
Dikediaman Devan, pria itu yang tadi baru saja menjawab telepon dari adik iparnya yang menghubungi bahwa dia akan ke rumahnya hari ini. Sementara Adelia sedang mandi, dan dia sedang menyiapkan sarapan untuk istri dan juga adik kandungnya.
Begitu Adelia keluar kemudian menutup pintu kamar. Devan langsung memanggil istrinya, “Tadi ponsel aku bunyi, siapa yang nelpon?”
“Keano katanya mau kemari,”
“Eh? Seriusan? Tuh anak kan selalu ngeles kalau disuruh ke sini,”
“Kenapa sih? Kok bisa kayak gitu?”
“Entah, mungkin karena pernah ketemu Sabina waktu itu,”
“Memangnya kenapa?”
Adelia tertawa karena tahu jika adiknya paling anti yang namanya dekat dengan perempuan karena Keano termasuk cowok yang super cuek dengan orang lain. Adelia tahu betul sifat adiknya yang menghindar ketika disuruh ke rumahnya. Karena Keano selalu punya alasan sibuk dan sebagainya. Tapi sebelum disuruh ke sana, Keano pasti menanyakan keberadaan Sabina terlebih dahulu kepada dirinya. Jika Sabina di rumah, otomatis Keano tidak akan pernah datang ke rumah.
“Sayang, nggak tahu emang kalau Keano itu malu ketemu sama Sabina?”
“Mereka kan bukan orang asing lagi?”
“Bukan itu masalahnya sayang. Tapi Keano itu tipe laki-laki yang takut sama perempuan,”
Devan tertawa keras ketika mengetahui Keano yang selalu bijak, Keano yang selalu menceramahinya setiap kali dia berselisih dengan Adelia dan menceritakan apapun tentang Adelia punya sifat penakut terhadap perempuan yang bahkan itu bisa dibilang sangat lucu.
Sabina pun keluar dari kamarnya seperti biasa karena ini merupakan libur terakhir. Maka dia akan berencana untuk membiarkan Keano bersama dengan Sabina nantinya. Melihat ekspresi adik iparnya yang selalu sok dewasa itu.
Sedangkan Sabina memiliki sifat yang ramah kepada siapapun juga. Tapi tidak dengan Keano yang justru memiliki sifat kebalikannya.
Ketika hujan sudah mereda, Devan dan Adelia selesai sarapan. Karena Sabina menolak sarapan pagi itu. “Sabina sakit?” tanya Adelia ketika melihat Sabina tiduran di sofa.
“Datang bulan, Kak,”
“Kamu bisa minum jamu?”
Sabina menggeleng, “Kalau pahit aku nggak mau kak,”
“Buat datang bulan kok,” kata Devan menyahut ketika dia datang dan meletakkan segelas jamu yang sudah dibuatkan. Sedari tadi dia melihat adiknya itu memegang perutnya. Tahu jika itu sangat sakit ketika Sabina sampai menangis waktu tidur di sofa.
Adelia tersenyum melihat suaminya yang begitu cepat melakukan hal itu untuk adiknya “Kamu tahu bahannya, Devan?”
“Ya tahu, kan dulu di rumah aku sering buatin dia,”
“Kakak buat seperti biasanya?” tanya Sabina.
“Iya, kakak buat seperti biasanya buat kamu. Jadi kamu istirahat ya, kakak ada roti yang lembut banget kok. Kamu bisa makan itu nanti, jangan sampai nggak sarapan ya. Kakak nggak mau kamu sakit,”
__ADS_1
Devan berlalu kemudian kembali lagi dan meletakkan roti serta susu diatas meja dan kemudian Sabina telentang lagi saat selesai meminum jamu itu.
Dia mengajak Adelia pergi dari ruang tamu kemudian pergi ke kamar sambil menunggu kedatangan Keano. Dia tahu jika sakit datang bulan Sabina itu sangat sakit. Bahkan Sabina pingsan ketika pertama kali datang bulan. Kemudian bibi di rumah selalu membuatkan jamu untuk pereda nyeri Sabina yang sangat dihafal oleh Devan hingga dia selalu menyediakan bahan-bahan itu di kulkasnya. Tapi sangat jarang ketika melihat Sabina yang seperti itu.
“Kasihan Sabina ya,” ucap Adelia yang kemudian dibalas dengan anggukkan oleh Devan dan mengecup puncak kepada Adelia ketika mereka berdiri di dekat jendela melihat daun-daun yang basah karena hujan tadi.
Entah sudah berapa kali hujan mengguyur dipagi harinya membuat mereka enggan keluar untuk beraktivitas. “Adelia,”
“Hmmm?”
“Nggak nyangka aku ya bakalan jadi seorang Papa di usia sekarang ini,”
“Aku bahkan yang nggak nyangka bisa hamil di saat kita pertama kali berhubungan, orang-orang kan biasanya nyobanya sering baru bisa isi. Kamu baru sekali udah langsung berisi,”
“Ingat ya dua kali lebih tepatnya, Adelia. Kamu aja yang nggak sadar karena kamu terpengaruh obat waktu itu,”
“Hmmm,”
“Aku kasar nggak waktu itu?”
Adelia menggeleng dan mengarahkan tangan suaminya ke bahunya. “Nggak, kamu nggak kasar kok,”
“Adel, apapun yang terjadi tetap di sisi aku ya! Aku nggak mau sekadar tanggung jawab karena kamu udah terlanjur hamil. Aku juga mikirin perasaan kamu dan juga anak kita nantinya,”
“Devan kenapa kamu sering bahas hal itu?”
Adelia langsung melangkah dan menghadap suaminya kali ini, “Devan, lihat aku!”
“Lihat pendeknya?” canda Devan.
“Mulai deh, kamu sekali aja nggak ngeselin gimana sih sayang?”
Devan langsung mencium kening Adelia dan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Adelia. “Lagi nungguin si adik cepat besar. Udah gitu mamanya selalu sehat dan nggak bakalan pernah tersiksa lagi mual-mualnya. Mama dan anaknya sehat,”
“Kamu mau jenis kelamin apa?”
“Apapun itu Adelia aku terima. Kan aku udah pernah bilang sama kamu. Yang penting kamu sama dia sehat, soal jenis kelamin kita nggak bisa ngatur Tuhan, kan? Mau dikasih apa aja ya syukuri. Aku juga tanggung jawab karena serius tanggung jawab sama kamu. Tapi setelah nikah sama kamu ternyata kamu asyik juga orangnya walaupun diawal-awal kamu sering ngambek, cuek, kadang tiap hari nyuruh aku beli makanan,”
“Dev, kamu pikir kamu nggak nyebelin? Kamu juga paling sering bikin aku kesal tahu nggak?”
“Aku bikin kamu kesal tapi aku nggak pernah niat sakitin hati kamu. Aku kan bercanda buat sesuaikan diri sama istri aku yang pendek ini,” canda Devan kemudian menggesek-gesekkan hidungnya di hidung Adelia.
“Dev, kamu mesum,”
“Nggak mesum dia nggak bakalan ada sayang,” rayu Devan. “Tapi yang buat aku sedih yaitu ketika kamu nangis waktu kamu nggak nyaman ketika kita bercinta,”
__ADS_1
Adelia sadar bahwa jika Devan menyentuh dadanya itu akan terasa sakit. Itu terjadi sejak kemarin, tapi beberapa hari yang lalu dia masih biasa saja ketika Devan menyentuhnya.
“Aku juga nggak tahu tiba-tiba sakit,”
“Aku ngerti sayang. Kalau memang sakit banget aku nggak bakalan lakuin lagi, tapi ya aku kasihan juga sama kamu yang mau aja gitu nurutin perintah suami,”
“Devan, apa alasan aku nolak perintah kamu? Kamu udah ngelakuin hal terbaik di dalam hidup aku. Sekalipun itu sangat sakit, tapi aku ngerti kalau sebenarnya kamu itu peduli sama aku dan juga anak kita. Walaupun kamu sering marah-marah karena aku makan sembarangan, diawal pindah kamu khawatir banget aku angkat berat-berat,”
“Adel, kamu sayang sama aku?”
“Kalau aku berdiri di depan kamu seperti ini dan juga masih berada di sisi kamu saat kehidupan terasa begitu sulit, itu artinya aku sayang atau nggak?”
Devan tersenyum ketika mendengar ucapan istrinya. Adelia ini kadang bisa menjadi dewasa. Kadang dia seperti anak-anak ketika bermanja. Tapi Devan sadar bahwa satu-satunya tempat bermanja seorang istri adalah pada suami. Maka dari itu dia mengerti bagaimana harus memanjakan Adelia.
“Ngomong-ngomong tadi aku dengar suara mobil, itu Keano bukan sih?”
“Kalau Keano udah pasti dia ngetuk pintu,”
“Kamu jangan iseng buat ketemuin yang dua itu ya,”
“Biar Adel. Aku mau lihat dia kayak gimana nanti ketemu sama Adelia,”
“Kamu mau ngetes Keano karena nggak pernah mau dekat sama cewek? Bahkan Keano bisa keluar keringat dingin nanti,”
“Biarin aja, aku penasaran,”
“Kayak kamu nggak aja, Dev. Waktu aku mandi di apartemen kamu dan kamu lihat aku pasang baju kamu langsung keluar keringat dingin gitu,”
Devan langsung cemberut kemudian membuat Adelia tertawa. “Kamu mulai bahas itu?”
“Devan, jangan usil sama Keano. Dia itu nanti nggak mau disuruh ke sini lagi. Aku serius, jiwa dia itu memang benar-benar takut sama cewek,”
“Biarin aja,”
“Sama kayak kakak iparnya.”
Adelia meledek Devan kemudian Devan langsung memeluknya dan mencium pipinya berkali-kali. Hingga kemudian Sabina membuka pintu dan melihat adegan di mana mereka berciuman. “Kakak nggak kunci pintu dulu! Tuh ada adiknya kak Adelia,”
Mereka langsung saling melepaskan begitu saja ketika mendengar bahwa Keano sudah datang. Adelia mengerti bahwa adik iparnya kali ini benar-benar sakit perut hingga nada bicara Sabina terdengar begitu kesal.
__ADS_1
vote sebanyak-banyaknya ya. Karena kalau banyak yang vote, author crazy up lagi seperti dulu.