
Hari-hari selanjutnya, Carissa berlatih dengan semakin serius. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak larut dalam perasaannya saat jari-jari tangannya menyentuh piano. Dia bertekad untuk bisa kembali menjadi sosok yang memukau seperti dulu.
Tekad Carissa mulai membuahkan hasil. Permainan pianonya kini sudah mulai seperti saat dia masih menjadi seorang pianis dulu. Kepercayaan dirinya menjadi semakin kuat, hingga auranya saat memainkan piano kembali terpancar.
Carissa Nugraha, pianis terbaik yang menerima penghargaan bergengsi dua tahun yang lalu, kini telah kembali. Meski belum sepenuhnya, tapi Geraldyn telah dapat melihat pesona Carissa. Sosok gadis sederhana yang apa adanya, menjelma menjadi seorang dewi saat tengah memainkan piano.
Geraldyn jadi teringat bagaimana dulu dia begitu terpukau melihat permainan piano Carissa. Tanpa sadar dia bertepuk tangan dengan begitu bersemangat begitu Carissa menyelesaikan permainan pianonya.
"Luar biasa. Akhirnya dewi keberuntunganku telah kembali." Ujar Geraldyn sambil mendekati Carissa.
"Lebay." Balas Carissa bangkit dari duduknya dan berjalan kearah sofa. Carissa merebahkan tubuhnya di atas sofa itu, lalu mengusap lembut perutnya. Belakangan ini Carissa sering merasakan gerakan dari dalam sana. Hal itu membuat dia menyadari jika saat ini ada makhluk lain di dalam dirinya yang sebentar lagi hadir ke dunia, hingga semangat Carissa pun bangkit kembali.
Carissa bertekad kembali menjadi pianis terbaik dan punya kehidupan yang bagus demi calon anaknya ini.
"Mau makan apa?" Suara Geraldyn membuyarkan lamunan Carissa.
Carissa mengangkat wajahnya dan melihat kearah Geraldyn yang saat ini telah duduk di hadapannya.
"Akhir-akhir ini kamu perhatian sekali. Jangan bilang kalau kamu jatuh cinta padaku." Seloroh Carissa.
Geraldyn tertawa kecil.
"Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai manajer yang baik. Jangan sampai kamu punya keluhan terhadapku, bisa mati aku di hajar Mr. Edd."
"Sejak kapan Mr. Edd suka menghajar orang?" Tanya Carissa.
Geraldyn kembali tertawa, dan kali ini Carissa juga ikut tertawa.
"Aku serius, Ge, kamu benar-benar perhatian sampai aku jadi sering merasa terharu. Bahkan aku jadi merasa kalau kamu ini Mamaku." Ujar Carissa dengan agak serius.
"Oh, ayolah, aku belum setua itu." Gumam Geraldyn sambil memutar bola matanya jengah.
Carissa kembali tertawa.
"Apa kamu tahu, Ge. Aku benar-benar bersyukur ada kamu di sini. Aku jadi merasa kalau aku tidak sendirian. Rasanya keputusanku untuk kembali bermain piano sudah sangat tepat." Ujar Carissa lagi.
"Benar. Keputusanmu sangatlah tepat, terutama untuk Mr. Edd." Jawab Geraldyn tanpa beban.
Sekali lagi Carissa tertawa renyah mendengar kata-kata Geraldyn. Dia pun bangkit dari posisi berbaringnya, lalu duduk menghadap kearah Geraldyn.
"Ge, malam ini menginap di apartemenku, ya." Pinta Carissa dengan nada serius.
__ADS_1
"No! Malam ini aku ada kencan." Jawab Geraldyn cepat.
"Kencan?" Carissa terlihat surprise, pasalnya selama ini dia tidak pernah melihat Geraldyn berpacaran.
"Yup! Aku ada kencan dengan salah satu Oppa tampanku, aku mau nonton drama terbarunya. Padahal sudah tayang sejak sebulan yang lalu, tapi karena aku sibuk, jadi belum sempat nonton." Ujar Geraldyn dengan sangat bersemangat.
"Astaga..." Carissa mengeleng-gelengkan kepalanya. Untuk sesaat dia merasa senang karena mengira Geraldyn benar-benar sudah punya pacar, tapi ternyata gadis ini masih menggandrungi Oppa-Oppa Korea seperti dulu, sampai menganggap mereka sebagai pacar-pacarnya.
"Aku kira setelah dua tahun lebih kamu ada kemajuan, ternyata masih jalan di tempat. Memangnya kamu tidak berpikir untuk menikah, Ge?" Tanya Carissa.
"Aku akan menikah kalau ada lelaki yang benar-benar kaya datang melamarku, atau salah satu Oppa kesayanganku yang datang melamar. Kalau tidak, aku akan menikah dengan pekerjaanku saja." Jawab Geraldyn dengan enteng.
"Astaga..." Carissa kembali menggeleng-gelengkan kepalanya sekali lagi.
"Sudahlah, tidak perlu mengkhawatirkanku. Selama Mr. Edd menggajiku tepat waktu, aku baik-baik saja. Untuk saat ini aku belum membutuhkan suami. Entahlah, mungkin aku memang tidak perlu punya suami." Ujar Geraldyn lagi.
"Wah...ternyata kami agak tidak waras, Ge." Gumam Carissa pura-pura panik.
"Hahaha...akhirnya kamu sadar juga. Dan butuh waktu yang sangat lama untuk kamu menyadari kalau aku tidak waras. Agak mengecewakan." Geraldyn terbahak-bahak hingga matanya sampai berair.
"Tapi tetap saja, aku berharap kamu bertemu dengan lelaki tepat yang akan menjadi teman hidupmu sampai kamu tua nanti." Ujar Carissa dengan nada serius.
Carissa hanya bisa menggelengkan kepalanya sekali lagi.
"Sudahlah, nanti aku jadi ikut tidak waras kalau terus bicara denganmu. Kita makan siang, yuk. Aku sedang ingin makan iga bakar." Carissa menyudahi pembicaraan anehnya dengan Geraldyn.
"Oke, let's go. Aku yang traktir." Geraldyn langsung bangkit dan meraih tas tas tangannya.
"Hei, dari kemarin-kemarin kamu terus yang traktir. Kamu habis menang lotre, ya?" Tanya Carissa sambil ikut bangkit.
"Tidak. Aku hanya baru dapat Sugar Daddy saja." Jawab Geraldyn tanpa beban.
"Geraldyn! Kamu ini..." Carissa kehabisan kata-kata.
"Hahaha....aku bercanda." Geraldyn kembali tergelak sambil berjalan keluar dari ruangan tempat Carissa berlatih.
"Dasar!" Gerutu Carissa sambil melangkah mengikuti Geraldyn.
Keduanya akhirnya pergi ke tempat makan yang menyediakan masakan yang Carissa ingin makan tadi.
☆☆☆
__ADS_1
Pesta perusahaan yang di adakan oleh salah satu sponsor Carissa akhirnya tiba. Malam itu Carissa tampil dengan sangat cantik dan memukau banyak orang. Permainan pianonya menghipnotis semua tamu undangan yang hadir, lalu riuh tepuk tangan memenuhi tempat itu saat Carissa selesai mempersembahkan sebuah permainan piano yang sangat apik.
Carissa tidak bisa langsung pergi. Dia harus menyapa beberapa orang dulu bersama Mr. Edd, sebagai bagian dari promosi terselubungnya. Meski sangat melelahkan, tapi Carissa cukup bersemangat. Geraldyn yang awalnya khawatir dengan kondisi Carissa, kini bisa menghela nafas lega karena Carissa bisa mengatasi semuanya dengan baik, meski dalam kondisi hamil seperti saat ini.
"Akhirnya aku bisa duduk juga." Gumam Carissa sambil duduk di salah satu kursi yang ada di sudut ruangan. Dia sudah selesai menyapa orang-orang yang perlu di sapa, jadi bisa sedikit beristirahat.
"Mau aku ambilkan Camilan?" Tanya Geraldyn.
Mata Carissa langsung berbinar dengan senyum mencurigakan.
"Ambilkan yang banyak, ya." Pintanya.
Geraldyn terkekeh, lalu mengancungkan jempolnya sebelum akhirnya pergi untuk mengambil makanan untuk Carissa.
"Carissa." Suara Mr. Edd terdengar memanggil. Terlihat bos Carissa itu berjalan menghampiri Carissa yang sedang duduk.
Sontak Carissa langsung berdiri.
"Sponsormu yang mengadakan pesta ini ingin menyapa. Katanya dia teman lamamu." Ujar Mr. Edd.
Carissa tertegun beberapa saat. Dia menerka-nerka, siapakah kiranya orang yang mengaku teman lamanya itu.
"Ayo." Ajak Mr. Edd sambil melangkah pergi dari sana. Mau tidak mau Carissa pun mengikuti Mr. Edd dari belakang.
Tak lama kemudian Mr. Edd menghentikan langkahnya, membuat Carissa juga melakukan hal yang sama.
"Itu dia orangnya." Ujar Mr. Edd sambil menunjuk seorang lelaki yang saat ini sedang berbicara dengan seseorang dengan posisi membelakangi Carissa.
Carissa memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Dan saat lelaki itu membalikkan badan kearahnya, mata Carissa seketika langsung membeliak.
"Jonathan?"
Bersambung...
Buat yang udah baca novel emak yang satunya, Jonathan yg ini beda ama yg onoh yak.
Yg ini Jonathannya dewasa dan setengah bule, kalo yg onoh masih berondong dan mirip Suho😁
Kenapa pake nama yg sama, entahlah, emak suka aja sama nama Jonathan😅
Happy reading❤❤❤
__ADS_1