WITH YOU

WITH YOU
Sempat Ragu


__ADS_3

Ketika mereka telah bersiap sekitar pukul dua dini hari untuk menuju ke hotel tempat di mana mereka akan beristirahat terlebih dahulu. Memang tadi keduangya tidur lebih awal untuk bisa kabur dari anak buah papa Adelia nantinya. Jesse juga sudah menghubungi mereka berdua agar bersiap dan menunggu kedatangan anak itu. Devan memang sudah sepakat akan tinggal di luar negeri bersama dengan Adelia. Begitupun dengan istrinya yang sudah mau menerima risiko apapun yang akan terjadi nanti karena mereka berusaha untuk mempertahankan rumah tangga dengan baik.


Saat itu Adelia terlihat gelisah yang di mana Devan merasa ada yang tidak beres dengan istrinya. Selagi menunggu kedatangan Jesse, dia mendekati istrinya dan memegang kedua tangan istrinya untuk meyakinkan Adelia bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Percaya sama aku, kalau semuanya akan baik-baik saja!" ucap Devan sembari tersenyum dan mengelus pipi istrinya. Begitupun dengan Adelia yang membalas ucapannya dengan anggukkan dan juga senyuman. "Adelia, jangan pernah berpikir aku misahin kamu sama orang tua kamu. Sama sekali aku nggak berniat seperti itu,"


Adelia menggenggam tangan kiri Devan seraya memohon agar suaminya menetap dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya atau salah paham yang sedang disembunyikan oleh Devan. "Aku pengin tetap di sini, Devan. Pengin ketemu sama Mama, pengin ketemu sama Keano, nenek dan juga Papa,"


Devan meluruhkan tangannya, "Kalau kamu mau tetap berada di sini, aku nyerah, Adelia,"


Adelia menggelengkan kepalanya berharap bahwa Devan menjelaskan seberat apa masalah itu agar dia membantu untuk menyelesaikan. Akan tetapi diamnya Devan kadang membuatnya harus menyerah untuk menanyakan hal itu. "Kamu kenapa bilang begitu?"


"Aku memang nggak bisa bertahan kalau memang kamu maunya di sini. Maka kita akan usai, Adelia,"


"Maksud kamu, kita cerai?"


Devan menganggukkan kepalanya. "Itu kemungkinan paling besar, barangkali sembilan puluh persen akan terjadi kalau kita tetap di sini. Kalau kamu maunya di sini, aku nggak bisa maksa kamu untuk ikut sama aku. Itu adalah usaha aku buat kamu dan juga anak kita,"


Devan langsung berdiri dan masuk ke dalam kamar lagi. Adelia tentu saja tidak ingin jika dia harus berpisah dengan suaminya. Sekalipun mereka menikah karena terpaksa, tapi kali ini dia sudah menaruh cinta begitu dalam pada hatinya untuk Devan. Jika dia berpisah, maka dia akan berjuang sendirian untuk melahirkan dan juga membesarkan anak.


Jika beberapa hari yang lalu, dia yang menghindari suaminya. Berbeda dengan kali ini justru Devan yang menghindarinya dan sepertinya memang terlihat menyerah dengan apa yang terjadi pada hubungan mereka berdua. Seharusnya rumah tangga itu dijalani dan juga dipertahankan oleh mereka berdua tanpa ada ikut campur dari orang tua apalagi sampai terjadi perpisahan. Adelia tak ingin berpisah dengan Devan yang sudah dia cintai begitu dalam.


Hari-hari yang ia lewati selama menikah juga terlalu banyak yang indah, sekalipun itu terpaksa. Devan memperlakuka dirinya dengan sangat baik, apalagi pria itu sangat peduli dengan kandungannya, Adelia tak ingin jika hal apapun bisa memisahkan keduanya nanti.


Di ruang tamu yang sederhana, rumah yang sederhana. Sejenak dia mengedarkan pandangannya mengingat betapa banyak kenangan indah di rumah ini sekalipun itu sangat singkat. Tapi, bagi Adelia itu sangat berharga. Sejenak dia merasakan sesak di dadanya. Air mata yang sedari tadi ia tahan menetes juga. Bukan karena dia tidak ingin pergi, tapi dia mengingat kenangan itu terlalu banyak dan akhirnya akan berpindah lagi ke tempat lain. Apalagi Devan mengatakan jika mereka akan tinggal di luar negeri.


Ada banyak hal yang tidak diketahui di dunia ini. Misalnya tentang perasaan orang lain yang tidak tahu kapan dia akan bersedih, kapan dia akan tersenyum bahagia. Tapi kadang banyak yang pura-pura tersenyum untuk menyembunyikan duka yang sedang dirasakan. Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya saat ini. Sungguh, Adelia tak mengerti lagi harus menjabarkan Devan yang seperti apa. Suaminya yang selalu berusaha tegar dan tersenyum menyembunyikan begitu banyak masalah.


Awalnya dia tahu suaminya begitu sukses di usia muda. Sikap dinginnya kadang siap untuk menghempas siapa saja yang mendekati, barangkali dia yang paling beruntung bisa meluluhkan hati seorang pria dingin seperti Devan. Jika dengan orang lain, Devan selalu cuek dan seolah tidak peduli. Akan tetapi ketika berada di rumah. Devan akan menjadi sosok yang begitu hangat dan tempat ternyaman yang bisa dijadikan sandaran oleh Adelia ketika ia sedang bersedih.


Ia masih berada di ruang tamu, membayangkan semua yang akan hilang begitu saja. Apalagi nanti akan tinggal di luar negeri, tempat di mana yang belum pernah dia kunjungi. Devan termasuk pria yang bertanggung jawab. Tapi jika seperti ini, tentu Adelia merasa kasihan terhadap suaminya itu. kenapa sampai bisa terjadi seperti ini? Kenapa juga Devan harus menyembunyikan masalah-masalah itu.

__ADS_1


Ceklek.


Suara pintu terbuka, Devan keluar dengan penampilan yang berbeda. "Devan!" panggil Adelia pelan.


Perlahan dia bangun dari sofa kemudian mendekati Devan yang baru saja keluar dari kamar. Adelia langsung menangkup wajah suaminya, Devan menangis? Pertanyaan itu muncul dibenaknya ketika melihat suaminya yang terlihat sangat berantakan. Selama ini Devan tak pernah bersedih seperti ini. Seperti itukah cinta Devan untuknya hingga dia begitu berarti untuk pria itu.


"Devan, kamu marah?"


Devan menggeleng, "Aku berjuang cuman sampai sini, Adelia. Selanjutnya terserah kamu," suara parau itu membuat Adelia terkejut.


Ia segera memeluk Devan dan menggeleng, menenggelamkan wajahnya pada dada pria itu. Sesekali terdengar helaan napas Devan yang begitu berat. "Aku ikut kamu, Devan,"


"Kamu bukannya mau di sini?"


"Nggak,"


"Aku nggak maksa kamu untuk ikut sama aku. Yang penting aku udah berusaha pertahankan kamu, anak kita dan juga keluarga kecil kita yang di mana aku berharap kalau semuanya akan berjalan baik. Tapi, kamu justru ragu dengan suami kamu sendiri, jadi aku nggak bisa maksa kamu,"


"Kamu mau kembali ke orang tua kamu tanpa aku, kan? Itu alasan kamu mau tetap di sini?"


"Maksud kamu apa, Devan?"


"Kamu berada di sini itu artinya kamu mau pisah sama aku. Jadi, jika itu yang terbaik, aku bisa apa? Aku nggak mau maksa kamu untuk tetap tinggal sama aku. Aku udah pernah bilang sama kamu. Kalau aku mau cukup pertahanin kamu,"


"Devan, jangan ngomong gitu, aku mohon!"


"Kamu mau apa? Aku bakalan turutin,"


Adelia menggelengkan kepalanya. "Aku ikut sama kamu,"


"Jangan hubungi keluarga kamu, matikan ponsel kamu. Karena mereka bisa melacak kita nanti," pinta Devan ketika melihat Adelia berusaha menolak ucapannya yang ingin berpisah. Berat baginya untuk mengatakan hal itu kepada istrinya. Apalagi tadi Adelia sempat membuat hatinya sakit.

__ADS_1


Devan memeluk Adelia dengan erat. "Aku begini karena kamu, tapi kenapa kamu tiba-tiba bikin aku pengin nyerah, Adelia? kamu nggak tahu gimana sakit perasaan aku? Aku udah berusaha nekat untuk pergi dari sini untuk selamatkan ruamh tangga kita. Tapi, kamu bikin aku kesal," Devan meneteskan air matanya.


Adelia menggigit bibir bawahnya dan membalas pelukan suaminya. "Aku janji bakalan tetap berusaha, aku pengin tahu alasannya kenapa kamu begini dan hindari Papa. Apa kamu nggak bisa lawan Papa?"


"Adel, aku bisa saja lawan Papa kamu. Tapi aku nggak punya kekuatan yang lebih besar seperti kekuasaan Papa kamu. Yang artinya kalau ada hal yang buat Papa kamu kecewa, otomatis kita bakalan dipisahin gitu aja, Adel. Aku nggak mau,"


"Devan, kamu nggak bakalan ninggalin aku kan? Aku takut ketika aku pilih kamu. Tapi kamu justru berubah pikiran,"


"Kamu mikirnya terlalu mustahil, Adelia. Aku nggak ada niat, sekalipun nggak ada niat untuk jadikan pernikahan ini main-main. Kamu hamil atau nggaknya, aku bakalan tetap nikahin kamu waktu itu. Karena aku juga lihat sifat kamu, selama kita dekat dan ketemu setiap hari waktu itu, aku yakin kalau kamu bakalan untuk aku,"


Aroma tubuh Devan begitu tercium sempurna saat ini. Adelia akan tetap merindukan aroma tubuh yang selalu membuatnya merasa nyaman seperti sekarang ini.


"Devan, aku berjuang untuk kamu,"


"Nggak Adel. Untuk anak dan juga pernikahan kita, itu adalah alasan utama aku begini. Jadi, jangan buat aku ragu untuk bawa kamu pergi lagi dengan keraguan yang ada di hati kamu, sayang,"


Adelia menyesal telah membuat suaminya menghindar seperti tadi. Sungguh, dia tak akan pernah tega jika dia membuat Devan seperti ini lagi.


"Kamu yang terbaik Adelia,"


"Kamu juga yang terbaik, Devan,"


"Jadi, mari kita berjuang. Kita rawat anak kita, apapun yang terjadi nantinya. Aku harap kamu tetap sama aku, tetap sama keluarga kita,"


"Asal tidak ada orang ketiga, Devan,"


"Nggak ada, aku lebih senang buat kamu tersenyum dibandingkan harus mencari perempuan lain yang dibuat senyum karena tingkah aku,"


"Kamu nggak bakalan selingkuh kan?"


"Adelia, kamu nggak tahu usaha aku beberapa hari ini untuk hindari Bianca yang terus cari aku ke kantor, Om. Dia yang terus meminta untu dinikahi, dia tahu aku punya istri. Tapi dia nggak pernah nyerah buat gangguin aku, dia juga bakalan ke sini dengan alasan nyari Sabina. Karena hal itu yang buat aku nggak nyaman. Maka dari itu, aku ajak kamu pergi. Aku nggak mau buat kamu sakit. Biarlah kita berjuang. Aku punya masalah sama Papa kamu, kamu juga bakalan digangguin sama Bianca. Itulah alasan aku mau ajak kamu pergi."

__ADS_1


Inilah yang disukai oleh Adelia. Bahwa dia begitu mencintai suaminya karena Devan yang selalu jujur. Devan merupakan pria yang selalu berusaha membuatnya nyaman dengan semua kejujuran itu. Sekalipun itu sangat sakit. Tapi Adelia tahu bawa suaminya memang terlalu tampan, hingga tidak mudah bagi dia untuk melewati semua ini. Devan yang sering mendapatkan pesan dari beberapa perempuan. Tapi sama sekali suaminya tidak menyembunyikan itu. Dan sekarang suaminya jujur bawa suaminya dipaksa menikahi Bianca. Tapi dengan hebatnya justru Devan mengajaknya pergi untuk menghindari semua itu.


__ADS_2