
“Sibuk kuliah atau ajak anak orang kabur ninggalin kota?”
Raka yang masih dalam keadaan berdiri sambil mengucapkan kata itu membuat Reza terkejut setengah mati karena apa yang ada di dalam pikirannya itu memang benar. Benar jika Raka sudah pasti tahu mengenai Devan yang merupakan anaknya.
Jam istirahat pun sudah tiba. Reza yang masih dengan suasana dingin di ruangannya bersama dengan Raka. Sedangkan cacing-cacing di perut sudah berisik sedari tadi di dalam perut Reza karena sedari tadi belum di isi. Tapi, justru kenyataan yang pedih yang dia dapatkan dari Raka. Apa yang dikatakan oleh Raka? Apa sebenarnya tujuan Raka datang secara tiba-tiba ke kantornya?
“Devan anak kamu?”
Raka berbalik kemudian memojokkan Reza yang waktu itu langsung duduk lemas ketika Raka berkata demikian. Dia tidak mau menghancurkan anaknya, dia tidak mau jika kebahagiaan anaknya hancur hanya karena dia mengakui anaknya.
“Reza, sekali lagi. Aku sudah tahu mengenai Devan. Jadi jangan pernah kamu sembunyikan lagi mengenai dia! Kamu jangan khawatir, Reza! Aku nggak berniat hancurin kebahagiaan anak aku yang sudah terlanjur memilih anak kamu. Aku nggak mau egois sama dia,”
Reza mendongakan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raka barusan. Dia mendengar dari anaknya sendiri jika dia akan dipisahkan oleh Raka jika nanti Raka tahu mengenai status Devan. tapi, kali ini Raka yang mengatakannya dengan sendiri jika dia tidak akan pernah menghancurkan kebahagiaan anaknya.
Sejenak Reza menghela napasnya panjang. Berusaha untuk mengisi rongga kosong yang ada di dalam dadanya. Reza masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raka barusan. Pasalnya dia sudah meminta Jesse membawa Devan pergi sejauh mungkin dari hadapan Raka. Tapi, kali ini besannya sendiri yang datang jika dia akan menerima semua itu dan tidak mau mencampuri urusan rumah tangga anaknya.
“Yang harus kamu pegang janji kamu, Reza! Yaitu jangan sampai istri kamu ataupun istri aku tahu tentang status Devan. Adelia selalu bilang kalau dia sayang sama Devan,”
Bahkan Reza juga tahu jika anaknya sudah jatuh cinta kepada anak Raka itu. dia tidak pernah membayangkan jika Devan akan memilih untuk meninggalkan semuanya dibandingkan dengan mempertahankan semua miliknya lalu meninggalkan Adelia. Justru anaknya memilih meninggalkan apa yang dia punya demi Adelia. Dan itu tidak bisa dihindari oleh Reza mengenai anaknya yang sudah terlanjur jatuh cinta itu.
Raka juga tahu jika anaknya memang sudah terlanjur untuk jatuh hati kepada Devan. jadi, tidak mungkin dia memisahkan kebahagiaan anaknya. Terlebih lagi ketika dia memikirkan bagaimana nasib cucunya yang dikandung oleh Adelia sekarang ini. Anak perempuan yang harus lahir ditemani oleh papanya. Tidak mau jika jika cucunya nanti tidak ditemani oleh Devan sendiri.
Reza sendiri masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Raka. “Apa maksudnya?”
__ADS_1
“Simpan semuanya sendiri, Reza! Bila perlu anak kamu tinggal sama aku. Itu karena permintaan mama aku untuk Adelia tinggal sama aku. Belum lagi karena neneknya memang mau tinggal bersama dengan Adelia. Dan juga, aku siap menerima amarah Fania nanti kalau dia tahu menantunya itu adalah anak brengsek yang ada di depanku sekarang ini,” kata Raka dengan datarnya.
Reza menatap pria itu yang duduk diujung sofa, “Kamu kenapa bisa yakin seperti itu?”
“Kita sama-sama pernah jadi brengsek bukan? Baik aku maupun kamu, tentang Nabila, tentang Rania. Kita berdua pernah ada salah dan membiarkan orang yang kita sayang pergi untuk selamanya. Aku nggak mau kalau Adelia ngerasain hal yang sama seperti, Nabila. Kamu juga pasti nggak mau kalau Devan ngerasain penyesalan yang sama seperti kamu ketika Rania pergi,” kata Raka untuk mempertegas.
Reza juga sadar jika selama ini dia memang sudah egois kepada Fania yang tidak bisa dia lupakan begitu saja. Apalagi mengenai kesalahannya pada Rania waktu itu. dia memang sering datang ke pemakaman sekalipun Nesya tidak pernah tahu. Akan tetapi, penyesalannya itu tidak akan pernah bisa mengmebalikan apa yang telah pergi. Maka dari itu dia hanya bisa menganggukkan kepalanya ketika Raka berkata demikian.
Reza yang juga mengetahui masa lalu Raka. Raka juga yang tahu tentang masa lalunya. Tidak ada gunanya menyimpan dendam jika itu hanya akan membuat luka lama semakin menganga dan terasa sangat perih. Satu-satunya cara yang kali ini membuat mereka mengerti adalah, masa lalu yang pernah menghampiri mereka berdua itu sangatlah sakit. Hingga kemudian menyisakan luka diantara mereka berdua.
“Aku sadar kalau kesalahan aku mengenai, Rania. Aku juga sadar kalau aku udah nyakitin hati istri kamu. Tapi kalau boleh jujur, apa kamu bisa menerima aku yang bakalan ketemu sama istri kamu? Lalu bagaimana kamu bisa menerima Devan? aku memang yang udah rencanakan kepergian mereka yang meninggalkan kota ini dan nggak tahu kapan mereka akan kembali lagi, Raka. Tapi, aku nggak pernah berniat jahat untuk ngejauhin anak kamu sama kamu. Sama sekali nggak, itu karena Devan pernah bilang kalau dia nggak mau kehilangan istri dan juga anaknya. Aku ngerti gimana sakitnya kehilangan anak, aku ngerti juga bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang,” Reza seolah menahan getir yang berusaha dia tahan.
Sedangkan Raka menunduk dan memperbaiki posisi duduknya lalu duduk dengan santainya di sofa. “Za, iya kita berdua memang pernah kehilangan. Aku bahkan kehilangan tiga cinta sekaligus waktu itu. kamu kehilangan Rania. Aku kehilangan Nabila dan juga kedua anak aku sekaligus. Kita pernah jadi ******** dan dulu tidak pernah berpikir jika kejadian itu akan menimpa kita. Aku belajar dari pengalaman masa lalu,” jelas Raka.
“Aku lindungi Fania karena aku juga tahu kalau dia adalah perempuan satu-satunya yang nggak punya siapa-siapa. Dan dulu, kamu mungkin tergoda karena Nesya selalu datang sama kamu. Aku nggak bisa nyalahin kamu. Karena kita sama laki-laki, jadi tahu selingkuh itu adalah perbuatan yang mungkin saja bisa terjadi,”
“Mungkin maaf aku nggak ada artinya buat istri kamu,”
“Aku nggak tahu. Aku nggak bisa maksa dia maafin kamu. Walaupun sebenarnya aku benci sama kamu. Tapi ketika melihat kebahagiaan Adelia lagi, aku nggak bisa lakukan hal yang banyak untuk misahin mereka berdua. Aku nggak mau kalau mereka sampai pisah. Kamu tahu kalau calon anak mereka itu perempuan? Jenis kelaminnya sama bukan sama Rania? Jadi kita pernah kehilangan perempuan yang pernah kita sayangi yang masih menghantui sampai sekarang ini. Jadi, apa pun yang terjadi antara Devan dan Adelia, aku harap kamu bisa dukung mereka untuk terus bersama. Aku nggak pernah mau lihat air mata menetes begitu saja di mata anakku,”
“Untuk soal itu aku nggak bisa pastikan. Itu terserah Devan,”
“Maka dari itu, aku bakalan ajak dia tinggal di rumah aku. Apa kamu setuju?”
__ADS_1
Reza melirik sekilas. “Kalau demi kebahagiaan mereka, aku nggak apa-apa,”
“Nesya tahu tentang, Adelia?”
“Nggak. Dia nggak tahu. Tapi aku yang bakalan lindungi anak kamu, yang sekarang sudah menjadi anak aku juga. Sekalipun aku nggak pernah bertemu sama dia,”
“Awalnya aku nggak percaya kata orang yang bilang kalau Devan itu anak ******** ini. Tapi, kamu sendiri yang mengakuinya. Dan aku titip Adelia sama kamu jika terjadi apa-apa,”
“Devan sama Adelia kan bakalan ngikut kamu,”
“Tetap saja diluar itu aku nggak bisa jamin. Asal kamu bisa buat Adelia nyaman. Kamu harus terima dia juga! Aku juga bakalan belajar terima brengsek yang sudah menghamili anakku itu,”
Reza tidak keberatan sama sekali dengan ucapan-ucapan Raka. Karena dia memang sadar jika anaknya memang seperti itu. maka dari itu Reza harus bisa menguatkan diri dan juga anaknya nanti jika mereka memang ingin melihat anak-anak mereka bahagia.
__ADS_1
Yang bilang sad ending, tenang aja. Author nggak pernah buat cerita sad ending. Semua ada proses, dikelarin satu persatu dulu. Kalau ada tokoh yang muncul, nanti di ending pasti tahu. JAdi nikmati aja, hehehe. Jangan lupa vote sebanyak-banyaknya