenai pria itu lebih jauh. Dia hanya tahu tentang pria itu dari neneknya secara singkat. Tapi dia pasti penasaran dengan sosok Om Kevin dan juga anak yang tadi berpapasan dengannya ketika dia keluar.


“Keano nggak usah ikut!”


 


 


“Ya, aku nggak ikutan kok,” jawabnya ketika neneknya memerintahkannya untuk tidak ikut. Maka dia akan menemani sang nenek di rumah.


 

__ADS_1


 


__ADS_2