
Mereka bertiga pergi untuk sarapan, Devan meminta izin kepada papa mertuanya untuk mengajak keluarga kecilnya jalan-jalan. Setiba di salah satu mal, Devan yang menggendong anaknya. Karena dia tidak mau satu meja dengan mama mertuanya bukan karena dia tidak ingin bersama. Tapi karena dia begitu canggung dengan mama mertuanya.
“Kamu nggak belanja?” tanyanya begitu istrinya ada di depan tempat belanja. Mereka pun tadi sarapan ketika mereka berangkat. Terpaksa sarapan di luar karena dia malu dengan mama mertuanya sendiri.
“Mau beliin Arsyila baju, boleh?”
“Kamu juga mau beli nggak apa-apa,”
Adelia menyeringai dan mengajak Devan masuk. Dia tidak pernah jalan-jalan seperti dengan kelaurga kecilnya karena terpisah begitu lama. Di saat mereka bertiga sedang memilih baju untuk Arsyila, anak itu justru menarik salah satu baju yang begitu lucu.
“Mau yang ini?” tanya Adelia. Arsyila tak mau melepaskan baju yang ditarik tadi. Kemudian melihat ukurannya dengan menyesuaikan badan anaknya yang sedikit padat berisi. “Anak Mama pintar banget ya milihnya,” kata Adelia yang kemudian memilihkan baju yang dipilih oleh Arsyila tadi.
“Kamu nggak beli Adelia?”
“Maunya beli alat make up,” kata Adelia menyeringai. “Boleh?”
“Sekalian kamu beli baju sayang! Biar Arsyila aku gendong,”
“Kamu nggak beli?”
“Nggak, aku udah banyak baju soalnya. Lagian kan jarang-jarang bisa jalan sama keluarga begini. Sekalian beliin Arsyila kereta biar kamu nggak susah nyuapinnya nanti,”
“Ohya aku lupa mau beliin itu,”
Sementara dia menemani Adelia memilih, Devan menggendong anaknya sambil memberikan susu kepada Arsyila yang telah mereka siapkan tadi dari rumah. “Ini bagus?” tanya istrinya. Pakaian apa pun yang Adelia pakai pasti akan tetap terlihat cantik. Apalagi ketika dia melihat Adelia mengenakan lingeri seperti tadi malam ketika dia meminta istrinya menggunakan itu. adelia juga menurut begitu saja dan membuat Devan begitu senang ketika istrinya mau menuruti apa yang dia katakan.
Tubuh Adelia memang jauh lebih kurus dibandingkan sebelumnya. Dia melihat istrinya itu sangatlah cantik sekalipun Adelia kurus. Jika dulu Adelia gemuk ketika mengandung, tidak dengan saat ini Adelia yang sangat kurus karena menyusui.
“Adelia, kamu makan yang banyak kalau lagi senggang! Aku perlu beliin vitamin juga?”
“Hmm, kamu bilang apa?” tanya Adelia yang sedang memilih baju tadi.
“Nggak ada. Kamu pilih aja dulu!” ucap Devan yang kemudian melihat anaknya tertidur. Baru kali ini dia merasakan begitu nikmatnya menjadi seorang ayah ketika melihat anaknya tidur digendongannya sendiri. Apalagi semalam anaknya juga tidur ketika dia yang menggendong.
Sementara istrinya sibuk memilih baju yang diinginkan. Devan masih menggendong anaknya yang sudah terlelap. “Uh, kasihan anak Mama sampai tidur begini,” kata Adelia.
“Ambil dompet di saku celana aku Adelia! Kamu udah selesai belanjanya?”
__ADS_1
“Hmm, aku beliin kamu kaos juga. Kamu kan sukanya kaos yang nggak ada gambarnya sama sekali,”
“Ya udah. Ayo kita jalan-jalan lagi. Arsyila biar aku yang gendong, kalau kamu ambil nanti dia nangis,”
Adelia tersenyum melihat suaminya yang baru pertama kali menggendong Arsyila seperti ini. “Oke, kamu tunggu sebentar ya!” Adelia kemudian membayar semua yang dia beli tadi. Devan yang melihat istrinya ceria seperti barusan. Dia rasa ini adalah waktunya membahagiakan kedua perempuan yang dia sayangi sekalipun begitu banyak masalah yang harus mereka hadapi. Tapi Devan akan tetap bertahan demi keluarga kecilnya. Tidak mungkin dia menyerah di saat Adelia begitu sabar menunggunya selama enam bulan tidak pernah bertemu. Sekalipun mereka rutin video call. Tapi tetap saja kurang rasanya jika dia tidak bertemu.
Adelia keluar membawa empat kantong belanjaan. Devan melihat istrinya tersenyum dari jarak beberapa langkah darinya. “Sekarang mau ke mana?”
“Mau beli alat kosmetik,”
“Ya udah, sekalian cariin dia kereta juga,”
“Duh anak Mama malah tidur. Padahal jarang-jarang ada waktu sama Papa begini,” kata Adelia. Devan hanya menyunggingkan senyumannya.
“Iya nih, dia malah ninggalin papanya tidur,”
“Nyaman banget kali digendong sama kamu. Makanya tidur begitu,”
“Kadang aku rindu sama Keano tahu,”
“Nggak, dia kuliah di sini. Tapi milih tinggal sendiri. Dia sendiri yang nggak mau,”
“Kok gitu? Aku tanya kan dia bilang kuliah di luar negeri,”
“Dia kuliah di sini kok. Makanya Papa kesal banget sama dia. Waktu dia bilang nggak jadi kuliah di sana dia bilang pengin di sini aja. Keano belajar bisnis juga, dia juga sering ke kantor. Dia kerja di papa. Kadang dia itu yang megang alih, karena kak Aksa sama Kak Argi nggak terbiasa. Kalau dia kan lebih pengalaman,”
“Adik kamu yang satu itu memang beda,”
“Makanya Papa tuh ngandelin dia. Tapi waktu dia nggak jadi kuliah di luar negeri. Papa marahin dia, karena keinginan dia dari dulu. Tapi waktu dia bilang pengin kuliah sambil kerja ya udah, Mama yang belain. Terus kak Aksa juga yang setuju dia kuliah di sini. Tapi herannya tuh anak milih tinggal sendiri gitu,”
“Ngekos?”
“Enggak, dibeliin apartemen sama Papa. Dia tinggal sendirian di sana. dia bilang biar bisa bebas pulang kapan pun dia mau,”
“Yang penting nggak usah nakal gitu. Apalagi misalnya mau mabuk-mabukan,”
“Keano lagi nabung, dia pengin buat rumah,”
__ADS_1
“Ngelangkahin kakaknya tuh anak. Kak Aksa aja belum punya rumah sendiri. Malah dia yang mau buat duluan,”
“Kak Aksa itu gajinya lumayan. Papa juga bisa aja tuh bantu dia bikin rumah. Tapi sayangnya kak Aksa nggak dibolehin keluar dari rumah. Beda halnya dengan Keano, sempat kok kak Aksa protes. Tapi setelah dijelasin kalau Papa itu pengin anaknya tetap di rumah itu,”
“Aku bingung sama Keano. Dia bilang ke aku kalau dia kuliah di luar negeri,”
“Nanti kita buktikan ya, dia masih di sini kok, dia itu nggak mau pulang bukan karena marah atau bagaimana. Tapi dijodohin sama Papa,”
“Sumpah? Papa nekat begitu?”
“Gimana nggak dijodohin, mereka keluar bareng terus. Makanya Papa tuh mau jodohin dia sama anaknya Bu Novi. Masih ingat nggak sama tetangga kita yang dulu datang ke rumah kita waktu kita pindah itu loh. Itu ada anaknya yang seusia Keano. Mereka itu janjian mau ke luar negeri, tapi Papa bilang titip Afi, nama tuh anak Afi. Dan Keano ketahuan keluar sama tuh anak,”
“Adik kamu yang nggak berani sama perempuan itu akhirnya kencan juga ya,”
“Disuruh sama Papa awalnya, sayang. Tapi lama-lama sering kepergok sama Kak Argi. Tapi dia ngeles, eh malah sekarang ngambek beneran dan nggak mau pulang ke rumah karena sering diledekin sama Papa,”
“Memang tuh Papa kamu emang seneng banget bikin anaknya deg-degan gitu,”
“Tapi Papa itu beneran loh mau jodohin Keano sama Afi. Anaknya baik, dia juga pintar masak, sekarang malah satu kampus. Cuman beda fakultas,”
“Emang Keano mau?”
“Jangan remehkan Keano, Devan. ingat sama adik kamu aja dia dekat,”
“Tapi adik kamu PHP, Adelia,”
“Mana bisa sih Keano pacaran sama Sabina. Dia itu masih kecil. Kalau sama Afi baru bisa. Memangnya Sabina pernah cerita sama kamu?” mereka terus berbincang mengenai Keano yang batal kuliah ke luar negeri.
Mereka akan pergi mencari alat kecantikan untuk Adelia. Dia hanya ingin membahagiakan istri dan juga anaknya untuk kali ini. Dia juga akan bicara dengan mama mertuanya mengenai dia yang ingin meminta izin agar tinggal bersama dengna keluarga kecilnya. Adelia yang masih tidak tahu tentang masalah yang sebenarnya. Bukan karena Devan tak ingin memberitahu, tapi dia takut jika masalahnya dengan sang istri semakin rumit dan tidak kunjung selesai.
__ADS_1