
Carissa bangun lebih pagi dari biasanya dan langsung membersihkan diri di kamar mandi. Setelah berpakaian, dia duduk di meja rias dan memoles wajahnya dengan make up tipis.
Carissa menoleh kearah Evan yang masih tertidur, lalu duduk di pinggiran tempat tidur untuk melihat wajah Evan lebih dekat. Di pandangnya setiap bagian wajah Evan tanpa terkecuali, seakan ingin membingkai paras suaminya itu ke dalam memori otaknya.
Semalam Carissa mendapati Evan kembali merasakan sakit di kepalanya, meski tidak separah tempo hari. Carissa mendengar Evan merintih kesakitan di kamar mandi dengan menahan suaranya sebisa mungkin. Hal itu membuat Carissa semakin yakin pada keputusannya untuk pergi dari kehidupan Evan.
Sebuah keputusan yang sangat sulit dia ambil dan menghancurkan hatinya hingga tak berbentuk lagi.
Setelah cukup lama terdiam sambil memandangi wajah Evan, tangan Carissa akhirnya terulur menyentuh pipi suaminya itu. Di usapnya perlahan wajah Evan hingga sepasang mata yang semula terpejam perlahan menperlihatkan maniknya.
"Sudah pagi, ya?" Tanya Evan dengan suara serak khas bangun tidur.
Carissa tersenyum dan mengangguk.
"Bangun dan mandilah segera. Kalau tidak, kamu akan terlambat pergi ke rumah sakit. Aku akan menyiapkan pakaianmu." Ujar Carissa sembari beranjak dari duduknya. Tapi dengan cepat Evan bangkit dan menahan tangan Carissa hingga Carissa kembali duduk di tempatnya semula.
"Kamu mau kemana? Pagi-pagi sudah rapi dan berdandan cantik seperti ini?" Tanya Evan sembari memeluk Carissa dari belakang.
"Tidak ada. Aku hanya terbangun lebih pagi dari biasanya dan langsung mandi." Kilah Carissa.
"Langsung mandi dan berdandan secantik ini. Sepertinya anak kita nanti perempuan." Guman Evan sambil masih memeluk Carissa.
"Kenapa begitu?" Carissa menoleh kearah Evan.
"Aku pernah dengar kalau ibu hamil suka berdandan dan terlihat lebih cantik dari sebelum dia hamil, berarti anaknya perempuan" Jawab Evan.
Carissa tersenyum.
"Aku tidak menyangka kamu percaya dengan yang seperti itu. Biasa dokter tidak akan mempercayai hal-hal berbau takhayul." Ujar Carissa sembari berbalik menghadap kearah Evan.
Evan ikut tersenyum, lalu mengusap perut Carissa lembut.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak terlalu mempercayainya juga, tapi kalau memang benar, sepertinya bagus juga punya seorang anak perempuan. Dia pasti akan sangat cantik seperti kamu."
Carissa sedikit tertegun. Pandangannya sedikit turun saat mendengar penuturan Evan tadi. Rasa sedih di hatinya kembali menyeruak hingga terasa begitu sesak. Jika dia pergi, mungkin Evan tidak akan bertemu dengan anak yang saat ini di kandungnya. Pertanyaan pun muncul di benak Carissa, apakah Evan akan sedih dalam waktu yang lama jika dirinya pergi nanti?
Carissa benar-benar berharap Evan akan baik-baik saja dan punya kehidupan yang bahagia setelah tidak lagi bersamanya.
Carissa berusaha untuk tersenyum.
"Benar. Jika anak kita perempuan, pasti akan sangat cantik..." Gumam Carissa seakan berkata pada dirinya sendiri.
"Tapi sekarang lebih baik kamu mandi, kalau tidak kamu benar-benar akan telat ke rumah sakit." Carissa berusaha mengalihkan pembicaraan.
Mau tidak mau Evan akhirnya bangkit dari tempat tidur, lalu melangkah enggan ke kamar mandi. Entah kenapa pagi ini rasanya dia sangat malas untuk pergi ke rumah sakit.
Setelah beberapa saat, Evan telah menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Tangannya tampak memegang handuk kecil dan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk tersebut.
Carissa bangkit dan mengambil alih handuk di tangan Evan, lalu membantu Evan mengeringkan rambutnya tanpa mengatakan apapun. Ingatan Carissa langsung terpatri di hari pertama dia menjadi istri Evan. Saat itu dia juga membantu Evan mengeringkan rambutnya sekaligus melakukan beberapa hal konyol yang membuat Evan tak bisa berhenti tertawa.
Tanpa sadar Carissa tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Tampaknya kenangan itu akan sering di ingatnya setelah ini. Kenangan yang terasa begitu indah, namun juga membuat Carissa sangat ingin meneteskan airmata.
Setelah siap, Evan dan Carissa turun ke lantai bawah rumah orang tua Evan untuk sarapan bersama. Kali ini Carissa juga berinisiatif mengenggam jemari Evan hingga mereka bergabung di meja makan.
Suasana sarapan pagi itu agak berbeda karena kehadiran Carissa. Tampaknya dia sudah tidak mual lagi dan menikmati sarapannya tanpa banyak drama.
Evan akhirnya menyelesaikan sarapannya dan pamit pergi ke rumah sakit. Di ciumnya kening Carissa lembut, lalu tangannya juga mengusap pucuk kepala Carissa dengan sayang.
"Aku pergi ke rumah sakit dulu. Kalau tidak terlalu sibuk, aku akan tidur di sini lagi." Ujar Evan pada Carissa.
Carissa tertegun sesaat, sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Hati-hati..." Ujar Carissa dengan suara tertahan.
__ADS_1
Evan mengangguk, lalu di rasakannya Carissa mencium kedua pipinya dan menyibak rambut yang menutupi dahinya. Carissa mencium kening suaminya itu agak lama, kemudian memeluknya erat.
Sonya dan Zacky yang melihat hal itu hanya tersenyum simpul. Tidak pernah sebelumnya Carissa melakukan hal itu di depan mertuanya. Keduanya beranggapan jika Carissa sedang tidak ingin di tinggalkan oleh Evan.
"Aku pergi dulu." Ujar Evan setelah Carissa mengurai pelukannya.
Carissa mengangguk. Di pandanginya kepergian Evan dengan tatapan yang sulit di jabarkan. Setetes airmata jatuh tanpa bisa di cegah ke pipinya, tapi dengan cepat Carissa hapus sebelum ada yang menyadari.
Setelah Evan berangkat ke rumah sakit dan Zacky juga telah pergi ke kantornya. Carissa berpamitan pada Sonya untuk mengambil sesuatu di apartemen, dan Sonya pun mengizinkan tanpa ada pemikiran aneh sedikit pun.
Carissa datang ke apartemen dengan menggunakan taksi. Agak lama dia berdiri di depan pintu apartemen sebelum akhirnya menekan tombol kunci digitalnya dan masuk ke dalam.
Setelah menutup kembali pintu yang terbuka, Carissa melangkah perlahan sambil memandangi setiap sudut apartemen. Teringat kembali olehnya saat pertama kali Evan membawanya ke sini dan mengatakan jika apartemen ini adalah rumah yang akan mereka tempati berdua. Carissa juga teringat saat Evan mengatakan jika Carissa adalah rumahnya dan menjadi tempatnya kembali sejauh apapun dia pergi.
Carissa tersenyum. Di langkahkannya lagi kakinya dan masuk ke dalam kamar yang selama di tempatinya bersama Evan. Kilasan apa saja yang mereka lakukan di kamar itu juga terbayang di ingatan Carissa, layaknya sebuah film yang di putar kembali, membuat bibir Carissa kembali tersenyum bersamaan dengan airmata yang kembali menetes tak tertahankan dari sudut matanya.
Carissa membuka lemari dan mengambil sebuah koper, lalu di masukannya semua pakaiannya ke dalam koper tersebut. Terakhir, Carissa mengambil salah satu kemeja yang sering di gunakan Evan dan di masukkannya juga ke dalam kopernya.
Carissa duduk di pinggiran tempat tidur sambil memandangi setiap sudut kamar dengan tatapan sedih, kemudian dia mengambil selembar kertas dan sebuah pena dari laci meja di salah satu sudut kamar. Carissa pun duduk dan mulai menulis sesuatu di meja tersebut.
Airmata Carissa kembali mengalir saat menuliskan kata demi kata pada kertas yang di ambilnya tadi, hingga akhirnya setelah dia selesai, Carissa benar-benar tergugu sambil menelungkupkan wajahnya di atas meja.
"Aku harap kamu segera menemukan rumah baru dan hidup bahagia, Evan. Aku bukan lagi rumahmu. Aku tidak pantas menjadi tempatmu kembali, karena hanya rasa sakit yang akan kamu dapatkan..." Carissa menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala kesedihannya karena akan pergi meninggalkan seseorang yang sangat di cintanya.
Perlahan Carissa bangkit dan meletakkan kertas yang di tulisnya tadi di atas nakas, lalu menyeret kopernya keluar dari kamar itu, dan terus melangkahkan kakinya hingga keluar dari apartemen. Meninggalkan tempat penuh kenangan dirinya bersama Evan.
Carissa pergi, mengingkari janji yang telah dia ucapkan sebelumnya untuk tidak meninggalkan Evan dalam keadaan apapun.
Bersambung...
Maaf telat beib, satu part lagi ntar.
__ADS_1
tetap like, koment dan vote
Happy reading❤❤❤