WITH YOU

WITH YOU
Memberi Ruang


__ADS_3

Hari telah menjelang malam, tapi Evan belum juga kembali. Hal itu membuat Carissa merasa khawatir dan gelisah. Beberapa kali Carissa mencoba menghubungi ponsel Evan, tapi Evan tidak mengangkatnya. Bahkan yang terakhir, ponsel Evan malah tidak bisa di hubungi lagi. Sepertinya saat ini Evan sedang tidak ingin di ganggu sama sekali.


Malamnya, di ruang keluarga rumah Arga, kedua orang tua angkat Evan tampak duduk berhadapan dengan Alya. Di sana juga ada Clara bersama suaminya. Dan Carissa tampak duduk di dekat Sonya dengan wajah menunduk.


Suasana hening selama beberapa saat, sebelum akhirnya Alya mengangkat wajahnya dan terlihat akan mulai berbicara.


"Saya sungguh tidak menyangka jika mendiang suami saya adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tua kandung Evan. Dia memang pernah melakukan banyak kesalahan, bahkan kepada saya, tapi membuat orang lain bangkrut bahkan sampai meninggal, saya benar-benar tidak pernah membayangkannya." Alya berujar dengan suara serak dan agak bergetar. Sepertinya Mama Carissa itu berusaha untuk menahan tangisnya selama berbicara.


"Saya harap Tuan Zacky dan Nyonya Sonya tidak menghakimi Carissa atas perbuatan yang di lakukan Papanya. Carissa tidak bersalah..." Alya tak bisa membendung airmatanya lagi. Dia tercekat tanpa bisa meneruskan lagi kata-katanya.


"Tentu kami tidak akan melakukan hal itu, Nyonya Alya. Terus terang kami sangat menyayangi Carissa. Hanya saja, saat ini Evan pasti sedang kacau dan perlu waktu untuk menenangkan diri. Saya berharap Carissa bisa memaklumi keadaannya. Ini bukanlah sesuatu yang sederhana. Evan pasti benar-benar merasa dilema." Jawab Sonya.


Alya mengangguk mengiyakan.


"Perlu hati yang besar bagi Evan untuk menerima kenyataan ini. Saya mengerti jika sekarang dia sedang ingin sendiri dulu. Tapi, Nyonya Sonya, di hari-hari selanjutnya, jangan sampai Evan melampiaskan kemarahannya pada Carissa. Tolong lindungi putri saya ini, Nyonya. Saya mohon..."


Carissa kembali meneteskan airmatanya mendengar kata-kata Alya. Bahkan di saat sedang berduka pun Alya masih sangat memikirkannya. Entah bagaimana Carissa akan membalas cinta Mamanya ini kelak


"Nyonya Alya tidak perlu khawatir. Kami pasti tidak akan membiarkan Evan melampiaskan kemarahannya pada Carissa. Lagipula Evan tidak mungkin melakukan hal yang seperti itu. Dia adalah orang yang sangat penyayang." Kali ini Zacky yang menjawab Alya.


"Dan jika sampai Evan melakukan hal itu, saya sendiri yang akan membawa Carissa untuk kembali pada Nyonya." Lanjur Zacky lagi.


Alya mengangguk. Raut wajahnya terlihat lega dan tak segamang sebelumnya.


"Terima kasih..." Gumam Alya lirih.


Sedang asyik mereka berbincang, Evan kembali dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Wajahnya kusut dan penampilannya sangat berantakan. Dia berjalan dengan langkah yang agak tertatih.


"Evan." Carissa bangkit dan langsung menyongsong tubuh Evan. Seketika Evan limbung ke dalam pelukan Carissa. Hingga orang-orang yang ada di sana sontak berdiri dari duduk mereka.


"Evan...Evan.." Carissa menepuk-nepuk pipi Evan.


"Astaga, Ma, Pa, tubuh Evan panas sekali. Tolong bantu aku membawa Evan ke kamar." Ujar Carissa dengan panik.

__ADS_1


Zacky dan Dave pun langsung membantu membawa tubuh tak berdaya Evan ke kamar lama Carissa. Evan di baringkan ke tempat tidur. Lalu dengan sigap Carissa membuka Sepatu Evan dan membenahi posisi berbaringnya.


Alya juga langsung menghubungi dokter keluarga Nugraha untuk memeriksa kondisi Evan. Tak berapa lama kemudian, dokter tersebut pun datang dan langsung memeriksa keadaan Evan.


"Suami Anda tidak apa-apa, Nona. Hanya kelelahan dan sedikit dehidrasi. Setelah beristirahat dan mendapatkan asupan cairan kembali, kondisinya akan membaik." Dokter tersebut memberi keterangan setelah memeriksa Evan.


"Usahakan dia memakan bubur dulu sebelum minum obat. Tampaknya suami Anda juga belum makan seharian ini." Tambah dokter itu lagi.


Carissa terkesiap. Secara impulsif dia menoleh pada Evan dan menatapnya dengan raut khawatir.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Dokter itu pamit undur diri.


"Terima kasih, Dokter." Ujar Carissa sembari mengantarkan dokter itu keluar kamarnya. Dokter itu mengangguk menanggapi, kemudian berlalu dari hadapan Carissa.


"Ma, tolong jaga Evan sebentar, aku mau membuat bubur dulu." Pinta Carissa pada Sonya.


"Biar Mama saja yang masak, Carissa." Ujar Sonya.


Sonya pun akhirnya menangguk.


"Baiklah kalau begitu. Mama akan jaga Evan."


Carissa langsung berlalu menuju dapur dan mulai memasak bubur. Tak lupa dia juga memasukkan sayuran pada bubur tersebut agar lebih bernutrisi. Setelah selesai, Carissa langsung memasukkan hasil masakannya itu ke dalam mangkuk dan membawanya ke kamar.


Melihat Carissa telah datang, Sonya langsung bangkit.


"Karena kamu sudah ada di sini, Mama mau melihat Papamu dulu." Ujar Sonya.


Carissa mengangguk mengiyakan dan mengantarkan Sonya hingga ke luar kamarnya. Carissa pun menutup pintu kamarnya dan meletakkan bubur dan air yang di bawanya di atas nakas.


Melihat Evan yang masih belum terbangun, Carissa keluar lagi dari kamarnya, lalu kembali dengan membawa wadah berisi kain lap dan air hangat. Dengan perlahan Carissa membuka pakaian Evan dan mulai membersihkan tubuh Evan dengan kain lap tersebut. Setelah selesai, Carissa mengambil piama Evan dari dalam koper dan memakaikannya pada suaminya itu.


Carissa memandang wajah Evan dengan sendu dan tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menyentuh rahang Evan.

__ADS_1


Perlahan Evan membuka matanya, dan pandangan mereka pun bertemu selama beberapa saat.


"Kamu sudah sadar..." Carissa langsung bangkit dan membawakan air minum untuk Evan.


"Minum dulu." Ujar Carissa sembari membimbing Evan ke posisi duduk, lalu mendekatkan gelas berisi air ke mulut Evan.


Mau tidak mau Evan meminum air itu beberapa tegukan.


"Aku sudah membuatkan bubur, kamu makan dulu, ya, setelah itu baru minum obat." Ujar Carissa lagi sembari bangkit dan membawa bubur yang di buatnya tadi ke hadapan Evan.


"Suhunya sudah pas, tidak terlalu panas lagi." Carissa menyodorkan satu suapan pada Evan.


Evan tak membuka mulutnya dan melihat kearah Carissa dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


"Buka mulutmu, Evan. Kamu harus makan. Dokter yang memeriksamu tadi bilang kamu kelihatannya belum makan seharian ini." Ujar Carissa berusaha membujuk.


Evan masih bergeming dan tak membuka mulutnya juga.


"Aku janji setelah ini tidak akan menganggumu..." Ujar Carissa lagi dengan lirih. Terdengar ada kesedihan yang yang teramat dalam dari nada bicaranya.


Evan meraih mangkuk bubur yang ada di tangan Carissa dan memakannya sendiri. kemudian, setelah selesai dia juga mengambil air minum dan obat yang di lihatnya ada di atas nakas. Evan meminum obat tersebut, kemudian meletakkan gelas air minumnya kembali ke atas nakas.


"Sudah." Gumam Evan, seakan mengisyaratkan Carissa untuk segera meninggalkannya.


Carissa pun mengangguk dan beranjak dari sana. Dengan mengusap airmatanya yang tiba-tiba saja mengalir, Carissa keluar dari kamarnya dan menutup kembali pintu kamar tersebut.


Carissa menatap pintu kamar itu sebentar sebelum akhirnya melangkah pergi. Dia berusaha memberi ruang pada Evan untuk menenangkan diri terlebih dahulu, dan berharap setelah ini semuanya akan baik-baik saja.


Bersambung...


Tetep like, koment dan vote


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2