WITH YOU

WITH YOU
Mulai Mencari Tahu


__ADS_3

Carissa meletakkan menu sarapan yang di antarkan pelayan tadi di kamarnya. Ada dua buah roti panggang bersama dua gelas susu dan juga buah-buahan segar yang telah di potong-potong.


Selama berada di rumah mertuanya, Carissa memang tidak pernah turun untuk makan di meja makan. Sonya sendiri yang memintanya agar dia makan di kamar saja. Hal itu tentu karena penciuman Carissa yang masih cukup sensitif sehingga masih bereaksi jika mencium aroma yang agak tajam. Sonya takut banyak aroma masakan yang tercium dari dapur justru membuat perut Carissa merasa mual dan jadi tak berselera untuk makan.


Alhasil, Sonya akan menyuruh pelayan di rumahnya mengantarkan makanan ke kamar yang di tempati Carissa. Bahkan terkadang, Sonya sendiri yang akan membawakan makanan untuk menantunya itu. Sonya benar-benar memperlakukan Carissa dengan penuh perhatian sehingga Carissa seringkali tersentuh di buatnya.


Tak lama kemudian, Evan yang telah selesai mandi dan berpakaian rapi, duduk di pinggiran tempat tidur, di samping Carissa duduk. Semalam suami Carissa itu akhirnya datang untuk bermalam bersama Carissa setelah malam-malam sebelumnya dia tidur sendirian di apartemen. Entah pekerjaan apa yang di bawanya dari rumah sakit hingga dia menjadi sangat sibuk. Carissa sangat ingin bertanya, tapi tak punya keberanian untuk menanyakan hal itu pada Evan.


Entah kenapa, Carissa yang selama ini selalu bebas mengekspresikan dirinya, sekarang sangat sungkan untuk sekedar mengatakan apa yang sedang dia rasakan. Carissa takut jika ternyata saat ini semuanya sedang tidak baik-baik saja dan kata-katanya tanpa sadar akan memperburuk keadaan. Dan tak ada yang bisa di lakukannya selain diam serta menahan diri.


Carissa berusaha untuk meredam rasa rindunya pada Evan, dan dia juga menahan diri sebisa mungkin agar tak bersikap terlalu berlebihan saat Evan datang. Carissa harus berpuas diri melepas kerinduan pada suaminya itu hanya dengan memandangnya secara diam-diam.


"Mama sudah menyiapkan sarapanmu di sini." Ujar Carissa sambil meraih nampan berisi menu sarapan mereka yang tadi dia letakkan di atas nakas.


Evan tak menjawab dan hanya melirik nampan itu sekilas.


"Aku akan sarapan di bawah saja. Sudah lama aku tidak makan bersama Mama dan Papa." Ujar Evan kemudian.


Carissa tertegun mendengar kata-kata Evan barusan. Setelah beberapa hari bertemu dengannya hanya sekilas saja, Evan malah menolak sarapan bersamanya. Apakah suaminya itu sama sekali tidak merindukan dirinya? Apakah hanya Carissa saja yang sangat ingin menghabiskan waktu bersama Evan di sini, sedangkan Evan justru sebaliknya?


"Ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengan Papa pagi ini, mengenai rumah sakit. Kamu tidak apa-apa, kan, sarapan sendirian dulu?" Tanya Evan pada Carissa. Pertanyaan yang lebih terdengar seperti kalimat basa-basi di telinga Carissa.


Carissa berusaha tersenyum dan mengangguk. Dia tak punya pilihan selain kembali menutupi apa yang kini tengah di rasakannya. Untuk pertama kalinya dalam hidup Carissa, dia merasa sangat tidak berdaya dan tak bisa melakukan apa-apa, bahkan hanya untuk sekedar bertanya sekalipun.


Evan balas tersenyum pada Carissa dan membelai wajah istrinya itu. Kemudian dia bangkit dari duduknya.


"Setelah sarapan aku akan langsung rumah sakit." Ujar Evan sambil mengusap pucuk kepala Carissa.

__ADS_1


"Apa kamu akan tidur di sini malam ini?" Tanya Carissa.


Evan terdiam sejenak.


"Kalau pekerjaanku cepat selesai aku akan datang ke sini seperti semalam, tapi kalau terlalu larut, aku akan tidur di apartemen." Jawab Evan. Jawaban yang selalu Carissa dengar jika dia menanyakan pertanyaan serupa.


"Kalau begitu, aku ingin pulang ke apartemen bersamamu." Pinta Carissa dengan nada memohon.


"Tidak." Jawab Evan cepat.


Carissa menatap Evan dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Maksudku untuk saat ini kamu lebih baik berada di sini dulu. Di apartemen aku akan sibuk dan tetap tidak akan bisa menemanimu, jadi percuma juga kamu mau ikut pulang." Tambah Evan lagi.


"Aku tidak minta di temani, Evan. Aku hanya ingin pulang. Aku janji tidak akan menganggumu mengerjakan pekerjaanmu." Pinta Carissa sekali lagi.


"Kesehatanmu masih belum terlalu stabil. Di sini ada banyak orang yang bisa menjagamu saat aku bekerja. Bersabarlah, jika sudah saatnya, aku pasti akan membawamu pulang ke apartemen kita. Tapi untuk saat ini lebih baik kamu di sini dulu." Evan tampak berusaha membujuk Carissa sambil mengusap pucuk kepalanya.


"Tapi aku sudah tidak apa-apa. Perutku sudah tidak mual lagi dan kepalaku juga sudah tidak pusing. Aku sudah sehat sekarang." Carissa masih bersikeras.


"Carissa..." Evan tampak mulai mengeluarkan nada bicara seolah dia tidak ingin di bantah.


Carissa mendongak dan melihat kearah wajah Evan yang kini terlihat sangat serius. Seketika hati Carissa menjadi layu. Tidak ada keteduhan yang selama ini mampu menentramkan Carissa di wajah suaminya itu saat ini. Tatapan matanya mengisyaratkan jika Carissa harus mematuhi kata-katanya dan jangan protes lagi.


Dengan sedih Carissa menurunkan pandangannya.


"Baiklah..." Gumam Carissa lirih. Sekuat tenaga dia berusaha untuk tidak meneteskan airmatanya.

__ADS_1


"Tetap jaga kesehatanmu..." Ujar Carissa lagi saat Evan beranjak akan meninggalkannya.


Untuk sesaat Evan membeku. Di lihatnya Carissa yang tengah menunduk dengan tatapan yang tak kalah sedih. Tapi sejurus kemudian dia kembali menetralkan raut wajahnya dan kembali mendekatkan dirinya pada istrinya itu.


"Kalau kamu sudah benar-benar sehat dan semuanya beres, aku akan segera membawamu pulang." Ujar Evan dengan nada yang lebih lembut. Kemudian di ciumnya kening istrinya itu beberapa kali.


Carissa tak mampu menjawab apa-apa. Yang bisa di lakukannya hanyalah menatap Evan dan berusaha untuk mengulas senyum padanya, meski anak kecil pun akan tahu jika senyuman itu adalah senyum yang amat sangat di paksakan.


Dan saat Evan melangkah meninggalkan kamar yang mereka tempati, tangis Carissa tak mampu lagi di bendung. Di pandangnya punggung suaminya itu dengan beruraian airmata. Entah apa yang sebenarnya membuatnya begitu sedih, tapi yang jelas saat ini dia tidak sedang baik-baik saja.


Akhirnya malam pun menjelang. Seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Carissa pun resah menunggu Kedatangan Evan hingga waktu menunjukkan jika saat ini telah memasuki dini hari.


Semakin Carissa memikirkan kenapa Evan tak mengizinkan dirinya pulang, semakin Carissa merasa penasaran. Dia sangat yakin jika saat ini ada yang berusaha Evan sembunyikan darinya.


Carissa benar-benar merasa frustasi. Hampir gila rasanya memikirkan setiap kemungkinan apa yang di sembunyikan oleh Evan. Dan Carissa sangat yakin jika dia akan mendapatkan sebuah jawaban jika sekarang dia pergi ke apartemen mereka.


Setelah merenung cukup lama, Carissa akhirnya meraih mantelnya dan mengendap-endap keluar dari kamar. Dia harus pulang dan memastikan sendiri apa yang sebenarnya di sembunyikan Evan saat ini.


Bersambung...


Ibu-ibu komplek yang mulai panas, emak saranin buat ke dapur terus buka kulkasnya.( gimana? Udah lebih adem, kan?) 😅


yg bilang Evan selingkuh, pliss..., Evan ga selingkuh aja masalah mereka udah ribet, apalagi kalo dia selingkuh. Pusing atuh pala emak berbi ngasih penyelesaiannya gimana😂😂😂


Ya udahlah, kita liat kelanjutannya di part2 berikutnya


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2