WITH YOU

WITH YOU
Yang Disebut Rumah


__ADS_3

Evan menoleh saat Carissa sudah ada di dekatnya. Terlihat dia sedikit terkejut melihat kehadiran istrinya itu di rumah sakit.


"Sudah makan siang?" Tanya Carissa.


Evan menggeleng.


"Aku baru mau makan bersama Dokter Rino di kantin." Jawab Evan sambil menunjuk rekan dokter di sebelahnya.


Carissa menoleh kearah dokter lelaki di sebelah Evan. Ia tampak agak tidak enak karena datang saat Evan akan pergi dengan seseorang.


"Aku membawakanmu makan siang." Ujarnya pelan.


Evan memandang istrinya itu sambil menahan senyum. Meski dalam hati dia bertanya-tanya ada angin apa tiba-tiba Carissa datang dengan membawakan makan siang untuknya, tapi di sisi lain Evan merasa senang melihat istrinya datang.


"Sepertinya istri Anda yang akan menemani Anda makan siang, Direktur. Kalau begitu saya duluan ke kantin." Dokter Rino yang di maksud pamit dengan sopan, kemudian berlalu meninggalkan Evan dan Carissa.


Kini tinggalah Carissa dan Evan yang masih betah berdiri di koridor rumah sakit sambil saling memandang.


"Ayo, ke ruanganku." Ajak Evan sambil mengambil alih food bag yang tengah di jinjing Carissa, kemudian mengengam jemari istrinya itu.


Carissa menurut dan mengikuti langkah Evan sambil melihat ke arah jemari mereka yang saling bertautan. Lalu pandangan Carissa terangkat melihat wajah suaminya itu. Senyum Carissa mengembang. Entah kenapa rasanya seperti ada ribuan bunga yang bermekaran di hatinya. Ia seperti seorang gadis remaja yang sedang melihat pemuda pujaanya.


Setelah menggunakan lift dan naik beberapa lantai, mereka pun akhirnya sampai ke ruang kerja Evan.


Langsung saja Evan meletakkan food bag yang dia bawa ke atas meja sofa yang ada di ruang kerjanya. Lalu berlalu ke wastafel untuk mencuci tangan.


Carissa tampak memperhatikan ruang kerja Evan. Setelah insiden memalukan yang tempo hari terjadi antara dirinya dan Evan hingga mengakibatkan mereka di desak untuk menikah, ini adalah kali pertama Carissa kembali masuk ke dalam ruang kerja Evan lagi.


Jika mengingat apa yang terjadi waktu itu, ingin rasanya Carissa tertawa karenanya. Sungguh sangat konyol meminta Evan memeriksa jantungnya yang berdetak kencang, di saat Evan sendirilah yang menyebabkan hal itu terjadi. Kini Carissa menyadari semuanya. Semua debaran aneh yang dia rasakan tak lain karena ia jatuh cinta pada suaminya itu.


Rasa yang begitu mudahnya datang pada Carissa meski belum lama mengenal Evan.


"Kamu tidak mencuci tanganmu dulu?"

__ADS_1


Tiba-tiba suara Evan membuyarkan lamunan Carissa.


"Ah, iya." Carissa menjawab sambil berlalu menuju wastafel dan mencuci tangannya juga. Setelah itu dia ikut duduk di sofa, bersebelahan dengan Evan. Suaminya itu telah membuka food bag yang di bawa Carissa tadi dan menatanya di atas meja saat Carissa mencuci tangannya.


Terlihat beberapa menu makan siang terhidang di hadapan mereka.


"Sebagian aku sendiri yang memasak." Ujar Carissa dengan sedikit malu.


"Benarkah? Yang mana?" Tanya Evan antusias.


"Yang ini, dan yang ini juga." Carissa menunjuk ikan goreng tepung yang di siram saus asam manis, juga irisan daging yang di tumis dengan buncis dan paprika.


Evan langsung mencoba menu yang Carissa tunjuk tadi.


"Enak." Gumamnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Masa?" Carissa tampak tidak percaya. Di ambilnya juga sendok yang satunya lagi. Lalu dengan sangat penasaran Carissa mencoba masakannya itu sekali lagi.


"Biasa saja. Masih jauh dari masakan Mama." Guman Carissa pelan. Sebenarnya saat di rumah tadi sudah berulang kali dia nencicipi masakannya itu, dan menurutnya hasilnya masih jauh dari kata sempurna, walau pun tentu masih layak di makan. Tapi melihat ekspresi Evan memakannya tadi membuatnya tergelitik mencoba sekali lagi, meski dia sendiri sudah tahu rasanya seperti apa.


Carissa tersenyum dan memandang kearah suaminya itu dengan perasaan yang tak bisa di lukiskan. Hatinya menghangat. Ia sungguh terharu mendengar pujian sederhana itu. Rasanya bahkan lebih membahagiakan di bandingkan saat dia mendapatkan penghargaan dua tahun yang lalu.


"Memangnya kamu akan kenyang hanya dengan melihatku seperti itu?"


Pertanyaan Evan kembali membuyarkan lamunan Carissa, membuatnya kembali tersadar dan melanjutkan makan siangnya dengan menahan senyum.


Ah, entah sudah berapa banyak bunga yang berterbangan di hatinya saat ini. Hanya Tuhan saja yang tahu.


Setelah makan siang, Evan meminta Carissa untuk tidak segera pulang dan menunggunya hingga sore. Tampaknya suami Carissa itu mau mengajaknya pergi ke suatu tempat sepulang dari rumah sakit nanti.


Dan benar saja, Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Evan tidak langsung membawa Carissa pulang, melainkan melajukan mobilnya ke arah pusat kota. Dalam perjalanan Evan bahkan menelfon Sonya dan mengatakan jika mereka tidak akan makan malam di rumah.


Carissa merasa penasaran, tapi Evan tak mau mengatakan kemana mereka akan pergi. Akhirnya Carissa hanya bisa pasrah dan menunggu mereka tiba di tempat tujuan.

__ADS_1


Mereka berhenti di sebuah gedung apartemen yang cukup mewah.


Evan langsung menbawa Carissa menaiki lift, hingga mereka sampai di sebuah lantai tempat apartemen Evan berada. Evan langsung menekan tombol kunci digital apartemennya, dan pintunya pun otimatis terbuka.


"Passwoardnya tanggal pernikahan kita." Ujar Evan sambil menggandeng Carissa masuk ke dalam dan menutup pintunya kembali.


Carissa tertegun. Bukan karena melihat desain interior apartemen mereka, melainkan karena mendengarkan kalimat yang di ucapkan Evan tadi. Sekali lagi Evan membuat hatinya seperti di taburi ribuan kelopak bunga.


"Ini apartemenmu?" Tanya Carissa.


"Apartemen kita. Setelah ini kita berdua akan tinggal di sini. Sepertinya sudah cukup lama kita tinggal bersama Mama dan Papa." Jawab Evan sambil kembali meraih tangan Carissa dan menuntunnya mengelilingi apartemen tersebut.


Carissa tersenyum. Ia tidak mempedulikan seperti apa aparteman yang akan mereka tinggali, matanya hanya fokus memperhatikan Evan saja. Kemudian tanpa sadar Carissa memeluk suaminya itu dari belakang. Menyandarkan kepalanya pada punggung Evan yang kokoh.


Evan ikut tersenyum dan mengusap lembut punggung tangan Carissa yang melingkar di dadanya.


"Carissa, ini adalah rumah kita. Setelah ini, di sinilah kita akan tinggal dan menjalani hari bersama-sama. Kamu tidak keberatan, kan?" Tanya Evan.


Carissa menggeleng sambil masih memeluk Evan erat.


"Selama kita bisa bersama, di mana pun kita tinggal tidak jadi masalah."


Evan kembali tersenyum mendengar jawaban Carissa.


"Apa kamu tahu apa arti dari kata rumah? Rumah adalah tempat di mana kita akan selalu kembali. Tidak peduli sejauh apa kita pergi, kita akan selalu pulang ke tempat yang di sebut rumah." Evan berbalik dan merangkum wajah Carissa.


"Dan mulai saat ini, kamu adalah rumahku, Carissa. Tidak peduli sejauh mana aku melangkah, kamu tetap menjadi tempatku untuk pulang."


Bersambung...


Emak lagi perang batin, antara segera ngasih konflik atau menunda😣


Tetep like, koment dan vote

__ADS_1


Happy readingā¤ā¤ā¤


__ADS_2