WITH YOU

WITH YOU
Mencoba Menerima


__ADS_3

Tiga hari setelah pemakaman Arga, kedua orang tua Evan akhirnya pamit untuk kembali ke Singapura, begitu pun dengan Evan. Dan Carissa sebagai istri Evan tentu saja harus ikut pulang bersama suaminya meski sebenarnya dia masih sangat ingin menemani Alya.


Evan sendiri meskipun terlihat lebih dingin dari sebelumnya, tapi bisa di bilang sikapnya pada keluarga Carissa masih tergolong sopan, terutama saat Evan berbicara pada Alya. Evan masih memakai tata kramanya meski orang-orang di keluarga Nugraha berkaitan erat dengan Arga.


Setelah menempuh penerbangan, Carissa dan Evan akhirnya sampai ke apartemen mereka. Dengan tak mengatakan apapun, Evan langsung merebahkan dirinya keatas tempat tidur, lalu berusaha memejamkan matanya. Sedangkan Carissa terlihat memindahkan pakaian mereka dari koper ke lemari.


Carissa juga langsung pergi menuju dapur untuk memasak. Sudah dekat waktunya makan siang, mungkin tidak lama lagi Evan akan merasa lapar dan keluar kamar untuk makan bersama.


Setelah selesai, Carissa menata hasil masakannya di meja makan, lalu pergi ke kamarnya untuk memanggil Evan.


"Evan, makan siang dulu baru beristirahat. Aku sudah memasak makanan untuk kita." Panggil Carissa.


Evan membuka matanya dan bangkit dengan enggan. Di langkahkan kakinya menuju ruang makan, lalu dia duduk si salah satu kursi meja makan masih dengan tidak berkata-kata.


Evan memakan makanannya dalam diam. Carissa juga tampak lebih banyak menundukkan pandangannya. Keduanya menyantap makan siang mereka dengan suasana hening.


Setelah selesai, Evan langsung beranjak dari meja makan dan berlalu menuju kamar lagi. Tak ada pemandangan mereka saling berbagi tugas seperti biasanya. Carissa sendiri masih tercenung di meja makan tanpa tanda-tanda akan bangkit dari sana.


Selang beberapa waktu, Carissa memaksakan dirinya untuk beranjak. Lalu setelah membereskan bekas makannya dengan Evan, akhirnya Carissa juga kembali ke kamar. Di lihatnya Evan sedang membereskan pakaian dan barang-barang keperluannya sehari-hari, seperti akan di pindahkan ke suatu tempat.


"Mulai hari ini aku akan tidur di kamar tamu." Ujarnya saat melihat Carissa yang mematung di ambang pintu.


Carissa masih terdiam. Di pandangnya Evan dengan tatapan sedih. Dia sungguh ingin melarang Evan, tapi entah kenapa Carissa merasa tidak pantas mengatakannya. Yang bisa di lakukannya hanyalah menyingkir dan memberi Evan jalan saat Evan akan melalui pintu kamar.

__ADS_1


Evan berhenti sejenak, lalu menoleh kearah Carissa.


"Mulai hari ini kamu juga tidak perlu memasak lagi. Aku bisa memasak sendiri apa yang mau aku makan." Ujar Evan lagi. Lalu dia kembali meneruskan langkahnya.


Carissa terdiam mematung di tempatnya. Seperti ada yang menusuk tepat di jantungnya, hingga membuat dadanya terasa begitu sakit. Tapi Carissa bertekad untuk tidak meneteskan airmata. Dia tidak boleh cengeng. Jika ingin memenangkan hati Evan lagi, dia harus kuat dan bersabar.


Saat ini Evan butuh ruang untuk menata hatinya yang terlanjur hancur karena perbuatan Papa Carissa, tentu Carissa harus memahami situasinya. Carissa memutuskan untuk tidak mengganggu Evan sementara ini. Dia berusaha untuk menerima bagaimana pun sikap Evan padanya.


☆☆☆


Sudah hampir tiga minggu Evan dan Carissa hidup seperti berada dalam dimensi yang berbeda. Meski satu atap, keduanya tampak tak saling bersinggungan. Evan melakukan aktivitasnya seperti biasa. Dia bangun di pagi hari dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit, tapi tanpa berinteraksi dengan Carissa.


Seperti yang di minta Evan, Carissa tak memasakkan makanan untuknya. Terkadang Evan membuat sarapannya sendiri, tapi jika sedang tak sempat, Evan akan pergi tanpa sarapan terlebih dahulu. Pernah Carissa mencoba memasak makanan dan menyajikannya untuk Evan, tapi Evan tidak memakannya dengan alasan masih kenyang.


Evan pun tergelitik untuk mencari tahu. Dia segera beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar yang di tempati Carissa. Evan memutar knop pintu, dan ternyata pintunya tidak terkunci.


Langsung saja Evan masuk dan tak mendapati Carissa di tempat tidur. Lalu dengan agak panik Evan melangkah kearah kamar mandi dan berusaha membuka pintunya, tapi ternyata pintunya terkunci.


"Carissa, sedang apa kamu di dalam?" Tanya Evan sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Tak ada jawaban dari arah dalam kamar mandi. Tidak juga terdengar suara apapun dari dalam sana, menandakan tak ada aktivitas apapun yang di lakukan oleh Carissa.


Evan terus mengetuk pintu kamar mandi, bahkan menggedornya dengan kasar, tapi tetap tak ada jawaban, hingga membuat Evan terpaksa mendobrak pintu kamar mandi. Dan tampaklah Carissa tergeletak di lantai kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobe.


Evan langsung membopong tubuh Carissa dan membaringkannya ke atas tempat tidur. Wajah Carissa terlihat sangat pucat. Evan segera memeriksa denyut nadi Carissa, dan seketika matanya melebar. Evan tampak berpikir sebelum kemudian memeriksanya sekali lagi.

__ADS_1


Merasa kurang yakin, Evan beranjak mengambil stetoskopnya dan memeriksa detak jantung Carissa juga. Evan tertegun dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Denyut nadi dan detak jantung Carissa lebih cepat dari kondisi normal, dan biasanya bila hal ini terjadi pada seorang perempuan, besar kemungkinan jika perempuan itu sedang mengandung.


Evan menatap Carissa yang sedang terpejam dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Pikirannya tiba-tiba berkecamuk dengan berbagai emosi bercampur menjadi satu. Hatinya jadi bertanya-tanya, benarkah jika istrinya saat ini sedang hamil?


Perlahan Carissa menggeliat dan membuka matanya. Tampak dia agak terkejut saat mendapati Evan sedang duduk di pinggiran tempat tidur sambil menghadap kearahnya. Evan juga memandangnya dengan tatapan yang membuatnya sedikit salah tingkah.


"Apa bulan ini kamu terlambat datang bulan?" Tanya Evan tiba-tiba.


Carissa yang terkejut langsung mengangkat wajahnya dan melihat kearah Evan dengan agak bingung.


"Memangnya ini tanggal berapa?" Bukannya menjawab pertanyaan Evan, Carissa justru balik bertanya.


Melihat Evan yang tak langsung menjawab, Carissa langsung bangkit dari posisi berbaringnya dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Carissa melihat penunjuk waktu dan terdiam beberapa saat.


"A-aku...sepertinya memang belum mendapatkan haid bulan ini..." Lirih Carissa dengan agak menunduk. Dia sedikit cemas karena mengira ada yang tidak beres lagi dengan rahimnya.


"Bersiaplah, kita kerumah sakit sekarang." Ujar Evan dengan nada tak ingin di bantah.


Bersambung...


Tetap like, koment dan vote


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2